
"Sayang, ayo buka mulutmu..." ucap Endra sambil menyuapkan bubur itu ke mulutnya.
Tiara menampiknya hingga sendok itu terjatuh. Endra menatapnya dengan lekat, ingin marah tapi tidak bisa.
Endra menghembuskan nafas kasarnya. "Ya sudah, aku akan panggil Bi Wawi. Biar dia yang menyuapimu."
Tiara tetap berdiam mematung di tempatnya. Tak menyahut satu patah kata apapun.
"Aku akan keluar sebentar. Kau tetap disini. Kamu mau apa? Biar aku belikan."
Tak ada jawaban dari Tiara, dia justru menunduk sambil menyeka air matanya. Endra jadi bimbang, diapun akhirnya beranjak pergi.
"Bi, tolong temani Tiara ya. Kalau bisa bujuk dia supaya mau makan." ujar Endra pada asistennya itu.
"Baik, tuan..."
Endra melesat pergi memacu mobil mewahnya, entah mau kemana.
Di kamar, Tiara masih menangis sesenggukan.
"Non, ayo dimakan dulu. Ini buburnya sudah dingin... Apa mau bibi buatkan lagi?"
tanya Bi Wawi begitu ramah.
Tiara menoleh, matanya masih sembab.
"Non, kenapa menangis? Bukankah tuan sangat sayang sama non?"
Tiara masih terdiam sambil menatap perempuan paruh baya itu.
"Baru kali ini, bibi lihat tuan memperlakukan wanita dengan sangat baik. Biasanya dia..."
"Bibi, itu hanya pencitraan saja..." jawab Tiara dengan lirih.
"Maksud non?"
"Dia pernah berlaku kasar padaku, sampai aku takut dan trauma padanya."
Ada rasa ingin tahu tergambar jelas di wajah Bi Wawi.
"Bibi masih tidak mengerti, bukannya non ini calon istrinya tuan? Tuan sudah berusaha keras untuk menyiapkan acara pernikahan kalian."
"Apa? Pernikahan?" Tiara tercengang mendengar penuturan Bi Wawi.
"Iya non, mungkin sekarang tuan sedang mengambil gaun pengantin non dari butik..."
"Tapi bi, bagaimana bisa aku menikah dengannya, kalau aku masih istri orang..."
"Istri orang? Maksud non?"
"Aku akan cerita sama bibi, tapi aku mohon jangan ceritakan pada siapapun..." ucap Tiara kemudian. Dia berharap, mudah-mudahan Bi Wawi bisa membantunya. Dia pasti bisa merasakan perasaan seorang wanita.
"Iya, non..."
"Bi, Endra sebenarnya dulu mantan bosku. Tapi dia terobsesi padaku. Aku, aku hampir diperkosa olehnya. Dan.... Tadi anak buahnya membawa aku secara paksa ke tempat ini. Suamiku dihajarnya sampai babak belur. Aku gak tahu kondisi suami sekarang... Hiks hiks..."
"Jadi benar, non sudah menikah?"
"Iya Bi, bahkan sekarang aku sedang hamil..."
"Bibi pikir, non hamil karena Tuan..."
__ADS_1
Tiara menggeleng perlahan.
"Bi, apakah bibi bisa membantuku keluar dari sini?" tanya Tiara kemudian.
"Itu sepertinya tidak mungkin non, tempat ini dijaga ketat oleh anak buah tuan. Dan tempat ini terpencil, jauh dari pemukiman maupun keramaian. Tempat ini memang sengaja di bangun di tengah-tengah bukit seperti ini."
Tiara menghela nafas panjang. Tapi hati bertambah gusar.
"Emang ini dimana, bi?"
"Villa putih di bukit Certa. Emangnya ada apa non?"
"Ah, enggak apa-apa bi. Kalau begitu, apa bibi bisa meminjamkanku charger?" tanya Tiara kembali.
"Charger? Oh iya bisa non, bibi ambil dulu ya..."
"Terima kasih, bi..."
Bi Wawi kembali dengan membawa sebuah charger.
"Ini, non..."
Tiara tersenyum. "Makasih, bi."
lah
"Non, gimana makannya? Bibi buatkan bubur lagi yang baru ya..."
"Ah iya, boleh bi..."
Tiara bangun dan mencoba mencharger handphonenya. Ya sebelumnya dia sudah memeriksa ponselnya tapi tidak aktif karena baterai lemah.
Setelah menunggu beberapa menit,, dia mulai mengaktifkan ponselnya. Ada beberapa pesan masuk. Salah satunya dari mas Ferdi.
