
Klunting... Sebuah pesan masuk dari Tiara.
[Mas, A Jiho mau kesitu. Tolong bicara baik-baik, jangan terpancing emosi. Aku mohon, mas. Tolong jangan berantem]
[Kenapa, dek? Lebih baik luka fisik, kan? Dari pada luka hati]
[Tapi, mas... Aku mengkhawatirkan kalian... Tolong mas, mengalahlah demi aku]
[Hhhmmm... Iya, iya dek. Apapun akan aku lakukan demi kamu]
[Benar ya, mas?]
[Iya sayang... Ya sudah kamu istirahat dulu gih. Tapi kamu harus ingat ya dek, sampai kapanpun aku akan tetap menyayangimu meskipun kamu akan menjadi milik orang lain, aku akan tetap sayang sama kamu, dek....]
Pesannya sudah tak terbalas lagi. 'Ah, andai saja aku yang lebih dulu bertemu denganmu, dek. Aaaarrrgghhh, rasanya ingin sekali aku berteriak. Beginikah rasanya kasih tak sampai?' ujar Ferdi uring-uringan sendiri.
***
Ferdi jadi teringat setahun yang lalu saat pertama kali bertemu denganmu.
flashback on :
Pagi harinya, Jiho menghampiri rumah dinas Ferdi.
"Assalamualaikum, Fer..."
"Waalaikum salam..."
Ferdi keluar dari rumah, dan mendapati sahabatnya berdiri di depan.
"Ayo masuk dulu," ujarnya mempersilahkan.
"Enggak, langsungan aja. Udah siap kan?"
"Udah sih, bentar aku kunci pintu dulu," jawab Ferdi sambil mengunci pintu rumah dinas dari luar.
Mereka berjalan bersama menuju sebuah rumah yang ternyata rumah itu adalah rumah tunangannya.
Sesampainya disana...
"Nah ini udah sampai," ujar Jiho kepada sahabatnya. Ferdi melihat sekeliling, rumah yang sederhana dan ditanami bebungaan yang warna-warni sungguh menyejukkan mata yang memandangnya.
"Ayo sini dulu," ajak Jiho lagi sambil menarik tanganku.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..." jawab seseorang dari dalam. Seorang bapak separuh baya keluar disusul dengan istri dan anak gadisnya.
"Ayo... Ayo... Masuk dulu, nak..." ucap bapak itu. dengan ramah.
"Pak, disini saja saya sudah mau berangkat," jawab Jiho kemudian.
"Oh iya Pak, Bu, Tiara, kenalkan ini Ferdi. Dia sahabat saya waktu kuliah. Sekarang ini dia bekerja sebagai petugas penyuluh lapangan di desa ini, pak..." lanjut Jiho lagi. Mereka saling melempar senyum
"Ferdi..." ucapnya seraya menyalami mereka satu persatu.
"Fer, mereka ini keluarga tunanganku. Ini Pak Toha, Bu Ningsih, dan Tiara... Dia tunanganku," jelas Jiho lagi.
__ADS_1
Mereka mengangguk dan masih tersenyum ramah.
'Cantiiknya... Pantas saja Jiho jatuh cinta' ucap Ferdi dalam hati. Entah mengapa sekilas saja menatap gadis itu bisa membuat dadanya berdebar tak menentu. 'Memang beda, tidak seperti cewek-cewek yang lain yang pernah dia kenal. Penampilannya sih biasa saja, justru menjadi daya tarik tersendiri,' ungkapnya lagi dalam hati.
"Aku ambil tas dulu ya..." tukas Jiho menyadarkan lamunan Ferdi.
"Ah iya..."
Jiho berlalu masuk mengambil tas ransel yang akan dibawanya. Tak lama diapun kembali, sambil menggendong tas ransel dipunggungnya.
"Pak, Bu, saya pamit dulu..." ujar Jiho berpamitan kepada calon mertuanya itu.
"Pak, apa boleh Tiara antar Aa?" tanya Tiara meminta izin kepada bapaknya.
"Hmmm... Iya boleh. Pulangnya nanti bareng nak Ferdi ya..."
"Makasih, Pak..."
Bapak dan Ibunya Tiara hanya manggut-manggut. Sebenarnya mereka merasa terharu dengan perpisahan ini.
"Nak Ferdi, tolong nanti Tiara diantar sampai rumah ya."
"Baik, Pak."
"Kami berangkat dulu, Pak..." sahut Jiho sambil menggandeng Tiara.
"Hati-hati dijalan ya, Nak..."
"Iya, Pak..."
Mereka bertiga berlalu menuju kota kecamatan, mereka berjalan menyusuri jalan setapak. Ferdi berjalan sendirian di belakang mereka. Melihat mereka bergandengan mesra, seperti pasangan yang dimabuk asmara. Ah, bikin iri saja.
"Aku berangkat dulu ya, jaga diri baik-baik," ucap Jiho pada tunangannya itu.
