ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Diculik


__ADS_3

"Mas, berhenti mas. Itu motor A Jiho," tukas Tiara sambil menepuk pundak Ferdi. Dengan segera Ferdi memperlambat laju motornya.


"Mana, dek?"


"Itu mas," ucap Tiara sambil menunjuk ke seberang jalan.


Ferdi menghampirinya, menyeberang jalan. Dia merasa heran, karena ada motornya tapi tidak ada Jiho disana.


"Mana orangnya ini? Kenapa motornya terparkir di pinggir jalan?" tanya Ferdi sambil melihat sekeliling.


Bugg... Bugg... Bugg...


Terdengar suara seseorang seperti sedang berkelahi, dari balik semak-semak. Ferdi mendekati kearah suara itu, diikuti Tiara dari belakang.


"Hei... Apa-apaan kalian main keroyokan begitu?" Teriak Ferdi sambil menghampiri mereka. Ferdi memukuli mereka, dan mereka berganti mengeroyok Ferdi.


Tiara menghampiri suaminya. Jiho tersungkur tidak berdaya, wajahnya dan badannya babak belur karena dikeroyok oleh tiga orang yang tak dikenal itu.


"Aa...." Tiara menangis melihat suaminya. Keadaannya begitu menyedihkan. Wajahnya lebam-lebam dan dari hidungnya keluar darah segar.


"Uhuk... Uhuk..." Jiho terbatuk. Dia meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Bahkan untuk bangun saja, Jiho tidak bisa. Dia sangat kepayahan. Tiara yang hendak memeluknya tiba-tiba tangannya diseret paksa oleh salah satu preman yang tak dikenal itu.


"Aa... Tolooooong..." teriaknya sebelum akhirnya mulutnya dibekap oleh tangan preman itu. Tiara meronta-ronta tapi sayang tenaganya begitu lemah.


"Hei, cepat cabut!" sergah preman yang menyandera Tiara kepada kedua temannya yang masih berkelahi dengan Ferdi.


Mereka bertiga dengan sigap berlari sambil membawa Tiara. Ferdi yang melihatnya sempat mengejar. Namun dia kalah cekatan karena Tiara segera dibawa ke mobil yang entah datang dari mana.


"Aaarrggghh....!!" Teriaknya putus asa. Ferdi kembali lagi berlari menghampiri Jiho.


"Ce-ce-pat kau ke-jar mereka! Tolong selamatkan istriku..." ucap Jiho dengan nada terbata-bata. Dia masih meringis kesakitan.


"Tapi kau bagaimana?" tanya Ferdi. Dia merasa dilema. Apakah dia harus mengejar orang yang membawa Tiara? Atau apa dia harus menyelamatkan sahabatnya yang sedang tak berdaya lebih dulu?


"Ja-jangan pedulikan aku. Tolong selamatkan Tiara..." jawab Jiho lagi. Yang akhirnya membuat Ferdi beranjak.


"Bertahanlah..." kata Ferdi pada sahabatnya itu. Dia berlari ke arah motornya dan berusaha mengejar mereka meskipun sudah tertinggal jauh. Dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tak peduli lagi dengan dirinya.


Ferdi akhirnya menemukan mobil itu, namun sayangnya mereka melewati jalan tol yang tak bisa dilewati oleh motor. Dia menghentikan motornya dan sambil mengingat-ingat plat nomor mobil itu.


"Aaarrggghh.... Siiiaaall!!" teriaknya frustasi. Dia segera memacu sepeda motornya lagi, berbalik arah menuju Jiho berada.


Benar saja, para warga tak melihat ada orang yang butuh pertolongan. Karena daerah itu sangat sepi. Apalagi semak-semak tumbuh begitu tinggi dipinggir jalan.


Ferdi menghampiri Jiho yang tidak sadarkan diri. Ferdi menepuk-nepuk pipinya dan memeriksa nadinya.


"Jiho, Jiho bangun..."


"Jiho, Jiho bangun..."


Ferdi kembali menepuk-nepuk pipinya dan menggoyangkan tubuhnya.


"Uhuk... Uhuk..." Jiho terbatuk. Dia mulai membuka matanya dan mengerjap perlahan. Ferdi tersenyum melihat sahabatnya bangun.

__ADS_1


"Tiara... Mana Tiara..." ucapnya kemudian.


"Ayo kamu bangun dulu. Kita ke rumah sakit sekarang..."


Ferdi membantu Jiho untuk bangun. Ferdi berlari lagi mengambilkan air minum di motornya.


"Nih minumlah dulu," ucap Ferdi sambil menyodorkan botol air mineral itu.


"Uhuk..." Jiho meringis kesakitan lagi, dia terlihat sangat kepayahan.


Ferdi memapah Jiho untuk bangun. "Ayo, kita ke rumah sakit."


