
"Aku belum menikah," jawab Ferdi dengan tersenyum kecut.
"Kenapa wajahmu berubah gitu? Habis patah hati ya..." ledek Rania yang melihat perubahan di wajah Ferdi.
"Hah ya, kau benar. Aku patah hati beberapa kali oleh orang yang sama. Tapi sampai sekarangpun aku gak bisa melupakannya," jawab Ferdi sambil mengusap wajahnya. Terbayang lagi wajah Tiara. Tapi diapun tak menginginkan kalau wanita pujaannya bersedih.
"Hahaha, ternyata bucin juga kamu..." ledek Rania lagi.
"Ya, bisa dikatakan begitu. Aku sudah terlanjur mencintainya."
"Memang kenapa dia menolakmu?"
"Dia sudah punya suami..."
"Hah? Jadi kau mencintai istri orang? Nekat banget sih..."
"Kalau tidak tahu, jangan menilai sembarangan... Aku mencintainya dari dia masih gadis. Tapi ternyata dia lebih memilih suaminya yang sekarang."
"Hahaha... Maafin aku Ferdi, aku jadi pengin ketawa. Terlalu bodoh menurutku kau ini, kalau dia gak memilihmu kenapa kamu gak move on cari ganti yang baru?" lanjut Rania lagi.
Ferdi menghela nafas panjangnya. "Tidak semudah itu. Aku kan sudah bilang, aku terlanjur mencintainya. Aku sudah mencoba untuk melupakannya, tapi itu terlalu sulit."
"Hah, ternyata masih ada ya lelaki yang sangat mencintai wanita padahal dia sudah hidup sama laki-laki lain. Mungkin hidupnya lebih bahagia. Dan kau sudah dikecewakan berkali-kali. Cobalah berdamai dengan hatimu, kau harus bisa membuka hatimu untuk orang lain. Jangan hanya terpaku padanya saja."
"...."
"Sayang sekali kan kalau masa mudamu hanya merasakan kecewa. Kaupun berhak merasakan indahnya dicintai."
Ferdi masih terdiam. Memang ada benarnya ucapan Rania.
"Kau tahu Fer? Aku pernah menyukai Jiho?"
Ferdi menoleh kearah Rania, tatapannya menyiratkan beberapa pertanyaan.
"Aku juga mencintainya dari sejak dia masih lajang. Dia menolakku, selalu saja menolakku. Waktu mendengar dia menikah, hatiku sakit. Apalagi waktu dikenalkan sama istrinya itu. Hatiku rasanya tercabik-cabik. Awalnya akupun ingin terus mengejar Jiho. Tapi melihat ketulusan cintanya pada sang istri, membuatku berpikir dua kali. Mereka saling mencintai. Bahkan Jiho tak pernah melirikku, walau apapun sudah kulakukan. Aku jadi berpikir, untuk apa terus mengharapkan orang yang tak mencintai kita. Aku juga gak ingin menjadi perusak hubungan orang lain. Biarkan aku mengalah, ah bukan, lebih tepatnya aku berdamai dengan diriku sendiri. Aku coba menerima semuanya. Dan mencoba membuka hatiku untuk yang lain."
"...."
"Kau benar, awalnya memang sulit. Tapi lama-lama kau akan terbiasa. Kita gak mungkin kan terus-terusan mengharapkan jodoh orang lain."
Ferdi tersenyum masam mendengar penuturannya.
Setelah mengantar Rania, Ferdi menuju rumah omnya. Diapun menyuruh orang untuk membersihkan rumah omnya yang sudah lama tidak berpenghuni. Bangunannya sangat layak dan masih bagus, hanya kurang dirawat saja. Dia juga memerintah orang untuk membereskan beberapa ruangan agar bisa dipakai untuk tempat usahanya.
***
Ferdi sedang berjalan-jalan di dekat area rumah sakit. Tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
"Aauu..." ucapnya mengaduh.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak sengaja," jawab Ferdi.
"Kau??" teriak mereka hampir bersamaan. Mereka saling terkejut ketika dilihatnya seseorang yang pernah dikenalnya, bukan, bukan, justru orang yang pernah dekat dengannya dimasa lalu.
"Ferdi apa kabar?" tanya wanita itu basa-basi. Dia tersenyum. "Kenapa ada disini? Siapa yang sakit?" tanyanya lagi.
Ferdi berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya. Dia pernah merasa kecewa olehnya.
__ADS_1
"Tunggu, Fer. Maafin aku..." cegatnya sambil menarik tangannya. "Fer, tolong dengarkan aku bicara dulu," lanjutnya lagi.
Langkah Ferdi terhenti. Dia mengibaskan tangannya. "Tidak usah dijelaskan. Aku juga sudah tidak ingin mendengarkannya."
"Ah iya, kau sudah punya kehidupan sendiri. Tapi biarkan aku meluruskan kesalahpahaman itu."
"Mita, dulu kita memang pernah punya hubungan. Tapi tidak sekarang. Kau tidak perlu menjelaskan apapun. Kau tidak perlu merasa bersalah. Oke, aku permisi..." ucap Ferdi.
