ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Tawaran Kerja Sama


__ADS_3

Tiara dan Jiho saling berpandangan. Masih banyak pertanyaan di benaknya yang belum terjawab.


"Hei, kenapa kalian malah bengong?" Tanya Ferdi memecahkan keheningan.


"Maksudmu apa, Fer?" Tanya Jiho.


"Saran aku sih nih ya, kalian pindah dari sini. Disini sudah gak aman buat Tiara. Kasihan kan dia kalau kepikiran terus..."


"Hmmm ya, nanti kami pikir-pikir dulu." Jawab Jiho lagi.


Tak semudah itu meninggalkan tempat yang penuh kenangan ini dengan Tiara. Ya, meskipun yang diucapkan oleh Ferdi ada benarnya juga. Bisa saja ancaman itu datang lagi.


"Ya, itu sih terserah kalian." Jawab Ferdi. "Oh iya nih, aku beli buah-buahan. Biasanya kan ibu hamil suka yang seger-seger..." Lanjut Ferdi lagi sambil menyerahkan parsel buah terhadap Tiara.


"Kau tahu istriku sedang hamil?" Tanya Jiho lagi.


"Ya, waktu di rumah sakit." Jawab Ferdi.


"Kenapa mas gak memberitahuku?" Tanya Tiara ingin tahu.


"Aku kira kalian sudah tahu, makanya aku gak memberi tahu kalian."


Tiara mengangguk. "Terima kasih mas, buahnya." Ucap Tiara.


Ferdi mengangguk dan tersenyum. Perasaan Ferdi jauh lebih baik walau hanya dengan melihatnya saja.


"Oh iya, aku ada tawaran menarik untukmu Jiho..." Tukas Ferdi semangat.


"Ya, apa itu?"


"Kamu mau gak kerja sama denganku?"


"Maksudmu? Kerja sama apa?


"Eemmhh begini, tadi aku udah telpon dan diskusi dengan Omku, tentang sebuah bisnis. Katanya disini bisnis yang sedang berkembang pesat itu di dunia kuliner dan sejenisnya. Dan rencananya aku ingin buka cafe. Sedangkan aku butuh orang yang kompeten dan tahu tentang seluk beluk cafe dan juga tentang kota ini."


"Terus..."


"Kamu kan sudah cukup berpengalaman bekerja di cafe maupun menjelajahi kota ini. Bagaimana kalau kita bekerja sama?"


Jiho terdiam dan hanya kembali memandang istrinya.

__ADS_1


"Anggap saja, aku yang modalin dan kamu yang kelola. Keuntungannya nanti dibagi dua. Bagaimana?"


"Aku pikir-pikir dulu, Fer."


"Aku butuh jawaban kamu secepatnya. Kalau kamu bersedia, aku akan menyewakan tempat untuk usaha sekaligus yang bisa untuk kalian tinggali. Jadi kamu juga gak perlu ninggalin istrimu jauh-jauh untuk bekerja." Jelas Ferdi lagi.


Jiho hanya terdiam, dia menatap Ferdi seakan penuh tanya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kayak gak percaya aja..." Tegur Ferdi sambil memukul pelan lengan sahabatnya itu. Dia tertawa. "Kamu masih curiga sama aku?" Tanya Ferdi lagi.


Jiho hanya mengendikkan bahunya. Entahlah dia harus bagaimana.


"Bagaimana menurutmu sayang?" Tanya Jiho pada istrinya.


Tiara hanya bisa tersenyum. "Aku nurut Aa aja. Apapun keputusannya, aku akan terima." Ucap Tiara sambil menyenderkan kepalanya pada bahu suaminya itu.


"Tenang saja, aku gak akan merusak hubungan kalian lagi. Berbahagialah." Ucap Ferdi kembali.


Mereka bertigapun tersenyum.


"Kecuali.... Kecuali kalau kau menyakitinya dan meninggalkannya lagi, aku tak segan-segan merebutnya kembali darimu."


Jiho mengernyitkan keningnya. Dia masih bingung dengan tingkah sahabatnya itu.


"Alhamdulillah kalau kau sudah sadar." Sahut Jiho. "Dan untuk masalah kerjasama, aku akan diskusikan lagi dengan istriku." Lanjut Jiho kembali.


"Baiklah, kalau begitu. Pikirkan baik-baik tawaranku ya. Aku permisi dulu," jawab Ferdi sambil berpamitan.


***


Malam hari.