"Tidak, tidak perlu. Antarkan aku pulang saja." sahut Jiho dengan nada lemah.


"Tapi...."


"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja." lanjut Jiho lagi. Tubuhnya memang sakit, tapi hatinya lebih sakit. Dia sangat khawatir dengan istrinya.


Dia memapah Jiho sampai ke jalan raya. Kebetulan ada mobil bak yang lewat. Ferdi segera menghentikan mobil itu.


"Pak, maaf... Bolehkah saya meminta bantuan?" tanya Ferdi.


"Iya, ada apa mas?"


"Bolehkah kami menumpang mobil bapak? Teman saya habis dikeroyok sama preman, pak."


"Ah, ya sudah. Ayoo..."


"Ya sudahlah. Ayo."


Pak sopir membantu Ferdi mengangkut motornya. Dan dia mengantarkan mereka sampai ujung gang.


"Terima kasih ya, pak. Ini buat bapak, terima kasih sudah membantu kami."


"Iya, iya mas. Terima kasih kembali," jawab pak sopir.


Ferdi memapah Jiho sampai ke depan rumahnya.


"Kuncinya?" tanya Ferdi.


"Ada di saku celanaku. Baru kemarin aku bikin serepnya."


Dia merogoh saku celananya dan membuka pintu itu, kemudian membaringkan Jiho diatas kasur. Ferdi kemudian mengompres luka memar Jiho.


"Nih dipegang dulu, aku mau beli obat pereda rasa sakit," ujar Ferdi.


"Tidak usah beli, ada di kotak P3K, tolong diambilkan."


"Oh oke..."


"Nih, nanti diminum. Tapi makan dulu."


"Iya, terima kasih. Kalian kenapa bisa bersama?"

__ADS_1


"Tiara mengirim pesan padaku, dia ketakutan," jawab Ferdi.


"Kenapa?"


"Ada yang mengetuk pintu, dia kira itu aku. Dia bilang dia takut, jadi aku samperin kesini. Aku lihat ada kotak warna merah di depan pintu." jelas Ferdi sambil melihat sekeliling. "Nah, ini dia kotaknya," lanjut Ferdi sambil mengambil kotak itu dan menyerahkannya pada Jiho.


Jiho membukanya, rona wajahnya berubah menjadi serius.


"Jadi ini?" tanya Jiho.


"Ya, Tiara melihat ancaman itu. Dia sangat mengkhawatirkanmu, makanya dia memintaku untuk mengantarnya ke tempatmu bekerja."


"Kenapa gak kau larang?"


"Aku gak tega melihatnya sedih. Lagi pula kalau di rumah, apa menjamin dia baik-baik saja? Bisa saja mereka membawa Tiara. Baca saja ancaman itu."


Jiho terdiam, menahan sakit dan perih dihatinya.


"Tiara sangat mengkhawatirkanmu, dia takut terjadi apa-apa sama kamu. Dugaannya ternyata benar. Mantan bosmu itu udah gila. Dia menghalalkan segala cara untuk meraih keinginannya. Iya, mantan bosmu itu terlalu terobsesi pada Tiara. Dia tak mungkin berhenti sebelum hasratnya tersalurkan."


"Tapi Tiara kan sedang hamil..."


"Yaa, diakan gak tahu."


"Hhhhh, aku khawatir sama Tiara dan bayiku."


"Memangnya kau pikir aku tidak khawatir?"


Jiho terdiam lagi.


"Kemarin kan aku sudah kasih tawaran buat kalian untuk pindah dari sini. Disini sudah gak aman buat Tiara. Tapi kamu kebanyakan mikir."


"Ya, maaf...."


"Maaf untuk apa? Semuanya juga sudah terjadi. Kita cuma perlu pikirkan, gimana caranya menemukan Tiara."


Jiho kembali terdiam sambil menahan sakitnya.


"Coba aku hubungi ponselnya dulu," ucap Ferdi lagi.


[Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan area. Cobalah beberapa saat lagi]


Ferdi menggeleng. "Nomornya tidak aktif. Aku kirim pesan saja, siapa tahu dia akan membacanya," lanjutnya lagi.


✉️[Dek, kamu dimana? Tolong kabari mas, mas akan mencarimu]


✉️[Tetap tenang ya, jangan takut. Suamimu disini baik-baik saja]


Pesan itu terkirim. Tapi tidak tahu apakah Tiara akan membacanya.


Jiho menatap sahabatnya yang satu itu, dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kamu kenapa ngelihatin aku seperti itu? Kita akan mencari Tiara sama-sama, tunggu kamu sembuh dulu. Aku akan telepon pamanku dulu untuk melacak siapa pemilik mobil itu. Dia punya banyak kenalan, pasti salah satunya akan bisa membantu kita."

__ADS_1


__ADS_2