✉️[Tetap tenang ya, jangan takut. Suamimu disini baik-baik saja]
Tiara tersenyum kalau suaminya baik-baik saja. Dia segera mengetik balasan untuk mas Ferdi.
✉️[Tolong aku, mas. Villa putih, di bukit Certa.]
Dia segera mengirimkan pesan itu. Pesannya memang singkat karena Tiara mendengar langkah seseorang mendekat. Diapun segera mencabut charger itu dan kembali di tempatnya tidur. Untung saja yang datang bi Wawi.
"Oh iya, ini bi. Chargernya bawa saja lagi."
"Udah selesai non?"
Tiara mengangguk. Bi Wawi berlalu sambil membawa mangkuk berisi bubur yang belum sempat dimakan.
"Nanti bibi kesini lagi bawa bubur yang baru, ini bibi bawa ke dapur dulu ya non..."
"Iya bi."
Dia segera menonaktifkan ponsel jadulnya lagi, dan memasukkannya kembali ke saku.
Dia kemudian berbaring lagi.
Tak berapa lama, Endra datang sambil tersenyum. Dia membawa sebuah bingkisan serta buah-buahan.
'Katanya dia pergi ke butik, kenapa cepat kembali?' batin Tiara bertanya-tanya.
"Sayang, maaf meninggalkanmu lama. Apa kau sudah makan?" tanya Endra begitu perhatian. Tapi Tiara sudah sangat muak akan sikapnya itu.
__ADS_1
"Lihatlah, aku punya hadiah untukmu," ucapnya lagi sambil memberikan bingkisan itu.
Tiara tidak meresponnya.
"Permisi, non. Ini buburnya sudah matang. Eh, tuan sudah kembali?" ujar Bi Wawi.
"Jadi dia belum makan, bi?"
"Belum, tuan."
"Kalau begini, dia bisa sakit."
"Ya sudah letakkan disana bi, biar aku membujuknya lagi."
"Baik, tuan," jawab bi Wawi yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Sayang, kau harus makan, kalau tidak kau bisa sakit..." tukas Endra sambil berusaha kembali menyuapi Tiara.
"Aku bisa makan sendiri," jawab Tiara seraya mengambil mangkuk bubur itu dari tangannya.
"Baiklah,"
Endra tersenyum melihat Tiara mau memakannya.
"Aku sudah memilihkan gaun pengantin yang indah untukmu."
Tiara kembali diam, tidak meresponnya.
"Hei, nona manis, kenapa kau diam saja?"
"Bos, apa kau sudah gila? Aku ini masih sah istri orang...."
"Ya, aku memang sudah gila, pilihannya cuma 2, kau tanda tangani surat gugatan cerai biar nanti pengacaraku yang urus."
"Tidak, aku tidak mau."
"Bagaimana kalau suamimu yang sudah tanda tangan lebih dulu?" tanya Endra sambil menyerahkan surat itu.
"Tidak mungkin." Tiara mengambil surat itu tapi memang sudah ada tanda tangan Jiho.
"Hahah, kau pasti bertanya-tanya kan, kenapa bisa? Dulu aku pernah menyuruhnya tanda tangan diatas kertas kosong, ternyata berguna juga ya."
Tanpa diduga, Tiara merobek kertas itu hingga menjadi kecil-kecil.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu kita nikah siri aja. Jadi aku tidak perlu menunggu lama lagi. Lagi pula pak penghulu juga tidak tahu kalau kau sudah menikah apa belum."
"Dasar gila!" teriak Tiara. Dia menaruh mangkuk buburnya kemudian berbaring kembali.
Endra tertawa. "Yang kau robek itu salinannya, aslinya ada padaku."
'Memangnya buat surat gugatan cerai bisa semudah itu? Ah, tapi apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang kaya...' batin Tiara. Sungguh itu menjadi beban pikiran untuknya.
Tiba-tiba Tiara merasa pusing, kepalanya berputar sangat hebat, dan perutnya terasa begitu nyeri, sangat nyeri, dan saangaaatt nyeri, tidak bisa tertahankan lagi. Dia tidak bisa menahannya lagi.
"Hei, sayang kau kenapa?" tanya Endra terlihat begitu panik.
"Sayang, bangun. Hei bangunlah!" ucapnya lagi sambil menepuk-nepuk pipi Tiara yang sudah tidak sadarkan diri.
Endra membalikkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Argghh! Siaall..." Endra melihat ada darah segar yang merembes di bagian bawah tubuh Tiara.
__ADS_1
Endra segera menggendongnya ke mobil. Lalu melesat pergi membawanya ke rumah sakit.