Jiho berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Pikirannya menerawang jauh. Apakah dia harus menerima tawaran Ferdi? Memang benar, dia harus punya uang tabungan untuk biaya persalinan Tiara nanti, dia harus tetap berjaga-jaga terhadap kemungkinan yang terjadi. Dan setiap bulan, Tiara harus kontrol ke Bidan agar tahu perkembangan si kecil. Sedangkan sekarang penghasilannya sudah berkurang drastis semenjak dia tak bekerja di cafe lagi.


Jiho menoleh menatap istrinya yang sedang tertidur dalam pelukannya. "Maafin Aa sayang, kamu jadi seperti ini..." Dia mencium keningnya dengan lembut


Tiara terbangun, dia mengerjapkan matanya lalu tersenyum.


"Aa belum tidur?" tanyanya kemudian.


Jiho tersenyum. Dia memandang istrinya dengan perasaan bahagia.

__ADS_1


"Kamu udah gak mual-mual lagi, yang?" tanya Jiho kemudian.


"Kalau didekat Aa aku merasa lebih baik, dan mual-mualnya berkurang..."


"Bener nih...?"


"Iya, si kecil maunya dekat dengan ayahnya terus..."


"Anak ayah pintar ya..." ucap Jiho sambil mengelus perut istrinya. "Hmmm tapi ngomong-ngomong, yang maunya dekat terus sama Ayah siapa ya? Dede kecil atau ibunya?" ledek Jiho lagi.


"Eemmhh dua-duanya heheh..." Tiara tertawa. Sudah lama dia tak tertawa lepas seperti ini.


"Oh ya sayang, bagaimana menurutmu, apa kita terima saja tawaran dari Ferdi?" Jiho melontarkan pertanyaannya.


"Jadi Aa lagi mikirin itu?" Tiara balik bertanya.


"Ya begitulah. Bagaimana menurutmu? Aa juga ingin dengar pendapatmu..."


"Emmhh... Aku ikut keputusan Aa aja. Yang penting aku gak jauh-jauh dari Aa."


"Duuuh... Manisnya... Terus Aa harus gimana sayang? Aa lagi bingung..."


"Terlepas dari semua ini, menurutku tawaran dari Mas Ferdi bagus. Kenapa gak Aa coba dulu?"


"Hmmm begitu ya..."


"Iya. Aku akan dukung apapun keputusan Aa. Yang penting aku tetap bersamamu."


"Hahah... Iya sayang. Ya sudah kita tidur lagi yuuk..."


***


Ferdi masih terjaga. Hatinya gelisah. Malam ini dia tak bisa tidur dengan tenang. Maksudnya adalah baik, ingin mengajaknya bekerja sama. Tapi sepertinya Jiho kurang suka.


Kenapa dia ingin melakukan kerjasama ini? Ya jelas saja, Ferdi punya modal. Tapi bukan itu alasan yang sebenarnya. Ada alasan lain yang dia sembunyikan. Dia ingin melihat Tiara hidup lebih layak. Bukan, dia tak akan merusak hubungan mereka. Bagi Ferdi melihat wanita yang dicintainya itu bahagia, itu sudah cukup. Hanya saja dia ingin melihatnya setiap hari, melihatnya tersenyum dan tertawa. Hal itu bisa membuat hidupnya bersemangat. Dan itu hanya bisa dilakukan kalau mereka menyetujui bekerja sama dengannya dan tinggal di ruko yang sudah dia siapkan. Ruko milik pamannya yang sudah kosong lama. Ya, dia tak mungkin sering-sering ke rumah Jiho saat ini. Dia tak punya alasan. Masa iya berkunjung ke rumah kawan setiap hari?


Dia beranjak dan mengambil foto Tiara yang tersimpan rapi di dompetnya.


"Semoga suatu saat ada waktunya aku bisa bersamamu... Sampai kapanpun aku akan menunggumu." Dia berbicara sendiri pada foto itu.


Entah kenapa perasaan cintanya begitu besar pada Tiara, dia tak pernah merasakan ini sebelumnya. Walaupun dia pernah berhubungan dengan seorang gadis, tapi dia tak sebegini cintanya seperti kepada Tiara. Kalau harus melupakan Tiara, rasanya akan begitu sulit.

__ADS_1


***


Mohon maaf kalo part kali ini terasa lebih pendek. Dan untuk episode-episode selanjutnya sikap Tiara akan jauh lebih manja terhadap suaminya. Ehem-ehem... Mungkin efek kehamilannya kali ya...


__ADS_2