
Seperti biasanya, Jiho siap-siap berangkat kerja ke bengkel milik bang Nawas.
"Aa kerja dulu ya sayang. Kamu hati-hati di rumah. Inget, jangan bukain pintu kalau gak dikenal."
"Iya A."
Jiho berlalu setelah mencium kening istrinya.
Pagi itu, Tiara hanya bersantai saja, karena pekerjaan rumah sudah selesai dikerjakan oleh sang suami pagi-pagi sekali sebelum dia terbangun. Entahlah kehamilannya itu membuat dia sedikit malas dan ingin terus bermanja-manja dengan suami. Sebenarnya dia merasa jenuh juga sih tidak melakukan apapun.
Tiara sangat beruntung mendapatkan suami seperti Jiho, baik dan sangat pengertian. Dia bersedia melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah dan lain sebagainya tanpa disuruh. Sudah jarang ada lelaki yang seperti itu, bahkan mungkin hanya 1000 : 1. Tiara jadi sangat menyayanginya.
Tiara sudah jenuh berada didalam rumah, dia ingin keluar. Tapi dia takut bila ancaman itu datang lagi. Dia takut sendirian.
***
Pukul 14.14 siang
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu diketuk. Deg, deg, deg... Jantung Tiara berpacu lebih tepat. Dia mengernyitkan keningnya, dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
'Siapa? Siapa yang mengetuk pintu? Aa sedang bekerja, dia tak mungkin kembali sebelum waktunya pulang kan?'
Tok... Tok... Tok....
Pintu itu diketuk lagi. Tiara menjadi semakin takut. Ya, kalau itu suaminya dia pasti sudah berteriak agar pintu segera dibuka. Tiara yakin itu bukan sang suami, tapi siapa?
Tiara meraih ponselnya, dia mengirimkan pesan pada Ferdi. Kenapa tidak mengirimkan sms pada suaminya? Ya, Jiho, dia tak pernah mau untuk memegang ponsel. Dia tak punya ponsel seperti kebanyakan orang.
[Mas...]
Pesan itu terkirim. Klunting... tak lama SMS balasan itu datang.
[Tumben dek, kamu kirim sms. Ada apa?] Balas Ferdi.
[Apa mas ada didepan?]
[Hah? Maksudmu apa dek?]
[Apa sekarang mas ada di depan rumahku?]
[Tidak, aku di rumah. Ada apa memangnya dek?]
[Jadi siapa yang ada di depan rumah?]
__ADS_1
[Hah, maksudmu apa sih dek?]
[Ada yang mengetuk pintu rumah sampai beberapa kali. Tapi aku yakin itu bukan A Jiho. Lalu siapa? Mas.... Aku takut sekali....]
[Oke, mas akan kesana. Tunggu lima belas menit lagi. Dek, kamu tenang dulu ya, jangan panik,, jangan takut dan jangan buka pintunya kalau kamu gak yakin.]
[Baik, mas]
Sudah, tak ada balasan lagi darinya. Tiara bingung, kepada siapa dia akan meminta tolong. Nama Ferdilah yang terlintas dibenaknya saat ini. Maka dari itu diapun langsung menghubunginya.
***
Ferdi segera memacu sepeda motornya yang dia beli kemarin. Ya, dia membeli motor untuk mempermudah transportasinya. Walau hanya motor second yang dia beli. Bukan karena dia tak mampu untuk membeli baru, tapi uangnya akan dia pakai untuk membuka usaha nantinya. Dia tak mungkin menganggur terus menerus. Seberapapun banyak tabungannya, kalau dia tak punya penghasilan uang itupun akan habis. Dia tak mau mengalami kelaparan di jalanan.
Ferdi mengendarai sepeda motor itu dengan kencang, pikirannya sudah was-was. Takut terjadi sesuatu dengan wanita yang dicintainya. Dia tak lupa membawa susu ibu hamil yang dia beli kemarin untuk dia berikan pada Tiara.
Setelah sampai, Ferdi memarkirkan motornya tak jauh dari rumah Tiara. Kondisinya sangat lengang, baik di jalan raya tadi maupun di area permukiman warga. Mungkin karena kawasan ini adalah kawasan industri dan orang-orangnya pada pergi bekerja. Hanya sesekali dia temui seseorang.
Benar, di depan rumah Tiara tak ada siapapun. Hanya teronggok sebuah kotak berwarna merah yang entah apa isinya.
