ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Sadar


__ADS_3

Masih tak ada respon dari Tiara. Dia masih terdiam. Dan Jiho tetap berada disampingnya, tetap setia menunggunya, dan menggenggam tangannya dengan lembut.


Ferdi yang melihatnya merasa tak tega. Apakah selama ini dia salah? Sudah hadir ditengah-tengah mereka? Hatinya teriris begitu perih melihat kedekatan mereka. Ferdi mengusap wajahnya dengan satu tangannya.


"Apa kau benar-benar kakaknya Tiara?" tanya Rania mengagetkannya.


"Kenapa?" tanya Ferdi sambil memicingkan mata.


"Kau terlihat begitu khawatir padanya..."


Ferdi menghela nafas dalam-dalam. Lalu tersenyum dengan masam. Ferdi kembali masuk ke ruangan itu.


"Jiho, kau istirahatlah. Lagi pula kau sedang sakit, kenapa kau malah pergi dari ruang perawatan?" tanya Ferdi pada Jiho yang terbangun karena mendengar langkah kakinya.


"Hmmm... Biarlah, biar aku disini. Aku akan menunggunya sampai dia bangun..."


Ferdi memegang pundak sahabatnya itu. "Kau harus tetap sabar... Suatu saat dia pasti akan terbangun lagi...."


"Aku merasa jadi suami yang sangat bodoh. Tidak bisa melindunginya. Beberapa kali dia berada dalam bahaya karena ulahku... "


"Tidak, ini semua sudah takdir..."


"Apa kau akan merebutnya dariku?"


"Hah?"


"Kau selalu bilang kalau kau akan merebutnya dariku, bukan?"


Ferdi tersenyum kecil. "Kenapa? Kau menyerah jadi suaminya?"


"Tidak..."


"Terus kenapa kau terlihat pesimis begitu?"


"Aku hanya berpikir, apa aku hanya menjadi pembawa sial untuknya?"


"Kau itu jangan bicara aneh-aneh begitu. Kau harus fokus untuk kesembuhannya dulu," sahut Ferdi. "Aku tahu kau sangat khawatir padanya, tapi yakinlah dia pasti akan sembuh. Dia masih punya ikatan sama kamu..." lanjutnya lagi.


Jiho terdiam.


"Kau terlihat sangat lelah. Istirahatlah dulu, biar aku yang menjaganya."


Salah seorang suster menjemput Jiho kembali ke ruang perawatan.


***


Ferdi menunggu Tiara hingga sampai dia tertidur. Karena saking lelahnya dia tak sadar, tangan dalam genggamannya mulai bergerak. Tiara mulai membukakan matanya. Matanya melihat sekeliling, dan melihat lelaki itu tengah tertidur menelungkup di kursi tunggu disampingnya berbaring.


'Mas Ferdi? Kenapa bisa dia ada disini?' Tiara bertanya-tanya dalam hati.


"Mas...." sapanya dengan lirih. Namun tak ada sahutan. Tiara tersenyum, 'dia pasti sangat kelelahan.'


Tiara memandang langit-langit kamar, sambil mengingat apa yang terjadi. Ah dia ingat waktu itu ada di villa bersama bos, tapi perutnya terasa begitu nyeri dan tak sadarkan diri. Dia tak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Dia melirik kearah jam dinding yang bertengger di ruangan itu. Waktu menunjukkan angka 2.


'Ah, ternyata sudah siang ya, berapa lama aku tak sadar?' batin Tiara.

__ADS_1


"Mas...." panggil Tiara lagi. Ferdi menoleh mendengar suara itu. Dia mengucek matanya yang masih terasa kantuk. Ferdi tersenyum mendapati Tiara sudah terbangun.


"Dek, kau sudah sadar?" ucapnya dengan rona wajah bahagia.


Ferdi beranjak dari duduknya untuk memanggil suster, namun tangan Tiara menahannya.


"Mas, jangan pergi...." ujarnya dengan lirih.


Ferdi duduk kembali. "Ada apa, dek?"


"Mas, apa yang terjadi denganku? Lalu kenapa kamu ada disini mas? Seingatku bos Endra...."


"Kau gak usah khawatir, dia sudah ditangkap polisi sekarang," ucap Ferdi sambil tersenyum. "Tapi...."


"Kenapa mas?"


"Bayimu tidak bisa diselamatkan..."


"Apaaa...??" pekik Tiara seakan tak percaya, dia meraba-raba perutnya. Tak terasa butir-butir bening itu meleleh di pipinya.


"Yang sabar ya dek..."


Tiara makin terisak.


"Kamu mengalami keguguran dan kau tidak sadarkan diri... Tapi alhamdulillah akhirnya kau sadar juga..." lanjut Ferdi.


