ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Tak lama sebuah mobil berhenti di depan rumah.


"Nah, itu anak buah om ku datang. Bagaimana kita langsung berangkat sekarang?" tanya Ferdi.


"Bagaimana Ran, apa kamu tidak keberatan menunjukkan jalan pada kami?" tanya Jiho memastikan.


"Ya, aku akan membantu kalian," jawab Rania. Tapi Jiho merasa tidak enak hati padanya karena ini sudah malam.


"Ya sudah ayo berangkat," sergah Ferdi.


Mereka melakukan perjalanan yang cukup jauh. Jauh dari pusat kota. Memasuki area pegunungan.


Ditengah perjalanan, badan Jiho menggigil. Dia merasa sangat dingin.


"Jiho, kau baik-baik saja? Gimana nih?" tanya Rania dengan panik. Dia memeriksa suhu tubuhnya. Panas. Dia juga melihat wajah lelaki itu makin pucat.


"Duh, harusnya kau tidak usah ikut ya. Biar kami saja yang mencari Tiara. Kalau sudah ditengah perjalanan seperti ini, mau bagaimana?" umpat Ferdi. Dia merasa kesal sendiri melihat kondisi sahabatnya yang tidak baik-baik saja.


"Pak, tolong balik arah lagi ya... Kita cari Rumah Sakit terdekat," pinta Ferdi.


"Baik, mas."


Mobil itu berbalik arah menuju ke rumah sakit terdekat. Ya, mereka sempat melihat sebuah rumah sakit sebelum memasuki area pegunungan.


Di Rumah Sakit, Jiho langsung ditangani oleh tim medis di ruang Unit Gawat Darurat.


"Pasien harus dirawat dulu disini, agar pemulihannya lebih cepat."


"Baik suster, lakukan yang terbaik untuknya."


Jiho langsung dibawa ke ruang perawatan. Ferdi lalu mengatur strategi lagi.


"Paman Helmi, paman ikut aku, kau juga Rania. Paman Har, paman tunggu disini. Kabari kami kalau dia sudah sadar," tukas Ferdi.


"Baik, mas."


Mereka bertiga kembali pergi melanjutkan perjalanannya.


***


Jiho mulai membukakan matanya. Dia melirik ke samping. Hanya ada paman Har yang menunggunya sambil tertidur di kursi. Dia terduduk, ada selang infus yang menempel di tangannya. Mungkin tadi dia tertidur. Jiho merasakan tubuhnya tidak karuan dan menggigil kedinginan. Dia menoleh ke arah jam yang ada di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari.


"Berapa lama aku tertidur? Mereka pasti melanjutkan pencarian tanpa aku. Hah, aku sungguh lemah. Untuk mencari istriku saja aku tak bisa," rutuk Jiho pada dirinya sendiri.


Dia merasa bosan, akhirnya dia turun dari pembaringannya. Samar-samar terdengar suara seseorang sedang bercakap-cakap dalam telepon.

__ADS_1


"Besok pagi, kau harus urus semuanya. Aku ingin agar calon istriku mendapatkan perawatan yang terbaik. Ya di rumahku, aku ingin perawatan yang mandiri dan lengkap, agar dia selalu terjaga. Kau tidak usah pedulikan biayanya, kau tinggal ikuti perintahku."


Jiho seperti familiar mendengar suara itu. Dia sedikit membuka pintu dan melongok, dia melihat postur tubuh tegap dan gagah sedang berbicara dalam telepon.


"Ah, itu bos... Jangan-jangan Tiara ada disini." gumamnya dalam hati.


Dia masih memperhatikan mantan bosnya, lalu dia masuk ke sebuah ruang perawatan yang tak jauh dari ruang perawatannya. Jiho ingin sekali melihatnya, tapi dia tak boleh gegabah. Apalagi kondisinya saat ini juga tidak baik.


Tak lama bos keluar lagi, masih sambil menerima telepon.


"Ya, ya, baiklah, aku kesana sekarang..." sahutnya didalam telepon. Entah apa yang dibicarakannya. Kemudian Endra pergi.


Jiho penasaran, menghampiri ruangan itu. Siapa wanita yang disebut sebagai calon istrinya itu. Dia tercengang melihat pemandangan didepannya. Dia begitu terkejut saat melihat istrinya terbaring tak berdaya disana. Dia menghampiri Tiara, air matanya sudah tak terbendung lagi. Akhirnya mereka dipertemukan lagi.


