ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Kabar Duka


__ADS_3

Keesokan paginya


Triiing... Triiing... Triiing...


Suara ponsel berdering, pertanda ada sebuah panggilan masuk.


Tiara mengambil ponsel itu dan menatap sebuah nama di layar ponselnya. Sebuah panggilan dari ibu.


"Halo, Assalamualaikum Bu..."


"Halo, nak..." sahut ibu dari seberang telepon, suaranya terdengar parau.


"Bu, ibu kenapa?"


"Nak, bapak....." terdengar isakan ibu dari seberang telepon.


"Kenapa dengan bapak, bu?"


"Bapak meninggal, nak."


"Apaaa??? Gak mungkin kan, Bu? Ibu pasti bercanda..."


Suara dari seberang terdengar sedang menangis. Ibu terisak.


"Benar nak, bapak sudah tidak ada... Kalau bisa kalian pulang ya, nak. Disaat terakhirnya bapak bilang kangen sama kamu, nak. Dia pengin ketemu..."


"Tidak, bapaaak.... Bapaaak....."


"Maafkan semua kesalahan bapak ya, nak..."


"Bu, kenapa ibu gak hubungi aku dari kemarin-kemarin?"


"Ibu takut kamu kepikiran nak..."


"Tapi sekarang aku jadi lebih kepikiran, Bu. Aku menyesal, aku sudah jadi anak yang durhaka,"


"Tidak, nak. Sama sekali tidak..."


"Tapi bapak, Bu. Bapaaak.... Aku udah gak bisa lagi melihat bapak. Bapaaak...." teriak Tiara histeris.


Mendengar kabar itu, Tiara seperti hilang pijakan. Tubuhnya seakan limbung. Semenjak merantau dia belum pernah pulang ke kampung, paling hanya bertukar kabar lewat telepon. Dia menyesal, sangat menyesal.


"Ada apa, sayang?" tanya Jiho khawatir, dia merebahkan tubuh istrinya di kasur. Dia juga meraih ponsel di tangan istrinya.


"Halo Bu..." sapa Jiho.


"Nak, Tiara kenapa, nak?"


"Dia lemas Bu. Ini ada apa ya, Bu? Kenapa ibu nangis?"


"Bapak meninggal, nak..." jawab ibu sambil menangis.


"Apaa?? Innalillahi wa innailaihi roji'un... Bapak sakit apa, Bu?"


"Kata dokter, bapak kena serangan jantung, nak. Nak, apa kalian bisa pulang?"


"Ah, iya Bu. Kami akan pulang. Maafkan kami Bu, karena kami tidak bisa pulang 2 tahun ini..."

__ADS_1


"Iya nak, tidak apa-apa. Ya sudah kalau kalian mau pulang, hati-hati dijalan ya nak."


"Iya Bu"


"Ya sudah, ibu tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."


Jiho meletakkan ponsel itu di nakas, lalu kembali menghampiri istrinya yang sedang menangis. Di wajah istrinya tersirat kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam. Jiho jadi menyesal, dia tak pernah menanyakan keinginan sang istri. Padahal sepertinya dia sangat rindu dengan orang tuanya. Sekalinya akan pulang, dia tak akan pernah bisa melihat bapaknya lagi. Semuanya akan tinggal kenangan.


"Sayang..."


Tiara langsung memeluk tubuh suaminya itu. Tangisnya tumpah. Dia sangat terpukul mendengar kabar duka itu. Dia sangat bersedih.


"Kamu gak apa-apa, lagi hamil begini naik bus perjalanan jauh?" tanya Jiho sambil mengusap perut Tiara yang sudah besar.


"Gak apa-apa, A. Aku pengin ketemu ibu dan juga almarhum bapak. Aku yakin aku kuat, A. Aku pasti baik-baik saja"


"Ya sudah, kita kemas-kemas ya, kita pulang sekarang..." ucap Jiho sambil terus berusaha menenangkan istrinya.


Tiara mengangguk. Dia berkali-kali menyeka air matanya yang jatuh.


***


"Kalian mau kemana?" tanya Ferdi yang baru saja datang. Dia melihat mereka membawa tas ransel. Dia juga melihat mata Tiara yang sembab.


"Ini ada apa?"


Mereka terdiam.


"Kalian tidak mau bicara sama aku?" desak Ferdi.


"Kabar duka apa?"


"Bapak meninggal...."


"Apaaa?? Benarkah itu?" Ferdi bertanya lagi untuk meyakinkan. Tiara hanya mengangguk dan kembali menangis.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un..." sahut Ferdi lagi. "Kalian mau naik bus, dalam kondisi istrimu seperti ini?"


"Ya, mau gimana lagi Fer... Lagipula tidak ada mobil travel yang menuju daerah sana."


