ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Debat


__ADS_3

Dilihatnya foto sang suami bersama seorang wanita. Ada tulisan kecil juga dibalik foto itu. "Tunggu kejutanku, sayang..."


Tiara syok melihatnya, tidak mungkin kan suaminya berselingkuh? Air matanya menetes begitu saja. Apa-apaan ini? Haruskah pernikahannya diuji lagi?


"Tenang ya dek, kemungkinan itu hanya orang iseng saja. Jiho tidak mungkin berselingkuh, pasti dia dijebak."


"...."


"Percayalah, suamimu tidak akan melakukan itu. Ini hanya sebuah jebakan. Jangan pernah percaya pada sesuatu yang tidak pasti."


Tiara mengangguk. "Tapi siapa yang melakukan ini mas? Apakah wanita yang ada di foto itu? Siapa wanita itu?" tanya Tiara. Dia tidak tahu siapa wanita dalam foto itu, yang terlihat di foto hanya bagian belakangnya, bukan wajahnya.


"Assalamualaikum..." terdengar ucapan salam dari luar. Pintu yang memang masih terbuka membuat Jiho nyelonong masuk begitu saja.


"Waalaikum salam... A, habis dari mana?" tanya Tiara penuh khawatir.


"Maaf sayang, Aa pulang telat. Tadi ada musibah di jalan."


"Apa Aa baik-baik saja?"


"Iya sayang..." sahut Jiho sembari mengecup kening istrinya.


"Ferdi, kamu juga ada disini?"


"Iya, aku nemenin Tiara. Kasihan kan lagi hamil ditinggal sendirian."


"Ah iya, terima kasih."


"Sebenarnya kamu habis dari mana? Istrimu khawatir lho."


Jiho menghela nafas panjang.


"Dia siapa, A?" tanya Tiara. Matanya mulai berkaca-kaca.


Jiho meraih selembar foto yang berada ditangan Tiara.


"Aa juga gak tahu dia siapa sayang, tadi di jalan aa gak sengaja nabrak seorang wanita, untung saja dia hanya luka ringan. Awalnya Aa akan mengantarnya ke klinik, tapi dia gak mau. Dia minta diantar pulang. Jadi terpaksa Aa mengantarnya pulang. Tapi rumahnya jauh dari sini, kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Habis mengantarnya pulang, Aa langsung kembali ke rumah. Maaf, kamu sudah nunggu lama ya...


"..."


"Oh iya, tadi dia sempat memperkenalkan diri, namanya Lina. Kalau dilihat dari foto, memang dia, tapi Aa gak tahu itu yang foto siapa, Aa juga gak tahu siapa yang mengirim foto itu ke kamu. Kamu jangan salah sangka ya sayang, Aa benar-benar gak ada hubungan apapun dengannya. Justru Aa baru ketemu dengan wanita itu hari ini."


"Bener?"


"Iya sayang. Coba tatap mata aa, apa aa berbohong sama kamu?"


Tiara menatap mata suaminya, memang benar tak ada sorot kebohongan dari tatapan matanya. Tiarapun mengangguk dan tersenyum.


"Masalah kalian sudah clear kan? Kalian harus saling percaya, biar pernikahan kalian tetap langgeng. Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya. Kalau ada masalah dijalan harusnya kamu hubungi istrimu, biar dia tidak khawatir."

__ADS_1


"Iya, Ferdi. Ini salahku."


"Dan mulai besok, biar aku saja yang pergi kalau ada tugas diluar. Kau pantau di cafe saja. Kasihan istrimu juga kalau sering ditinggal sendirian."


"Siap, boss!" ucap Jiho sambil tersenyum.


"Jaga istrimu dengan baik, orang hamil perasaannya sensitif lho."


"Iya, iya, siap kakak!"


"Ya sudah aku permisi pulang dulu ya. Dedek bayi, paman pulang ya... Hati-hati di rumah, jaga kesehatanmu..."


"Iya mas, terima kasih."


Ferdi menghilang dari pandangan mereka. Jihopun menutup pintu dan menguncinya.


"Kamu masih marah sama Aa?" tanya Jiho sambil merangkul bahunya.


Tiara hanya menggeleng, sambil sesekali mengelus perutnya. Tiba-tiba Jiho berlutut dihadapan istrinya. Lalu menciumi perut buncit istrinya dengan lembut.


"Anak ayah, sehat -sehat ya sayang...." ucap Jiho yang membuat Tiara tersenyum.


"Aa minta maaf kalau membuatmu khawatir. Ferdi memang benar, harusnya aa mengabarimu lebih dulu."


