ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Ditangkap


__ADS_3

Tiba-tiba saja, pasangan muda-mudi lainnya pada berlarian tak tentu arah, ada yang kena tangkap sama petugas satpol PP.


"Nah...ini ada lagi satu!" teriak salah seorang diantara mereka. Mereka langsung memegangi tangan Jiho, dan yang lainnya memegangi tangan istrinya. Duuh, apa-apaan sih mereka ini? kok kayak kita macam kriminal saja!


"Maaf pak, ini ada apa ya? Kenapa kami ikut-ikutan ditangkap?" tanya Jiho pada mereka. Sungguh Jiho melihat istrinya begitu ketakutan. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Sudah, ikut saja ke kantor. Kalian ini pasangan mesum, sudah merusak citra taman kota ini!" sanggah mereka dengan nada garang.


"Iya, iya pak! Kami akan ikut, tapi tolong lepaskan istri saya pak..."


"Heh, kalian mau coba kabur ya? Sudah ayo jalan!" timpal petugas yang lainnya tak kalah garang. Jiho mengangguk, mengisyaratkan pada istrinya kalau dia harus menuruti mereka. Air matanya sudah tumpah, pasti dia panik luar biasa.


Mereka diangkut ke mobil, begitu pula dengan motor kami. Banyak pasangan selain mereka yang ikut tertangkap. Mereka saling menunduk dan di jaga bak para kriminal.


Sesampainya di kantor, mereka diinterogasi satu per satu. Dan sekarang giliran Jiho dan Tiara.


"Siapa nama kalian?" tanya salah seorang petugas itu. Jiho membaca nama Irawan, sebuah nama yang terpampang di bajunya.


"Saya Jiho pak, dan ini Tiara." Jawab Jiho mantap.


"Hmmm... Jiho, siapa nama orang tuamu?"


"Bapak Wisesa,"


"Hubungi bapakmu dan suruh kesini!" sergah pak Irawan kembali.


"Maaf pak, kedua orang tua saya sudah meninggal..." jawab Jiho sejujurnya.


Dia mengerutkan keningnya sambil menggebrak meja. Brakk!!


"Jangan bohong kamu!!" teriaknya lagi.


"Benar pak, saya gak bohong. Untuk apa saya bohong tentang kematian kedua orangtua saya."


Pak Irawan menatap Jiho lama, menelisik apakah ada kebohongan dalam ucapannya. Dia menghela nafas panjang.


"Ya sudah. Bagaimana denganmu, neng? Siapa nama orang tuamu?" tanyanya lagi pada Tiara dengan nada garang.


"Bapak Toha, sama Ibu Ningsih..." jawabnya pelan.


"Siapa??? Ngomong kok lembek banget!" tukas pak Irawan dengan nada sewot.


"Pak Toha sama Bu Ningsih, pak!" jawab Jiho menimpali.


"Hubungi mereka suruh kesini!"


"Haah?" Jiho dan Tiara saling berpandangan. Itu tak mungkin kan, mereka ada di kampung nun jauh disana.

__ADS_1


"Lho kok malah pada bengong sih!! hubungi mereka suruh kesini, biar mereka tahu kelakuan anaknya tukang mesum!"


"Pak, itu gak mungkin pak.... Kami disini hanya merantau, bapak sama ibu ada di kampung," jawab Jiho lagi.


"Kalian ini mau bohongi kami terus ya, hah?!" Pak Irawan mulai emosi.


"Tidak, pak! Kami bicara sejujurnya. Kami bukan pasangan mesum, kami sudah menikah," sahut Jiho lagi. Tiara masih terdiam ketakutan.


'Duh kasihan istriku, jadi pengin aku peluk.' ucap Jiho dalam batinnya.


Salah seorang rekan pak Irawan menghampiri mereka. "Pak, mungkin saja yang dikatakan mereka benar?" tanyanya kemudian sambil menatap kearah kami.