"Tega kamu! Kasihan lho, Tiara lagi hamil besar, masa dibiarkan naik bus!"


Jiho ingin marah, tapi benar juga ucapan Ferdi. Jadi lebih baik dia diam.


"Harusnya kalau ada apa-apa kamu ngomong sama aku!" tukas Ferdi lagi, dia terlihat kecewa. "Udah kalian disini dulu, aku akan telepon paman Har, siapa tahu dia bisa nganterin kita."


"Kamu juga mau ikut pulang, mas?" tanya Tiara.


"Iya, dek. Bapakmu juga bapakku juga kan? Mereka sudah seperti orang tuaku sendiri."


Tiara hanya bisa mengangguk.


"Ya sudah, aku mau bilang sama karyawan dulu, kalau beberapa hari ini cafe kita tutup."


***

__ADS_1


"Mohon maaf, untuk beberapa hari cafe ini tutup."


"Kenapa mas?"


"Bapak kami di kampung meninggal dunia."


"Innalilahi wa innailaihi roji'un... Kami turut berbelasungkawa mas... Semoga almarhum bapak kami bisa diterima di sisi Allah."


"Aamiin"


Setelah menunggu setengah jam, Paman Har datang. Kami berempat berangkat menaiki mobil.


"Dibikin rileks dek, jangan nangis terus. Kasihan dedek bayi ikutan tegang. Apalagi ini perjalanan jauh. Bisa memakan waktu lama, sembilan jam perjalanan..."


"Iya mas" jawabnya singkat.


"Kalau mau istirahat atau ke toilet, bilang ya..."


"Iya mas" jawabnya lagi. Tiara masih menyandarkan kepalanya di bahu Jiho. Dan sang suami merangkul pundaknya. Sesekali Jiho mengusap air matanya dan membelai rambut Tiara dengan lembut. Sungguh mesra.


Ferdi tersenyum memperhatikan mereka dari balik kaca spion.


"Paman, nanti kalau capek, nyetirnya gantian ya..." ujar Ferdi memecah keheningan.


"Baik, mas" jawab Paman Har.


Ferdi kembali memperhatikan mereka, terutama Tiara. Wajahnya sangat kuyu, matanya sembab, dia terus menerus menangis. Dia pasti sangat terpukul, mendengar kabar duka bapaknya meninggal dunia. Padahal baru kemarin dia curhat ingin pulang kampung. Tiara ingin sekali bertemu dengan bapak dan ibu. Ternyata itu adalah sebuah firasat seorang anak terhadap orang tuanya. Mungkin sudah jalannya seperti ini.


Ferdi menghela nafas panjang. Syukurlah ada Jiho disampingnya. Mereka terlihat sangat mesra, memanglah Jiho dan Tiara pasangan yang sangat serasi.


Perjalanan menuju kampung halaman membutuhkan waktu yang sangat lama. Beberapa kali mereka berhenti di rest area, karena keinginan Tiara. Tubuhnya terasa begitu letih. Perutnya terasa begah dan engap.


Tiara membukakan matanya dan meringis kesakitan.


"A, perutku sakit...." ucap Tiara dengan nada lirih.


"Sakit?" tanya Jiho sembari mengusap perut istrinya.


Tiara mengangguk.


"Fer, tolong berhenti dulu mobilnya ya..." sahut Jiho.


Ferdi langsung mengerem mobilnya dan memarkirnya ke pinggir jalan.


"Kita istirahat dulu sepuasnya disini, kasihan Tiara. Ibu juga pasti mengerti, perjalanan kita sangat jauh..." ucap Ferdi yang melihat Tiara merasa kelelahan. Dia bersandar di jok mobil.


"Iya, Fer" jawab Jiho. Dia tampak khawatir terhadap istrinya. Ya, dia takut terjadi sesuatu terhadap istri dan anaknya.


"Sayang, coba bangun dulu yuk. Mungkin karena kebanyakan duduk jadi perutmu sakit."


Tiara mengangguk dan menerima uluran tangan suaminya.


"Halo... dedek bayi, anak ayah, jangan bikin ibumu sakit ya nak. Baik-baik ya di perut ibu..." ucap Jiho sambil mengelus-elus perut istrinya. Tiara tersenyum melihat sikap suaminya. Dia juga merasakan gerakan dedek bayi merespon ucapan ayahnya.


"Gimana? Masih sakit perutnya? Coba diolesi ini dulu," tukas Ferdi sembari menyerahkan minyak kayu putih.


"Ah iya, terima kasih, Fer"

__ADS_1


Setelah beristirahat cukup lama, Tiara merasa agak mendingan. Merekapun melanjutkan perjalanan yang masih jauh.


__ADS_2