
Bulan berganti bulanpun berlalu dengan cepat, hampir satu tahun cafe itu buka. Banyak kejadian yang dialami, tapi untung saja Endra tak pernah lagi meneror mereka.
Kehidupan Jiho dan Tiara semakin harmonis. Seperti dua sejoli yang tak bisa dipisahkan. Mereka terlihat sangat mesra.
"A, aku positif hamil" ucap Tiara suatu ketika.
"Beneran?" tanya Jiho seakan tak percaya. Dari semenjak kejadian Tiara keguguran, Jiho tak ingin memaksakan kehendaknya pada Tiara. Dia tak ingin istrinya bersedih dan memikirkan kejadian pahit itu lagi. Namun Allah punya rencana lain. Dia menitipkan amanah lagi. Amanah yang harus dia jaga baik-baik.
Tiara mengangguk dan menyerahkan hasil test itu. Betapa bahagianya terpancar dari wajah sang suami. Jiho memeluknya erat, sangat erat.
"Jaga baik-baik anak kita ya sayang, kamu gak boleh capek-capek" sahut Jiho lagi.
Semenjak tahu Tiara hamil, Jiho jadi makin perhatian padanya. Dia selalu memanjakan sang istri. Semua keinginannya berusaha ia penuhi. Ya, dia sangat sayang pada istrinya.
***
Sedangkan Ferdi, ada banyak wanita yang mendekatinya, namun Ferdi masih betah untuk sendiri. Dia merasa enggan menjalin hubungan dengan siapapun.
Setiap hari dia selalu menerima bingkisan kado maupun kiriman hadiah, bermacam-macam isinya, ada yang memberikan jam tangan, topi, jaket, kaos, dan lain sebagainya bahkan ada yang mengiriminya bunga dan tulisan I Love you. Ferdi hanya tersenyum geli saat menerimanya. Bahkan mereka terkesan terlalu blak-blakan mengejarnya.
Ada satu tulisan yang membuatnya tergelitik. "Mas Ferdi, aku mau jadi madumu..."
Walaaah, nikah aja belum minta dimadu. Dasar konyol.
Dua wanita itupun tak kalah saing mendekati Ferdi, mereka adalah Rania dan juga Mita. Mita adalah wanita masa lalu Ferdi. Iya dia pacarnya ketika kuliah. Namun hubungannya kandas karena Mita menikah dengan orang lain. Tapi karena alasan Mita belum juga dikaruniai seorang anak, akhirnya suaminya menceraikannya begitu saja.
"Fer, kamu mau sampai kapan jomblo terus?" ledek Jiho. "Udah banyak loh yang ngantri, tinggal pilih tuh salah satu," sambungnya lagi.
Ferdi tersenyum masam. Sesekali dia menatap kearah Tiara yang perutnya sudah membuncit. Ya, Tiara sudah hamil lagi. Usia kandungannya sekarang menginjak 6 bulan. Entah kenapa Ferdi yang melihatnya justru Tiara terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
"Hei dedek bayi, bilangin ke ayahmu, jangan ngeledek paman terus. Pamali..." ucap Ferdi sambil mengelus perut Tiara.
Jiho dan Tiara hanya tertawa menanggapinya.
"Ah, dia menendang," ucap Tiara yang merasakan gerakan bayinya didalam perut. Jihopun langsung mengelus perut Tiara.
"Halo anak ayah, sehat-sehat terus ya didalam perut ibu" sahutnya sambil menciumi perut istrinya yang membuncit.
"Hadeeh, kalau mau mesra-mesraan di kamar saja sana jangan disini," tukas Ferdi.
Tiara dan Jiho kembali terkekeh.
__ADS_1
"Makanya nikah, mas..." celetuk Tiara yang membuat Ferdi tersipu. Bagaimana dia mau menikah, orang yang ingin dia nikahipun sudah menikah dengan orang lain.
"Hah... calonnya aja belum ada," jawab Ferdi sekenanya.
"Ealaah pake calonnya gak ada, mereka pada ngantri tuh, kamunya aja yang gak mau."
"Ya, hatiku yang belum klik sama mereka."
"Ya susah juga kalau gitu. Selamat menikmati kejombloan abadi. Hahaha"
"Dasar kau ini!"
Ya begitulah, Jiho dan Tiara sering meledek Ferdi. Kekompakan mereka sudah layaknya keluarga sendiri.
***
"Ferdi, aku ingin bicara sesuatu sama kamu," ucap Mita setelah selesai jam kerja.
"Ya, ada apa?"
