
"Sayang, kita ke dokter ya..." ucap Jiho. Dia memang penasaran apakah yang dikatakan Bang Nawas itu benar.
Tiara menggeleng. "Gak A, gak perlu. Aku gak apa-apa, aku udah sehat. Aku cuma khawatir sama Aa."
"Khawatir apa? Justru Aa yang khawatir sama kamu." lanjut Jiho
Dia melirik sekeliling, dia hanya mendapati gelas bekas kopi di dekat jendela dan ada parcel buah.
"Sayang, itu gelas kopi siapa? Kenapa ada parcel buah juga? Apa ada yang datang kesini?"
"Ah itu, tadi... aku..." Tiara tak bisa menjawabnya. Dia khawatir suaminya akan marah.
Jiho mengernyitkan keningnya, dia tahu pasti ada yang disembunyikan oleh istrinya itu. Tentang kenapa dia menangis seperti itu. Dan kenapa dia tidak terbuka padanya...
"Sayang...?"
"Ah tadi, itu... Bos datang kesini..."
"Bos?"
"I-iya, Bos Endra..."
Jiho makin heran kenapa bisa bos'nya datang ke rumah.
"Ada apa bos datang? Apa kau baik-baik saja?"
Tiara mengangguk.
"Bos tidak menyakitimu, kan?" Jiho bertanya kembali dia hanya ingin meyakinkan dirinya.
Tiara menggeleng. "Bos hanya menjengukku, A..."
"Benarkah?"
"Iya, A."
"Gak ada yang kamu sembunyikan dari Aa, kan?"
"Gak Ada, A"
"Lalu kenapa kamu menangis?"
Tiara tertunduk. Air matanya mulai menetes lagi.
'Ah, kenapa aku malah jadi seperti menghakiminya seperti ini?' batin Jiho menyesal.
Lelaki itu menarik nafas panjang. Dia memeluk istrinya lagi.
"Maaf..." Ucap Jiho sambil mengusap lembut rambut istrinya.
"Mulai hari ini gak usah kerja aja ya... Kamu di rumah seperti biasa..." Ucap Jiho kemudian.
"Tapi, A..." Tiara tiba-tiba ingat ancaman bosnya itu.
"Ya...?"
"Biarkan hari ini aku berangkat dulu, A..." jawab Tiara.
"Kamu yakin gak apa-apa?"
"Iya"
Jiho mengangguk. "Ya sudah, kamu istirahat dulu, ya... Biar Aa yang bereskan semuanya."
"Iya, A..." sahut Tiara kemudian.
***
Menjelang malam, mereka berangkat kerja bersama-sama.
Dari balik ruangan itu, Bos Endra tersenyum melihat kedatangan mereka. Ah tidak, lebih tepatnya kedatangan Tiara.
"Gadis itu polos sekali. Sungguh menarik," ucapnya lirih sambil sesekali menyeringai. "Hanya digertak begitu saja, dia langsung menuruti ucapanku?" Endra masih senyum-senyum sendiri memikirkannya. Entah kenapa dia bisa terobsesi pada gadis itu. Matanya begitu indah.
'Aku sudah menyusun rencana yang sangat matang, agar mereka berdua bisa berpisah. Dan gadis itu akan jadi milikku!' Endra berbicara pada dirinya sendiri.
Dia sempat melihat kemesraan mereka berdua. Memang Tiara terlihat sangat bahagia bersama suaminya itu.
__ADS_1
"Hah, gak apa. Puas-puasinlah kau bersama dia, karena hari ini terakhir untukmu bisa bersamanya..." Ucapnya lagi dengan sinis.
Seperti biasanya Jiho diberi tugas di luar. Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 malam.
"Sudah waktunya aku beraksi," ucap Bos Endra kemudian, berbicara pada dirinya sendiri. Sekarang dia memang sudah gila karena Tiara selalu menolaknya. Tidak seperti wanita-wanita lain, yang sekali dirayu sekali itu pula mereka memuaskannya.
***
"Tiara, kau dipanggil si bos," ucap Yusuf memberi tahu Tiara.
"Hah? Aku? Ada apa ya?"
"Gak tahu, Ra. Akhir-akhir ini kok si bos sering mengganggumu ya?"
Tiara hanya menggeleng. Sebenarnya ada apa si bos memanggilnya lagi?
"Hati-hati sama si bos, Ra..."
"Iya..."
Tiara menemui bos Endra di ruangannya itu.
Tok... Tok... Tok...
Pintu kaca itu diketuk oleh Tiara.
"Masuklah" jawab suara dari dalam. Endra tersenyum ketika gadis itu memasuki ruangannya.
"Maaf bos, ada apa memanggil saya?" tanya Tiara sambil menunduk.
"Wooo... Gak usah buru-buru nona, duduklah dulu." Tukas si bos menggodanya.
