ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Pulang


__ADS_3

Antara Dua Hati 45


"Istri lo belum ketemu, Jiho?" Tanya Bang Nawas. Dia ikut prihatin dengan apa yang terjadi sama Jiho.


Jiho menunduk lesu. Wajahnya kuyu.


"Gue harus cari kemana lagi, bang? Dia gak kenal siapa-siapa disini."


Bang Nawas mengisik bahunya. Sedangkan Deni hanya memandangnya dengan tatapan iba.


"Pulanglah, istirahat dulu. Kau harus jaga kesehatanmu biar tetap bisa mencarinya."


"Makasih, bang... Gue cabut dulu ya,"


"Iya, hati-hati dijalan. Jangan ngelamun."


***


Semenjak kemarin dan seharian ini Jiho berkeliling kota mencari istrinya. Dia mencari ke tempat yang pernah dikunjungi bersama istrinya itu. Tapi lagi-lagi dia tak melihatnya dimanapun. Hatinya sudah hancur.


Jiho pulang dengan perasaan frustasi. Dia terduduk lemas di teras rumahnya. Air matanya tak bisa berhenti menetes. Apa yang harus ia katakan pada bapak dan ibu mertuanya? Bahwa istrinya hilang?


"Aaarrggghh...!! Sayang kau dimana?" Dia tergugu.


"A..."


Panggilan lembut itu menghenyakkannya. Dia menoleh, seakan tak percaya yang dilihatnya adalah Tiara. Istri tercintanya.


"Sayang..." Dia beranjak dan menghampirinya. Belum juga sampai langkahnya tiba-tiba...


Duugghh...


Sebuah pukulan mendarat di perutnya. Bersamaan dengan jeritan Tiara. Jiho terhuyung. Ferdi kembali memukul dan mendorongnya hingga Jiho terjatuh.


"Mas! Hentikan...!!" Teriak Tiara. Tiara menghambur ke arah suaminya itu.


"Dek, menyingkirlah. Sekali-kali dia harus dikasih pelajaran." Tukas Ferdi geram. Tangannya masih mengepal, menahan emosi.


"Tidak, mas. A Jiho gak salah," sahut Tiara. Air matanya menetes.


Ferdi mencoba menghajar Jiho lagi, tetapi Tiara menghalanginya.


"Jangan, mas. Jangan pukul A Jiho lagi." Ucap Tiara memohon.


"Dia sudah melalaikanmu, dek. Dia gak bisa melindungimu!" ucap Ferdi masih geram.


Tiara menggeleng. Sedangkan Jiho masih bungkam. Dia meringis kesakitan.


"Tidak mas, A Jiho gak salah. Ini semua salahku sendiri." Tukas Tiara. Dia menunda suaminya untuk berdiri.

__ADS_1


Seketika Jiho menarik Tiara dalam dekapannya. Dia sangat khawatir padanya.


"Kau baik-baik saja, sayang?" tanyanya sambil menciumi kening istrinya. Dekapannya semakin erat, ada rasa rindu yang begitu membuncah.


"A, lepasin dulu. Nafasku sesak," ucap Tiara.


Jiho tersenyum dan merenggangkan pelukannya itu. Dia mengusap air mata di pipi Tiara.


"Kamu kemana saja sayang?" Tanya Jiho lagi.


"Dia bersamaku," jawab Ferdi. Masih ada rasa tak suka melihat kemesraan mereka berdua.


Jiho memandangi Tiara dan Ferdi secara bergantian. Bagaimana bisa? Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya itu.


"Bagaimana bisa kalian bersama?" Tanya Jiho penasaran.


"Aku akan cerita semuanya dari awal, A, Mas... Ayo masuk dulu. Gak enak diluar dilihatin orang-orang." Ajak Tiara sambil menarik tangan suaminya itu. Mereka berdua masuk dan Ferdi mengikuti mereka di belakang.


"Kalian tunggu sebentar disini. Aku ke belakang dulu," ucap Tiara kemudian. Tiara berlalu meninggalkan dua lelaki itu.


"Kamu gimana sih, jagain istri aja gak becus! Dia hampir saja diperkosa sama lelaki brengsek itu!" Tukas Ferdi masih geram.


"Aku gak tahu, bos akan senekat itu pada..."


"Hah? Apa? Bos? Jadi dia bosmu? Kenapa bisa dia ajak Tiara ke hotel? Bagaimana ceritanya?"


"Ceritanya panjang. Tiara kerja di tempat yang sama denganku."


"Aku yang minta, mas. Aku yang memohon-mohon pada A Jiho agar mengizinkan aku bekerja," jawab Tiara melerai perdebatan mereka.


Dua lelaki itu menoleh dan menatap Tiara. Tiara membawakan dua gelas teh manis hangat untuk mereka.


