ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
PDKT


__ADS_3

"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Jiho sesaat setelah sampai di rumah.


"Aku gak apa-apa, A," jawab Tiara sambil tersenyum.


"Sayang, sebelum terlambat... Berhenti saja, tidak usah bekerja lagi, yaa?" ucap Jiho dengan nada memohon.


"Kenapa, A?"


"Aa khawatir, Bos memperlakukanmu dengan tidak baik."


"Hah? Kan ada Aa disana? Yang penting ada Aa, aku akan baik-baik saja."


"Tapi... Perasaan Aa gak enak..."


"A, ini pengalaman kerja pertamaku. Aku ingin kita berjuang bersama-sama. Aku akan melakukannya dengan baik, percayalah..."


"Baiklah, sayang. Tapi Aa mohon, berhati-hatilah dengan bos. Jangan sampai terlibat masalah lagi, ya?" ucap Jiho yang benar-benar khawatir terhadap istrinya.


"Iya, A..."


Jiho tersenyum dan memeluk tubuh Tiara dan mengecup bibirnya dengan mesra.


***


Sore menjelang petang


"Kamu udah siap? Ayo kita berangkat," ajak Jiho pada istrinya.


"Iya, A"


Tiara menaiki boncengan motor suaminya. Ya, mereka bekerja bersama-sama sekarang. Perasaan Tiara sangat bahagia, jika selalu bersama suaminya itu. Dia jadi makin sayang padanya.


Sesampainya di cafe, Jiho memarkirkan motornya di tempat biasa. Tapi ada pemandangan yang tak biasa, mobil si bos sudah terparkir dengan gagah disana.


'Padahal belum telat, tumben bos udah datang...' lirih Jiho dalam hatinya. Dia sempat melirik ke jam yang melingkar di tangannya.


"Ayo sayang..." ajak Jiho sembari menggandeng tangan Tiara. Rania yang melihat kemesraan itu hanya bisa mencebik iri.


Mereka menuju ke ruang ganti masing-masing. Tiara membuka loker miliknya untuk berganti seragam kerjanya. Sesuatu terjatuh dari sana. Dia memungut itu, sebuah kertas berwarna merah muda bertuliskan "Selamat bekerja, sayang..."


Senyuman di bibir Tiara mengembang sempurna. "Ah, dasar suamiku... Udah tiap hari ketemu juga bisa-bisanya nulis kejutan seperti ini," ucap Tiara lirih, berbicara pada dirinya sendiri.


Lalu dia menemukan setangkai bunga mawar merah. Tiara tersenyum lagi dan mencium wangi bunga mawar itu. Tiara jadi tidak sabar untuk bilang terima kasih pada sang suami.


"Kamu udah selesai, sayang?" Tanya Jiho yang sedikit membuatnya terkejut.


Tiara menoleh dan tersenyum. Jiho menunggunya di depan ruang ganti cewek.


"Makasih ya, A," ucap Tiara dengan nada manja.


"Makasih untuk apa?" Jiho balik bertanya melihat keceriaan di wajah istrinya.


"Itu... Bukannya..." Belum sempat Tiara meneruskan ucapannya, Jiho dipanggil oleh seseorang.


"Jiho..! Jiho...!" Teriak Yusuf menghampiri mereka berdua.


"Ya... kenapa, Suf?" tanya Jiho


"Kamu dipanggil ke ruangan bos, sekarang!" Ungkap Yusuf dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa ya?" tanya Jiho.


"Gak tahu. Udah buruan kesana aja. Nanti si bos marah lagi." Jawab Yusuf kembali.


"Baiklah, aku segera kesana," jawab Jiho.


Jiho menoleh kearah sang istri dan tersenyum padanya. Tiara terlihat begitu khawatir.


"Sayang, Aa baik-baik saja. Jangan khawatir ya, kerjanya tetap semangat. Ok!" ucap Jiho pada Tiara. Dia seakan tahu kecemasan yang dirasakan oleh sang istri.


Tiarapun mengangguk.

__ADS_1


***


Di ruangan kerja si bos...


"Jiho, silahkan duduk dulu," ujar bos Endra mempersilahkan.


Jihopun duduk di bangku yang sudah disediakan.


"Jiho, mulai hari ini kamu saya tempatkan di bagian jasa pengiriman pesanan atau menjadi salah satu tim kurir cafe ini," lanjut Bos Endra menjelaskan.


"Kenapa bos? Apa di bagian kurir kekurangan orang?" tanya Jiho menelisik.


"Ya, kau benar. Kami kekurangan orang, sedangkan kami membutuhkan seseorang seperti kamu yang paham jalanan di kota ini, agar pesanan tidak terlambat."


"Baik, bos."


"Tenang saja, akan ada intensif tambahan untukmu," tambah bos Endra lagi.


"Terima kasih, bos."


"Ya sudah, kau boleh pergi."


Jiho mengangguk dan meninggalkan ruangan itu.


"Apakah ini hanya kebetulan?" pikir Jiho.


"A, ada apa?" Tanya Tiara yang disusul oleh Yusuf. Mereka memandangku seakan penuh tanya.


