ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Aksi Rania


__ADS_3

Sesampainya di rumah kontrakan...


Tiara menangis lagi. Jiho menghampirinya sesaat setelah memarkirkan motornya.


"Kenapa?" tanya Jiho. Tiara langsung memeluknya dengan erat, kali ini sangat erat. Apakah kejadian tadi sangat membuatnya terguncang? Dia terdiam cukup lama tanpa ada jawaban.


"Sudah jangan menangis... Kita sudah baik-baik saja," lanjut Jiho lagi. Jiho membelai rambut Tiara yang terlihat acak-acakan. Sesekali dia mendengar Tiara terisak sesenggukan.


Jiho mengangkat wajah Tiara yang bersandar di dadanya. Ya Allah, dia kelihatan acak-acakan sekali. Berulangkali Jiho mengusap air matanya yang mengalir bak anak sungai.


"Sayang... jangan nangis lagi...Sudah ya, kita baik-baik saja," ucap Jiho lagi. Dia mengangguk lalu menghela nafas panjang.


"Tadi aku takut sekali, A..." ucap Tiara lirih.


"Sekarang sudah aman kan? Jangan takut lagi, ada Aa disini."


"Iya, A... Aku mandi dulu ya, gak enak banget rasanya."


"Iya..."


Tiara berlalu. Jiho merebahkan diri di kasur sambil memejamkan mata. Penat sekali rasanya. Masih ada waktu satu jam lagi, Jiho harus berangkat. Sungguh bila dikata lelah, diapun lelah. Tapi Jiho harus tetap semangat kan? Dia harus semangat demi keluarganya.


"A... A... bangun..." ucapnya dengan lembut. Jiho membuka matanya, Dia mendapati Tiara tersenyum manis.


'Duh cantik sekali istriku.'


"A, kita makan dulu terus sholat maghrib bareng ya..."


"Iya sayang..."


"Perlu aku hangatin dulu makanannya?"


"Ga perlu sayang, udah seadanya aja..."


Dia mengangguk, lalu menyiapkan hidangan yang sudah dimasaknya. Kami menyantap makanannya. Alhamdulillah, terasa lezat dan nikmat sekali. Setelah energi terkuras habis gara-gara kejadian tadi.


"Habis ini Aa berangkat lagi, yang..."


"Hmmm..."


"Kamu gak apa-apa kan kalau ditinggal sendirian dulu?"


"Ya...?"


Jiho menatapnya lama. Kasihan juga kalau harus ditinggal siang dan malam. Tapi mau bagaimana lagi?


"Ada apa, A? kenapa lihatinnya gitu amat?"


Jiho tersenyum. "Kamu cantik, jadi pengin nyium," ujar Jiho yang sukses membuatnya tersipu. Pipinya merona merah, menggemaskan.


"Aku beresin ini dulu, A..." ujarnya sambil membawa sisa-sisa piring kotor ini ke belakang. Lalu mereka sholat berjamaah.


"Sayang... Aa berangkat dulu ya..." pamitnya padaku. Aku hanya mengangguk seraya mencium punggung tangannya.


"A..."


"Ya..?"


"Emmh... Ga jadi deh..."


"Kenapa? Bikin penasaran aja."


"Emh.. aku kesepian..."


"Terus...?"


"Yaa... aku butuh temen, A."


"Terus? Mau bagaimana biar rame? Apa mau nyoba saran ibu? hahah..." ucapnya sambil mengedip-ngedipkan mata genit. Dia terkekeh.


Tiara melotot gemas, dan mencubit perut suaminya. Sedikit sukses membuatnya berjingkat.


"Nah kan ibu bilang pengin cepat nimang cucu, heheh..." lanjut Jiho lagi meledeknya.

__ADS_1


Tiara hanya bisa memanyunkan bibirnya. Dia bingung harus jawab apa. Wajahnya pasti sudah merah padam karena malu.


"Bercanda sayang..." lanjutnya lagi. "Udah ya Aa berangkat dulu. Jangan lupa, kunci pintunya."


Tiara mengangguk lagi. "Aa pulang jam berapa?" tanyanya kemudian.


"Seperti kemarin, kurang lebih jam sebelas malam."


"Oh... Gak bisa lebih awal pulangnya?"


"Diusahakan ya sayang... Kalau ngantuk tidur dulu saja."


"Iya."


"I Love You," bisik suami di telinganya.


Dia tersenyum lagi seakan belum puas menggoda istrinya.


***


"Jiho, kau sudah datang?" tanya Rania yang berjalan menghampiri lelaki itu.


Jiho yang sedang membereskan loker miliknya hanya diam saja, dia tak menjawab pertanyaan gadis itu. Ya, dia masih kesal dengan yang dia lakukan tadi siang.


"Jiho, kau masih marah?" tanyanya lagi.


