ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Mimpi Buruk


__ADS_3

*Aku berjalan sendirian di hamparan rumput hijau. Tak ada siapapun. Semuanya sunyi. Aku melewati pepohonan yang rindang dan gelap, ada sebuah lorong disana, tapi tiba-tiba tubuhku ditarik oleh seseorang dengan tangan yang besar. Bukan seseorang, tapi lebih tepatnya seperti makhluk yang besar. Dia mencengkeramku kuat, aku menggeliat mencoba melepaskan diri. Tapi sungguh aku tak bisa. Jeratan itu semakin kuat, aku merasa sesak nafas. Tak butuh waktu lama, tubuhku terbelenggu oleh ikatan rantai. Aku takkan bisa bebas lagi. "Tolong... tolooooong...!" suaraku terdengar parau. Aku berharap akan ada orang yang menolongku.


"Dek... Tiara...!"


Aku mendengar teriakan itu, aku mengenali suara itu. Itu pasti mas Ferdi kan? Tak lama muncul dua orang yang sangat kukenal. Dia suamiku dan satunya mas Ferdi.


"Tolong...!" aku mencoba berteriak kembali.


Mas Ferdi berlari ke arahku, diikuti oleh suamiku. Mereka berjalan melewati bebatuan bebatuan yang besar. Berulangkali mereka terjatuh.


Mas Ferdi lebih dulu sampai di tempatku terpenjara. Dia mencoba melepaskan ikatan rantai itu.


Tiba-tiba "Duugg!" Aku melihatnya. Dia suamiku, dia dipukul oleh makhluk besar itu. Dengan sekali hantaman, dia terhuyung dan terjatuh. Lantas tubuhnya dicengkeram oleh tangan besar itu. Sekejap saja tubuh suamiku sudah terbelenggu dengan ikatan rantai. Di tubuhnya penuh dengan luka, dia tak sadarkan diri.


"Tidaaaak.... A! Aaaaaaa..!" aku masih berteriak seperti orang kesetanan. Mas Ferdi mendekapku.


"Dek, tenanglah. Ayo, kita harus segera keluar dari sini!" tukasnya kemudian. Aku tak sadar ikatan rantai itu sudah terlepas dari tubuhku. Entah bagaimana cara dia melakukannya.


"Enggak, mas! aku harus menolong A Jiho! Aaaa!" pungkasku yang masih melihat tubuh suamiku terbelenggu tak berdaya.


Mas Ferdi menarikku dan membawaku pergi dari tempat mengerikan itu. "Maaf dek, kita gak ada waktu untuk menolong suamimu itu! Lihatlah makhluk besar itu. Ayo kita cepat keluar dari sini sebelum terlambat." Jawabannya membuat dadaku semakin sesak.


"Tidaaaak.... Aa.... Aaaaaaa!" aku masih berteriak padanya, berharap suamiku itu tersadar. "A... Aaaa*...."


***


Tiara terlonjak kaget bangun dari mimpinya. "Astaghfirullah... kenapa mimpi itu datang lagi?"


Jantung Tiara masih berdegup tak beraturan. Dia takut sekali.


"Sayang...! Sayang...! kamu kenapa? Buka pintunya!" teriak suara seseorang dari luar. Ah itu pasti A Jiho. Dia melirik jam bundar di dinding itu lagi, waktu menunjukkan pukul 14.00 siang. Ternyata dia tertidur cukup lama.


"Sayang...! Buka pintunya!" dia kembali berteriak.


Tiara membukakan pintu untuknya, dia sudah ada didepan dengan wajah penuh kekhawatiran.


Jiho memeluknya. "Kamu kenapa? kenapa tadi teriak-teriak?" tanyanya dengan nada cemas.


"Aku takut, A. Mimpi buruk itu datang lagi."

__ADS_1


"Sayang..."


Jiho mendekapnya lebih erat. Tiara menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu. Jiho mengusap-usap rambut Tiara dengan lembut. "Jangan takut, itu cuma mimpi," tukasnya lagi. Tiara menghela nafas panjang, untuk mengurangi rasa takutnya.


"Aa minta maaf ya, tadi pergi gitu aja," lanjutnya lagi. Tiara mengangguk lemah. "Kamu pasti belum makan, kan? Ini Aa belikan makanan untukmu. Kita makan sama-sama ya."


Dia melepaskan pelukannya dan mengecup kening istrinya itu. Dia berlalu menyiapkan makanan yang tadi sudah dibelinya. Tiara merasa heran, kenapa dia bisa tahu kalau dia gak masak? Seperti punya ikatan batin saja.