Ferdi menuju ke ruang perawatan Tiara, tak ia sadari kalau langkahnya diikuti oleh seseorang. Seorang wanita yang tadi ditinggalkannya begitu saja.
Ferdi dia enggan masuk ke ruangan. Dia melihat Jiho yang sedang menyuapi istrinya makan. Dia kembali duduk di ruang tunggu rumah sakit.
"Ferdi..." sapa seseorang.
Ferdi melirik dan sedikit terkejut, dilihatnya Mita sudah duduk disampingnya, dia mengikuti Ferdi sampai disini. Mita, dia masa lalu Ferdi saat masih duduk di bangku kuliah.
"Siapa yang sakit?" tanyanya ingin tahu.
"Fer, kau sudah dari tadi disini?" tanya Jiho yang tak menyadari ada orang lain disamping Ferdi.
Mereka menoleh.
"Jiho? Kau Jiho, kan? Kau juga ada disini?" tanya wanita itu sambil tersenyum.
Jiho tampak mengernyitkan keningnya.
"Kau lupa padaku ya, Jiho? Aku Mita, kau ingat?" lanjut wanita yang bernama Mita itu.
"Ooh iya, iya..." sahut Jiho sambil melirik ke arah Ferdi.
"Hei, kalian keren banget. Jadi, kalian masih bersahabat sampai sekarang?" tanya Mita lagi dengan wajah yang sumringah.
"Terus ini siapa yang sakit, Jiho?" tanya Mita lagi.
"Istriku yang sakit."
"Istri? Jadi kau sudah menikah? Jiho yang dulu dingin sama wanita, justru sekarang sudah menikah?" ujar Mita sambil tertawa kecil.
Jiho tersenyum lagi dibuatnya.
"Kau sendiri? Bukannya kau juga sudah menikah?"
"Ya, tapi kami sudah bercerai dari beberapa bulan yang lalu."
"Oh, maaf..."
"Iya, tidak apa-apa."
"Terus kamu ada disini, siapa yang sakit?"
"Ibuku sedang sakit. Mantan suamiku pergi bersama wanita lain, sejak saat itu tubuh ibu drop dan sakit-sakitan."
"Oh... Terus, anakmu? Apa kau sudah punya anak?"
Raut wajah Mita jadi berubah muram. "Aku tidak punya anak, karena alasan itu juga suamiku pergi meninggalkan aku."
"Oh, maafkan aku, Mita..."
__ADS_1
"Ya, tidak apa-apa. Kalau Ferdi sendiri gimana? Apa kau sudah punya istri?"
"Dia belum menikah," sahut Jiho.
Mita tersenyum, sambil sesekali melihat ke arah Ferdi.
"Kenapa justru sekarang Ferdi yang jadi pendiam sih?" tanya Mita lagi.
Jiho hanya tersenyum. Sedikit banyak dulu dia tahu hubungan mereka. Mereka sempat berpacaran beberapa bulan, namun kemudian Mita meninggalkan Ferdi untuk menikah dengan orang lain. Katanya paksaan dari orang tuanya, tapi Ferdi tak percaya itu.
"Ah ya sudah, Jiho, Ferdi, aku balik dulu ya... Maaf nih, mengganggu waktu kalian. Salam buat istrimu ya, semoga cepat sembuh..." ucap Mita sambil berpamitan.
"Iya..."
Mita sudah hilang dari pandangannya.
"Apa kau baik-baik saja, Ferdi?" tanya Jiho. Dia yahu, dulu sahabatnya pernah terluka
"Ya, aku baik-baik saja."
***
Dua hari berlalu, Tiara sudah diperbolehkan pulang.
"Kalian ikut aku, tinggal di tempat yang baru," tukas Ferdi ketika masih di perjalanan.
"Tapi..."
"Hei, kau gak akan mempertaruhkan keselamatan adikku lagi kan?" lanjut Ferdi lagi.
"Adik?" tanya Jiho heran.
"Ya, bolehkan kalau aku menganggap Tiara sebagai adikku? Bapak sama ibu selama ini sudah banyak membantuku, dia juga sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Jadi boleh dong kalau aku juga menganggapnya sebagai adikku?"
Jiho dan Tiara saling berpandangan. Mereka tersenyum.
"Ya, aku kan gak punya kesempatan untuk menjadi suaminya. Tapi aku punya kesempatan untuk menjadi kakaknya. Tenang saja dek, aku akan melindungimu sebagaimana seorang kakak terhadap adiknya," lanjut Ferdi lagi.
Tiara tersenyum simpul.
"Kalian harus panggil aku kakak, kamu juga Jiho. Sekarang kau adik iparku," tukas Ferdi lagi sambil terkekeh.
"Hah?" Jiho hanya menatapnya bingung.
Mobil yang dikendarai Paman Har sudah memasuki sebuah rumah.
"Ini dimana mas?" tanya Tiara.
"Ini tempat tinggal kalian sekarang, dan disampingnya akan kita gunakan untuk membuka cafe. Gimana kalian setuju?"
"Ini terlalu merepotkanmu."
"Hei, aku akan melakukan apapun untuk keselamatan adikku."
"Kau serius?"
"Apa aku terlihat main-main?"
__ADS_1
"Ya, tidak juga sih..."