
Sementara di desa, ada seseorang yang merasa sangat terluka. Ya, Ferdi merasa frustasi ketika Tiara memutuskan hal itu. Berulangkali dia menelepon pujaan hatinya itu tapi tetap saja Tiara tak pernah menggubrisnya lagi. Apa yang harus dia lakukan? Dia sudah hampir gila untuk memikirkannya.
" Aaarrggghh....!" teriaknya sendirian di rumah dinas itu. Dia ingin melepaskan semua kegundahan itu. Apa yang dilakukannya kini sungguh bertentangan dengan dengan prinsip hidupnya sehari-hari.
Ferdi jadi malas bekerja dan mabuk-mabukan. Diapun menjadi perokok aktif. Perubahan di tubuhnya sudah terlihat begitu berbeda. Semakin kurus dan tidak terawat.
Rumahnya kotor, berserakan sampah botol bekas alkohol.
Pak Toha sangat penasaran karena dia tak melihat pemuda itu beberapa hari ini. Baik di ladang maupun di rumah. Yah, biasanya pemuda itu selalu main ke rumahnya.
"Pak, coba cari tahu. Ada apa dengan nak Ferdi? Kenapa dia tidak pernah kelihatan lagi?" tanya Ibu yang khawatir dengan keadaan pemuda itu.
Mereka sudah menganggap pemuda itu sebagai anaknya, sebagai pengganti Tiara dan Jiho yang pergi merantau ke kota.
"Baiklah Bu, saya coba ke rumahnya dulu," sahut pak Toha. Diapun berlalu menuju ke rumah Ferdi.
Sesampainya disana, pemandangan yang tak biasa dia lihat. Rumahnya sangat kotor dan kumuh seperti tidak ada penghuninya, tidak terawat, banyak sampah.
Dia mencoba masuk kedalam yang rupanya tidak dikunci.
"Nak... Nek Ferdi..." panggil pak Toha seraya masuk perlahan-lahan.
Bapak paruh baya itu makin terheran-heran dan menggelengkan kepalanya.
'Kenapa ini anak jadi seperti ini?'
Ditemuinya Ferdi yang berada di kamar. Dia sedang berbaring lemah, tidak sadarkan diri, kemungkinan dia pingsan. Di samping kanan dan kiri beberapa botol bekas alkohol berserakan dimana-mana.
"Astaghfirullah... Nak..." Pak Toha menghambur ke tubuh kurus itu. "Kenapa jadi seperti ini, kamu nak?" tanya Pak Toha sendiri. Matanya sudah berkaca-kaca.
Pak Tohapun berlalu keluar meminta pertolongan.
"Tolong... Tolong... Tolooooong..." Pak Toha berteriak meminta pertolongan kepada warga yang melintas. Karena memang jarak rumah dinas Ferdi dengan warga lain berjauhan.
Para warga meminta mulai berdatangan. Mereka bertanya-tanya.
"Ada apa ya, pak?" tanya salah satu diantara mereka.
"Pak, tolong bawa Ferdi ke rumah saya ya, pak. Dan yang lain tolong hubungi petugas kesehatan terdekat. Cepat ya pak..."
"Kenapa dengan anak itu, pak?"
"Entahlah, yang jelas kita selamatkan dia dulu. Sebelum terlambat."
"Baik, baik, pak Toha..."
__ADS_1
Mereka berlalu kedalam, beberapa yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepalanya karena heran. Sedangkan seorang yang lain menemui petugas kesehatan.
Mereka mengangkat tubuh pemuda itu dan membawanya ke rumah pak Toha.
Pak Toha membersihkan bekas-bekas botol itu.
"Kenapa jadi seperti ini, nak? Kalau begini terus kau bisa membunuh dirimu sendiri..." ungkap pak Toha dalam hatinya. Air matanya mulai menitik.
Setelah membersihkan sampah-sampah itu dan menyapu rumah, pak Toha segera pulang. Rumah dinas Ferdi sudah terlihat rapi sekarang.
Di rumah pak Toha sudah banyak berkerumun para warga. Beberapa warga merasa miris dan kasihan pada pemuda itu. Beberapa yang lain hanya bisa bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa pemuda baik sepertinya bisa jadi seperti itu?
Ibu Ningsihpun ikut histeris melihatnya, dia menangis seperti menangisi putranya sendiri. Di sekanya badan pemuda itu dengan air hangat agar tidak terlalu kucel.
Petugas kesehatan sudah datang, dia memeriksa kondisi pemuda itu.
"Pemuda ini terlalu banyak minum. Perutnya juga tidak terisi nasi, makanya tubuhnya ngedrop. Dia harus istirahat dan makan yang banyak. Jauhkan dari minuman beralkohol maupun soda. Setelah sadar suruh minum air putih yang hangat."
"Baik, terima kasih pak mantri..." ucap Pak Toha.
"Untung saja bapak cepat menyelamatkannya, kalau dia minum-minum lagi dia bisa meninggal karena overdosis." ungkap petugas kesehatan itu.
