ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Diculik 2


__ADS_3

Antara Dua Hati 52


Tiara tidak bisa berontak lagi, dia hanya menangis dalam diam. Tiara duduk dibelakang dijaga oleh dua pria bertubuh kekar, dua lainnya duduk di jok mobil depan, salah satunya memegang kemudi. Tiara takut, dia merasa takut sekali, badannya kembali gemetaran. Keringat dinginnya tak berhenti menetes. Entahlah mau dibawa kemana dirinya. Dia tak tahu arah jalan itu.


Salah satu dari keempat pria itu menelepon seseorang.


"Halo bos, kami sudah berhasil membawa nona Tiara..."


"Bagus, tapi jangan sampai sakiti dia."


"Baik bos, dia aman bersama kami."


"Bawa ke vila putih."


"Baik, bos"


"Apakah ada yang mengikuti?"


"Tadinya ada bos, seorang laki-laki pake motor. Jadi kami ambil jalan lewat tol."


"Siapa laki-laki itu? Suaminya?"


"Bukan bos, dia bukan lelaki yang ada di foto. Dia datang bersama nona Tiara dan menyerang kami."


"Hah? Ya sudah sesampainya kalian disini, segera urus mobil itu. Dijual atau dimusnahkan atau apapun terserah kalian, yang penting hilangkan jejak agar mereka tidak menemukan kalian."


"Baik bos."


Setelah lama di perjalanan. Mobil itu memasuki sebuah kawasan villa yang megah, dinamakan villa putih, karena semua exterior dan interiornya berwarna putih.


"Nona, kita sudah sampai." ucap pria itu dengan lembut. Padahal sebelumnya dia bersikap kasar, menarik tangannya dan membekapnya tak berperasaan.


Pria itu berusaha memapahnya karena Tiara berjalan sempoyongan.


"Jangan sentuh aku, aku bisa jalan sendiri." ucap Tiara yang membuat pria itu mengurungkan niatnya.


Di dalam rumah, seseorang sedang duduk di sofa putihnya, menunggu kedatangan wanitanya, dia seorang pria yang dipanggil dengan sebutan bos.


"Halo nona manis, kita jumpa lagi...." sapanya sambil memberi kode kepada para anak buahnya untuk meninggalkan mereka berdua.


Tiara menjadi semakin takut setelah melihatnya. Dia adalah mantan bosnya, Endra. Endra tersenyum dan mendekati Tiara yang sudah ketakutan setengah mati. Tiba-tiba saja tubuhnya roboh, jatuh terkulai. Dengan segera Endra menangkap tubuh mungil itu. Dia segera membawanya ke kamar dan membaringkannya.


Hati Endra menjadi gelisah, kenapa tiba-tiba Tiara pingsan. Dia segera menelepon dokter pribadinya. Sambil menunggu Tiara sadar, si bos menghardik anak buahnya.


"Kalian apakan dia, sampai-sampai dia jatuh pingsan?" tanya Endra dengan nada geram.


"Ti-tidak, bos!" Jawab mereka sambil menunduk.

__ADS_1


Hening, tidak ada yang bisa menjawab lagi. Tak lama, dokter pribadinya datang. Dokter pribadi yang juga sahabatnya sendiri. Nando, namanya.


Dia memandang kecewa dan curiga pada Endra. Nando membuang nafas panjangnya.


"Ndra, sudah hentikan petualangan lo nyari cewek. Dia sudah korban ke berapa hah?" tanya dokter Nando penuh selidik.


"Maksud lo?"


"Gila Lo, pura-pura **** atau gimana sih..."


"Gue emang gak ngerti."


"Cewek itu lagi hamil, kehamilannya cukup lemah. Dia sangat terguncang. Gue saranin lebih baik lo segera pertanggungjawabkan perbuatan lo itu, jangan mau enaknya aja! Ngrawat anaknya gak mau. Hentikan kelakuan playboymu itu. Lo gak punya rasa kasihan apa, anak orang dihamili, setelah hamil dibuang. Enak banget lo jadi laki. Gue kecewa sih sama kelakuan lo kali ini, udah kelewat batas..."


Endra terdiam, dia masih mencerna kata-kata sahabatnya yang menjadi dokter.


"Kulihat tampilannya, dia wanita baik-baik ya, gak seperti pasangan lo yang sebelumnya-sebelumnya. Jangan-jangan lo yang maksa dia ya!" tukas dokter Nando lagi.


"Dia memang wanita baik-baik, makanya aku juga suka padanya. Rasa ingin memilikinya begitu besar. Tapi aku gak tahu kalau dia sedang hamil."


