
"A, apa kau baik-baik saja?" Tanya Tiara pada suaminya setelah Ferdi pergi.
"Iya, sayang..."
"Tadi perutnya bukankah sakit sudah dipukul sama mas Ferdi?" tanya Tiara lagi penuh khawatir. Dia meraba-raba perut suaminya itu.
"Iya sedikit. Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa. Kau tak perlu khawatir ya..." Lanjut Jiho lagi.
Tiara memeluknya lagi. Dia tak ingin lepas dari suaminya. Perpisahannya kemarin membuatnya tersadar bahwa Jiho lelaki yang baik yang amat sangat mencintainya dan memperlakukan begitu lembut. Dia merasa dihargai sebagai wanita.
🍁🍁🍁
Pagi-pagi sekali Jiho terbangun. Biasanya Tiara sudah terbangun lebih dulu, tapi sepertinya dia kelelahan, dia masih terlelap dalam tidurnya.
Jiho bertekad ingin menjadi suami yang baik untuknya. Dia bebersih diri dan kembali meracik makanan di dapur. Tak lama Tiarapun terbangun. Tapi tiba-tiba perutnya terasa mual mencium aroma masakan.
"Oeekk.. oekk.."
Jiho melihatnya dengan tatapan heran. Pasalnya kemarin Tiara terlihat baik-baik saja. "Sayang, kau kenapa?" tanyanya sambil memijat pelan bahu istrinya itu.
"Ah, perutku terasa mual sekali A..."
"Apa kau pusing?"
"Ya, sedikit"
"Ayo kita ke dokter saja..."
"Hah? Ke dokter lagi? Kemarin aku baru saja dirawat A..."
"Apa dokter atau Ferdi mengatakan sesuatu padamu?"
"Enggak, dokter hanya bicara sama mas Ferdi dan menyuruhku untuk istirahat yang cukup dan tidak boleh stress..."
"Kalau gitu, ayo ke dokter lagi atau ke bidan terdekat saja..."
"Tapi A..."
"Aa perlu tahu sakitmu itu apa..."
"Ya, baiklah. Aku mandi dulu..."
"Tunggu sayang, kamu duduk dulu. Aa siapkan air hangatnya dulu..."
Tiara tersenyum melihat perlakuan suaminya yang begitu perhatian.
"Apa kau masih mual?" Tanya Jiho lagi setelah Tiara selesai mandi.
"Iya, kalau mencium bau sesuatu rasanya perut mual sekali A..."
"Berarti kalo nyium Aa juga mual dong..."
"Ah enggak, itu sih pengecualian A..."
Jiho tersenyum melihat Tiara tersipu malu.
"Ayo berangkat..."
"Iya..."
Mereka berangkat bersama menuju bidan terdekat.
Sesampainya di rumah Bu Bidan.
"Selamat pagi, mas, mba..." Sapa Bu bidan dengan ramah.
"Pagi..."
"Ada keluhan apa?"
"Begini Bu, istri saya tadi merasa mual-mual dan muntah, kepalanya juga pusing..." Jawab Jiho.
Bu Bidan yang bernama Aisyah itu tersenyum.
"Sudah berapa hari?"
__ADS_1
"Tiga harian, Bu."
"Oh iya iya, kapan terakhir kali menstruasi, mba?"
Tiara tampak berpikir. "Ah iya Bu bidan, bulan ini sepertinya saya belum mens..."
"Baik, coba kita periksa dulu ya..."
Tiara diperiksa denyut nadinya dan juga ditensi darahnya. Lalu Bu bidan memberikan alat tes kehamilan.
"Coba mba Tiara ke belakang dulu, Disini ada cara pakainya. Sudah tahu kan caranya?" Ucap Bu Bidan.
"Baik, Bu"
Tiarapun berlalu ke belakang ( toilet ) dan menuruti instruksi Bu Bidan. Dia kembali dengan wajah yang sedikit tegang.
Bu bidan tersenyum melihat hasilnya.
"Begini mas, istri anda tidak sakit."
"Terus?"
"Ada kabar baik buat kalian. Selamat ya, istri mas hamil..."
"Hamil Bu?" Tanya Jiho dengan raut wajah bahagia. Tiarapun ikut tersenyum melihat kabahagiaan sang suami.
"Iya, lebih baik kita USG dulu ya... Biar tahu sudah berapa minggu."
"Baik, Bu"
Tiara berbaring di tempat yang sudah disediakan. Lalu Bu bidan mulai menempelkan alat itu ke perut Tiara. Jiho mendengarkan penjelasan Bu bidan dengan antusias.
"Kehamilannya memasuki usia lima minggu... Untuk HPLnya diperkirakan tanggal 30 Oktober"
"HPL itu apa Bu?" Tanya Jiho.
"Hari Perkiraan Lahir. Tapi bisa saja maju maupun bisa juga mundur. Itu tidak jadi patokan, hanya perkiraan."