Gadis itu tak banyak bicara hanya mengangguk pelan. Ferdi memperhatikan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh. Kemudian mereka saling berpelukan. Duh, bikin iri saja. Jiho mengecup kening gadis itu dengan lembut. Mereka berpandangan cukup lama, Jiho mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Tapi dengan buru-buru Ferdi menegurnya. Entah, ada perasaan tak rela sahabatnya itu mencium bibir ranum Tiara.
"Eheeemm... Woi, ada aku disini," tegur Ferdi seraya mendekat.
Tiara menoleh dengan wajah memerah. "Aa berangkat saja, hati hati di jalan. Jangan lupa kabari aku kalau udah sampai," ujar gadis itu masih tersipu. Duuh gemasnya.
Ferdi hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Iya iya, aku berangkat dulu ya... Fer, tolong jagain dia untukku," sahut Jiho kemudian.
"Siap," jawab Ferdi mantap. Jihopun berlalu pergi, menaiki salah satu bus yang akan berangkat ke kota.
"Ayo kita pulang," ajak Ferdi pada gadis itu yang masih menatap sayu kepergian tunangannya itu.
"Oh iya, mas," sahutnya agak malu-malu. Dia mengikuti langkah Ferdi di belakang. Tapi segera Ferdi menyejajarkan langkah gadis itu.
Cukup lama tak ada pembicaraan diantara mereka.
"Maaf kalo boleh nanya, dek Tiara umur berapa sekarang?" tanya Ferdi memecah keheningan.
"Yaa..? Oh, aku sembilan belas tahun mas."
"Waah, masih muda ya... Ga kuliah?"
__ADS_1
Dia hanya menggeleng perlahan dengan wajah masih tertunduk.
"Ga usah malu-malu, aku kan teman Jiho."
Dia hanya mengangguk.
"Sudah kenal lama dengan Jiho?"
"Haah...oh iya, kalau kenal sudah dari kecil. Tapi kenal dekat baru dua tahun ini, itupun karena bapak dan ibu..."
"Jadi kalian dijodohkan?"
Dia mengangguk lagi.
"Adek suka?" tanya Ferdi lagi.
"Haaah...? Apa...?"
"Adek suka Jiho?"
Dia mengangguk. Duh, gadis ini kenapa bicaranya irit sekali sih? bikin gemas saja!
"Kalau ada lelaki lain yang suka sama adek gimana?" ucapan Ferdi terlontar begitu saja.
Entah kenapa jantungnya berdetak kencang, padahal baru pertama kali bertemu. Hhhh, bikin malu saja! Tiara menoleh kearah Ferdi, pandangannya seakan penuh tanya.
"Hahaha, lupakan saja," sahut lelaki itu kembali.
Tak terasa sudah sampai di depan rumahnya.
"Dek, sudah sampai. Aku pamit pulang ya..." ucap Ferdi.
"Eeh, i-iya mas. Gak mampir dulu?"
"Lain kali saja, dek. Besok-besok aku bolehkan main kesini?"
"Iya mas, boleh kok..."
"Ya sudah, aku balik dulu ya... Mau beres-beres, kemarin baru sampai," sahut Ferdi menjelaskan padahal mungkin itu ga penting untuknya.
"Oh iya, salam buat bapak dan ibu," tambahnya lagi yang dijawab anggukan kepala Tiara. Dia tersenyum lagi, bikin pengin nyubit pipinya. 'Duh, kalau lama-lama disini bikin aku gak tahan saja.' Hati Ferdi mulai merasa kacau.
Sesampainya di rumah dinas...
Entah kenapa Ferdi tak bisa melupakannya. Bayang-bayang wajah gadis itu sungguh mengganggu pikirannya.
'Wajahnya yang cantik dan imut itu, bibirnya yang pink kemerahan, pipinya yang putih kemerahan bila tersipu malu, senyumnya yang begitu manis, tak bisa begitu saja kulupakan. Padahal ini pertama kalinya aku bertemu dengannya, bagaimana besok-besok? Ah, tak mungkin kan aku jatuh cinta pada tunangan sahabatku sendiri. Mungkin saja karena aku sudah lama menjomblo.' batin Ferdi meracau tak jelas.
Keesokan harinya, Ferdi mulai bekerja. Berkunjung ke areal persawahan, berkenalan dengan mereka para petani. Dan tak disangka salah satu diantaranya adalah Pak Toha, bapak Tiara.
"Bapak, sehat pak?" tanya Ferdi. Pak Toha menyambut uluran tangan Ferdi. Mereka mengobrol agak lama masalah pekerjaan, hingga waktu tak terasa sudah sore.
"Nak Ferdi, ayo mampir dulu ke rumah Bapak. Kita makan bersama-sama. Ibu dan Tiara pasti sudah menyiapkan makanan," ujar Bapak menawarinya untuk makan bersama.
"Tapi...apa tidak merepotkan kan, Pak?"
"Tentu saja tidak. Ayo mampir saja, nak Ferdi pasti belum makan kan?"
__ADS_1
"Ah iya pak, kebetulan saya lapar sekali," jawab Ferdi dengan jujur. Pak Toha tertawa menanggapinya
-bersambung-