ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Minta Maaf


__ADS_3

Minta Maaf


Jiho berulang kali menciumi kening istrinya. Kali ini dia melihat Tiara sangat sedih.


"Sayang... Kamu mau kan maafin Aa? Percayalah, Aa gak punya hubungan apa-apa dengannya. Hanya kamu yang Aa cinta, tidak ada yang lain dan semuanya takkan pernah berubah," lanjut Jiho lagi.


Tiara masih terisak. "Sayang, please... percayalah..." imbuh Jiho.


Jiho mengangkat wajah Tiara dengan tangannya, dipandanginya wajah cantik itu lekat-lekat. Mencari jawaban.


"Sayang...." ucap Jiho lagi.


Tiara mengangguk dan membenamkan wajahnya di dada Jiho.


"Makasih sayang..."


***


Di tempat kerja Jiho, Kafe kedai angkringan.


"Maksudmu apa-apaan naruh lipstik di saku jaketku?" tanya Jiho menghardik.


"Oh, ternyata ketinggalan di kamu ya? Pantas aku cari-cari gak ada..." jawab Rania seakan merasa tak bersalah.


"Ga usah pura-pura deh kamu! Kamu sengaja kan lakukan itu semua, agar istriku marah?"


"Hah? Maksudnya apa?"


"Ooh, masih pura-pura gak tahu???"


"Ya..! Ya...! Ya...! Aku lakukan itu semua agar kamu pisah sama dia! Puasss?" jawab Tiara yang terpancing emosi.


"Hah, sayangnya tidak tuh. Justru gara-gara kamu, kami jadi makin saling menyayangi. Menyerahlah! Jangan ganggu hidupku lagi. Kamu cantik, kamu bisa cari laki-laki lain. Bukan lelaki beristri! Kamu gak mau kan disebut pelakor?"


"Hah! Tidak, Tidak akan!" jawab Rania ketus. Dia berlalu meninggalkan lelaki itu sendirian. 'Benarkah yang kemarin itu gagal? Aaarrggghh siall!' teriaknya dalam hati.


***


Pukul 23.05 WIB


Tok...Tok...Tok...


"Assalamualaikum... Sayang, ini Aa..." Sapa suara dari luar.


Kali ini mata Tiara masih terjaga, sehingga dia langsung membukakan pintu untuk suaminya.


"Waalaikum salam..." sambut Tiara dengan senyuman yang merekah di bibir. Dia mencium punggung tangan suaminya.


"Aa udah makan?" tanya Tiara perhatian.


"Udah sayang..."


"Udah mandi?"


"Udah tadi disana sebelum pulang. Kenapa?"


Tiara hanya tersenyum. Dia memeluk suaminya itu. Entah kenapa perasaan sayangnya bertambah besar. Apa karena gara-gara lipstik itu? Dia jadi cemburu?


"A..."


"Ya...?"


"Gak ah, gak jadi..."


"Kenapa? Bikin penasaran aja..."


"Enggak..." ucap Tiara malu-malu.


"Ngomong aja..."

__ADS_1


"A, aku, emmh..."


"Kenapa sih? Bikin gemes aja nih..." sahut Jiho sambil mencubit pipi Tiara.


"Emmh, apa Aa gak mau punya anak?"


"Hah?" Mata Jiho membulat. Jiho tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang malu-malu. "Memangnya sudah siap? Diperut ini tumbuh Jiho kecil?" sambung Jiho menggodanya sambil mengelus-elus perut istrinya yang rata.


Tiara hanya mengangguk malu.


"Bener? Kamu udah siap sayang?" tanya Jiho kembali. Dia sangat bahagia kalau akhirnya Tiara menerima dia sepenuhnya. Tak ada keraguan lagi.


"Iya... Aku mau punya anak dari Aa..."


Jawaban Tiara membuat hatinya sangat lega. Seperti tanah gersang yang disiram oleh air hujan.


Sejurus kemudian Jiho mencumbu bibir Tiara dengan mesra, menciumi tengkuknya. Dan..... Krik...krik...krik... [ SENSOR ya, wkwkwkwk]


Malam itu malam pertama mereka setelah beberapa hari menikah.


***


Tiara terbangun, dia melihat ke samping suaminya sudah tidak ada. Badannya terasa nyeri, dia terduduk dan sadar tubuhnya tak memakai apapun hanya terbalut selimut. Dia jadi malu sendiri mengingatnya.


"Sayang sudah bangun?" sapa Jiho. Dia sudah rapi dan wangi. Entah kenapa Tiara melihat suaminya makin tampan. Dia terpesona melihatnya.


"Hei, kenapa bengong?" tanya Jiho lagi sambil menghampirinya. "Mau nambah lagi?" tanyanya lagi sambil mengedipkan mata genit. Dia sedang menggoda istrinya. Ya, dia paling senang melihat ekspresi malu-malu istrinya itu.


