
Pukul 20.21 WIB, Ferdi baru sampai di kota T. Dia masih bingung harus mencari penginapan dimana. Dia memasuki sebuah warung makan dan memesan makanan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
"Bu, disini penginapan terdekat dimana, ya?" tanya Ferdi kepada Ibu pemilik warung.
"Masnya baru datang ya?"
"Iya Bu."
"Disini yang paling dekat Hotel Robinson, mas. Di seberang jalan sana. Hotel mewah biasanya yang nginep juga orang-orang berduit. Yang lainnya ada tapi lebih jauh..."
"Ah iya iya, terima kasih ya Bu..."
"Iya, mas."
Ferdi menghela nafas panjang.
'Sepertinya aku harus nginep dulu dua hari disitu. Sekalian cari-cari tempat tinggal yang lain.' ucapnya dalam hati.
Dia menyelesaikan makanannya dan check-in ke Hotel Robinson untuk dua malam.
Dia dapat kamar nomor 1207. Diapun memasuki kamar itu dan merebahkan dirinya diatas spring bed yang mewah dan nyaman.
Ferdi sebenarnya dia anak orang kaya, anak pemilik perusahaan meubel di daerahnya. Hanya saja jiwa Ferdi terlalu bebas, hidupnya tidak mau dikekang maupun diatur. Maka dari itu dia lebih senang merantau. Tapi tetap saja sebagai orang tuanya, mereka selalu khawatir. Sang ayah selalu mengirimkannya jatah bulanan. Dia merasa kasihan bila anaknya kekurangan makan di luaran sana. Selama ini uang dari ayahnya tak pernah dipakai. Hanya mengendap saja di rekening tanpa diutak-atik. Sebagian gajinya pun ditabung dalam rekening yang sama.
Dia melihat isi dompetnya. Hanya tinggal beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Hah! Kayaknya aku terpaksa pakai uang ayah, kebutuhan disini sepertinya akan lebih besar. Mulai dari mana aku harus mencari Tiara?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Malam semakin larut, akhirnya diapun terlelap dalam tidurnya.
***
Pagi-pagi sekali, Tiara sudah terbangun seperti biasa. Badannya sudah jauh lebih baik, kepalanya tidak pusing lagi. Ia melirik suaminya yang masih tertidur. Sekilas dia tersenyum.
Adzan subuh berkumandang. Diapun beranjak membersihkan dirinya. Lalu membangunkan suaminya untuk sholat berjamaah bersama.
Dia mulai memasak serta melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya seperti biasa. Tak lupa Jihopun selalu sigap membantu istrinya.
"Sayang, Aa berangkat dulu ya..." Pamit Jiho.
"Iya, A."
"Hati-hati ya di rumah. Kalau masih sakit, tiduran aja ya, nanti biar Aa yang beres-beres..."
Tiara mengangguk. Jihopun beranjak pergi dengan motornya.
Tiara tersenyum lagi. Dia merasa sangat beruntung memiliki suami sepertinya. Suami idaman. Biarpun tidak kaya, tapi dia tanggung jawab dan selalu memenuhi kebutuhannya. Bahkan dia tidak merasa kekurangan materi maupun kasih sayang.
Tak berapa lama, Tok... Tok... Tok...
Suara pintu diketuk. Tiara berpikir itu suaminya yang balik lagi karena ketinggalan sesuatu.
"Ya, sebentar..." Tiara membukakan pintu.
"Apa ada yang tertinggal, A?" tanya Tiara.
__ADS_1
Dia menoleh, seketika dia sangat terkejut. Dia tak menyangka dihadapannya berdiri dengan gagah pria yang dipanggilnya dengan sebutan bos.
"Bo-bos..." ucap Tiara seketika badannya gemetaran. Dia merasa takut, apalagi ditambah dengan kejadian tempo hari.
"Hai nona, ada tamu gak disuruh masuk nih?" tukas Bos Endra sembari tersenyum nakal.
Tiara sangat bingung sekarang. Di rumahnya ada laki-laki asing. Banyak pertanyaan yang hinggap dibenaknya. Kenapa bosnya bisa tahu tempat tinggalnya? Kenapa dia datang saat suaminya pergi bekerja? Apakah ini cuma kebetulan? Atau...
Tanpa dipersilahkan, Bos Endra masuk ke rumah kecil itu dan duduk di lantai ( karena memang tidak ada sofa ).
Tiara masih berdiri termangu disana.
"Hei, kenapa diam saja. Tolong buatkan aku kopi..." tukas Bos Endra lagi, membuat Tiara terhenyak.
"Ah, ba-baik,"
Tiara ke belakang sambil membuatkan kopi untuk bos'nya. Dia kembali lagi dengan secangkir gelas berisi kopi hitam plus gula.
