
Tok...Tok...Tok...
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," tak lama dia mendengar jawaban salam darinya.
Pintu rumah terbuka, dia tersenyum manis menyambutnya.
"Kenapa Aa baru pulang?" tanyanya kemudian.
"Ambilkan Aa minum dulu ya sayang..." pintanya yang merasa benar-benar dahaga.
Jiho terduduk di samping kasur. Tiara sudah kembali membawa gelas berisi air putih.
"Ini, A..." ucapnya sembari menyodorkan gelas berisi air putih itu.
"Makasih sayang..." sahut Jiho yang membuatnya tersenyum.
"Oh iya, ini buat kamu," ucap Jiho sembari memberikan buket bunga yang tadi dia beli.
"Waah, ini bagus banget A..." sahutnya dengan mata berbinar. Dia menciumi bunga-bunga itu.
"Makasih ya, A."
"Iya sayang..."
"Jadi Aa pulang telat karena beli ini?"
"Iya,"
Dia masih tersenyum dengan sumringah. Sungguh melihatnya begitu saja dia sudah bahagia.
"Aa gak ngojek lagi?"
"Enggak, Aa mau nemenin kamu. kamu kesepian, kan?"
Tiba-tiba saja dia memeluknya dari samping. "Makasih ya, A..." ucapnya kemudian. Jiho hanya tersenyum, melihat tingkahnya yang masih manja.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Jiho sengaja tidak berangkat ke kafe "kedai angkringan". Kemarin sudah izin kalau hari ini ingin libur dulu. Jujur dari kemarin tubuh ini terasa lelah. Sepertinya harus istirahat dulu, badan rasanya remuk redam.
Jiho merebahkan diri diatas kasur. Ingin tidur sejenak.
"Aa gak kerja lagi?" tanyanya mengingatkannya.
"Hmmm... enggak, yang. Aa izin libur hari ini," jawab Jiho malas dengan mata memejam.
"Aa sakit?" tanyanya kembali. Punggung tangannya menyentuh keningnya.
"Aa panas, Aa demam ya?" suaranya terdengar agak panik.
Mata Jiho masih terpejam, tapi telinganya masih awas untuk mendengar. Memang, kepalanya terasa begitu berat.
"Aa makan dulu ya, nanti minum obat," ucap Tiara lagi.
Jiho membuka mata sedikit, dia berlalu ke belakang mengambilkan makanan dan air minum. Tak lupa dia membuka kotak obat, dan memberikan obat paracetamol kepada suaminya.
"A... bangun dulu, makan yah..." ucap Tiara lagi dengan nada lembut.
Jiho memaksakan diri untuk bangun, dan Tiara menyuapinya. Sungguh kali ini istrinya itu perhatian sekali padanya. Tapi selera makannya sedang hilang, Jiho menolak suapannya yang ketiga. Buru-buru Tiara memberikan air minum untuknya.
"Kemarikan obatnya..." ucap Jiho lirih. Dia mengambil obat yang sudah disiapkannya dari tadi. Tiara memberikannya pada suaminya dengan tatapan cemas. Jiho meminum obat itu hanya dengan sekali teguk.
__ADS_1
"Maaf, Aa perlu istirahat dulu y sayang..." ucapnya lirih. Dia hanya mengangguk. Tak berapa lama dia mengambil handuk kecil dan air hangat, dia mengompreskannya pada kening Jiho.
"A, cepat sembuh ya..." bisiknya di telinga Jiho, dan dia merasakan sentuhan bibir Tiara di pipinya. Dia mencium Jiho. Sungguh! Hal yang jarang sekalia dia lakukan. Tiarapun tidur di samping Jiho dan memeluk tubuh suaminya itu.
'Andai saja keadaanku tak begini sudah kubalas pelukan dan ciumannya itu. Biarpun sakit, tapi kali ini aku benar-benar bahagia.' ungkap Jiho dalam hatinya.
***
Pagi harinya, badan Jiho terasa lebih baik. Kepalanya sudah tak pusing lagi. Tiara sudah beranjak dari tidurnya. Mungkin sedari tadi dia sibuk di belakang. Memasak dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Buat Jiho, dia benar-benar istri idaman, meskipun ada manja-manjanya sedikit. Tanpa sadar Jiho tersenyum mengingatnya.
Jiho beranjak menghampirinya. Wangi masakannya sungguh menggodanya untuk ingin tahu apa yang sedang dia masak. Jiho memeluknya dari belakang. Tiara sedikit terkejut dengan perlakuan suaminya. Dia menoleh dan tersenyum. Tiara terlihat sangat cantik.
"Aa udah sembuh?" tanyanya sambil memegang keningnya.
"Hmm... Aa jadi pengin sakit terus biar kamu perhatian terus sama Aa."
"Eeh, jangan dong. Aa harus sehat, aku khawatir tahu," sahutnya. Dia berbalik kembali memasak. Entah kenapa Jiho enggan melepaskan pelukan ini. Rasanya ingin terus tubuhnya berada di dekapannya.
"Hmmm iya, makasih y sayang udah rawat Aa," jawab Jiho kemudian.