"Bolehkah aku meluruskan kesalahpahaman kita dulu?" tanyanya penuh harap. Baru kali ini dia memantapkan hatinya untuk mengatakan hal yang sama setelah setahun berlalu, Ferdi dirasa mulai dekat lagi dengannya.
"Hah? Buat apa? Aku udah ikhlas, yang berlalu biarlah berlalu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi."
Ferdi tersenyum simpul. "Maaf ya Mita, dulu aku memang pernah mencintaimu. Tapi semuanya sudah tinggal kenangan. Rasa itu sudah pergi semenjak kau meninggalkan aku."
"Tapi kenapa kamu masih bersikap baik padaku?"
"Lalu aku harus bagaimana? Aku bersikap baik terhadapmu juga terhadap semua orang. Kamu jangan salah mengartikannya."
"Apa tidak ada kesempatan kedua untuk kita bisa bersama lagi?"
"Maafkan aku, Mita. Aku tidak bisa."
"Apa karena aku seorang janda jadi kau tidak mau menerimaku?"
Ferdi menghela nafas panjang. Kenapa ini jadi semakin rumit. Padahal dia jelas-jelas sudah mengatakan kalau dia tak punya perasaan apapun pada Mita.
"Tidak, Mita. Status bukan masalah buatku. Tapi masalahnya aku sudah tak ada perasaan apapun lagi terhadapmu. Maaf..."
"Apa karena Rania?" tanya Mita lagi seakan terus mendesaknya.
__ADS_1
"Hah? Apa maksudmu?"
"Apa kau menyukai Rania?"
"Hah?" wajah Ferdi makin keheranan. Kenapa malah disangkutpautkan dengan gadis centil itu?
"Kulihat kalian sangat dekat, barangkali itu yang membuatmu tak bisa menerimaku kembali," nada suara Mita kembali melemah.
Ferdi hanya tertawa kecil. "Mita, ini gak ada hubungannya dengan siapapun. Sudahlah, fokuslah terhadap kehidupanmu."
Mita tampak kecewa. Dulu dirinya memang sangat bodoh, meninggalkan orang yang mencintainya. Dia menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya, tapi justru dia disia-siakan karena belum juga memberikan keturunan.
Mita dan Ferdi dulu pasangan yang serasi di kampus. Bahkan banyak yang iri dengan kedekatan mereka. Namun hubungan mereka tak bertahan lama. Ferdi merasa sangat kecewa karena dia ditinggalkan oleh sang pacar padahal dia sangat menyayanginya. Dia patah hati, sampai akhirnya lulus kuliah dan sengaja mencari pekerjaan dengan merantau yang jauh agar bisa melupakan semuanya. Namun dia justru terdampar di desa terpencil dan dia bertemu dengan gadis yang bisa membuat hari-harinya berubah menjadi lebih berwarna. Takdir membawa mereka ke jalan yang tak terduga. Kini mereka dipertemukan lagi. Di tempat dan situasi yang berbeda. Dan semuanya sudah berubah.
***
Jam 22.00
Sebelum pulang, Ferdi menyempatkan diri mampir ke rumah Jiho.
"Mas, ini ada kado lagi buatmu..." ucap Tiara sambil menyerahkan kotak kado berwarna biru muda ada aksen hiasan pita pink.
"Kok bisa ada di kamu, dek?" tanya Ferdi yang sedang duduk istirahat di ruang tamu.
"Iya, tadi ada yang menitipkan ini padaku. Cie... Cie... Sekarang sudah jadi idola baru nih dikalangan cewek-cewek, ngalah-ngalahin artis ibukota..." ledek Tiara sambil tertawa.
"Ah kamu, bisa aja dek..." sahut Ferdi, dia mulai membuka kotak itu. "Jiho belum pulang, dek?" tanya Ferdi.
"Belum mas, A Jiho belum pulang sampai sekarang. Bukannya tadi lagi pergi keluar ya?"
"Iya sih tadi ketemu supplier baru, tapi harusnya udah pulang dek, udah malam begini..."
Mendengar perkataan Ferdi, Tiara jadi khawatir. Tak biasanya Jiho bersikap seperti ini.
"Ya sudah tenang saja, mas akan temani kamu sampai suamimu datang. Kamu gak usah khawatir, Jiho pasti kembali..."
"Iya mas..." sahut Tiara.
"Dek, tapi ini bukan kado untukku...."
"Terus?"
__ADS_1
"Coba, lihat saja..." sambung Ferdi sambil menyerahkan kotak itu.
Tiara terkejut melihatnya.