"Mas tahu kau sangat sedih. Tapi ini sudah takdir. Kau tak perlu menangisinya berlarut-larut." sambungnya lagi, sambil mengusap air mata itu.


"Apa kau mau bertemu dengan suamimu?" tanya Ferdi lagi. Ah pertanyaan konyol macam apa itu.


"A Jiho? Aa Jiho ada disini? Mana dia mas?"


"Apa suamiku baik-baik saja?"


"Ya, hanya memar di sekujur tubuhnya. Dia butuh istirahat dan perawatan agar kembali pulih..."


"Aku ingin menemuinya, mas...."


"Iya, kau tetap disini saja. Biar aku bawa Jiho kemari."


"Tidak perlu, aku ada disini..." sahut Jiho.


Ferdi dan Tiara menoleh ke sumber suara. Jiho sudah berdiri disana entah sejak kapan.


"Aa..." panggil Tiara dengan nada bergetar. Air matanya tumpah lagi.


Ferdi beranjak dari duduknya. "Aku akan panggilkan dokter," ucap Ferdi sambil berlalu pergi.


Jiho menghampiri istrinya dengan debar perasaan yang tak menentu.


"Aa..." panggil Tiara dengan wajah sendu. Jiho mendekatkan wajahnya dan mencium kening istrinya.


"Aa, maafin aku gak bisa mempertahankan anak kita..."


"Sssttt... Tidak apa-apa sayang, yang penting kamu selamat dan sehat."

__ADS_1


Tiara tersenyum kecil. "Apa Aa udah sembuh? Wajah Aa masih terlihat lebam-lebam?" tanyanya sambil tangannya meraba wajah suaminya itu.


"Aa udah mendingan sayang... Aa sudah diperbolehkan pulang."


Tak lama, seorang dokter dan suster memasuki ruangan. Dia mulai memeriksa Tiara dengan seksama.


"Semuanya bagus. Tinggal tunggu pemulihannya saja ya, pak. Dua hari lagi istri bapak sudah diperbolehkan pulang..." ucap dokter itu pada Jiho.


"Baik dokter, terima kasih."


Dokter dan suster itu keluar dari ruangan. Jiho tersenyum mendengar keadaan istrinya mulai membaik.


"Jiho, aku antar Rania pulang dulu ya... Kasihan dia juga butuh istirahat," ucap Ferdi berpamitan. Rania menyusul mereka kedalam.


"Tiara semoga kau cepat sembuh ya..." sahut Rania.


"Mbak Rania kau ada disini?" tanya Tiara.


"Ya, dia membantu kami dari semalam untuk mencarimu," sahut Ferdi.


"Senangnya jadi kamu Tiara, banyak yang perhatian, suami dan kakakmu semuanya sangat khawatir padamu," sambung Rania.


"Kakak?" Tiara mengangkat kedua alisnya.


"Ya, ketika Jiho dirawat. Kakakmu, Ferdi yang menunggumu disini tanpa lelah. Dia tidak mau digantikan sampai-sampai tertidur disampingmu..." lanjut Rania lagi.


Tiara tersenyum sambil memandang wajah Ferdi yang sedikit berubah.


"Ferdi mengaku jadi kakakmu saat menyelamatkanmu dari Bos Endra disini.. " ucap Jiho setelah kepergian mereka.


Tiara tersenyum mendengarnya. Ferdi mungkin memang lebih cocok jadi kakaknya. Paman Har dan Paman Helmipun ikut pulang.


***


"Ran, katanya kamu kerja di cafe juga?" tanya Ferdi mengawali pembicaraan.


"Hmmm iya..."


"Bagaimana kalau nanti kau bekerja padaku?"


"Hah? Maksudnya?"


"Rencananya aku dan Jiho mau buka cafe. Kami pasti butuh orang yang berpengalaman. Lagi pula pasti kau keluar dari tempat bosmu itu kan? Dia kan melihatmu bersamaku semalam."


"Ah iya, kau benar juga sih. Bos Endra pasti akan memecatku. Lagian dia juga ada di penjara pasti cafe tutup sementara."


"Tidak lama, aku tahu sifatnya. Dia pasti akan cepat keluar dari sel tahanan."


"Kau benar juga. Terus kapan kau akan buka cafe?"


"Aku tunggu Tiara sembuh dulu sambil mempersiapkan semuanya. Aku ingin mereka pindah dari sana. Ya, tempat tinggalnya sekarang sudah tidak aman lagi buat Tiara."


"Haha, kau perhatian banget jadi seorang kakak..."


Ferdi tersenyum masam.

__ADS_1


"Hei Ferdi, apa kau sudah punya istri?"


Ferdi terkejut mendengar pertanyaannya. Hah, kenapa juga dia menanyai hal itu?


__ADS_2