
Mereka sampai di rumah ibu pada malam harinya. Di rumah ibu, masih ada beberapa tetangga yang masih berkumpul sehabis acara tahlilan.
Jiho dan Ferdi serta paman Har berbaur dengan para tetangga yang lain setelah menyalami ibu. Sedangkan Tiara, dia memeluk tubuh ibu sangat erat. Tubuhnya berguncang hebat. Dia menangis sesenggukan.
"Bu, maafin Tiara ya bu. Tiara gak bisa hadir disaat terakhirnya bapak..." ucap Tiara, bulir-bulir bening menetes dari sudut matanya yang sudah sembab.
"Iya, iya nak. Kami sudah ikhlas. Ya sudah, ayo kamu istirahat dulu, nak. Kalian pasti capek kan? Kondisi kamu juga lagi hamil begini..." jawab ibu sambil mengelus punggung Tiara.
Ibu memapah Tiara untuk duduk. "Kamu pasti lelah sekali ya, nak?"
"Iya, Bu. Rasanya gak karuan banget..." sahut Tiara yang memang sudah kelelahan karena perjalanan jauh.
"Nak Ferdi kenapa bisa bareng sama kalian?"
"Ah iya Bu, kami kerja sama-sama. Mas Ferdi juga sudah sering membantuku saat kami dalam kesusahan."
"Alhamdulillah," jawab ibu sambil tersenyum.
"Kamu tunggu disini dulu ya, nak. Ibu akan siapkan makan buat kalian. Kalian pasti lapar, kan?"
"Iya, Bu. Maaf Bu, aku gak bisa bantu."
"Iya, nak. Gak apa-apa. Kamu istirahat saja dulu."
Tiara mengangguk sambil tersenyum. Dia merebahkan tubuhnya di sofa. Penat sekali rasanya.
"Lho, kok malah rebahan disini, di kamar saja yuk," ucap Jiho ketika menghampiri istrinya.
Tiara hanya tersenyum dan enggan untuk beranjak. Jihopun menyenderkan tubuhnya ke sofa, sambil sesekali memejamkan mata.
Tak lama ibu sudah kembali.
"Nak, nak... Kalian makan dulu ya, itu ibu udah siapin makanan."
"Ah iya, terima kasih Bu" jawab Jiho.
"Iya, nak."
Ibu berlalu menghampiri Ferdi dan Paman Har yang sedang berada diluar. Para tetangga sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing.
"Nak Ferdi, pak Har, kita makan dulu ya. Kalian pasti lelah kan?"
"Baik, Bu. Terima kasih" jawab paman Har.
Ferdi juga tersenyum menanggapinya.
"Sudah lama aku gak makan masakan ibu," celetuk Ferdi disaat mereka sedang makan bersama.
"Memangnya mas Ferdi sering makan disini?" tanya Tiara.
"Iya dong, setelah kalian pergi, aku kan jadi anaknya ibu di rumah ini. Hehehe" jawab Ferdi sambil tertawa kecil.
"Beneran, Bu?" tanya Tiara lagi.
__ADS_1
"Iya, nak. Ibu sudah menganggapnya seperti anak sendiri."
"Tuh, dengerin. Jadi aku ini kakakmu lho dek..."
Merekapun tertawa dalam kebersamaan.
"Bu, bagaimana kalau nanti ibu ikut kami saja?" ucap Jiho.
"Iya bu, temenin Tiara ya bu..."
"Tapi ladangnya gimana ya nak? Apa nanti gak ngerepotin kalian kalau ibu disana?" jawab ibu ragu-ragu.
"Sama sekali tidak merepotkan, Bu. Dari pada disini ibu sendirian, benar kan?" sahut Jiho lagi.
"Iya benar Bu, ikut kami saja" Ferdi menimpali. "Kalau masalah ladang, kan bisa disewakan ke warga sekitar Bu" lanjutnya lagi.
"Baiklah nak, ibu akan ikut. Sekalian ibu ingin dampingi Tiara. Sebentar lagi ibu akan menimang cucu, benar kan?" ibu tersenyum walaupun matanya sembab.
"Iya Bu, benar bu. Bentar lagi Tiara juga lahiran," Ferdi menimpali.
"Kalau kamu kapan menikah, Fer?" ibu balik bertanya, yang membuat rona wajahnya berubah. Dia merasa kikuk ditanya seperti itu.
"Eh itu, anu...."
