
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sudah saatnya kafe 'kedai angkringan' tutup. Para pekerja sudah membereskan semuanya, rapi. Satu persatu mereka pulang. Begitu pula dengan Jiho. Dia sudah berada diparkiran, lengkap dengan jaket dan helmnya.
"Jiho...! Tunggu...!" seorang wanita berlari menghampirinya. Ya, dia Rania.
"Jiho, apa aku boleh ikut pulang denganmu?" tanya Rania penuh harap.
Jiho hanya mengerutkan keningnya.
"Aku gak bawa motor. Tolong ya, antar aku pulang. Please..." tukas Rania lagi dengan nada memohon seraya menangkupkan kedua telapak tangannya.
Jiho melihat sekeliling, memang benar tak ada motor Rania di deretan parkiran.
"Kamu gak akan membiarkan seorang wanita pulang malam sendirian, kan?" tambahnya lagi.
Jiho masih tak bersuara, dia hanya menghela nafas panjang. Dia ingin pulang lebih cepat untuk bertemu Tiara. Tapi kenapa selalu saja diganggu oleh wanita ini. Sebenarnya dia merasa kesal, tapi di satu sisi dia juga merasa kasihan pada Rania.
"Kalau ada apa-apa denganku, kau yang harus bertanggung jawab. Karena kamu membiarkan seorang wanita pulang sendiri!" tukas Rania agak ketus. Dia berjalan meninggalkan Jiho. Ah, itu hanya sebuah trik saja, karena Rania yakin Jiho takkan tega membiarkan dia sendiri.
"Tunggu, Rania!" sahut Jiho kemudian. Rania menghentikan langkah, dia tersenyum puas penuh kemenangan. Dia berbalik kearah Jiho.
"Ayo, naik. Untuk malam ini saja aku antar kamu pulang," sahut Jiho kemudian.
Senyum dibibir Rania mengembang dengan sempurna.
"Makasih Jiho," ucapnya sembari menaiki boncengan motornya.
Jiho melajukan motornya dengan kecepatan kencang. Rania memeluk Jiho dengan erat dan menyandarkan kepalanya di punggung Jiho. Rania tersenyum, sepanjang jalan dia merasa bahagia kapan lagi dia bisa seperti ini dengan Jiho. Apakah harus pakai cara ini biar Jiho mau menuruti permintaannya?
"Jiho... Jiho stop, Jiho!" teriak Rania sambil menepuk pundak Jiho. Seketika Jiho menghentikan laju motornya.
"Ada apa?" tanya Jiho sambil sedikit menoleh kebelakang.
"Nanti mampir dulu di minimarket depan ya, please..."
"Ini udah malam, Rania. Aku harus pulang..."
"Sekali ini aja, please..." rajuk Rania dengan nada memelas.
"Oke, tapi jangan lama-lama," sergah Jiho kembali.
Rania kembali tersenyum dengan puas. Dia kembali memeluk Jiho, sebenarnya dia ingin berlama-lama dengan lelaki itu. Makanya dia mencari-cari alasan untuk tetap bersamanya.
Jiho melajukan motornya lagi dan berhenti di depan minimarket, sesuai permintaan Rania.
"Sudah sampai, turunlah. Tolong jangan lama-lama, aku tunggu disini," tukas Jiho penuh penekanan.
"Ya, baiklah..."
Rania turun dari boncengan motornya dan berlalu menuju minimarket.
__ADS_1
Hampir dua puluh menit Jiho menunggu Rania, tapi dia tak kunjung kembali. Dia sungguh kesal dibuatnya.
Sekilas terlintas wajah Tiara yang sedang khawatir menunggunya. "Ah, maafin Aa sayang... Malam ini pulang telat," ujar Jiho dalam hatinya.
Tak lama Rania keluar dengan beberapa barang belanjaan.
"Udah?" tanya Jiho.
"Iya, maaf agak lama," sahut Rania.
"Rumahmu dimana?"
"Jalan Yos Sudarso,"
"Sekarang jangan mampir-mampir lagi. Kalau gak, aku turunin kamu di tengah jalan," tukas Jiho dengan nada mengancam.
"Ya... Ya, baiklah..." jawab Rania sedikit kecewa.
Jiho kembali memacukan motornya dengan kencang. Dasarnya memang Jiho sudah hapal jalan, dia dengan mudah menemukan rumah Rania.
Jiho menghentikan motornya di depan rumah Rania. Gadis itupun turun dari boncengan motornya.
"Makasih ya, Jiho..." sahut Rania sambil tersenyum manis.
Tanpa menyahut ucapan Rania, Jiho berlalu melesat pergi. Dia sempat melirik jam yang melingkar ditangannya, waktu menunjukkan pukul sebelas 23.40 malam.
***
'Sebaiknya aku tidur dulu deh sebentar.' ucap Tiara dalam hatinya.
Dia memejamkan matanya yang terasa begitu berat, tapi sungguh dua lupa menyalakan alarm di ponselnya.
