
Jiho memikul beban berat itu sendirian. Dia harus melunasi hutang-hutang Ayahnya yang cukup banyak. Dan dia harus menabung untuk biaya pernikahan kami.
***
"A, aku mohon jangan tinggalkan aku," gadis itu masih tersedu. Mengharap maafnya. Tiara melihat Jiho menghentikan langkahnya, tapi tetap berdiam diri cukup lama di tempatnya, segala kecamuk dalam dadanya tidak bisa membuatnya berkata-kata.
"Aku yang salah, maafkan aku, A. Kumohon..." air matanya masih berlinang. Tak kuasa melangkah lagi, akhirnya Tiara terduduk sambil terus terisak. Tapi usahanya sia-sia, sepertinya Jiho akan pergi darinya. Tanpa sepatah kata darinya dia pergi lagi meninggalkan gadis itu yang sedang termangu.
Melihat gadis yang dicintainya terluka, Ferdi berinisiatif untuk mencegah sahabatnya itu pergi.
"Tunggu Jiho, kamu salah paham. Diantara kami tidak ada apa-apa. Kami hanya teman, aku menemaninya karena khawatir Tiara berjalan sendirian," jelas Ferdi.
Jiho menoleh sejenak, memandangnya lama seakan mencari kebenaran. Lalu dia menghela nafas dalam-dalam. Diletakkannya tas ransel yang masih bertengger dipunggungnya. Dia baru saja pulang dari luar kota, tapi secara kebetulan dia melihat gadisnya berjalan bersama Ferdi, sahabatnya sendiri!
Jiho berjalan beberapa langkah menghampiri Tiara. Dia menundanya untuk berdiri.
"Benar kamu gak ada hubungan apa-apa sama Ferdi?" tanyanya penuh penekanan. Tiara menoleh ke arah Ferdi, lelaki itu hanya memandangnya tanpa berucap.
Tiara menganggukkan kepalanya, tapi entah kenapa ada sudut hatinya yang terasa nyeri.
"Apa kamu masih sayang sama Aa?" tanya Jiho kembali. Kembali dia anggukkan kepalanya. Pandangannya menunduk, ia merasa malu untuk memandang tunangannya itu.
"Jadi, apa kau bersedia kalau kita menikah dalam waktu dekat?" tanya Jiho kembali, membuatnya sedikit terperanjat.
Tiara menoleh ke arah Ferdi, tak sengaja mata mereka saling bertemu. Ada keterkejutan terlihat di wajahnya.
"Ah maaf, aku pergi dulu, kalian lanjutkan ngobrol saja," tukas Ferdi sambil berlalu pergi. Dia tahu mungkin Ferdi sangat kecewa.
"Ra, tolong jawab Aa. Apa kau masih bersedia menikah dengan Aa? Apa jangan-jangan kamu menyukai Ferdi?" tanyanya lagi yang membuat gadis itu kikuk.
"Ah eh enggak, A. I-iya, aku bersedia menikah denganmu," jawabnya gugup.
Dia melihat wajah tunangannya tersenyum, maniiis sekali.
'Ah, tidak mungkin kan aku meninggalkannya. Lelaki yang kucintai dan mencintaiku dua tahun ini. Sebelum aku mengenal mas Ferdi.' batinnya berucap kembali.
Jiho, dia tunangan Tiara. Mereka sudah bertunangan satu tahun terakhir ini. Tapi karena keadaan, Jiho pergi ke kota untuk bekerja. Ya, dia bekerja juga untuk kebaikannya
Semenjak itu, mereka LDR'an, tapi selama di kota rantau dia tak pernah menghubungi gadis itu. Hanya sekali dua kali, dia menghubunginya saat awal-awal dia pergi. Selebihnya tidak, dia seperti hilang di telan bumi. Hal itu yang membuat Tiara bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa dia setega itu? Apakah dia sudah lupa? Apakah dia ingin meninggalkanku?
Lamunan Tiara terbuyar karena sebuah dekapan lembut. Jiho memeluknya erat, eraaat sekali. Seperti ada rasa rindu yang begitu membuncah. Tiara membalas pelukannya. Sudah lama sekali, mereka baru berjumpa lagi. Pertemuan yang sangat dirindukan, sangat dirindukan.
"Aa akan mempersiapkan acara pernikahan kita, maafkan aa karena pulang tidak memberi tahumu," ucap Jiho kemudian seraya melepaskan pelukannya.
"Tapi, A.."
"Ya...?"
__ADS_1
"Eh, nggak apa-apa. Aku nurut saja,"
"Oke, ayo kita pulang..."
Mereka pulang bersama, tentu saja berjalan kaki, melewati jalan setapak, tidak ada kendaraan angkutan umum maupun motor lewat sini. Rumahnya di perkampungan, mungkin bisa dikatakan pelosok desa. Tapi biarpun pelosok, pemandangan disekitar sangatlah indah, karena ini daerah pegunungan. Disamping kanan dan kiri jalan adalah pepohonan yang menjulang tinggi. Ada semak-semak yang tumbuh subur. Jalanan yang naik turun bukit membuat langkah gadis itu sedikit lelah, padahal biasanyapun dia sering melewati jalan ini bersama Ferdi tanpa ada rasa lelah sedikitpun. Dia selalu ditemani Mas Ferdi jikalau ada keperluan ke kota kecamatan. Ya, semenjak Jiho pergi merantau ke kota.