"Iya, gak apa-apa. Yang penting aa baik-baik saja."


"Aa akan selalu baik-baik saja, karena ada kamu...Jangan banyak pikiran ya sayang, nanti bisa pengaruh sama kandunganmu..."


Tiara mengangguk.


"Lho sayang, kamu belum tidur? Lagi mikirin apa?"


"Aku masih kepikiran sama yang kirim kado itu, A."


Jiho membelai rambut istrinya dengan lembut. "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Ayo tidur..."


***


Keesokan harinya...


Ferdi yang sedang menikmati minum teh bersama Jiho dan Tiara tersentak kaget ketika suara seseorang memanggilnya.


"Mas! Mas Ferdi! Gawat mas!" seru salah seorang pekerja cafe berlari mendatangi Ferdi.


"Ada apa?"


"Itu mas, Rania sama Mita bertengkar lagi di belakang."


"Hah? Bertengkar lagi?" Ferdi beranjak berdiri.

__ADS_1


"Iya, mas"


Ferdi hanya bisa geleng-geleng kepala, dan menghampiri mereka. Jiho dan Tiarapun menyusulnya dari belakang. Untung saja, cafe belum dibuka, jadi belum ada pengunjung yang datang.


Mereka terlihat berdebat, diantara Rania dan Mita tak ada yang mau mengalah.


"Hei... Hei... Ada apa ini?" lerai Ferdi.


"Diam!!" teriak mereka dengan kompak. Mereka tak sadar kalau yang melerainya adalah bos mereka sendiri.


Mereka kembali berdebat dengan umpatan yang tak enak didengar. Keduanya terlihat bar-bar.


"Cukup! Cukup!" teriak Ferdi menengahi mereka.


Rania dan Mita masih merasa tak puas.


"Apa sih masalahnya sampai kalian berdebat seperti ini?" tanya Ferdi yang berdiri ditengah-tengah mereka. Dia memandangi kedua wanita itu secara bergantian untuk mencari jawaban.


"Kamu!" jawab mereka secara bersamaan.


"Aku? Kenapa aku?" tukas Ferdi keheranan.


"Kamu ini, jadi pria kok gak peka banget sih!" jawab Rania.


Ferdi tercengang mendengar jawaban mereka. Bisa-bisanya mereka tidak takut dengan bosnya sendiri.


"Ferdi, sekarang kamu pilih deh, aku atau dia?! Biar dia gak keganjenan terus-terusan sama kamu!" teriak Rania lagi.


"Heh, apa kamu bilang?!" Mita menimpali dengan nada emosi.


"Ckckck... Sudah cukup! Kalian kok gak ada takut-takutnya sama bos sendiri?" pungkas Ferdi lagi, dia merasa mereka terlalu berani. Jiho dan Tiara ikut tersenyum geli dengan tingkah mereka seperti ABG yang sedang kasmaran.


"Cukup, ya! Kalian masih mau kerja disini gak?" tanya Ferdi lagi sambil memandangi kedua wanita itu.


Seketika mereka terdiam dan menunduk.


"Kalian harusnya profesional dong, ini di tempat kerja bukan lapangan. Tidak seharusnya kalian ribut masalah pribadi!" tukas Ferdi lagi.


"Kalau gitu kamu kasih kepastian dong, pilih aku atau dia? Jangan baik pada semuanya, kami jadi salah mengartikannya tau!" ucap Rania lagi.


Ferdi menghela nafas panjangnya.


"Kalian berdua ikut ke ruanganku dulu. Yang lain kembali bekerja ya..." tukas Ferdi pada para karyawannya.


Mereka mengangguk dan bubar, kembali melakukan tugasnya masing-masing. Ya mereka, sudah tak bisa menonton drama gratis dihadapannya lagi. Ferdi, Rania dan Mita, mereka bertiga sudah layaknya artis lokal saja, banyak membicarakannya bahkan dijadikan bahan gosip. Bos ganteng yang diperebutkan para karyawannya.


"Sukses ya, Fer..." ledek Jiho. Dia tersenyum, begitu pula dengan Tiara, dia mengulas senyum termanisnya. Duuh...


Ferdi tidak pernah membayangkan akan diperebutkan oleh dua perempuan itu. Selain itu banyak juga penggemarnya diluar sana, macam seleb endorse aja.

__ADS_1


Mita dan Rania duduk di kursi, mereka memang terdiam, tetapi keduanya saling melemparkan tatapan sinis. Kentara sekali ada persaingan diantara keduanya.


Ferdi masih terdiam. Dia masih berpikir. Akankah dia memilih salah satu diantara mereka?


__ADS_2