"Gila! Dasar sinting lo!"


Endra jadi bingung sekarang, kalau dia cerita kejadian yang sebenarnya tentang Tiara. Nando pasti akan lebih memaki-makinya lagi. Dia pasti menyuruhnya untuk segera membebaskan Tiara. Tidak, Tidak, itu tidak mungkin. Endra baru saja bertemu dengan Tiara, rasa rindunya begitu membuncah. Masa harus melepasnya lagi. Akhirnya Endra memutuskan diam saja.


"Gue minta, lo sekarang berubah ya. Lo udah mau jadi ayah bro. Hentikan kelakuan bejat lo lagi. Lo harus bertanggung jawab dan nikahi dia. Jangan buat dia banyak pikiran. Bisa-bisa dia ngedrop lagi. Nih aku sudah kasih resep obat." lanjut dokter Nando.


Endra mengangguk


"Hmmm...."


Endra tampak berpikir, dia memandang wanita dihadapannya. Dia masih terbaring, matanya terpejam, bibirnya pucat.


'Ah, apakah aku sangat jahat? Tapi aku ingin sekali bisa memilikimu... Tidak, tidak, aku sudah terlanjur, tidak boleh setengah- setengah. Aku akan tetap memilikimu.' batin Endra. Dia berlalu ke dapur lalu menyuruh asistennya rumah tangganya untuk membuatkan bubur.


Endra masih duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Tiara. Cukup lama, Tiara mulai sadar, dia membukakan matanya.


"Hai sayang, kamu sudah sadar?" tanya Endra seraya tersenyum.


Tiara memalingkan wajahnya. Dia enggan bersitatap dengan mantan bosnya itu.


Tok... Tok... Tok...


Terdengar suara pintu diketuk.


"Tuan, ini buburnya sudah siap." ucap Bi Sarti, dia masuk membawa semangkuk bubur beserta lauk pauknya.


"Taruh di meja ya bi, terima kasih..."

__ADS_1


"Iya, tuan. Sama-sama."


Bi Sarti kembali pergi meninggalkan mereka berdua setelah meletakkan mangkuk bubur itu. Bi Sarti merasa heran, ini untuk pertama kalinya sang majikan sangat perhatian dan lembut pada seorang wanita. Bahkan biasanya dia memang arogan.


"Sayang, ayo dimakan dulu buburnya selagi masih hangat... Apa mau aku suapin?" tanya Endra lagi.


Tiara tetap terdiam, mulutnya terkunci. Hanya air mata yang bisa menggambarkan keadaannya saat ini.


"Sayang, kau boleh benci padaku... Tapi jangan sakiti dirimu sendiri ataupun bayi yang ada didalam kandunganmu..."


Mendengar pernyataan mantan bosnya, Tiara menoleh. Dia menatap mata bosnya dengan sorot mata tajam.


"Bos, kau tahu aku hamil?" tanya Tiara dengan nada lirih.


"Ya, tentu saja aku tahu."


"Tapi... Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Kau jelas-jelas tahu bahwa aku ini istri orang lain dan sedang mengandung anaknya, tapi kenapa kau lakukan ini padaku?" tangis Tiara mulai pecah kembali.


"Ya, karena aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku tak peduli dengan statusmu. Aku bisa membuat kalian berpisah secepatnya,"


Tiara menggeleng.


"Hai nona manis... Lebih baik kau menurut saja, agar mantan suamimu itu tidak celaka."


"Kami belum berpisah,"


"Ya untuk saat ini. Tapi tidak besok-besok."


Tiara terdiam lagi.


"Ayo, makanlah dulu... Kasihan bayi yang ada diperutmu. Bukankah kau sangat menyayanginya?" ucap Endra lagi sambil menyendokkan bubur untuk menyuapkannya pada Tiara.


Tiara tetap bergeming.


"Tadi seorang dokter sudah memeriksamu. Dia sudah memberi resep obat untuk penguat kandunganmu. Kamu tahu artinya apa? Kandunganmu itu lemah, sesuatu bisa saja terjadi."


Tiara masih tetap diam.


***


Note :


Mohon maaf telat up 🙏


Maaf juga kalau part ini terasa pendek.


Silahkan tinggalkan jejaknya like + komen + vote, nanti aku mampir balik ya... Terima kasih...

__ADS_1


Mohon maaf beberapa hari ini belum sempat mampir karena ada kesibukan lain.


Mohon maaf juga kalau komennya belum sempat terbalas 🙏🙏 pokoknya hari ini judulnya MAAF dari author 😂✌️


__ADS_2