ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Takut


__ADS_3

Jiho melihat istrinya sendirian di tempat parkir. Dia segera memeluknya.


"Maafin Aa ya, telat kembali," ucapnya kemudian.


"Iya, A..."


"Kamu gak apa-apa, kan? Gak ada yang nyakiti kamu?" tanya Jiho lagi, dia sangat khawatir terhadap istrinya.


Tiara tersenyum. "Aku gak apa-apa, A."


"Ya sudah, ayo kita pulang. Sudah larut malam," ajaknya.


Tiara menaiki boncengan motornya dan mendekap tubuh suaminya dengan erat.


Mereka tidak sadar, kalau perjalanan mereka diikuti oleh seseorang.


***


Hari-hari berikutnya, Tiara selalu mendapat kejutan di lokernya. Sebuah bunga dan tulisan-tulisan romantis.


Selamat bekerja, sayang


I love you


Aku padamu...


Tetap semangat kerjanya ya sayang...


I need you


Aku sangat rindu


Semoga kau suka


Aku pemujamu...


Dan kata-kata lainnya. Awalnya Tiara memang suka, karena dia mengira suaminyalah yang memberi kejutan itu semua.


***


"Jiho, besok kau dan Tiara berangkat satu jam lebih awal ya..." perintah bosnya malam itu, sesaat sebelum mereka pulang.


"Emangnya ada apa, bos?" tanya Jiho ingin tahu.


"Aku ada tugas untuk kalian. Berangkatlah lebih awal," sergahnya lagi.


"Baik, bos..." jawab Jiho.


***


Hari itu seperti biasanya dia berangkat kerja bersama suaminya. Tapi kali ini mereka berangkat lebih awal dari biasanya. Satu jam lebih awal, karena itu perintah si bos. Sesampainya di kafe, sudah ada Bos disana.


"Ini list tugas kamu di luar, cari sampai dapat. Aku ingin kamu mendapatkan semua yang tertera disini. Dan pastinya aku akan menambah insentifmu," perintah bosnya itu tanpa meminta persetujuan. Dia pikir semua perintahnya harus dilaksanakan dengan segera.

__ADS_1


Jiho menerima lembaran kertas itu, ada banyak list yang tertulis disana. Jiho merasa heran, tak biasanya si bos bersikap seperti itu. Berbeda dari biasanya.


'Apakah ada maksud tertentu? Atau hanya kebetulan saja?' batin Jiho bertanya-tanya.


Tapi segera dia tepis pikiran negatif itu. Dia tak ingin istrinya khawatir.


"Sayang, Aa keluar dulu. Secepatnya Aa akan kembali. Jaga dirimu baik-baik ya disini... I love you," ucap Jiho masih seperti biasanya, perhatian dan romantis.


Tiara mengangguk dan tersenyum. "Hati-hati dijalan ya, A..."


"Iya sayang..." sahut Jiho kembali.


Tiara menuju lokernya, dia kembali menemukan sebuah kejutan lagi. Tapi kali ini sedikit berbeda. Selain bunga dan tulisan romantis itu, ada pula kotak cincin disana. Dia curiga sepertinya bukan sang suami yang menaruh semua kejutan itu. Dia masih berpikir dengan keras. Siapa sebenarnya yang mengirimkan ini setiap hari di lokernya?


"Gimana, kamu suka?" tanya seseorang mengagetkannya.


'Bukan, itu bukan suara suamiku' batin Tiara berucap sendiri. Jantungnya berdetak lebih kencang. Dia merasa takut.


Tiarapun menoleh ke sumber suara. Seseorang berdiri, menyender di pintu ruang ganti wanita. Tiara sangat terkejut karena orang itu ialah bosnya.


"Bo-bos..." jawab Tiara gugup sambil menunduk. Entahlah biarpun sekarang-sekarang ini bosnya itu bersikap lembut padanya, tapi dia tetap merasa takut.


Pria yang dipanggil bos itu tersenyum.


"Gimana? Apa kamu suka dengan hadiahnya?" tanya Bos Endra lagi.


Tiara masih terdiam. Pikirannya masih berkecamuk, kenapa bisa? Bosnya memberi kejutan-kejutan seperti ini? Untuk apa? Apa bos menyukainya? Padahal dia sudah tahukan kalau dirinya sudah bersuami?


"Maaf bos, saya tidak bisa menerima ini semua." Tiara memotong pembicaraannya dan memberikan kotak cincin itu, bunga serta tulisan-tulisan romantis yang ia kumpulkan jadi satu.


"Kenapa?"


"Bos sudah tahukan kalau saya sudah punya suami?" Tiara memberanikan diri, dia rasanya ingin marah tapi sebisa mungkin untuk tidak meluapkannya.