"Diminumlah dulu agar emosi kalian mereda." Lanjut Tiara lagi.


"Bos menawari pekerjaan padaku. Awalnya A Jiho melarang, tapi aku yang memaksa. Jadi dia menyetujui aku bekerja disana. Selang beberapa hari, A Jiho dipindah ke bagian pengiriman. Yang mana dia selalu pergi-pergi keluar cafe untuk mengantarkan pesanan. Dengan dalih profesionalisme. Jadi A Jiho tidak tahu persis kondisiku saat di cafe. Setiap harinya ada setangkai bunga dan secarik kertas dengan kata-kata romantis, aku pikir itu dari A Jiho. Ternyata aku salah, yang mengirimkan itu semua adalah si bos."


"Apa? Kenapa kamu gak cerita sayang..." sela Jiho.


"Tenanglah dulu A, aku belum selesai bicara."


"Lanjutkan, dek..." Sahut Ferdi.


"Ya, sampai beberapa hari yang lalu dia memberikanku sebuah cincin. Aku mengembalikan itu semua padanya. Tapi...."


"Ya? kenapa dek?"


"Bos sedikit melecehkanku."


"Kapan itu?" Tanya Jiho.

__ADS_1


"Waktu kita disuruh berangkat lebih awal A, Aa kan dikasih tugas sama si bos di luar cafe."


"Tapi kamu gak apa-apa kan, dek?"


"Gak apa-apa mas,"


"Maafin Aa, sayang..." ucap Jiho merasa bersalah.


"Aa gak salah. Aa udah pernah melarangku untuk bekerja lagi. Sebenarnya aku juga takut, tapi waktu itu Bos Endra datang kesini dan mengancamku akan mencelakakan Aa."


"Terus kenapa bisa kamu bersama si brengsek itu di hotel, dek?"


"Iya, bos mengajakku bertemu dengan rekan bisnisnya di restoran hotel. Awalnya aku menolak, tapi lagi-lagi dia mengancamku akan mencelakakan Aa. Dia menyewa seseorang untuk mengikuti Aa. Bos menipuku, dia licik. Terus dia...."


Tiara menghela nafas panjang. Air matanya mulai menitik lagi mengingat kejadian itu.


"Dia... Dia menyeretku dengan paksa masuk ke kamar hotel dan menguncinya... Dia bilang seluruh kamar dilantai itu sudah disewanya, jadi takkan ada orang yang mendengar aku berteriak. Untung saja, mas Ferdi datang diwaktu yang tepat. Kalau tidak... Hiks... Hiks... Aku gak tahu selanjutnya apa yang terjadi, ketika sadar aku sudah di Rumah Sakit."


"Ya, aku yang membawanya ke Rumah Sakit." sambung Ferdi.


Jiho menoleh kearah sahabatnya. "Terima kasih, terima kasih kamu sudah menyelamatkannya lagi." Sahut Jiho dengan tulus. "Tapi, bagaimana ceritanya kau bisa sampai disini? Kenapa?"


"Karena cinta."


"Apa?"


Ferdi tersenyum masam. "Bukan apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengan istrimu."


"Apa maksudmu?"


"Gak ada maksud apa-apa, aku cuma kangen sama Tiara. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Tak diduga justru aku menemukannya disaat-saat genting seperti itu. Bukankah itu takdir? Cinta...."


"Hah? Apa? Kamu gila, Fer!" Jiho mulai emosi.


"Iya, aku memang gila! Tapi aku gak sebrengsek bosmu itu!"


"Please, please... jangan berdebat lagi..." Tiara melerai perdebatan mereka.


"Mas... Aku sangat berterima kasih karena mas Ferdi sudah menyelamatkanku dan juga sudah merawatku saat di Rumah Sakit. Tapi... Tolong hargai aku, posisiku sekarang adalah istri sahabatmu sendiri."


"Haha... Iya dek, mas tahu. Mas cuma bercanda..." sahut Ferdi sambil tertawa. "Ya sudah, aku permisi. Oh iya Jiho, tolong jaga istrimu baik-baik. Jangan sampai hal buruk terjadi padanya lagi." sambung Ferdi lagi sembari beranjak pergi.


Jiho masih terdiam, antara merasa bersalah, marah dan cemburu campur aduk jadi satu.


"Aa marah?" tanya Tiara membuyarkan lamunannya.


"Enggak... Aa cuma khawatir sama kamu. Aa marah pada diri Aa sendiri yang gak bi..."


Tiara langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibir suaminya itu. "Jangan diteruskan lagi A..."

__ADS_1


Tiara memeluk suaminya dengan erat. Ya, dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga perasaan suaminya, dia terlalu egois.


__ADS_2