ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Hilang Akal


__ADS_3

Mobil mewah itu memasuki area parkir Hotel Robinson. Mereka berdua turun dari mobil. Bos Endra merasa hatinya berbunga-bunga, berbeda sekali dengan Tiara. Rasanya dia ingin sekali menangis.


"Halo... Ya, kami sudah sampai. Tunggu sebentar lagi," ucap bos Endra menjawab panggilan teleponnya.


"Ayo, sayang..." kata bos Endra sambil meraih tangan Tiara.


Tiara menepis tangannya. "Maaf bos, saya bisa jalan sendiri," sahut Tiara sambil mengikuti langkah bosnya.


Mereka menuju salah satu meja di restoran hotel Robinson. Sangat mewah. Ada seseorang yang sudah menunggu mereka.


"Halo, Tuan Endra..."


"Halo, Tuan Wisnu... Sudah lama menunggu disini?"


"Ah tidak, tidak. Baru sepuluh menit yang lalu."


Kedua lelaki itu saling berjabat tangan. Rekan bisnis Endra adalah lelaki yang cukup berumur. Merekapun duduk.


"Wah... Siapa gadis cantik ini, Tuan Endra? Tidak biasanya Tuan mengajak seorang wanita. Apakah gadis ini calon istri, Tuan?" tanya pria bernama Wisnu itu.


"Hahaha... Ya, begitulah... Ini calon istri saya, tapi dia sangat pemalu." Jawab Endra dengan enteng.


Mata Tiara membulat. Maksudnya apa-apaan itu? Kenapa Bos Endra mengatakan seperti itu. Dia hanya bercanda saja kan?


"Hahaha... Ya, ya, ya..." Wisnu tersenyum pada Tiara, Tiarapun terpaksa membalas senyuman itu.


Mereka berbincang-bincang cukup lama masalah pekerjaan.


***


"Ini pesanannya, mas..." ucap pelayan itu sambil menghidangkan makanannya.


"Baik. Terima kasih."


Ferdi langsung meraih gelas berisi capuccino itu. Dia menoleh, tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang sangat ingin ditemuinya.


"Tiara...?" Lirihnya, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Sama siapa dia? Siapa pria itu? Mana Jiho?" Seakan banyak pertanyaan dalam benaknya.


Dia mencubit pipinya sendiri, barangkali ini hanya ilusinya. "Aau..." Cubitannya sendiri terasa sakit. "Ini bukan mimpi. Tapi kenapa gadis itu mirip sekali dengan Tiara? Apa yang sedang dilakukannya disini?" Dia kembali bertanya pada dirinya sendiri.


"Aku gak mungkin salah mengenali orang. Dia pasti Tiara. Tapi siapa pria itu? Mana Jiho?" Pertanyaan itu terus berputar-putar di pikirannya. "Sebaiknya aku cari tahu dulu. Aku akan ikuti kemana mereka pergi," ungkapnya lagi.


Ferdi memperhatikan gadis itu sangat murung. Padahal dua pria disebelahnya itu terlihat bahagia. Lagi-lagi tertawa dalam perbincangan mereka.


"Aku harus menghampiri mereka. Kalau itu Tiara, dia pasti mengenaliku kan?" tanyanya lagi.


Dia beranjak dari kursi, tapi handphonenya terjatuh. Ia terpaksa memungut handphone itu dulu. Ketika menoleh kembali, Ferdi kehilangan mereka. Mereka sudah tidak di kursinya lagi.


"Sial! Kemana mereka?" Umpat Ferdi dalam hatinya.

__ADS_1


Dia bergegas berlari mengejar mereka. Tak lama, akhirnya Ferdi menemukan mereka menuju ke hotel.


"Hah? Mau ngapain mereka?" Dia masih bertanya-tanya dalam hatinya.


Ferdi mengikutinya dari belakang. Dia memasang jarak agak jauh dari mereka. Agar mereka tidak curiga ada yang mengikutinya.


***


"Jiho...! Jiho, gawat!" Sergah Yusuf ketika tahu Jiho sudah kembali ke cafe. Yusuf berlari menghampiri temannya itu


"Ya, ada apa?"


"I-itu istrimu..."


"Kenapa dengan Tiara?"


"Dia diajak bos..."


"Hah? Kemana? Cerita yang jelas...!" Ucap Jiho mulai panik.


"Bos meminta Tiara menemaninya untuk menemui rekan bisnisnya."


"Kenapa dia tidak menolak?"


"Dia sudah menolaknya. Tapi katanya si bos mengancam akan mencelakakan kamu kalau dia tidak bersedia ikut dengan bos..."


"Apa...?? Kemana mereka pergi?"


"Apaa? Siaall! Sudah lama mereka pergi?"


"Ya, sudah lebih dari satu jam yang lalu!"


"Siaall! Dasar Bos brengsek. Aku kesana dulu, Suf. Makasih sudah memberitahuku."


"Ya, hati-hati bro... Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Tiara."


