
"Jiho, ada yang nyariin tuh!" tegur Deni sembari menghampiri temannya.
"Siapa?"
"Biasa..."
"Hhhhhhh... Males gue ketemu sama dia."
"Udah sana, temuin dulu. Kasihan dia nungguin dari tadi. Siapa tahu dia bawa makanan, kalau Lo gak mau buat kita-kita aje, ye gak bang...?" sahut Deni lagi sambil nyari pembelaan bang Nawas.
"Halah, otak Lo makanan mulu..." tukas Bang Nawas yang membuat mereka terkekeh.
Jiho mencuci tangannya yang kotor dan segera menghampiri Rania.
Gadis cantik itu mengenakan kemeja pendek dan rok sepan diatas lutut. Sehingga paha mulusnya sedikit terlihat. Kulitnya putih bersih, rambutnya yang panjang sepunggung diwarnai kemerahan di ujung. Banyak yang bilang dia cantik dan seksi. Sudah cukup lama dia mengejar cinta Jiho, tapi meskipun begitu Jiho tak pernah meresponnya. Dia bukan tipenya, justru Jiho menilai Rania terkesan ganjen suka menggoda lelaki. Buktinya beberapa kali dia sering memergoki Rania akrab sekali bersama Bos Endra, bosnya di kafe.
"Ada apa, Ran?" sapa Jiho datar.
Rania tersenyum manja. "Mau ketemu kamu..." jawab Rania dengan nada menggoda.
"Kamu kan tahu, aku lagi kerja..." Jawab Jiho sedikit ketus. Jiho tak suka dengannya, dia tak suka gadis yang agresif.
"Jawabnya jangan ketus gitu dong... Oh ya, ini aku bawa ini. Dimakan ya...!" sahut Rania sembari memberi bungkusan makanan pada Jiho.
"Jihooo...! Inget kami..." teriak Deni dari dalam.
Jiho hanya tersenyum. Akhirnya diapun menerima bungkusan dari Rania. Bukan untuk dia tapi untuk dua rekan kerjanya.
"Setelah pulang dari bengkel bisa anterin aku gak?" tanya Rania penuh harap.
"Aku gak bisa."
"Hah? Bukannya kamu ngojek?" tanya Rania lagi ingin tahu.
"Aku gak bisa."
"Kenapa? Aku akan bayar dua kali lipat deh..." rajuk Rania lagi.
"Rania, cari ojek lain saja. Nanti sore aku ada janji sama istriku."
Mendengar jawaban Jiho membuat Rania tak suka. Ia jadi makin benci sama istri Jiho. Dia jadi penasaran seperti apa wajah istri Jiho itu.
'Apakah wanita itu sangat istimewa sehingga Jihopun luluh kepadanya?' Rania bertanya-tanya sendiri.
Rania mencintai Jiho, karena dia berbeda dengan Pria-pria lain yang pernah dekat dengannya. Dia bukan lelaki hidung belang atau mata keranjang seperti bosnya itu. Walaupun Rania dengan sengaja mengenakan baju-baju seksi dan mini yang membalut tubuhnya, tapi Jiho tak pernah terpengaruh. Dia jadi bertanya-tanya seperti apa seleranya itu?
"Jadi gak bisa nih?" tanya Rania lagi memastikan.
"Maaf ya Ran, aku gak bisa. Ya sudah aku kerja lagi." sahut Jiho. "Oh iya satu lagi Ran, pakai jaketmu. Jangan pakai baju terbuka gitu," tambahnya.
"Ah so sweet, kamu peduli juga sama aku..." ungkap Rania menggodanya lagi. Jiho tersenyum masam.
"Lindungi dirimu sendiri dari lelaki yang tidak bertanggungjawab, salah satunya dengan pakaianmu. Jangan dibiarkan terbuka." lanjut Jiho lagi.
Rania tersipu malu, justru hal itu yang membuatnya makin cinta dengan Jiho.
"Ya sudah aku balik kerja lagi, makasih makanannya," ucap Jiho. Dia berbalik.
