ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Ancaman


__ADS_3

Jiho dan Tiara pergi ke pusat penjualan hp terbesar di kota T. Mereka sedang memilih hp yang mereka cari, setelah dapat mereka berbalik. Tapi tiba-tiba saja mereka bertemu dengan orang yang paling tidak ingin mereka temui.


"Oh, hai... Ketemu lagi..." Sapa orang itu dengan senyuman licik.


Tiara langsung bersembunyi di belakang tubuh suaminya. Dia merasa trauma, tubuhnya gemetar karena ketakutan.


"Kenapa sembunyi sayang?" Tanya pria itu kemudian.


Jiho sudah merasa geram sekali, tapi sayang karena tempat ini begitu ramai dia berusaha meredam amarahnya. Dia tak ingin terjadi perkelahian disini.


"Maaf, kami permisi." Tukas Jiho sambil menggandeng erat tangan istrinya.


"Ternyata istrimu bisa pulang juga ya..." Timpalnya dengan sinis. "Aku kira dia sudah pergi dengan laki-laki itu dan..."


Jiho menghentikan langkahnya sejenak. "Tolong berhenti mengganggu istriku!"


"Kau jangan naif Jiho. Kau yang tidak pantas untuknya."


"Apa yang kau katakan?"


"Ya, bukankah istrimu seorang wanita penggoda? Kalau dia wanita baik-baik, mana mungkin wanita sudah bersuami seperti dia mau diajak ke hotel bersamaku."


"Diaaamm!! Jangan menghina istriku!"


"Ohoooo... Jiho yang pendiam sekarang berani membentak bosnya sendiri?"


"Kau bukan bosku lagi."


"Hahaha, ya ya benar juga sih. Tapi istrimu terlalu cantik, jadi aku tak bisa lupa apalagi tubuhnya..." Tukas pria itu lagi sambil melirik Tiara dengan tatapan menggoda.


"Sudah kubilang, jangan ganggu istriku lagi!!" Ucap Jiho sambil mendorong tubuh Endra. Dia hampir terjengkang.


"Hahaha, istrimu sangat cantik Jiho.... Aku sudah tergoda karenanya..."


"Dasar gilaa!!" Jiho sudah mengepalkan tangannya dan bersiap meninju pria brengsek itu. Tapi dengan segera Tiara menahannya.


"Kita pergi saja, A..." Bisik Tiara dengan suara lirih. Dia sudah ketakutan setengah mati. Jiho sangat prihatin melihatnya. Apalagi Tiara sedang mengandung. Jiho tak ingin terjadi sesuatu padanya. Dia tak boleh stress memikirkan ini. Akhirnya, Jiho dan Tiara pergi meninggalkan pria yang gila itu.


"Hei sayaaang, kita belum selesai ya....!" teriaknya dengan seringai yang mengerikan.


Setelah agak jauh, tubuh Tiara terkulai lemas. Dia hampir terjatuh, untung saja Jiho sigap menahannya.


"Sayang... Sayang... Kau tidak apa-apa?" Jiho terlihat panik melihat keadaan istrinya. "Kita duduk dulu disini..." Ucap Jiho sambil memapah istrinya untuk duduk di bangku yang sudah tersedia.


"Sayang, kau tunggu disini ya... Aa beli minum dulu, sama minyak kayu putih..." Ucap Jiho. Dia segera beranjak pergi, namun Tiara menarik tangannya.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri, A. Aku takuuut..." Ucapnya lirih. Air matanya mulai menetes. Tubuhnya masih gemetaran, saking takutnya melihat pria gila mantan bosnya itu.


"Iya... Iya Aa disini. Jangan takut lagi ya..." Jawab Jiho sambil memeluk istrinya itu. Dia tak peduli dengan pandangan orang-orang yang melihat mereka dengan tatapan aneh, seakan penuh tanya.


Setelah cukup lama. Tiara sudah merasa tenang dan mulai ada tenaga lagi, lalu dia mengajaknya pulang.


"A, ayo kita pulang..."

__ADS_1


"Kau sudah baikan?"


"Iya... Aku gak nyaman disini... Aku pengin tidur."


"Ya baiklah... Ayo kita pulang, lagi pula kita sudah dapat apa yang kita cari. Nanti mampir dulu ya sebentar, ke kantor pos."


Tiara mengangguk.


Setelah selesai mengirimkan paket itu, merekapun segera pulang menuju rumah.


Di depan rumah dia menemukan seikat buket bunga mawar merah... Jiho meraihnya dan menyerahkannya pada Tiara.


Jiho dan Tiara saling memandang, benaknya penuh pertanyaan, dari siapakah buket bunga ini?


