ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Salah Paham


__ADS_3

"Bos, kenapa dari tadi diam saja?" tanya Rania yang membuat Ferdi terkejut. "Buat apa kita dipanggil kesini kalau kau diam saja?"


'Benarkan gadis ini terlalu berani dan ambisius' batin Ferdi.


Ferdi merasa kikuk dipandangi oleh dua wanita dihadapannya. 'ya ampun, harus gimana nih aku?' tanyanya lagi dalam hati.


"Siapa yang akan kamu pilih, Fer? Aku atau Rania?" tanya Mita.


Ferdi menepuk keningnya. 'Repot juga nih dikejar-kejar sama dua wanita ini, ckck...' Ferdi kembali membatin.


"Kalian sudah siap dengan jawabanku?" tanya Ferdi membuka suara.


Kedua wanita itu mengangguk.


"Tidak boleh ada yang meragukan keputusanku."


Mereka mengangguk kembali.


"Setelah dengar keputusanku, kalian tak boleh bertengkar lagi. Kalau kalian tetap bertengkar lebih baik kalian gak usah kerja disini lagi," tukas Ferdi dengan sorot mata tajam.


"Iya, bos. Kami siap menerima konsekuensinya," ucap mereka hampir bersamaan.


"Gak usah panggil bos, kalau kalian belum bisa menghormatiku," jawab Ferdi lagi.


Suasana hening sejenak.


"Begini Mita, tempo hari bukannya aku sudah bilang tentang perasaanku padamu? Aku tidak bisa menjalin hubungan lagi denganmu..."


"Apa maksudnya ini? Jadi dulu kalian pernah pacaran?" tanya Rania.


"Ya, bisa dibilang begitu," sahut Mita sambil tersenyum masam.


Rania justru tertawa mendengar jawabannya. "Duh, maaf Mita kali ini kau udah ditolak, aku dengar sendiri loh, kamu sudah ditolak sama bos Ferdi," ledek Rania sambil terkekeh.


Mita cemberut, ya mungkin dia yang terlalu naif, kalau Ferdi akan menerimanya kembali.


"Dan kau Rania, kamu memang cantik, kamu juga menarik, tapi..."


"Tapi?"


"Maaf ya, sekali lagi maaf, aku tidak bisa menerimamu."


"Kenapa?"


"Biarkan aku sendiri dulu. Aku mencintai orang lain tapi bukan salah satu diantara kalian."


"Siapa?" tanya Rania agak kecewa.


"Kalian tidak perlu tahu. Masalah perasaan tak bisa dipaksakan, benar bukan? Sekali lagi, maafkan aku. Aku tak bisa memilih salah satu diantara kalian. Tapi tetaplah jadi temanku,"


Rania dan Mita terlihat sangat lesu mendengar jawaban dari Ferdi.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian bisa bekerja lagi,"


"Ya baiklah..."


Mereka keluar dari ruangan Ferdi dengan lesu.


"Sebenarnya siapa sih yang dicintai Ferdi? Kamu tahu?" tanya Mita.


Rania menggeleng. "Selama ini aku tidak pernah melihat Ferdi dekat dengan siapapun kecuali adiknya."


"Adik?" tanya Mita heran.


"Iya, bukankah Tiara adiknya Ferdi?"


"Hahah..." Mita malah tertawa.


"Lho, kenapa tertawa?" Rania balik bertanya.


"Setahuku, Ferdi anak tunggal. Lalu kata siapa Tiara adiknya? Hahaha..."


"Dia yang bilang sendiri kok. Waktu Tiara diculik, dia terlihat sangat khawatir. Dia benar-benar berlaku seperti seorang kakak terhadap adiknya. Ya siapa tahu dia adik sepupunya, iya kan?"


"Benar juga sih..."


"Sudahlah ayo kita kerja lagi. Nasib kita ternyata sama Mit, sama-sama ditolak si bos. Hahahah..." ucap Rania sambil tertawa. Seperti tak ada beban dalam hatinya.


***


"Siapa ya? Pengunjung cafe?" Jiho balik bertanya.


"Tidak tahu mas, katanya mau ketemu sama mas Jiho, penting."


"Oh, ya sudah. Nanti aku kesana," jawab Jiho lagi.


Jihopun beranjak dari duduknya. "Sayang, tunggu sebentar ya. Aa ketemu sama orang dulu," ucap Jiho.


Tiara hanya mengangguk pasrah. Padahal siang ini jadwalnya dia kontrol kandungan. Dia ingin ditemani oleh sang suami. Tapi sepertinya dia sibuk dengan pekerjaan.


Jihopun menemuinya, ternyata dia adalah wanita yang tak sengaja ditabraknya kemarin.