"Katanya mas Ferdi gak mau nikah dulu, fokus sama karir. Padahal disana banyak yang naksir lho Bu. Udah kayak artis aja banyak yang nge-fans hahah" sahut Tiara sambil tertawa.
Setelah selesai makan dan membereskannya, ibu menggelar karpet di ruang tengah.
"Nak Ferdi, apa tidak apa-apa kalau kamu tidur disini?" tanya ibu.
Ibupun membawakan bantal dan selimut untuk mereka.
Sedangkan Tiara dan Jiho pergi ke kamarnya.
***
Di kamar Tiara
Mereka berbaring diatas ranjangnya yang sudah lama ditinggalkan. Jiho senyum-senyum sendiri hingga membuat Tiara keheranan.
"Kenapa Aa senyum-senyum sendiri?"
"Aa tidak apa-apa, cuma inget waktu kita pertama kali sekamar berdua, kamu kelihatan sangat canggung..."
Ucapan Jiho membuat Tiara tersipu malu. "Ya, dulu aku kan belum terbiasa..."
Jiho terus saja meledek istrinya. "Berarti sekarang sudah terbiasa?"
"Iyalah, justru kalau gak ada Aa rasanya seperti ada yang kurang..."
"Ah masa sih?"
"Iya beneran. Kalau ada Aa aku merasa nyaman, damai... Terima kasih ya A..."
__ADS_1
"Hhmmm... Iya sayang..."
"Sudah A, ayo tidur."
"Tunggu, tunggu..."
"Ada apa?"
Tiba-tiba sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Tiara.
"Duh A, inget deh aku kan lagi hamil," ucap Tiara kemudian.
"Emangnya kalau lagi hamil ga boleh dicium?"
"Yaa boleh sih..."
Dan Jiho mencium istrinya lagi.
"Hai dedek sayang, anak ayah lagi apa nih?" ucap Jiho sembari mengusap perut Tiara dan mencium perutnya beberapa kali.
***
Pagi harinya
Setelah menikmati sarapan bersama, mereka pergi berkunjung ke makam bapak.
Di pemakaman, terlihat makam yang masih baru. Gundukan tanah itu masih basah dan belum mengering. Terdapat taburan warna warni bunga diatasnya.
Tiara tergugu disamping makam bapaknya, pak Toha. Dia memegangi baru nisan itu sambil terus meratap menangis.
"Bapak, maafin Tiara pak... Tiara gak ada disaat terakhir bapak. Maafkan Tiara pak kalau sudah jadi anak yang durhaka. Harusnya sebentar lagi cucu bapak akan lahir. Tapi kenapa bapak malah pergi ninggalin kami semua, pak. Bapaaak...."
Tiara terus saja begitu, menangis tersedu dihadapan makam bapaknya.
"Nak, sudahlah... Yang sabar, kamu harus ikhlas. Kamu harus menerimanya, kita semua kehilangan bapak. Bapak sudah tenang disana. Kita harus berdo'a untuknya. Agar semua amalan bapak bisa diterima oleh Allah."
Tiara mengusap air matanya yang jatuh.
"Kamu paham bukan? Kita semua pasti akan kembali padaNya. Setiap makhluk yang hidup, dia akan mati. Ini sudah ketentuan Allah, dan nanti kita juga akan tunggu giliran. Kamu yang sabar ya nak, ibu tahu kamu menyesal karena tidak bisa melihat bapak disaat-saat yang terakhir. Tapi insyaallah bapakmu bahagia melihatmu hidup bahagia, nak. Ayo nak, jangan bersedih lagi. Kita hanya perlu mendoakan bapak."
Tiara mengangguk pelan.
"Bapak, insyaallah Tiara ikhlas. Semoga bapak tenang disana. Bapak gak usah khawatir, Tiara akan merawat ibu. Sekali lagi maafin Tiara ya pak. Maafin Tiara..."
"Sudah nak, ayo kita pulang..." ajak ibu.
"Tunggu sebentar lagi bu, Tiara masih kangen sama bapak."
Tiara termangu dihadapan makam bapaknya. Sekilas terbayang kembali bayangan bapak hadir dibenaknya. Teringat kembali ketika bapak menemani hari-harinya saat dia kecil sampai besar.
"Sayang, sudah ya... Kita sudah cukup lama disini. Ayo kita pulang, kamu pasti sudah lelah" ajak Jiho.
Tiara mengangguk. Jiho menundanya berdiri dan memapahnya berjalan.
__ADS_1
"Tenanglah, kamu yang sabar. Jangan menangis terus ya..."
Tiara mengangguk lagi sembari menyeka air matanya.