ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Bertemu dengan boss


__ADS_3

"Hai... kamu kan istri Jiho? Sedang apa disini?"


Seorang wanita menghampiri Tiara, dia berseragam kemeja merah dan rok span warna hitam diatas lutut. Rambutnya ikal tergerai sepunggung. Sungguh cantik sekali. Ya Tiara tahu siapa dia. Tadi pagi Tiara sempat bertemu dengannya.


"Ah mba Rania..." sahut Tiara sambil tersenyum.


"Dia lagi nungguin aku kerja," sahut Jiho yang tiba-tiba menghampiri kami. Dia sudah berpakaian rapi mengenakan seragam pramuniaga. Kemeja warna merah, celana hitam dan sepatu pantofel hitam. Ah dia kelihatan keren sekali, Tiara sampai terpana memandangnya.


"Duh Jiho, gak bebas banget hidupmu! Kerja aja sampai ditungguin istri?" sindirnya dengan wajah yang tersenyum sinis.


"Aku yang mengajaknya kesini," pungkas Jiho membela istrinya.


"Eh.. Eh ada ribut apaan nih?" suara seorang laki laki mengagetkan kami.


Sebelumnya Tiara sempat melihat dia turun dari mobil mewahnya dan berjalan menghampiri kami. Dia berpakaian sangat rapi, necis dan trendy. Dia membuka kacamata hitamnya.


"Boss..." sahut mereka serempak.


"Ada apa nih?" tanya lelaki yang dipanggil bos. Dia menatap Tiara dengan sorot mata tajam. "Siapa dia?" tanyanya kembali.


"Ini istri saya, bos..." jawab Jiho.


"Ini lho bos, Jiho kerja bawa istri..." sambung Mba Rania.


"Ooh..." mulut lelaki itu membulat. Mata elangnya memandang Tiara dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Dia melihat Tiara dari ujung kaki sampai ke kepala.


"Bos, dari pada dia diam disini aja, mending disuruh kerja. Lagipula kita kan lagi kekurangan karyawan, bos..." tukas Rania sambil sekilas melihatnya.


"Ide bagus, Rania."


"Tapi, bos..." tukas Jiho, sepertinya dia keberatan.


"Jiho dan kamu, silahkan ke ruangan saya!" ujarnya dengan tegas. Dia berlalu kemudian diikuti oleh Rania.


Jiho menatap Tiara lama. "Maaf, tak seharusnya aku membawamu kesini," ucapnya lirih.


Tiara tersenyum. "Tidak apa-apa A, kalau aku diberi kesempatan untuk bekerja disini aku akan menerimanya A."


"Tapi..."


"Aa gak usah khawatir..."


"Bukan itu, tapi..."


Tiara menggenggam tangan suaminya dan menatapnya dengan tatapan memelas butuh persetujuan. Jiho menghela nafas panjang.


"Ya sudah, ayo..."


Jiho menggandeng tangannya dan membawanya masuk.

__ADS_1


"Aa keren sekali..." ucap Tiara disela-sela kegugupan kami.


"Hmmm..." Jiho menoleh dan tersenyum padanya.


Tak lama kami memasuki sebuah ruangan berukuran 4x4 meter. Disana sudah duduk dengan angkuh lelaki yang di panggil bos tadi. Jiho masih menggenggam tangan istrinya.


"Boss..." sapa A Jiho.


Wajahnya yang sedang menatap laptop kini berpindah menatap kami.


"Oh, kalian sudah datang?" ucapnya datar.


"Gimana nona, apa kamu bersedia bekerja disini?" tanya lelaki itu sambil menatap Tiara lekat-lekat.


"Bos, sebenarnya..." belum selesai ucapan Jiho, sudah disanggah oleh orang itu.


"Tunggu Jiho, diamlah. Aku ingin nona ini yang menjawab," tukasnya terkesan arogan.


"Bagaimana nona?" lanjutnya lagi.


"Bos, tolong jangan libatkan dia. Aku yang mengajaknya kesini, biar aku saja yang dihukum. Tapi tolong bos..." Jiho mulai merajuk.


'Kenapa ya dia keberatan kalau aku ikut bekerja disini?' tanya Tiara dalam hatinya.


"Dihukum? Hah... kamu ini lucu Jiho! Aku tidak akan menghukummu. Aku hanya menawarkan pekerjaan untuknya. Lagipula disini sedang kekurangan pegawai perempuan. Bagaimana nona? Apa kau bersedia bekerja disini?" tanyanya lagi. Entahlah nada bicaranya membuat Tiara sulit untuk menolak.


"Baiklah, aku bersedia. Bo.. boss..." jawab Tiara agak gugup. Jiho menunduk seakan dia tak berdaya dengan keputusan Tiara.