"Ini bos..."
"Ya, terima kasih..."
"Maaf, ada apa bos kesini?"
"Menjengukmu..."
"Hah?"
"Katanya kamu sakit?"
"Ah, itu..."
"Hanya pusing..."
"Kau sengaja menghindar dariku kan?"
Tiara menunduk, dia takut sekali menatap bosnya.
"Kenapa diam saja nona? Kau menghindari aku kan?"
"Maaf bos, kenapa bos bisa tahu kami tinggal disini?"
Pria itu menyeringai, seketika membuat Tiara semakin takut.
"Hal yang mudah menemukan alamatmu."
"Ta-tapi kenapa bos datang disaat suamiku sudah berangkat kerja. Ini bisa menimbulkan fitnah..."
Bos Endra tertawa kecil. Dia mendekati gadis itu.
"Hei nona, aku memang sengaja datang kesini saat suamimu tidak ada. Aku bisa puas berduaan denganmu..."
"Hah?" Mata Tiara membulat, dia sudah ingin marah dengan sikap bosnya yang arogan itu.
"Kenapa? Aku sudah tahu semua aktivitas suamimu. Jam tiga sore dia baru pulang. Aku bisa puas berduaan denganmu sekarang." Ucap bos Endra sambil tersenyum nakal.
__ADS_1
Tiara semakin gemetaran. Seketika satu tangan bosnya sudah mengangkat dagunya. Sekarang jarak wajahnya dengan bosnya hanya satu jengkal.
"Hei nona, kalau kau mau datang padaku dan tinggalkan suamimu itu, aku bisa belikan rumah lebih mewah, jauh lebih baik dari ini."
"Lepaskan aku, bos." Tiara menepis tangan bosnya itu. "Pergilah bos, kalau tidak aku akan berteriak..." ucap Tiara dengan nada agak tinggi.
Pria itu kembali tersenyum.
"Too..."
Pria itu membungkam mulut Tiara. "Baiklah, aku akan pergi. Tapi nona, nanti malam kau harus berangkat kerja ya. Kalau tidak, aku bisa melakukan sesuatu terhadap suami tercintamu itu."
"Maksud bos?" Tiara jadi semakin takut.
Pria itu tak menjawab, dia kembali tersenyum, entah apa yang dipikirkannya. Diapun pergi meninggalkan gadis itu dengan kebingungan dan ketakutan yang sangat dalam.
Tiara menangis sejadi-jadinya. Dia takut ancaman bosnya, dia takut kalau sesuatu terjadi pada suaminya. Dia jadi menyesal kenapa dulu tidak mengindahkan perkataan suaminya. Jelas-jelas suaminya sudah melarangnya untuk bekerja.
"Aa... Maafkan aku..." Sesalnya dalam tangis. Tiara sangat menyesal karena suaminya sangat baik, bahkan dia lebih tahu mana yang baik untuk dirinya. Hanya saja dia sendiri yang keras kepala ingin bekerja. Sungguh dia tak menyangka akan terjadi seperti ini. Si bos menyukainya ah bukan lebih tepatnya dia terobsesi padanya.
***
"Jiho, lo kenapa?" tanya Bang Nawas.
"Ah, gak tahu bang... Perasaan gue gak enak banget."
"Kenapa? Istri lo sakit?"
"Iya bang, kemarin ngeluh pusing..."
"Nyidam kali tuh, istri lo hamil..."
"Hah? Masa sih bang?"
"Lho, Lo gak priksain dia ke dokter?"
"Belum bang."
"Duuuh... Udah sana pulang, priksain dulu istri lo ke dokter. Jadi suami kok gak sigap."
"Iya, bang. Gue izin pulang dulu ya, bang..."
"Iye... Iye..."
Jiho mengendarai motornya dengan kencang. Batinnya masih bertanya-tanya, benarkah Tiara sedang hamil? Seketika senyumnya mengembang.
Sesampainya di rumah...
"Assalamualaikum, sayang... Buka pintunya, ini Aa..." ucap Jiho yang memang khawatir dengan keadaan istrinya itu.
Jiho mencoba membuka pintu itu ternyata tidak terkunci. Dia mendapati istrinya sedang menangis, matanya sembab.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Jiho. Tiara menghambur memeluknya. Dia sangat takut.
"A, jangan pergi. Aku takuut..." jawab Tiara masih sesenggukan.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Jiho kembali. Tiara hanya menggeleng kepalanya, dia tak menjawab pertanyaan itu. Dia sangat takut sesuatu terjadi pada suaminya itu.
Jiho menghela nafas panjang. "Iya, Aa akan tetap disini nemenin kamu... Kamu jangan sedih lagi ya, jangan takut, ada Aa..." Sahut Jiho menenangkannya.