"A, lepas dulu dong..." ucapnya kemudian.
Sepertinya dia tak bebas bergerak. Dia mematikan kompornya dan berbalik kearah suaminya.
"Hmmm... cium dulu dong," jawab Jiho seraya menggodanya.
Matanya mengerling manja. Dia sedikit berjinjit lalu menciumi kedua pipi Jiho.
"Yang ini belum..." ucap Jiho lagi sambil memegangi bibir. Jiho melihat wajahnya tersipu.
"Ah apaan sih A, mandi dulu sana..." sahut Tiara sembari sedikit mendorongnya hingga pelukannya terlepas. Ia mendengus kesal. Jiho hanya tertawa kecil melihatnya.
Dia berlalu dan tak lama kembali membawakan handuk untuk suaminya.
"Hmmm... iya sayang."
***
"Nanti ikut yah," ujar Jiho disaat menyantap sarapan bersama.
"Kemana?"
"Katanya jenuh di rumah?"
"Emang Aa udah benar-benar sehat?"
"Iya mendingan, lebih baik dari kemarin."
"Enggaklah, Aa harus istirahat dulu. Jangan kemana-mana, nanti kalau pingsan di jalan, gimana?"
"Kan ada kamuu..."
"Iih, yang ada aku cuma bisa nangis."
"Haha..."
"kok malah ketawa?"
"Hmmm, kamu lucu. Udah, nanti ikut aja ya. Aa udah sembuh, kamu gak usah khawatir..."
Dia mengangguk. Manis sekali.
Jiho membantunya mencuci piring, sedangkan sang istri menjemur pakaian yang sudah dari tadi dia cuci.
__ADS_1
Selesai beres semua, dia bersiap diri. Sungguh, dia tak jemu-jemu memandangnya.
"Aku udah siap, A. Ayoo..." ajaknya.
"Ah iya, ayo naik!"
***
"Sayang, kita udah sampai..." ucapnya kemudian. Tiara turun dari boncengan motornya. "Ini bengkel tempat kerja Aa," sambung Jiho lagi. Dia hanya mengangguk. "Ayo sini..." Jiho menggandeng tangannya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam," jawab Deni dan Bang Nawas serempak. Mereka menoleh kearah kami.
"Tumben baru dateng...? Wah dapat bidadari dari mana nih?" ujar Bang Nawas yang menyadari ada seseorang disamping Jiho. Tiara hanya menunduk malu.
"Oh iya, bang... Kenalin ini istri gue, Tiara. Sayang, ini Bang Nawas sama Deni," Jiho memperkenalkan mereka. Tiara hanya mengangguk dan menyalami mereka.
"Cantik sekali istrimu, Jiho..." tukas Bang Nawas.
"Pantes sama Rania gak mau, ternyata ada yang lebih cantik di rumah," celetuk Deni yang membuat Tiara bertanya-tanya.
"Hush, jangan ngomong sembarangan Den..." tegur Jiho yang membuat dia terkekeh.
"Rania?" tanya Tiara.
"Nih neng, abang kasih tahu ya... Rania itu yang suka sama suami neng. Dia sering nyamperin kesini, untung aja suami neng setia. Makanya neng, jaga tuh suami neng biar gak pindah ke lain hati..." ungkap Bang Nawas blak-blakan. Mereka tertawa. Duh! ampun deh, kasihan kan Tiara.
"Benar, A?" tanya Tiara dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, kamu percaya kan sama Aa?"
Dia mengangguk ragu.
"Bang, Den... jangan ungkit-ungkit si Rania lagi ya. Dari dulu sampai sekarang, sampai kapanpun yang gue cinta cuma Tiara, Istri gue. Gak ada yang lain," ungkap Jiho mantap.
"Iyeee, percayaaaa..." jawab mereka serempak.
Mereka tertawa lagi.
"Maafin kami ya, neng. Kami memang suka bercanda, jangan diambil hati yee..." tukas Bang Nawas kembali.
Tiara tersenyum dan mengangguk.
"Lo mau kerja atau gimana?" tanya Bang Nawas lagi.
"Ehmm... ini bang, mau libur dulu. boleh kan?" ujar Jiho sambil mengedipkan mata.
"Hmmm okelah, bereees..."
"Cie... cie... kayaknya ada yang mau jalan-jalan nih," ujar Deni menimpali.
"Nimbrung aja lo, Den..." sambung bang Nawas. Deni kembali terkekeh. Memang setiap harinya mereka bercanda tanpa tedeng aling-aling, kadang Jihopun sampai malu dibuatnya.
"Ya udah Den, Bang... kami permisi dulu ya,"
"Siaaapp! semoga sukses, bro..."
"Makasih, bang. Ayo sayang, naik. Kita jalan-jalan dulu." Tiara mengangguk.
"Kami permisi, Bang. Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
__ADS_1
Tiara menaiki boncengan motor Jiho. Dia melajukan kendaraan roda dua itu dengan kecepatan sedang. Tiara memeluk suaminya. Kali ini dekapannya lebih erat. Kenapa dia? Apa dia cemburu?