"Tahu sayang... Pisahlah dengan suamimu itu. Dan datanglah padaku. Aku akan memberikan lebih dari yang suamimu punya." Sahut Bos Endra, dia mulai mengeluarkan sifat angkuhnya kembali.


"Tidak."


"Kenapa? Aku akan memberikan semuanya untukmu, uang? Harta? Berlian? Kau mau belanja sepuasnya? Aku bisa memberikannya. Apapun yang kau inginkan, aku akan memberikan semuanya."


"Tidak."


"Bukankah wanita sangat menyukai itu semua, sayangku?" ungkap bos Endra dia mulai mendekati Tiara.


"Tidak. Maaf bos, aku tidak membutuhkan itu semua."


"Hah, naif sekali.... Semua wanita yang kutemui seperti itu, materialistis."


"Aku bukan salah satu dari mereka."


"Menarik, itu yang kusuka darimu..."


"Maaf bos, saya permisi..." tukas Tiara, dia berlalu pergi meninggalkan bosnya itu.

__ADS_1


Tapi dengan sigap tangan Tiara ditarik oleh pria itu, hingga dia terjatuh dalam dekapannya. Tiara berusaha melepaskan diri, namun dekapan pria itu terlalu kuat.


"Kenapa kau tidak mau denganku, sayang? Aku punya segalanya lebih dari yang suamimu punya," bisik Endra di telinga Tiara.


Tiara bergidik ngeri, tubuhnya mulai gemetaran. Tetapi dekapan itu semakin kuat, hingga Tiara merasa sesak untuk bernafas.


"Tolong lepaskan saya, bos..." ucap Tiara sambil berusaha melepaskan diri, air matanya sudah menetes.


"Jangan bergerak, kau membuatku semakin bernafsu," ucap bos angkuh itu.


Tiara menangis air matanya tidak tertahankan lagi, ia hanya bisa berdoa meminta perlindunganNya.


"Kenapa kau tidak mau denganku? Aku akan memberikan segalanya. Apa yang tidak aku punya, hah? Kenapa kau menolakku."


"Bos, to-tolong lepaskan aku..." ucap Tiara lagi dengan nada memohon


"Jawab aku, sayang... Kenapa kau menolakku? Apa yang Jiho berikan padamu?"


"Cinta yang tulus dan kesetiaan. Dia sangat lembut padaku, tidak seperti kamu bos... Tolong lepaskan aku!" sahut Tiara lagi.


Hal itu membuat Endra sedikit tercengang dan merenggangkan dekapannya. Tiara berlari ke depan. Dia sangat ketakutan. Dia ingin sekali pulang. Dia masih berlari hingga menabrak seseorang.


"Aduh... Tiara, apa-apaan kau ini?" tukas Rania. Tiara merasa lega sekarang karena karyawan lain sudah mulai berdatangan. Untuk sementara waktu dia merasa aman. Si bos takkan melakukan apapun padanya kan?


"Hei, kenapa kau lari ketakutan seperti itu?" tanya Rania lagi.


Tiara menggelengkan kepalanya. Dia masih menangis. Hal itu membuat Rania sedikit iba. Dia mengambilkan air putih untuknya.


"Nih, minumlah dulu agar kau tenang..." ucap Rania sambil menyodorkan gelas berisi air putih.


"Makasih mba," ucap Tiara.


"Sebenarnya ada apa? Kau habis melihat hantu? Kenapa ketakutan gitu?" tanyanya lagi.


Tiara menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Dia menarik nafas panjang.


"Kau sendirian di kafe? Jiho mana?" tanyanya lagi. Nada bicara Rania sekarang lebih bersahabat. Diapun sudah berhenti tidak mengganggu Jiho lagi. Entahlah, dia mulai sadar untuk tidak berada ditengah-tengah mereka. Karena dia melihat mereka saling mencintai dengan tulus.


"A Jiho ada tugas di luar. Kami disuruh datang lebih awal," jawab Tiara setelah bisa menormalkan nafasnya.


"Jadi kau ditinggal disini bersama bos?" tanya Rania lagi.


Tiara mengangguk.


"Jangan-jangan bos..." Rania tak melanjutkan perkataannya. Tiara menjadi sangat tegang kembali.


"Pasti bos mengganggu kamu, ya?" tanya Rania berbisik di telinga Tiara.


Mata Tiara membulat. Bagaimana dia bisa tahu?


"Hati-hatilah sama bos, dia playboy, mata keranjang." bisik Rania lagi.


Jantung Tiara berdetak lebih kencang lagi. Gemuruh didadanya semakin besar. Rasanya dia ingin meluapkan amarah, tapi tidak bisa.

__ADS_1


__ADS_2