"Keputusan yang bagus!" ujarnya dengan senyum penuh kemenangan. "Siapa namamu, nona?" sambungnya lagi.


"Tiara..." jawabnya lirih. Dia menunduk, dia tak berani menatapnya lama-lama.


"Nama yang cantik, seperti orangnya," pujinya sambil tersenyum menggoda.


'Hah gila ini bos! Dia memujiku di depan suamiku sendiri?' batin Tiara mengoceh.


"Oh iya Tiara. Namaku Endra, kau bisa panggil aku apa saja, terserah kamu. Yang penting enak didengar," sambungnya lagi.


"Baik, bos..."


"Endra..." pungkasnya lagi.


"Bos Endra," jawab Tiara kemudian.


"Hmm boleh juga. kedengarannya menyenangkan," sahutnya lagi.


Mereka terdiam sejenak. "Apakah benar kalian sudah menikah?" tanyanya lagi. Pria itu menatap Tiara dan Jiho secara bergantian.


"Benar bos," jawab Jiho.

__ADS_1


"Ooo..." dia manggut-manggut. "Begini, kalian harus profesional ya! Masalah pribadi jangan di sangkut pautkan dengan pekerjaan," tambahnya lagi.


"Baik, bos" jawab A Jiho lagi.


"Oke, kalian boleh kerja sekarang. Eh tunggu, Tiara." Dia beranjak dari duduknya dan mengambil sesuatu di lemari dekat meja kerjanya.


"Pakailah ini!" Lelaki itu memberikanku bungkusan seragam kafe. Aku menerimanya dengan hati-hati.


"Ya sudah, kalian boleh pergi." Perintahnya kembali. Kami berdua keluar dari ruangan itu.


"Aku harus pakai ini, A?" tanya Tiara dengan polos.


Jiho meliriknya. "Iya, Aa antar ke ruang ganti ya," jawabnya kemudian.


Tiara mengikuti langkahnya di belakang. Ada lumayan banyak karyawan disini. Ada yang khusus bekerja di bagian dapur, ada juga yang menjadi pramuniaga seperti suaminya, dan bagian yang lainnya, Tiara tahu persis.


'Pasti kafenya ramai pengunjung ya.' batin Tiara mulai bertanya-tanya.


"Lokernya ada disini, yang..." tunjuk Jiho sebelum ke ruang ganti. Ruang ganti ada disebelah sana untuk wanita.


"Baik, A. aku ganti dulu," sahut Tiara sambil berlalu.


Tiara mengganti pakaiannya dengan seragam kafe. Dia malu sendiri memakai ini. Kemeja warna merah dan rok span hitam, menurutnya ini terlalu ketat di tubuhnya. Lihat saja rok ini, terlalu mini. Sedikit diatas lutut. Tapi dia harus memakainya. Tiara menghela nafas panjang dan keluar dari ruang ganti. Sebelumnya, dia menyisir rambutnya yang acak-acakan. Dan membiarkan tergerai sebahu.


Tiara melihat Jiho masih berdiri disana menunggunya. Jiho menatapny tak berkedip.


"A? kenapa?" tanya Tiara membuyarkan lamunannya.


"Ah... kamu terlalu cantik. Apa kamu nyaman memakainya?" dia balik bertanya.


"Hai Jiho! Lo bawa siapa?" tanya seorang laki-laki dengan seragam yang sama. "Waaah cantiiknya...." pujinya lagi sambil tersenyum padaku.


"Hush! Jangan goda dia, dia istriku," jawab Jiho lagi.


"Haah, yang bener?" tanyanya seakan tak percaya.


"Dibilangin kok gak percaya..." sambung Jiho.


"Iya mas, aku istrinya..." jawab Tiara sambil tersenyum.


"Oalaaah... pantas aja sama Rania gak mau, ternyata sudah ada yang punya..." jawabnya lagi sambil terkikik.


Jiho meninju lengan temannya itu dengan lembut. Terlihat keakraban diantara mereka. "Ya udah, gue duluan ya! Sukses buatmu, bro..." ucapnya lagi.


"Ayo, kita kenalan sama yang lainnya. Yang tadi namanya Yusuf," ucap Jiho. Tiara hanya manggut-manggut mendengar penjelasannya.


Jiho mengajaknya berkeliling, berkenalan dengan karyawan lain serta menjelaskan pekerjaan apa saja yang harus dia lakukan. Beberapa orang tersenyum ramah dan ada yang meledek Jiho. Yang dia tangkap dari obrolan mereka, bahwa Jiho selama ini tak pernah dekat dengan wanita, dengan Raniapun selalu menghindar, tapi bisa-bisanya dia punya istri seperti Tiara. Dia hanya tersenyum menanggapinya.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2