"Sayang.... " ucap Jiho lirih. Dia membelai lembut rambutnya. Tak ada respon atau reaksi apapun. Tiara tetap diam, matanya terpejam.


Tiba-tiba sebuah pintu terbuka. Seorang perawat masuk, dia kaget melihat Jiho ada disini.


"Mas Jiho, kenapa kau ada disini? Bukannya istirahat di kamarmu...." sergah suster itu lalu memapah Jiho menjauh dari Tiara.


"Tapi suster..."


"Ayo kembali, kau bisa berjalan sendiri kan? Kenapa malah masuk ke ruang perawatan orang lain? Gak sopan namanya..." lanjut suster itu. Dia tidak tahu kalau yang terbaring itu adalah istrinya. Jiho ingin sekali mengatakannya, tapi pasti suster itu tak percaya dan berkata dirinya pasti sudah gila.


"Kau bisa celaka kalau suaminya tahu. Untung saja dia pergi."


Suster itu tersenyum masam. "Gadis yang tadi kau dekati itu sudah bersuami, tadi suaminya pergi karena ada urusan sebentar. Kamu ngapain ke kamar itu? Kalau suaminya tahu kan bisa gawat...." sahut suster itu, sambil terus memapah Jiho ke pembaringannya.


Paman Har terbangun. "Ada apa sus?" tanya paman Har.


"Pak, anaknya dijaga yang benar jangan sampai masuk ke ruang perawatan lainnya. Itu tidak sopan dan sangat mengganggu kenyamanan pasien yang lain," jawab suster itu yang membuatnya tidak mengerti.


"Tunggu suster, boleh aku bertanya?"


"Ya, silahkan..."


"Pasien yang tadi, itu kenapa ya bisa sampai di rawat disini..."


"Oh itu, dia koma setelah keguguran..."


Jedaaarr....!!


Jiho terkejut mendengar berita itu. Tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak. Tiara keguguran dan dia koma? Itu tidak mungkin kan....


'Tiara... Sayang...' batin Jiho.

__ADS_1


"Mas ini sedang patah hati ya? Sudah jangan mengharapkan dia, dia udah punya suami lho," sahut suster itu lagi.


'Suster, kau tidak tahu saja kalau aku suaminya' batin Jiho lagi. Tapi Jiho malas membuat keributan, pasti mereka takkan percaya pada apa yang dikatakannya.


Suster itupun pergi. Jiho menghela nafas panjang.


"Paman, apa kau punya ponsel?" tanya Jiho pada paman Har.


"Sebenarnya ada apa mas? Kenapa suster itu ngoceh seperti itu?"


"Paman, kau pasti tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Istriku ada disini, orang yang sedang kita cari ada disini..." jawab Jiho.


"Apa...?"


"Iya paman, apakah aku boleh meminjam ponselmu? Aku ingin mengabari Ferdi,"


"Ah iya, ini...." jawab paman Har sembari memberikan ponsel jadulnya.


"Ada nomor Ferdi disini kan paman?"


"Ya, ada."


Jiho menelepon Ferdi. Tak butuh lama, panggilan itupun terhubung.


[Ya halo, ada apa paman? Apa terjadi sesuatu sama Jiho?]


[Fer, ini aku...]


[Oh Jiho, ada apa? Kau butuh sesuatu?]


[Fer, Tiara ada disini...]


[Apaa? Pantas saja disini tidak ada]


[Tiara dirawat disini, kau kemarilah cepat...]


[Ah, oke. Kami kesana sekarang]


[Fer, kalau bisa sekalian lapor polisi.]


[Iya, iya aku paham]


Panggilan itu terputus. Jiho mematikan panggilan telepon itu dan kembali menyerahkannya pada paman Har.


"Paman, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin sekali bersama istriku, tapi suster itu melarangnya..." tanya Jiho, dia sangat bimbang.

__ADS_1


"Sabar dulu mas, suster itukan tidak tahu kalau sebenarnya mas ini suaminya." jawab paman Har. "Biar aku periksa dulu," lanjutnya lagi sambil keluar dari ruangan.


Jiho menghela nafas panjang, dia masih bingung apa yang harus dilakukannya. Mendengar kabar Tiara tidak baik-baik saja, tubuhnya seakan lemas tidak berdaya. Dia sudah kehilangan bayinya, jangan sampai dia kehilangan istrinya itu.


__ADS_2