Tiara melihat ada sebuah kertas yang tertempel disana.


[Sayang... Kita belum selesai... Aku pasti kembali...]


Tiara langsung melempar buket bunga itu. Tubuhnya gemetar ketakutan. Dia tahu siapa pengirimnya.


"Sayang, kenapa? Kenapa dibuang? Bukannya itu dari Ferdi?" Tanya Jiho. Dia kemudian memungut bunga itu dan membaca surat kecilnya. Raut wajahnya berubah ketika membaca surat itu. Dia memandang istrinya yang sedang ketakutan.


"A, itu dibuang saja..." Ucap Tiara.


"Iya sayang, kamu jangan takut ya...." Jawab Jiho. "Kita masuk yuk, jangan dipikirkan lagi ya..." Lanjutnya lagi.


Tiara mengangguk. Diapun segera merebahkan dirinya diatas kasur menghilangkan penat.


Keesokan harinya...


Jiho sudah memulai aktivitasnya seperti biasa. Dia pergi bekerja ke bengkel.


"Aa berangkat dulu ya sayang. Kamu gak apa-apa kan ditinggal dulu?" Pamitnya pada Tiara.


Tiara mengangguk. Tiba-tiba saja Jiho berlutut dihadapannya. "Jiho kecil, Ayah berangkat dulu ya. Inget, jangan bikin ibu kesusahan ya..." Ucap Jiho lagi sembari mengelus perut istrinya.


Tiara tersenyum. Dia mencium punggung tangan suaminya.


"Jaga diri baik-baik ya... Kalau masih pusing jangan kerjain apapun ya sayang, biar nanti Aa beresin semuanya kalau sudah pulang kerja. Ingat, istirahat yang cukup." Ucap Jiho lagi seraya mencium kening istrinya.


Jiho kemudian berlalu, melesat pergi dengan motornya.


Seperti biasa, Tiara melakukan pekerjaan rumah, dia tak mungkin berdiam diri dan merepotkan suaminya terus menerus.


Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB.


Tok... Tok... Tok...


Terdengar suara pintu diketuk. Dia beranjak dan mengintip di Jendela. Tidak ada siapapun, hanya sebuah kotak yang terbungkus kertas kado sengaja ditinggalkan di depan pintu. Tiara merasa heran, kotak apakah itu? Dia membawanya masuk ke rumah dan kembali menguncinya


Tiara mengambil kotak itu dan membukanya. Dia sangat terkejut melihatnya.


"Aaarrggghh......" Teriaknya begitu ketakutan. Dilemparnya dengan kuat kotak itu. Dia sangat gemetaran.

__ADS_1


Kalian ingin tahu juga apa isi kotak itu? Hanya sebuah buket bunga kecil dan sebuah foto. Foto Jiho yang di coret-coret dan diberi noda darah.


"Sayang, kamu kenapa?" Teriak suara dari luar. Tiara sudah familiar dengan suara itu. Dia segera membuka pintu.


"Aa pulang..?"


"Ya, Aa khawatir sama kamu."


"Aku takut sekali, A..." Ucap Tiara sambil memeluk suaminya.


Jiho melihat sekeliling dan mendapati kotak itu. Dia melepaskan pelukan istrinya. Lalu, Jiho memungut kotak itu dan membaca surat kecil itu lagi.


[Sayang, tunggu aku... Aku akan kembali...]


Jiho juga memungut fotonya yang sudah dicoret-coret dan diberi noda darah. Raut wajahnya berubah, geram, marah, emosi bercampur jadi satu.


"Assalamualaikum..." Sapa suara dari luar.


"Waalaikum salam..."


"Lho, kenapa wajah kalian pada tegang gitu?"


"Oh Fer, ini..."


Ferdi meraihnya. Dan melihat semua itu.


"Ini ancaman. Apa kalian tahu siapa pengirimnya?" Tanya Ferdi.


"Maaf Fer, awalnya aku kira kamu yang mengirim buket bunga itu kemarin..."


Ferdi menggeleng.


"Tapi sepertinya itu dari mantan bosku." Jawab Jiho lagi.


"Lelaki brengsek itu lagi?"


"Ya."


"Kenapa dia bisa tahu kalau Tiara sudah pulang?"


"Kami bertemu dengannya kemarin.."


"Hah? Dimana?"


"Di pusat penjualan hp."


"Kalian sudah tidak aman tinggal disini. Bisa saja mantan bosmu itu berlaku nekat pada istrimu." Tukas Ferdi lagi.


"Terus?"


"Ya kalian harus pindah dari sini."


Tiara dan Jiho saling berpandangan. Masih banyak pertanyaan di benaknya yang belum terjawab.

__ADS_1


__ADS_2