ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Refreshing


__ADS_3

Jiho mengajak Tiara refreshing. Pergi ke tempat wisata yang baru-baru ini lagi viral. Wisata danau buatan, yang dibuat dengan sangat indah dan sempurna. Air yang jernih, pepohonan hijau di samping kanan kiri jalan. Dan spot bunga warna warni yang begitu indah. Ada kolam khusus ikan-ikan yang cantik dan langka. Tiara pasti menyukainya kan? Selain itu, ada wahana becak air, balon air, seluncuran, ember tumpah dan berbagai wahana lainnya. Jiho tidak terlalu paham.


"Sayang, masuk yuk..." ajak Jiho setelah membeli tiket masuk. Tiara mengangguk. Jiho menggandeng tangannya.


"Bagus ya A," ucapnya penuh takjub. "Apa gak apa-apa, kita jalan-jalan terus?" tanyanya kembali.


"Sesekali menyenangkan istri boleh kan?" Jiho malah balik bertanya.


"Hmmm..." jawabnya sambil tersenyum manis.


"Kita kesana, yuuk..." tunjuk lelaki itu ke area spot bunga.


"Yang ada bunga-bunganya?"


"Hmmm... kamu kan suka bunga. Disana ada kolam ikan juga,"


"Iya aku mau."


"Atau mau naik wahana itu?" ajak Jiho sambil menunjuk ke arah wahana becak air.


"Haah? Nanti aja A, kesana dulu ya..." dia merajuk manja. Duuh gemasnya.


Tiba-tiba mereka berpapasan dengan seseorang. Seseorang yang saat ini selalu Jiho hindari. Ya, dia Rania. Gadis yang selalu menggodanya.


"Hai Jiho, kebetulan sekali kita ketemu disini. Kayaknya kita jodoh deh..." ucapnya dengan nada genit.


'Duh! Bisa-bisanya ketemu dia lagi disini. Kenapa dimana-mana ada dia? Ampun deh!' batin Jiho meracau sendiri.


"Kenapa semalam gak berangkat ke kafe?" tanyanya lagi, dia baru sadar kalau Jiho menggandeng seseorang. "Hei, dia siapa?" tanyanya kembali sambil sesekali melirik Tiara dengan tatapan tak suka.


"Oh iya... kenalkan Rania, ini istriku. Namanya Tiara. Hmm... Tiara, ini teman kerja di kafe namanya Rania," ujar Jiho kemudian.


Tiara tersenyum ramah seraya menyalami tangan gadis itu. Berbeda dengannya, senyum Rania seperti dipaksakan.


"Rania, maaf kami permisi dulu ya," sambung Jiho lagi.


"Eh.. eh.. tunggu Jiho," dia kembali mencegah pria itu. "Aku gak akan menyerah biarpun kamu sudah punya istri," bisik Rania di telinganya. Diapun berlalu begitu saja. Telinga Jiho memerah. Sungguh! dia geram sekali dibuatnya.


"Kenapa A?" tanya Tiara, sepertinya dia menyadari perubahan di wajah suaminya itu.


"Gak apa-apa sayang," jawab Jiho mencoba kembali menstabilkan emosi.


"Hei Jiho, jangan lupa nanti malam berangkat ya!" ujar Rania dengan nada setengah berteriak.


Jiho dan Tiara menoleh. Tiara malah tersenyum padanya.


"Sepertinya mba Rania dekat sama Aa, ya?" tanyanya kemudian.


"Ah oh dia, hanya sebatas teman kerja, sayang..."


"Senang ya jadi mba Rania, orangnya ceria."


"Hmmm sayang, tolong jangan bicarakan dia lagi ya. Ini kan waktu kita, hanya kita saja, oke?"


Dia mengangguk.

__ADS_1


"Duduk disitu dulu yuk," ajak Jiho kemudian. Dia masih mengikutinya. "Gimana, suka gak?"


"Suka A," jawabnya kembali.


"Tunggu disini sebentar, Aa mau beli cemilan untukmu," tukas Jiho kemudian.


Tiara mengangguk. Jihopun pergi mencari minuman dan cemilan.


Tiarapun beranjak untuk melihat bunga-bunga yang ditanam warna warni.


Dideretan sebelah kanan dan kiri ada bunga celosia warna merah dan kuning. Pindah ke yang lebih dalam ada deretan bunga ruellia yang berwarna ungu. Lanjut lagi ada deretan bunga Zinnia warna pink fanta dengan kelopak bunga bertumpuk. Adapula bunga cosmos yang berwarna oranye. Dan di pusat taman bunga itu ada bunga matahari dengan warna kuning yang cerah dan ceria.


Tiara menikmati pemandangan itu dengan takjub. Banyak kupu-kupu yang berseliweran disana.


"Tiara...! Tiara...!" Jiho mencari istrinya itu. Dia melihat bangku yang tadi sempat mereka duduki kosong.