Tiara semakin tak nyaman dibuatnya. Dia takut.
"Nona, tolong kau temani aku menemui rekan bisnisku ya..." Ujar si bos.
"Hah? Saya? Maaf bos, tapi..."
"Gak ada tapi tapi. Kau harus ikut denganku."
"Tidak mau!"
"Bos mengancam saya?"
"Hmmm ya, bisa dibilang begitu..."
Bos Endra mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Dia sengaja menekan tombol loudspeaker agar Tiara mendengarnya.
"Halo..."
"Halo, Bos..." Terdengar suara lelaki dari seberang.
"Ikuti mobil pick up, dengan nomor polisi XXXX, mereka sedang mengantarkan makanan dari kafe kedai angkringan."
"Siap bos! Kami ada dibelakang mobilnya."
"Bagus. Kau tinggal lakukan apa yang aku suruh. Tunggu instruksi berikutnya. Aku akan telepon lagi."
"Baik, bos!"
Panggilan itu ditutup. Mata Tiara membulat dia seakan tak percaya, bosnya melakukan ini semua.
"Gimana, nona?"
Pertanyaan bosnya itu membuat Tiara terhenyak. Kenapa bisa ada orang sejahat ini?
"Kau ikut denganku, dan suamimu akan baik-baik saja," tambahnya.
"Benar? Bos tidak akan menyakiti suami saya?"
"Ya, aku takkan menyakitinya. Asalkan kau ikut denganku. Tapi kalau kau tidak mau, aku tidak yakin apa yang akan terjadi dengannya."
Dia mengeluarkan ponselnya lagi dan menelepon seseorang kembali.
"Halo..."
"Halo bos. Apa yang harus kami lakukan pada mobil itu?"
__ADS_1
"Kalian harus membuat dia..."
"Jangaaaann...!" Tukas Tiara setengah berteriak.
Bos Endra tersenyum penuh kemenangan.
"Ya, ya, ya. Baiklah, saya ikut dengan bos." Lanjut Tiara lagi.
"Nah, gitu dong cantiik...." sahut Bos Endra sambil menutup panggilan telepon itu.
"Kalau boleh tahu, dimana kita akan bertemu dengan rekan bisnis bos?"
"Hotel Robinson,"
"Hah? Hotel??"
"Jangan salah paham dulu, di hotel juga ada restorannya, dia menunggu kita disana."
"Ooh..."
"Aku suka perempuan yang penurut seperti kamu."
"Apa saya boleh izin ke belakang sebentar?"
"Ya, silahkan nona maniss..."
Tiara berlalu ke belakang menuju lokernya. Dia menghapus air mata yang sedari tadi ia tahan.
"Kamu kenapa Tiara?" Tanya Yusuf.
"Kak, bos mengajakku bertemu dengan rekan bisnisnya,"
"Dimana?"
"Di Hotel Robinson,"
"Haah?? Apaaaa? Kenapa kau tidak menolaknya??"
"Sudah kak, aku sudah menolaknya. Tapi bos mengancamku akan mencelakakan A Jiho..."
"Apaaa? Dasar Bos brengsek,"
"Kak, tolong nanti sampaikan ke A Jiho ya..."
"Iya, iya... Pasti."
"Makasih ya kak, aku permisi dulu."
"Iya. Kamu hati-hati ya..."
"Iya kak, terima kasih."
Tiara pergi menghampiri mobil bosny. Si bos sudah menunggunya di parkiran.
"Sudah siap?" Tanya bos Endra. Tiara hanya mengangguk. Sebenarnya dia takut pergi berdua dengan lelaki jahat ini. Tapi dia lebih takut sesuatu terjadi pada suaminya.
Bos Endra mengendarai mobilnya dengan kencang, dia membawa Tiara menuju pusat perbelanjaan.
"Ayo turun dulu," ajak bos Endra.
"Mau apa bos?"
Bos Endra tak menjawab pertanyaannya, dia berlalu masuk. Seorang wanita muda menghampirinya.
"Sudah ada yang kupesan tadi?" Tanya Endra pada wanita itu.
"Sudah, tuan" jawab wanita itu sambil memberi sebuah bingkisan.
Bos Endra meraihnya dan memberikannya pada Tiara.
"Ganti bajumu, pakailah ini dulu," ujarnya kemudian.
Tiara hanya bisa pasrah mengikuti perintah bosnya. Dia mencoba dress itu meskipun kurang nyaman. Bagian atasnya terlalu terbuka.
"Bos..." ucap Tiara lirih.
Bos Endra tercengang melihatnya. Dia terpesona, Tiara begitu sangat cantik.
__ADS_1
"Kau sangat cantik..." Bisik bos Endra. Telinga Tiara memerah, dia sangat malu.