"Ayo sini, jangan diem aja." Ajaknya sembari menarik tangannya dengan lembut. Dia masih saja punya stok sabar yang begitu banyak. Ya, Jiho tetap memperlakukannya dengan baik. Benar-benar suami idaman. Pantas saja Rania juga suka padanya.


"Aku minta maaf ya, A..." ucap Tiara lirih.


Dia tersenyum seperti yang sudah-sudah. "Iya sayang... "


***


"Ayo siap-siap, ikut Aa ya..." ajaknya lagi.


"Kemana?"


"Temenin Aa kerja di kafe. Aa khawatir ninggalin kamu sendirian."


Tiara mengangguk.


Mereka memasuki area parkir. Jiho memarkirkan motornya. Lalu mengajak Tiara masuk ke sebuah resto, ah bukan bukan, lebih tepatnya kafe. "Kedai Angkringan" nama kafe itu terpampang jelas di papan neon box.


"Ini tempat kerja Aa kalau malam," ucapnya sambil tersenyum. Kami duduk di gazebo yang ada di pelataran kafe.


"Kamu tunggu disini ya? Gak apa-apa kan? Atau mau nunggu di dalam?"


"Hmmm, ya disini saja, A. Aku sambil lihat-lihat sekeliling."


"Ya sudah, Aa masuk dulu ya. Sebentar lagi jam kerja dimulai. Aa tinggal dulu ya sayang..."


"Iya, A."


"Jangan jauh-jauh dari sini, ya."


"Iya, A.."

__ADS_1


"I Love You," ucapnya lagi, dia mengecup kening Tiara dan berlalu.


Ada sebuah pesan masuk ke ponsel Tiara. Kalian pasti sudah bisa menebaknya kan? Ya benar, SMS itu dari Mas Ferdi lagi.


[Dek, lagi ngapain? Seharian gak dengar suaramu, Mas kangeeen...]


[Mas, mulai sekarang tolong jangan hubungi aku lagi!]


Sepertinya Tiara memang harus tegas. Dia tak ingin rumah tangganya kacau.


'Maafkan aku Mas, tapi aku tak ingin suamiku terluka.'


Tak butuh lama, Mas Ferdi meneleponnya. Segera diangkat panggilan telepon itu. Dia ingin segera menyelesaikannya. Biarpun dia tak pernah memulai hubungan apapun dengan dia, tapi Tiara ingin dia menyudahinya agar dia tak lagi menghubunginya.


[Halo dek, Assalamualaikum...]


[Waalaikum salam, Mas]


[Dek, kenapa ngomong gitu?]


[Mas, please. Hargai keputusanku. Jangan hubungi aku lagi.]


[Tidak, dek. Tidak bisa! Aku sudah mencobanya, tapi tetap tidak bisa. Aku bisa gila dek! Tiap hari terus memikirkanmu. Ketemu sudah tidak bisa, sekarang kau melarangku untuk mendengar suaramu? Padahal dengan mendengar suaramu rasa rinduku sedikit terobati.]


[Mas, inget mas. Aku ini istri sahabatmu, tolong hargai keputusanku. Aku tak ingin menyakiti suamiku lagi. Please]


[Tidak dek, jangan larang aku untuk meneleponmu. Kalau tidak, aku akan nekat untuk menyusulmu kesana.]


[Hah? Apaaa?? Kamu gila ya mas! ]


[ Aku memang gila dek, aku gila karenamu. Sungguh aku benar-benar mencintaimu, dek]


[Tidak mas, carilah wanita lain. Masih banyak diluar sana wanita single yang lebih baik dari aku. Tolong jangan hubungi aku lagi Mas!]


[Tidak, dek... Dek...!]


Tiara mematikan panggilan telepon itu. Ferdi berulangkali meneleponnya kembali, tapi tak dihiraukan lagi. Biarkan sajalah, dia harus terima kenyataan tentang semua ini.


***

__ADS_1


Sementara di desa, ada seseorang yang merasa terluka. Ya, Ferdi merasa sangat frustasi ketika Tiara memutuskan hal itu. Berulangkali dia menelepon pujaan hatinya itu tapi tetap saja Tiara tak pernah menggubrisnya lagi. Apa yang harus dia lakukan? Dia sudah hampir gila untuk memikirkannya.


" Aaarrggghh....!" teriaknya sendirian di rumah dinas itu. Dia ingin melepaskan semua kegundahan itu. Apa yang dilakukannya kini sungguh bertentangan dengan dengan prinsip hidupnya sehari-hari.


__ADS_2