"Oh mbak Lina, ada apa?" tanya Jiho berusaha seramah mungkin.


Tiba-tiba wanita itu memeluk Jiho.


"Mas, kenapa kamu gak pulang-pulang? aku kan kangen..." ucap wanita itu dengan nada agak keras, hingga membuat beberapa pengunjung menengok ke arahnya.


"Tunggu, tunggu... Ada apa ini mbak?" tanya Jiho sembari melepaskan pelukannya.


"Mas, kenapa kamu masih pura-pura? Aku sudah rela kau nikahi secara siri, tapi kenapa kau gak mengakuiku?" tanya wanita itu lagi dengan nada bergetar. Dia kembali memeluk Jiho yang makin tercengang mendengar pernyataannya. Sungguh dia sangat pintar bersandiwara, sampai-sampai para pengunjung percaya dan mulai bisik-bisik tetangga.


Tiara yang mendengar itu, merasa syok. Bagaimana bisa suaminya bersikap seperti itu?

__ADS_1


"Hei mbak, apa kamu sudah gila? Kenapa kau bersandiwara seperti ini? Kau sedang berlatih akting?" tanya Jiho lagi.


Wanita yang bernama Lina itu tersenyum. "Mas, kenapa kamu tega berkata seperti itu sama istrimu sendiri?" lanjutnya lagi, Lina mulai menangis. Bulir bening diwajahnya mulai luruh membasahi pipi.


"Sayang, kamu jangan percaya sama orang ini. Dia sudah gila!" sambung Jiho pada Tiara.


Pipi Tiara sudah basah oleh air mata.


"Walaaah, mas Jiho, kasihan tuh istri-istrinya! Istri lagi hamil malah selingkuh lagi. Sekarang istri barunya malah gak diakui, hah dasar lelaki buaya!" celetuk salah seorang pengunjung.


"Aku kira juga dia setia sama istrinya. Duh dasar lelaki tak punya hati! Tega-teganya dia bersikap seperti itu. Habis manis, sepah dibuang! Jadi males ya kan mau nongkrong di cafe ini. Mereka gak ada akhlak!" timpal yang lain.


"Iya, bener..." sela yang lainnya lagi. "Padahal aku udah nyaman banget lho di cafe ini, pelayanannya bagus. Ownernya juga ganteng-ganteng. Makanya pada betah kesini, ya kan?"


"Iya, iya, sambil makan sambil cuci mata. Tapi sayang tingkah laku salah satu owner-nya tak patut dicontoh. Miris! Bikin ilfil."


"Cukup! Cukup! Ini ada apa ya? Kenapa pada bersitegang seperti ini?" Ferdi datang melerai.


"Sepertinya wanita itu sudah gila, Fer. Tiba-tiba dia datang dan mengaku sebagai istriku," sahut Jiho.


"Ayo mbak, kau ikut kami dulu!" sergah Ferdi lagi pada wanita itu. "Dan mohon maaf teman-teman kalau mengganggu kenyamanan kalian, silahkan dinikmati kembali," lanjut Ferdi.


Ferdi membawa wanita itu masuk ke rumah Jiho. Disusul dengan Jiho yang menggandeng Tiara.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Ferdi langsung to the points.


"Nyuruh? Nyuruh apaan?" wanita itu balik bertanya.


"Kau jangan pura-pura tidak tahu. Aku hapal sifat-sifat yang seperti ini. Katakan siapa yang menyuruhmu?!" sergah Ferdi lagi.


Wanita itu hanya tersenyum. "Tidak ada yang menyuruhku. Aku lakukan ini atas kemauan sendiri!"


"Kenapa?"


"Hahaha, aku lakukan ini agar reputasi cafe kalian hancur secara bertahap." tukasnya sambil tertawa sinis.


"Dasar perempuan gila! Kalau mau bersaing usaha secara sehat dong! Bukan dengan cara licik seperti ini!"


"Hahaha... Tunggu saja permainanku selanjutnya! Terutama untukmu, Ferdi!" tukas wanita itu.


"Bagaimana kau bisa tahu namaku?"


"Itu hal yang mudah buatku, haha" sahut wanita itu sambil ngeloyor pergi.


Jiho dan Ferdi saling berpandangan. Jadi ada yang mau menghancurkan bisnisnya?


"Kau kenal dengan wanita itu, Jiho?" tanya Ferdi.


"Itu wanita yang kemarin gak sengaja aku tabrak."


"Dasar wanita gila!" umpat Ferdi. "Terus kenapa kamu kenapa nangis, dek? Kamu gak apa-apa kan?"

__ADS_1


"Dia tidak apa-apa, dia hanya salah paham saja."


__ADS_2