Tok... Tok... Tok...
Ferdi mengetuk pintu itu. "Assalamu'alaikum, dek... Buka pintunya. Ini aku, Ferdi..."
"Mas... Silahkan masuk dulu," ucap Tiara.
"Iya, makasih dek. Kamu gak apa-apa?" tanya Ferdi yang memang khawatir padanya. Dia memberikan plastik kresek yang berisi susu ibu hamil pada Tiara.
"Ini untukmu, agar kamu dan bayimu sehat." ujarnya kemudian.
"Oh, terima kasih mas..."
"Oh iya ini, tadi aku temukan kotak merah ini di depan pintu rumahmu."
"Apa itu mas?"
Ferdi menggeleng diapun tak tahu apa isinya. Mereka berdua saling berpandangan. Banyak pertanyaan dalam benaknya.
"Biar mas saja yang buka dek..." sahut Ferdi sambil memulai membuka solatip pada kotak itu.
Hanya sebuah buket bunga. Ya, buket bunga mawar merah lagi. Dan kertas kecil berwarna merah muda.
" Sayaaang... Aku pasti kembali.... " Isi tulisan pada kertas kecil itu.
Rona wajah Ferdi berubah.
__ADS_1
"Itu... Pasti dari bos Endra, mas..." ujar Tiara dengan nada pelan.
"Brengsek. Dia lagi, Dia lagi!" gerutu Ferdi, dia sangat geram pada orang itu. Seakan belum puas untuk mengganggu Tiara.
Tiara memeriksa kotak itu, barangkali ada sesuatu tertinggal disana. Dia menemukan kertas lagi berwarna kuning.
"Sayang.... Datanglah padaku... Kalau tidak... Kau akan rasakan akibatnya. Kau akan kehilangan orang yang sangat kau cintai. Aku tidak main-main dengan ucapanku."
Tiara sangat syok membaca tulisan bernada ancaman itu.
"Ada apa, dek?" tanya Ferdi sambil meraih kertas itu dari tangan Tiara. Diapun membacanya. Seketika rona wajahnya berubah menjadi merah padam.
"Ini ancaman, dek. Ini sudah termasuk teror. Kita bisa laporkan ini pada polisi." lanjut Ferdi lagi.
"Tapi kita tidak tahu siapa yang mengirimkan ini sebenarnya. Mas, A Jiho dalam bahaya... Aku takuuut. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Aku takut sekali mas..." sahut Tiara. Air matanya berderai tanpa kompromi lagi. Membuat Ferdi jadi semakin iba.
"Dek, jangan panik begitu. Bisa saja itu hanya sebuah ancaman belaka."
"Tidak mas, perasaanku jadi gak enak. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Perasaan ibu hamil jauh lebih sensitif, mas. Aku khawatir sama A Jiho... Hiks... Hiks..."
Ferdi menghela nafas panjang. Dia berusaha menenangkan Tiara.
"Iya dek, tenang dulu ya... Kasihan lho dedek bayi yang ada di perutmu kalau kamu sedih dan takut terus."
Tiara mengangguk sambil menyeka air matanya.
"Dimana tempat suamimu bekerja? Kamu tahu lokasinya?"
"Aku pernah diajak satu kali... Tapi aku tidak tahu alamat persisnya dimana. Tapi aku tahu jalannya, mas."
"Ya sudah kau ikut yuk, kita jemput suamimu. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu padanya."
Tiara mengangguk. Setelah mengunci pintu rumah dia mengikuti Ferdi di belakang.
"Mas, ini motor siapa? Mas beli motor?" tanya Tiara.
Ferdi tersenyum. "Iya, agar mudah bertransportasi. Jadi kemana-mana gak perlu naik taksi."
Tiara mengangguk lagi dan tersenyum.
"Ayo naik, jangan bengong..." sergah Ferdi kemudian. "Pegangan ya dek... Awas hati-hati, takut jatuh."
Tiara menaiki boncengan motornya dan berpegangan pada pinggang Ferdi. Ferdi hanya tersenyum, jantungnya berdebar lebih cepat.
"Pegangan yang erat ya dek, mas mau ngebut," ucap Ferdi lagi. Hal itu membuat Tiara terpaksa memeluk Ferdi. Entah kenapa Ferdi malah tersenyum lagi.
__ADS_1