Entah kenapa Tiara merasa canggung jalan bersama lelaki itu. Biasanya dulu, kalau berjalan dengannya selalu ada candaan yang membuatnya tertawa. Berbeda kali ini, mereka hanya terdiam dalam pikiran masing-masing.
"Kamu capek? kalau capek, kita istirahat dulu," ucapnya memecah keheningan. aku menoleh kearahnya. Ah, dia memang belum berubah, masih perhatian seperti dulu.
"Enggak A, kita lanjut saja. Bentar lagi sampai kan..." jawab Tiara.
"Hmm... baiklah, padahal aa masih ingin berlama-lama berjalan denganmu,"
Tiara hanya tersenyum menanggapinya sembari tetap berjalan pulang.
"Tadi sebenarnya mau kemana?"
"Mau ke kecamatan, A. Mau beli sesuatu..."
"Lho, ayo kita balik lagi. Kan kamu belum dapat barang yang dicari?" tanyanya kembali sambil menghentikan langkah.
"Kita pulang saja, A. Lain kali saja kesana lagi, lagian gak terlalu penting kok."
"Hmmm, ya baiklah. Ayo lanjut pulang," ujarnya kembali sambil tersenyum manis. Senyum yang membuat gadis itu terpesona dan tak bisa melupakannya.
"Eh tunggu, tunggu..."
"Ya...?"
"Aa ada sesuatu untuk kamu."
"Ini apaan, A?" tanya Tiara sembari menerima kotak hadiah dari A Jiho.
"Buka aja."
Lalu dia membuka bingkisan kado itu. Ah ternyata, Jiho masih saja perhatian seperti dulu. Tiara melihat sebuah kalung yang berkilauan. Emas asli, pasti itu harganya mahal. Dia menunjukkan kepadanya.
"Gimana, suka?"
"Iya, aku suka A. Ini bagus banget."
"Aa pakaikan ya..."
Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
A Jiho memakaikan kalung itu ke lehernya. "Aa tahu, kalung ini pasti cocok sekali untukmu," ujarnya kemudian. "Kamu tambah cantik," ungkapnya lagi, hingga membuat gadis itu tersipu.
__ADS_1
Jiho meraih kedua tangannya, dan menciuminya secara bergantian. "Maafkan aa ya, sudah membuatmu menangis." Tak terasa bulir-bulir bening itu kembali menetes. Dia mengusap lembut air mata si gadis.
"Jangan menangis lagi, aa janji akan membahagiakanmu," ucapnya kemudian sambil mendekap tubuhku. Berulangkali dia mengecupi ubun-ubunnya.
Rasa sesak didada Tiara mulai berkurang. 'Mungkin aku jadi seperti ini karena terlalu rindu padamu, A. Maafkan aku.' dalam hatinya dia berucap penuh penyesalan.
Merekapun lanjut berjalan pulang ke rumah.
***
Sesampainya di Rumah...
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam," terdengar jawaban salam dari Ibu. Tak berapa lama, dari dalam Ibu menghampiri keduanya.
"Eh, ada nak Jiho," sapa ibu sambil menyambut uluran tangan Jiho. "Ayo ayo masuk dulu, nak," sambung ibu kembali sembari mempersilahkan dia masuk.
Jiho duduk di ruang tamu, terlihat sekali wajah lelahnya.
"Apa kabar, Bu?" tanya Jiho pada Ibu.
"Alhamdulillah baik, Nak. Nak Jiho, sehat?" Ibu balik bertanya.
"Alhamdulillah sehat, Bu. Bapak mana, Bu?" tanyanya kembali.
"Bapak masih di ladang, nak. Ini nak Jiho baru pulang atau bagaimana?"
"Iya Bu, baru pulang. Ketemu Tiara sama Ferdi di jalan,"
"Oh iya lho, dimana nak Ferdinya? Kok ga kelihatan?" tanya ibu kembali sembari celingukan mencari sosok Ferdi.
Jiho menoleh ke arah gadis itu sejenak. Seakan ingin melihat perubahan di wajahnya. "Ferdi udah pulang duluan, Bu." Jawabnya kemudian.
Ibu manggut-manggut mengerti. "Oh iya neng, tolong ambilkan air untuk calon suamimu ini, lho. Kasihan habis perjalanan jauh," perintah ibu kembali.
"Baik, Bu,"
Tiara memandangnya sekilas, ia tersenyum lagi padanya. 'Ah, ibuu... Andai kau tahu...'
Tiara mengambilkan segelas air putih dan memberikan padanya. Jiho langsung meminumnya tanpa basa-basi lagi. "Kenapa cuma air putih doang, nak? Kan bisa kamu buatkan teh manis..."
"Tidak apa-apa, Bu. Air putih lebih segar."
"Ha ha, iya iya... Ya sudah, Ibu tinggal dulu ke belakang ya. Neng, temani calon suamimu ngobrol dulu," ucap Ibu meninggalkan mereka berdua.
-bersambung-
__ADS_1