"Eh tunggu tunggu Jiho...!" Rania menarik lengan Jiho hingga Jiho berdiri tepat dihadapannya dengan jarak cukup dekat, hanya satu jengkal.
Cuupp... Rania mencium pipi Jiho. Jiho tak bisa menghindar lagi. Setelah mencium pipinya, Rania langsung berlari menjauh.
__ADS_1
"Daaah... Sayang...!" tukas Rania dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangannya.
Jiho yang masih syok, dia mengusap-usap pipi yang tadi diciumnya.
"Nih bang..." ucap Jiho seraya memberikan bungkusan berisi makanan dari Rania.
"Makasih bro. Wuih dapat bonus ciuman juga nih," ledek Deni. Bang Nawas memperhatikan wajah Jiho.
"Bener tuh, ada bekas lipstik di pipimu," sahut Bang Nawas menimpali.
"Hah, bener-bener nih..." dengkus Jiho kesal.
Dia membersihkan pipinya dengan air, menghapus bekas lipstik yang menempel.
"Hahahah..." Kedua orang itu tertawa puas.
"Agresif sekali si Rania, nikahin aja Jiho!" pungkas Bang Nawas masih meledeknya.
"Apaan sih bang, jangan ngaco deh! Gue udah punya istri."
"Hahaha, jadiin istri kedua dong. Jadi disana ada disini juga ada," timpal Deni.
"Hahahaha..." Mereka masih terkekeh.
Jiho hanya geleng-geleng kepala.
"Ya bener, yang penting istri pertama kagak tahu... Hahaha," sahut Deni lagi.
"Bahaya, kalau tahu pasti bakalan ada perang dunia ketiga, hahaha" jawab Bang Nawas.
"Bang! Den! Stop! Males gue dengerin ini semua. Kalau kayak gini gue balik ajalah..." ujar Jiho yang benar-benar kesal.
"Duuuh marah nih yee..." jawab Bang Nawas.
"Iye... Iye... Maafin kita... Kita cuma bercanda aja kok," tukas Bang Nawas lagi.
"Iye, maafin kita Jiho. Kita tahu lo cuma cinta sama istri tersayang Lo itu. Kapan-kapan diajak kesini jugalah, biar kita kenal sama istri lo," tambah Deni.
"Hmmm..." sahut Jiho singkat.
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.07 WIB. Sudah waktunya istirahat dan sudah waktunya makan siang.
Jiho membuka bekal makanan istrinya. Biarpun sederhana tapi sangat menggugah selera. Dia melahap makanannya yang lezat.
"Lo gak mau ini, Jiho?" tawar Deni sembari menyodorkan makanan dari Rania.
"Gak usah, makan aja Den. Ini gue udah ada masakan istri."
"Hhmmm bener-bener suami idaman lo," sergah Deni lagi mulai meledek.
"Udah, makan! Makan!" tukas Bang Nawas menengahi.
Jiho tersenyum sedangkan Deni melengos kesal.
***
Jam tiga sore, waktunya bengkel milik Bang Nawas tutup. Jiho dan Deni membereskan peralatannya dan mencuci tangan. Mereka akan pulang ke rumahnya masing-masing.
Jiho sudah tak sabar untuk menemui istrinya. Dia pulang dengan tergesa-gesa.
"Mau kemana lo? Buru-buru amat..."
__ADS_1
"Biasa bang, mau kencan dulu..."
"Haha, bisa aja lo,"
"Iya bang, duluan ya. Istri gue udah nungguin..."
"Iye... Hati-hati naik motornya," Bang Nawas menasehati.
"Siappp bosku!" sahut Jiho.
Diapun pergi melajukan motornya. Hatinya sungguh berbunga2, sudah tidak sabar menemui gadis pujaan hatinya itu. Dia terus tersenyum ketika mengingat semua tentang Tiara.
***
Sepenggal lirik lagu Andmesh Kamaleng
đź’•Cinta Luar Biasađź’•
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak kusangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Hari-hari berganti
Kini cinta pun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terikat
Rasa ini tak tertahan
__ADS_1
Hati ini selalu untukmu
***