***
Jiho udah sampai di rumah, setelah dua puluh lima menit perjalanan. Jam di tangannya sudah menunjuk pukul 00.05 menit.
Dia menghela nafas berat. "Tiara pasti sudah tidur," ucapnya lirih.
Tok... Tok... Tok...
Jiho mengetuk pintu itu, sepi tak ada jawaban.
Tok... Tok... Tok...
Dia mengetuk pintu lagi. "Sayang, ini Aa... Tolong buka pintunya..." ujar Jiho dengan nada setengah berteriak.
Lagi-lagi sepi tak ada jawaban. "Ah, Tiara sudah tidur," imbuhnya lagi dengan nada lemah.
Dia terduduk di depan pintu. Badannya terasa begitu lelah. Tanpa terasa matanya sudah terpejam.
__ADS_1
***
Tiara menbukakan kedua matanya. Dia terlonjak kaget setelah melihat jam di dinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dia lihat sekeliling Jiho belum juga pulang.
'Ah, atau jangan-jangan dia ada di depan?' Tiara bertanya-tanya dalam hati.
Tiara menyibak tirai jendela. Dan... Benar, ada motor Jiho di depan, dan dia terduduk di dekat pintu.
"Ya Allah, aku ketiduran sampai tidak dengar dia pulang," ucapnya menyesal.
Segera dia buka pintu itu. Jiho terlelap tidur, masih mengenakan jaket yang dia pakai ketika berangkat.
"A... A... bangun..." bisik Tiara di telinganya. Dia bergeming, mungkin masih terlelap di mimpinya. "A... A... bangun..." ucapnya kembali, kali ini dengan nada lebih keras. Tiara menggoyangkan tubuhnya yang terlihat lelah.
Sekejap dia membukakan matanya, sambil mengerjap perlahan menahan rasa kantuk.
"Ah... Aa ketiduran disini..." sahutnya kemudian.
"Ayo masuk A..." lanjutnya lagi.
"Iya sayang... Aa masukin motor dulu," sambungnya lagi. Tiara mengangguk. Dia jadi merasa bersalah. Jiho sampai ketiduran diluar dan dia gak tahu.
"A... Maaf..." ucap Tiara pelan. Segera dia peluk tubuh suaminya itu. Ada aroma parfum wanita di jaketnya. Tapi Tiara masih tetap berpositif thinking.
"Aku ketiduran A, maafin aku. Aku gak dengar Aa ketuk-ketuk pintu." tambah Tiara lagi.
"Iya sayang, gak apa-apa. Kamu pasti kecapean kan?" jawab Jiho sembari mengelus-elus rambutnya.
"Sudah, ayo kita tidur lagi..." ajaknya lagi.
Tiara mengangguk.
***
Pagi-pagi sekali Tiara sudah bangun dan melakukan aktivitasnya seperti biasa. Dia sudah memasak untuk sarapan. Diapun sudah menyiapkan kopi untuknya.
Tiara akan mencuci baju. Tiba-tiba...
"Glotak..." sebuah benda kecil terjatuh dari saku jaket sang suami.
'Ini lipstik punya siapa?' Tiara bertanya-tanya dalam hatinya. Seketika hatinya menjadi ragu. Diciuminya jaket itu, aromanya seperti parfum wanita, dan ada bekas bibir warna merah di jaket itu. Warna yang sama dengan warna lipstik itu. Entah kenapa hatinya merasa sakit.
'Sebenarnya semalam A Jiho kemana?' tanya Tiara dalam hati. Entah kenapa butiran bening itu menetes di pipinya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Jiho yang menyusulnya ke belakang. Tiara masih termangu di tempat dia duduk, masih dengan lipstik dan jaket di tangannya. Entah kenapa dia tiba-tiba berhenti tidak melakukan pekerjaan rumahnya lagi.
Jiho tersenyum dan menghampirinya.
"Ini apa, A?" tanya Tiara dengan suara bergetar. Air matanya sudah tak terbendung lagi. "Semalam kamu kemana? Kenapa ada bekas bibir di jaketmu?" tanya Tiara kembali butuh penjelasan.
__ADS_1
Jiho langsung memeluknya dengan erat. Diapun baru tahu kalau ada lipstik di jaketnya. Ternyata Rania bersikap licik, dia sengaja melakukan hal itu kan?
"Sayang, maafin Aa ya... Aa yang salah, semalam Aa pulang telat karena ngantar teman Aa pulang. Tadinya Aa kasihan karena dia gak bawa motor. Namanya Rania. Aa sama sekali gak ada hubungan apapun dengannya. Dia hanya sebatas teman kerja. Aa juga gak tahu kenapa benda itu bisa ada di jaket Aa. Aa benar-benar gak tahu kalau Rania melakukan itu semua. Tolong maafin Aa ya sayang... Aa janji, Aa gak akan mengulangi ini semua. Aa mohon, maafin Aa ya..." ucap Jiho penuh penyesalan. Sungguh dia tak ingin melihat istrinya itu menangis.