"Terima kasih, Bu."
"Baik, Bu."
"Dan ingat, mungkin istri mas akan mengalami kondisi mual, muntah, pusing, atau kondisi lainnya, itu hal yang wajar bagi seorang ibu hamil. Tetap perhatikan dia dan kasih semangat ya..."
"Baik, Bu bidan. Terima kasih banyak. Kami permisi." Ucap Jiho berpamitan.
Jiho mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Tak ada yang bisa membuatnya lebih bahagia selain kehamilan istrinya itu.
🍁🍁🍁
Sesampainya di rumah.
Ini ekspresi yang pas menggambarkan kebahagiaan Jiho.
"Sayang... Terima kasih..." Ucap Jiho lagi sambil memeluk istrinya dengan erat. Dia menciumi kening, pipi dan bibir istrinya berulang kali. Rasa bahagianya begitu membuncah.
Jiho berlutut di depan istrinya dan memegang perutnya dengan lembut.
"Jiho kecil... Anak ayah, tumbuh yang baik ya..."
"Kenapa Jiho kecil? Kan belum tahu jenis kelaminnya apa A? Emangnya laki-laki?"
Jiho tersenyum. "Mau perempuan atau laki-laki dia tetap Jiho kecilku..."
"Huuh dasar..."
"Jiho kecil... Anak ayah, tumbuh yang sehat ya. Jangan bikin ibu sakit." Jiho menciumi perut Tiara yang masih terlihat rata.
"Udah atuh A, aku geli..." sahut Tiara lagi.
Jiho tersenyum lagi. "Sayang, kamu jangan kecapekan ya... Nanti biar Aa yang kerjakan semuanya."
Tiara mengangguk, dia sedang malas berdebat, khusus hari ini dia masih ingin dimanja oleh suaminya itu.
__ADS_1
"Ayo kita makan, tadi pagi kan kita belum sempat sarapan..." Ajak Jiho, kemudian dia beranjak menyiapkan semuanya
Tiara mengangguk lagi.
🍁🍁🍁
"Aa gak berangkat kerja?" Tanya Tiara kemudian.
"Enggak. Mulai besok Aa kerja lagi, kamu gak apa-apa kan ditinggal lagi sendiri?"
"Iya A. Terus yang di cafe...?"
"Aa gak sudi berangkat kesitu lagi."
Tiara mengangguk, rona wajahnya berubah jadi murung kembali tiap mengingat hal itu berhubungan dengan kejadian buruk yang menimpanya.
"Udah jangan sedih gitu. Yang lalu biarlah berlalu. Buat Aa, kamu tetap Tiara yang Aa cinta, sampai kapanpun, takkan berubah..."
Dia mengangguk dan tersenyum.
"Mungkin nantinya Aa akan cari kerjaan yang lain..."
"Kenapa?"
"Iya, Aa harus mulai nabung dari sekarang buat biaya persalinanmu nanti, iya kan?"
Tiara mengangguk lagi. Dia jadi sangat terharu, lelakinya ini sangat pekerja keras.
"A, aku ingin mengabarkan kabar bahagia ini pada Bapak dan Ibu."
"Disana siapa yang punya handphone?"
Tiara menggeleng.
"Ya sudah, kita berangkat."
"Hah? Kemana? Pulang?"
"Enggak, sayang... Kita gak pulang dulu, kondisimu kan lagi kayak gini. Pulangnya nanti saja ya, kalau kondisimu sudah vit lagi."
"Ah iya A, terus kita mau kemana?"
"Kita berangkat ke counter, lalu beli handphone buat bapak. Nanti kita kirimkan lewat paket ya..."
"Oh gitu, emang bisa?"
"Bisa sayang, paling lama seminggu barangnya akan sampai."
"Iya."
"Ya sudah, Aa bereskan ini dulu. Kamu siap-siap ya..."
Tiara mengangguk. Tak terasa butiran bening menetes di pipinya. Entah kenapa, dia jadi melankolis seperti ini, dia merasa sangat terharu.
"Lho kenapa nangis, sayang?" Tanya Jiho sambil menghampirinya lagi.
Tiara menghambur kearahnya dan memeluk suaminya dengan erat.
"Aa, terima kasih. Tolong jangan pernah berubah terhadapku."
"Iya, sayang"
"Aa janji?"
"He'em, Aa akan selalu sayang padamu."
"Maafin aku..."
"Maaf untuk apa?"
"Maaf untuk semuanya, aku punya banyak kesalahan padamu, aku sering membuatmu kecewa, aku...."
"Sssttt... Sudah jangan diteruskan lagi. Tentu saja Aa sudah maafin kamu. Sudah jangan nangis lagi ya, senyum dong..."
Tiara kembali tersenyum dan masih memeluk suaminya dengan manja.
__ADS_1
'Apakah perasaan ibu hamil sesensitif ini?'