Jiho mengangguk dan langsung melesat pergi dengan motornya menuju lokasi. Hotel Robinson jaraknya cukup jauh dari cafe. Butuh waktu setengah jam agar sampai kesana dengan kecepatan kencang.


'Pantas saja perasaanku dari tadi gak enak banget. Ya Allah, lindungilah istriku...' ucap Jiho dalam hatinya.


***


"Bos, kita mau kemana? Bukankah udah selesai meetingnya?" Tanya Tiara, dia mulai panik.


"Hmm... Ayo ikut saja."


"Ta-tapi, bukankah harusnya ki-kita pulang?" tanyanya lagi.


"Hmm..."

__ADS_1


"Bos, saya ingin pulang..." Ucap Tiara lagi dengan nada memohon.


"Aku ada barang ketinggalan di kamar hotel."


"Saya tunggu disini saja, bos. Bos saja yang kesana..."


"Tidak sayang, kau harus ikut." Tukas Bos Endra dengan tatapan mata tajam.


Pria itu menarik tangan tiara. Dan memegang pergelangan tangannya dengan kuat. Tiara berusaha melepaskannya. Namun cengkraman tangan bosnya begitu kuat.


"Bos, tolong lepaskan. Saya mau pulang..." sahut Tiara. Dia berusaha meronta. Air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. Tapi sikap Tiara justru membuat bosnya semakin hilang akal.


"Kalau kau tidak menurut, suamimu takkan selamat!" Ancam bos Endra lagi. Tiara merasa sangat terintimidasi dengan ancaman bosnya itu.


Pria yang dipanggil bos itu menariknya dan membawanya masuk ke salah satu kamar hotel. Klek, klek, lalu menguncinya. Dia memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya.


"A-Apa yang bos lakukan?" Tanya Tiara, dia sangat takut pada lelaki itu. Dia beringsut mundur. Namun kalah cepat dengan gerakan bosnya.


Bos Endra tersenyum penuh gairah.


"Kau sangat cantik, sayang... Jadilah wanitaku." Ungkapnya lagi sambil memegangi dagu gadis itu.


Endra mendekap tubuh mungil gadis itu dengan erat. Gadis itu meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Tapi dekapannya terlalu kuat. Endra sudah tak peduli lagi dengan tangisan Tiara.


"Jadilah wanitaku, aku akan menuruti semua keinginanmu." ungkapnya lagi. Dia sudah gila. Entah kenapa harga dirinya merasa tertohok ketika Tiara menolaknya sejak pertama kali. Dia justru terobsesi ingin memilikinya. Dia merasa tertantang ingin memilikinya. Karena biasanya justru para wanitalah yang datang mengejar dirinya. Tapi sekarang?


"Tidaak! Tolong lepaskan saya bos..." ucap Tiara lagi dengan nada memelas.


"Pisahlah dengan suamimu itu, aku pasti akan menikahimu." Sahut Bos Endra yang enggan melepaskan dekapannya.


Tiara menggeleng lagi. Air matanya sudah tumpah ruah berlinangan membasahi pipinya.


"Kenapa? Kenapa kau menolakku, sayang? Aku kurang apa hah? Aku kaya, aku bisa memberikan semua keinginanmu!" tanyanya dengan begitu sinis.


Tiara sudah tak mempedulikan kata-katanya lagi. Dia hanya ingin segera terlepas dari cengkeraman bosnya itu.


"Tolooooong.... Tolooooong...!" Tiara mulai berteriak meski suaranya terdengar parau karena terlalu banyak menangis.


"Hahaha... Teriaklah sekeras mungkin, sayang... Mereka tidak akan mendengarmu. Aku sudah menyewa semua kamar di lantai ini. Takkan ada yang bisa menolongmu! Jangan harap suamimu akan datang kesini! Suamimu itu hanya lelaki yang tidak berguna!" ucap Bos Endra makin beringas.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Hatinya, tubuhnya, terasa sangat sakit. Tiara masih meronta-ronta agar dia bisa terlepas dari lelaki gila itu. Namun sayang gerakannya terkunci karena lelaki itu begitu kuat.


Endra mengangkat tubuh mungil Tiara ke atas ranjang hotel.


"Tolooooong.... Tolooooong!" Teriaknya lagi masih sambil menangis.


Bos Endra membekap mulut Tiara dan menciuminya.


"Sayang, nikmatilah hari ini. Aku akan bersikap lembut padamu. Kau akan jadi wanitaku mulai malam ini." Bisik Bos Endra lagi penuh gairah. Dia sungguh sangat gila.

__ADS_1


Tiara menangis, tenaganya sudah lemah untuk berontak. Dia pasrah? Tidak, dia berusaha lari. Tapi apalah daya, gerakannya kalah cepat dengan lelaki itu. Pria dihadapannya itu seperti monster. Mengerikan. Semakin dia berontak, pria itu semakin beringas.


"Hentikan semua ini, bos. Tolooooong...." Teriaknya lagi dengan suara parau.


__ADS_2