"Haah?" Mata Tiara membulat. Jiho tertawa melihat ekspresi itu.


"Apakah semalam sakit?" Jiho meraih tangan istrinya dan diciumi tangan itu dengan lembut.


Tiara mengangguk pelan.


"Makasih ya sayang..." ucapnya lagi. Dia menciumi istrinya penuh kasih sayang. "Ya sudah sana mandi dulu, nanti sholat subuh bareng ya. Biar Aa yang masak," tukas Jiho kembali.


Tiara mengangguk lagi dan dia menoleh ke arah dinding, jam sudah menunjukkan pukul 04.50 pagi.


Hari-hari berikutnya mereka lalui dengan perasaan bahagia. Seiring waktu, kemesraannya semakin bertambah layaknya pasangan yang sedang dimabuk asmara.


***


Sebulan telah berlalu sejak malam itu....


"A, gimana kalau aku kerja juga?" tanya Tiara disela-sela mereka menikmati sarapan bersama. Ya, seperti biasanya dia sudah menyiapkan sarapan dan kopi untuknya.


Jiho hanya memandangnya seakan penuh tanya.


"A... gimana? apa boleh?"


"Hmmm..."


"Kok hmmm doang sih?"


"Nanti kamu capek, sayang..."


"Aku jenuh di rumah sendirian aja. Atau aku pulang aja?"


"Hmmm kok ngomongnya gitu sih, yang? Udah gak betah tinggal sama Aa?"


Pertanyaan itu sukses membuat Tiara terbungkam.


"Aa gak maksa kamu, kalau mau pulang nanti Aa anterin. Tapi, Aa gak izinin kamu kerja. Kamu udah capek di rumah, dan mau kerja juga? Apa yang harus Aa bilang ke Bapak sama Ibu? Nanti kalau kamu sakit karena kecapean gimana?"


Duh, entah kenapa ucapannya membuat Tiara menangis.


"Kenapa? kok nangis?" tanyanya kemudian.


"Aku ingin tinggal disini, tapi aku juga ingin punya kegiatan."

__ADS_1


"Hmmm... ya baiklah, nanti coba Aa cari tahu dulu."


Tiara mengangguk.


"Aa berangkat dulu ya, udah siang nih," ujar Jiho kembali yang dijawab oleh anggukan kepala istrinya.


Dia sempat mengecup kening Tiara dan berlalu sambil tersenyum.


***


Disini


Pulang


Disini


Pulang


Disini


Pulang


Tiara menghitung kancing di bajunya. Kalau pulang, dia bisa ketemu dan bantu bapak sama ibu. Tapi... jauh dari suami. Sedangkan kalau disini, dia sendirian, merasa jenuh.


'Duuh, gimana dong? Masa baru nikah udah jauh-jauhan lagi sih?' batinnya meracau sendiri.


Trililiiit... Trililiiit... Trililiiit...


Ponsel Tiara berdering. Segera dia angkat panggilan itu.


[Halo... Assalamualaikum]


[Waalaikum salam, dek]


[Iya mas, ada apa?]


[kangen suaramu, dek]


[hmmm...]


[Ini Mas ada di rumah Ibu. Mau ngobrol sama ibu?]


[Ah iya mau mas]


Tak lama terdengar suara Ibu dari seberang telepon.


[Halo nak...]


[Bu... Tiara kangen sama ibu. Ibu sama bapak gimana kabarnya?]


[Alhamdulillah, ibu sama bapak baik-baik saja nak. Gimana denganmu nak?]


[Baik, Bu. Tapi Tiara ingin pulang, Bu...]


[Lho, kenapa?]


[Tiara jenuh disini, Bu. Gak ada yang bisa aku lakukan Bu. Sedangkan A Jiho melarang aku kerja.]


[Nak, itu tandanya suamimu sayang sama kamu. Kamu harus setia nemenin suami kamu. Jangan tinggalin suamimu disitu sendirian, nak. Kasihaan...]


[Gitu ya, Bu?]


[Iya, nak. Suami istri itu, suka duka harus selalu bersama. Kamu bisa lakukan kegiatan yang positif, atau coba kamu ikut program hamil. Ibu juga gak sabar pengin nimang cucu, hehehe]


[Hah...? Ya sudah Bu, terima kasih nasihatnya. Aku tutup dulu teleponnya ya, Bu...]


[Iya, nak. Hati-hati disana ya sayang. Inget ya pesan Ibu, harus nurut apa kata suami, selagi itu masih dalam kebaikan.]


[Baik, Bu. Assalamualaikum]

__ADS_1


[Waalaikum salam]


__ADS_2