"Mulai hari ini, Aa dipindahkan ke bagian pengiriman pesanan," jawab Jiho.


Mata mereka membulat seakan tak percaya.


"Bagian kurir?" tanya Tiara kembali.


"Iya sayang, Aa bakalan sering pergi-pergi. Kamu jaga diri baik-baik ya... Oh iya Suf, kalo ada apa-apa dengan Tiara, tolong ceritakan padaku ya..."


"Siappp!" tukas Yusuf dengan mantap.


"Dia dipindah dibagian pengiriman," jawab Yusuf.


"Hah? Beneran Jiho?" tanya Rania kembali.


"Iya," jawab Jiho singkat.


Merekapun berlalu melakukan pekerjaan masing-masing.


***


"Tiara, kamu dipanggil bos tuh, di ruangannya," ucap Rania.


"Hah? Ada masalah apa mba?" Tiara balik bertanya.


Rania hanya mengendikkan bahunya sebagai jawaban tidak tahu.


Tiara menghela nafas panjang dan menghampiri bosnya itu. Ada perasaan takut seperti kemarin.


'Apa aku melakukan kesalahan?' tanyanya dalam hati.


Tok... Tok... Tok...


Tiara mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuklah," sahut suara dari dalam.


Tiara memasuki ruangan itu dengan pandangan tertunduk.


Bos Endra tersenyum melihat gadis itu.


"A-ada apa bos?" tanya Tiara dengan nada sedikit terbata.


Bos Endra tersenyum lagi. "Apakah kamu bisa menemaniku makan malam?" tanya Bos Endra.

__ADS_1


"Hah? Maksudnya?"


"Oh tidak. Maksudku, tolong buatkan makan malam untukku, lalu bawa kesini lagi."


"Ah, ba-baik bos..." jawab Tiara tergagap.


Tiara berlalu ke dapur mengambilkan makanan untuk bos'nya.


"Siapa yang pesan, Ra? Meja sebelah mana?" tanya Yusuf.


"Ah, bukan. Ini buat bos."


"Hah? Gak salah, biasanya dia keluar? Tumben banget makan di cafe sendiri..."


"Entahlah..." Jawab Tiara.


Tiara mengantarkan makanan ke ruangan bosnya kembali.


"I-ini bos, silahkan dinikmati. Saya permisi..." ucap Tiara setelah meletakkan makanan di meja bosnya.


"Eh tunggu... Tunggu...!" Cegat si bos kembali.


"Ya...?"


"Kamu disini, temani aku makan."


"Tapi, bos... Pekerjaan saya masih banyak."


"Ini juga pekerjaan, turuti saja perintahku."


"Ba-baik bos,"


"Duduklah, santailah dulu..."


Tiara duduk. Dia merasa kikuk dipandangi sampai sebegitunya oleh si bos.


Pria itu melahap makanannya sambil terus memperhatikan Tiara.


"Sepertinya suamimu bakal telat pulang. Kau kuantar pulang saja ya?" tukas si bos memecah keheningan. Nada bicaranya lembut, sangat berbeda dengan kemarin. Seperti dua orang yang berbeda.


"Tidak perlu, bos. Biar saya menunggunya saja," jawab Tiara.


"Kau berani? Menunggu sendirian disini?"


"Iya, gak apa-apa bos..." Jawab Tiara. Dia pasrah, yang penting baginya pulang bersama suaminya sendiri bukan orang lain.


"Hemm..."


'Tidak seperti yang kubayangkan. Ini lebih sulit. Sepertinya dia sangat setia. Hah, bakal lebih susah nih.' ceracau Endra dalam batin.


"Ini, dibereskan dulu. Aku udah selesai makan. Kau boleh kembali bekerja."


"Baik, bos."


Tiara membereskan piring sisa makanan dan minuman bos dan membawanya ke belakang.


***


Pukul 22.40


Tiara masih menunggu suaminya kembali. Beberapa karyawan yang lain sudah pulang. Begitu pula dengan Yusuf dan Rania. Dia sendirian menunggu Jiho di pelataran parkir cafe.


"Kau yakin nona, gak ikut pulang denganku?" tanya Bos Endra yang tiba-tiba saja sudah berada di parkiran.


"Iya, bos... Gak perlu repot-repot, biar saya menunggunya saja," ucap Tiara dengan pelan.


"Oh, baiklah."


Endra berlalu meskipun sedikit kecewa. Dia melesat pergi dengan mobil mewahnya. Setelah berjalan sekitar setengah kilometer, dia memutar balik mobilnya kembali menuju cafenya.


"Ah, kasihan juga dia disana sendirian," gumamnya. Sebelum dia berbelok ke tempat parkir dia melihat Jiho sudah kembali. Endra menghentikan mobilnya dan memperhatikan mereka dari kejauhan. Entah apa yang dibicarakannya dia tidak tahu. Tapi melihat kemesraan mereka begitu nyata sekali. Entah kenapa hatinya merasa sakit.

__ADS_1


"Aaarrggghh... Sial!" teriaknya sambil memukul kemudi bulatnya itu.


__ADS_2