"Iya, pak."
"Ini saya resepkan obatnya, nanti diminum tiga kali sehari setelah makan. Ada vitaminnya juga disini."
Petugas kesehatan itupun pamit undur diri, beberapa warga yang lainpun ikut bubar.
Tak berapa lama, Ferdi mulai membukakan matanya. Dia merasa heran kenapa ada di rumah Pak Toha sekarang, dan kenapa ada banyak orang berkumpul di rumah ini. Ada apa?
"Nak, kau sudah sadar?" tanya pak Toha sambil merangkul pemuda itu.
"Ini ada apa ya, pak?" tanya Ferdi heran.
"Kamu pingsan, nak. Sebaiknya kamu istirahat dulu," Ucap Pak Toha.
"Mohon maaf, bapak-bapak, ibu-ibu, sebaiknya kalian pulang ya. Terima kasih sudah menolong nak Ferdi. Alhamdulillah, nak Ferdi sudah sadar lagi..." Kata pak Toha lagi. Merekapun pulang ke rumahnya masing-masing.
"Bu, tolong ambilkan makan buat nak Ferdi..." Ujar pak Toha lagi dengan nada setengah berteriak.
"Baik, pak." Jawab Bu Ningsih dari belakang.
Tak lama Bu Ningsih keluar membawa makanan untuknya.
"Ini nak, dimakan dulu. Apa mau ibu suapin?" tanya Bu Ningsih sambil menyodorkan makanan kepada Ferdi.
__ADS_1
Hati Ferdi merasa terenyuh dengan kebaikan mereka. Perhatian mereka begitu tulus, sudah seperti kebaikan kepada anak kandungnya sendiri.
"Terima kasih Pak, Bu. Kalian baik sekali padaku..." sahut Ferdi, tak terasa air matanya mulai menitik. Ia segera menghapusnya.
"Sudah sudah... Dimakan dulu ya, nak. Nanti diminum obatnya," ujar Pak Toha yang merasa iba padanya.
Ferdi mengangguk dan mulai menyantap makanannya. Dia makan dengan lahap. Ibu Ningsih tersenyum melihatnya.
Setelah selesai makan, diapun meminum obatnya. Perasaannya memang masih kalut, tetapi perhatian orang tua si gadis pujaannya membuat dia punya semangat hidup lagi.
"Tidurlah disini dulu untuk beberapa hari. Jangan pulang ke rumahmu," tukas pak Toha kembali.
Ferdi memandang lelaki tua itu. Seakan penuh tanya.
"Iya, nak. tinggallah disini bersama kami. Kami tidak keberatan, justru kami merasa senang..." Ibu Ningsih menimpali.
Ferdi mengangguk penuh haru.
"Kalau kamu sudah siap, ceritakan pada kami masalahmu itu." Sahut pak Toha lagi.
"Anggap kami sebagai orang tuamu, nak. Kami juga sudah menganggap kamu sebagai anak kami," lanjut pak Toha lagi.
Ferdi semakin tergugu. Pak Toha memeluk pemuda itu dengan perasaan sayang.
"Hidupmu masih panjang, nak. Jangan sia-siakan hidupmu untuk hal yang tidak berguna. Bangkitlah dari masalahmu itu. Masih ada masa depan yang cerah menunggumu." Pak Toha memberikan nasehat untuknya.
"Pak, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Ferdi.
"Ya, tentu saja nak..."
"Emmh... Apa yang bapak lakukan jika orang yang bapak cintai pergi meninggalkan kita tanpa satu kabar apapun?"
Pak Toha tersenyum. "Jadi ini yang jadi masalahmu, nak?"
Ferdi mengangguk ragu.
"Bapak gak habis pikir, kenapa kamu malah merusak dirimu sendiri hanya karena kamu ditinggalkan gadis itu?" Tanya pak Toha kembali. Dia tidak tahu kalau orang yang sangat dicintai oleh pemuda itu adalah anaknya sendiri. Pak Toha berpikir, setelah Tiara menikah, selesai juga hubungan mereka. Karena mereka tahu dia hanya seorang teman bagi Tiara.
"Kamu sangat mencintainya?" tanya Pak Toha lagi.
Ferdi mengangguk.
"Kalau kamu sangat mencintainya, kamu bisa mencarinya dimanapun dia berada. Jika dia benar-benar cinta sejatimu, kau akan dipertemukan lagi dengannya. Kalian pasti akan bertemu. Berusahalah dan tetap berdoa. Jangan berpikir untuk membunuh dirimu sendiri dengan hal-hal yang tidak baik."
Ferdi mengangguk lagi. Mata Ferdi menjadi berbinar-binar mendengar penuturan Pak Toha. Dia seakan punya semangat baru, dia akan bangkit dan berusaha mencari gadis pujaannya.
__ADS_1
'Tiara, tunggu aku. Aku pasti akan menemukanmu' ucap Ferdi dalam hatinya.