'kemana dia?' tanyanya dalam hati. Jiho mencari ke area spot bunga yang dibentuk seperti labirin, tapi sangat indah karena adanya warna warni bunga itu.


"Sayang..." ucap Jiho ketika berhasil menemukan istrinya. Dia menarik tangan istrinya itu.


Tiara tersenyum manis. Jiho menarik nafas lega.


"Aa khawatir sama kamu," ucapnya kemudian. Tiara tak menjawab perkataan suaminya, dia hanya menggelayut manja di lengannya. Lalu mereka kembali ke bangku taman lagi.


Tak berapa lama...


Trililiiit... Trililiiit... Trililiiit...


Nada dering di hape'nya berbunyi. Dia mengambil ponsel yang ditaruhnya di dalam tas. Tiara melirik Jiho setelah melihat layar ponselnya.


Tiara tak menjawab, hanya menyerahkan ponsel itu pada suaminya.


Mas Ferdi, sebuah panggilan yang tertera dalam layar ponselnya.


"Biar Aa yang angkat ya," tukas Jiho lagi.


'Ah Ferdi, ternyata kau masih saja menghubungi istriku ya! Kapan kau akan menyerah?'


[Halo dek, lagi ngapain?] sapa suara lelaki dari seberang.


[Halo Fer, ini aku...]


[Oh Jiho, apa kabar?]


[Kami baik, kamu sendiri gimana?]


[Alhamdulillah aku juga baik]


[Gimana kabar Bapak sama Ibu?]


[Alhamdulillah baik juga, aku tiap hari selalu main kesana. Mereka sepertinya kesepian ditinggal kalian]


[Hmm ya, sampaikan salam buat Bapak sama Ibu ya]


[Iya pasti aku sampaikan. Kalian lagi ngapain? kamu gak kerja?]

__ADS_1


[Enggak, lagi libur dulu. Ini aku lagi ajak Tiara jalan-jalan, refreshing...]


[Waah, senangnyaa. Maaf mengganggu, aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum]


[Waalaikum salam]


Jiho mengembalikan ponsel itu pada Tiara. Tiara menatapnya seakan penuh tanya.


"Kenapa?" tanya Jiho sambil tersenyum untuk menetralisir kecanggungan.


"Aa gak marah?" tanya Tiara hati-hati.


"Marah kenapa?" Jiho balik bertanya.


"Mas Ferdi..."


"Ferdi sering menghubungimu? Iya kan?"


Dia mengangguk. Raut wajahnya berubah jadi sedih. Jiho berasa jadi orang tua yang sedang memarahi anaknya. Duh! dia jadi tak tega melihatnya.


Jiho mengusap rambut Tiara dengan lembut.


"Aa gak marah, sayang... Jangan sedih lagi. Gak apa-apa kalau Ferdi sering menghubungimu. Dia hanya bersilaturahmi. Yang penting hatimu tetap buat Aa, ya kan?" lanjut Jiho. Yang dia ucapkan sangat berseberangan dengan hatinya. Ada rasa sakit yang menyelinap di ruang hati ketika tahu mereka masih berhubungan. Tapi dia tak mungkin mengungkapkan emosiku disini. Ya, Jiho paling tidak bisa untuk melihatnya menangis.


Suasananya sudah tak nyaman sekarang. Sedari


tadi Tiara hanya terdiam.


"Sayang, ayo kita pulang saja," ajak Jiho. Dia hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya di belakang.


Gagal sudah, tadinya ingin bersenang-senang tapi malah jadi seperti ini. Gara-gara dua orang yang mengganggu!


***


"Kamu kenapa tiba-tiba suka ngambek begitu? Aa punya salah dimana?" tanyanya sesampainya di rumah.


Tiara hanya terdiam dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aa selama ini mencoba bersabar, tapi kamu kayak gini terus... Aa gak tahu kalo kamu gak ngomong. Coba terbuka sama Aa, mau kamu kayak gimana?" pungkasnya lagi dengan nada penuh penekanan.


'Lelakiku ini sedang marah? Ah, ternyata dia bisa marah juga ya? Duh! aku juga gak tahu kenapa suasana hatiku cepat berubah seperti ini. Aku sensitif sekali, terutama mengenai mas Ferdi.' ungkap Tiara dalam hatinya.


Jiho memandangnya cukup lama, tapi Tiara masih terdiam.


"Aa pergi dulu." Ujarnya kembali sambil menyambar jaket yang tadi dilepasnya. Dia pergi meninggalkan Tiara sendirian.


'Hah? jadi dia benar-benar marah?'


Tiara tergugu, rasanya dia egois sekali. Padahal suaminya itu sangat perhatian. Dia melirik jam yang ada di dinding, waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB.


'Apa dia akan pulang? Aku belum masak, tapi rasanya malas sekali.'


Tiara meringkuk diatas tempat tidur.


- bersambung -

__ADS_1


__ADS_2