Jiho menghela nafas panjang. "Rania, tolong jangan lakukan itu lagi," ucap Jiho kesal.


"Hahahah..." Rania tertawa dengan renyah. "Emangnya kenapa? Aku gak mau, aku suka lihat ekspresimu, hahahah." Gadis itu masih saja tertawa.


Jiho melengos pergi meninggalkannya. Entah terbuat dari apa hati gadis itu. Dia tak gampang menyerah, walaupun seringkali Jiho mengabaikannya.


"Jiho..! Jiho...! Tunggu Jiho...!" Karena sedikit berlari gadis itu tersandung dan terjatuh.


Brukk...!


"Aauu...!" Dia mengaduh kesakitan.


Jiho berbalik dan menghampirinya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Jiho sembari menunda gadis itu untuk berdiri.


"Ah, terima kasih Jiho..." ucapnya manja.


"Hei, kalau mau pacaran jangan disini. Kerja! Kerja!" tegur sang bos yang baru datang dan melihat mereka.


"Baik, bos..." jawab mereka berdua serempak.


Sang bos berlalu meninggalkan mereka. Jihopun pergi, tapi tangannya ditarik kembali oleh Rania.


"Jiho kita belum selesai..." tukas Rania sambil tersenyum nakal.


Jiho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan gadis itu.


Dia kembali melakukan pekerjaannya seperti biasa.


***


Drrttt... Drrttt...Drrttt...


Nada getar di ponsel Tiara, pertanda ada pesan yang masuk. Kalian pasti udah bisa nebak kan pesan dari siapa? Yups, siapa lagi kalo bukan Ferdi.


[Dek, udah tidur belum?]


[Belum mas]


[Lagi ngapain?]


[Tiduran aja mas, sambil nunggu A Jiho pulang]


[Suamimu belum pulang dek?]


[Belum mas, biasanya dia pulang malam]


[Oh... boleh mas telpon dek? pengin denger suaramu]

__ADS_1


Tak lama ponselku berdering, segera kuangkat panggilan darinya.


[Halo, assalamualaikum]


[Waalaikum salam... Kamu sendirian sekarang, dek?] jawab Mas Ferdi dari seberang telepon.


[Iya, mas]


[Suamimu kerja apa? Jam segini belum pulang?]


[Kerja di kafe mas]


[Ooh, kalau siang berarti ada di rumah?]


[Nggak juga mas, kalau siang dia di bengkel]


[Kenapa gak disuruh lamar kerja di kantoran saja?]


[Emmh... Katanya dia udah terbiasa seperti ini]


[Oh... Terus gimana harimu?]


[Hari ini lumayan buruk mas]


[Lho, Kenapa emang?]


[Kami ditangkap satpol PP]


[Emang masalahnya apa? Gimana ceritanya?]


[Gak tahu mas, kami lagi duduk di bangku taman, tiba-tiba aja mereka menangkap kami. Kami dikira pasangan mesum mas, padahal kami cuma duduk sambil makan cemilan]


[Terus?]


[Kami digiring ke kantor mereka, motor juga disita. Selain kami juga banyak pasangan lain yang ikut ditangkap]


[Terus?]


[Di kantor kami diinterogasi macam-macam. Orang tua kami disuruh kesini, mereka gak percaya kalau kami cuma merantau berdua. Mereka juga gak percaya kalau kami udah nikah. Mereka minta bukti, akhirnya A Jiho pulang untuk ambil surat nikah. Dari situlah mereka baru percaya, dan akhirnya kami disuruh pulang]


[Pasti kamu takut banget ya?]


[Iya mas, aku sampai nangis saking takutnya. Untung saja semua udah berlalu]


[Hmmm iya dek, buat pengalaman. Jadi ini kalau siang-siang sama malam kamu sendirian?]


[Iya mas]


[Boleh gak kalau mas telpon lagi? Biar kamu ada teman ngobrol?]


[Hah? Ah, iya boleh mas]


[Dek...?]


[Ya...?]


[Mas kangen sama kamu, dek. Kapan kamu pulang?]


[Waduh mas, baru juga tiga hari aku disini, masa pulang lagi sih?]


[Haha, iya juga sih. Mas cuma kangen pengin ketemu kamu... Hmmm kalau boleh, mas minta alamatmu disana...]


[Tapi...]


[Hahaha... bercanda dek, tapi kalo boleh gak apa-apa kan kalau mas main kesana? bilang suamimu dulu]


[Iya mas]


[Ya sudah dek, mas tutup dulu teleponnya ya... Kapan-kapan mas telepon lagi]


[Hmmm... Iya mas]


[Assalamualaikum. I love you dek]

__ADS_1


Tuut... tuut...tuut... Panggilannya langsung terputus. Apa-apaan sih Mas Ferdi ini? kenapa dia bilang seperti itu lagi?


__ADS_2