"Coba buktikan kalau memang kalian suami istri yang sah?" tanya pak Irawan pada kami dengan sorot mata tajam. "Ada buktinya? surat nikah?" sambungnya lagi.


"Ada pak, tapi tidak kami bawa. Ada di rumah. Apakah harus saya ambil?" jawab Jiho sambil balik bertanya.


"Kamu jangan coba-coba untuk kabur ya!" tudingnya kearah Jiho.


"Pak, saya tidak mungkin kabur. Saya akan ambil buktinya, surat nikah kami."


"Apa jaminannya?"


"Pak, saya gak mungkin ninggalin istri saya disini sendirian. Saya pasti akan kesini lagi bawa bukti itu dan jemput dia. Tolong percaya padaku, pak. Beri saya waktu 20 menit saja pak, saya pasti akan kembali kesini," tukas Jiho kemudian.


Akhirnya mereka mengangguk tanda setuju. tapi tetap mengajukan satu persyaratan. "Baik, kami tunggu!! Tapi kalau sampai kamu bohongi kami, semua hukuman akan kami timpakan pada gadis ini!" ungkap pak Irawan seraya menunjuk-nunjuk kearah Tiara.


"Baik, pak. Saya akan segera kembali. Tolong, saya minta kunci motor saya pak," sahut Jiho kemudian.


"Sayang, tolong jangan takut... Aa pasti kembali," ucap Jiho pada Tiara. Dia hanya mengangguk sambil sesekali mengusap air matanya.


Jiho berlalu meninggalkan tempat ini. Segera ia pacu motornya melaju dengan cepat. Jiho sudah hafal jalan ini, karena sudah terbiasa setiap hari melewati jalanan kota sambil ngangkut penumpang.


Sepeninggal Jiho, Tiara sendirian duduk di kantor itu. Ada rasa takut dalam hatinya. Pasangan yang lain yang tadi sempat ditangkap bersama dengannya satu persatu pulang dengan jaminan. Dan ada beberapa yang masih bertahan disana karena orang tuanya belum datang.


"Hei neng, kenapa takut gitu?" tanya Pak Irawan yang sudah kembali ke tempat duduknya. Tiara hanya menggeleng tidak sanggup untuk menatap pria tegas itu.


"Kalo pacaran gak ada takut-takutnya! Mesum di tempat umum apa gak malu?" tukas Pak Irawan itu penuh penekanan.


Tiara masih terdiam dan menunduk.


"Nih neng, bapak kasih tahu ya... Kalau pacaran itu rugi buat perempuan. Apalagi mau di pegang-pegang bahkan menyerahkan kehormatan. Itu namanya perempuan bodoh! Jangan sampai kayak gitu, menyesal nanti!" sergah pak Irawan dengan ketus.


Tiara hanya mengangguk. "Kenapa diam aja neng? Di janjiin apa sama pacarmu itu?" tambah Pak Irawan lagi.


"Dia bukan pacar saya pak, tapi suami saya," jawab Tiara lirih.


"Hah? Beneran kalian udah nikah?"

__ADS_1


"Iya pak,"


"Udah berapa lama?"


"Baru satu minggu, pak."


"Hoho pengantin baru nih."


"Kenapa masih muda udah nikah? Jangan-jangan kecelakaan ya?"


"Maksud bapak?"


"Yaaa.... Hamil duluan. Kalo nggak hamil duluan ngapain nikah muda?"


Tiara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terus?"


"Kami dijodohkan, pak..."


"Hahahah, jaman sekarang masih ada ya perjodohan?" Pak Irawan tertawa.


Tiara menunduk lagi. "Bapak boleh tidak percaya, tapi jangan negatif thinking pada kami. Kami gak pernah melakukan hal yang bapak tuduhkan itu.." jawab Tiara.


"Oh iya ya...."


***


Setelah sampai di rumah kontrakan, Jiho segera mencari surat nikah mereka, setelah dapat dia langsung melesat pergi lagi. Jiho tak sabar ingin membawa istrinya pergi dari sana.


Perkiraannya tepat, Dua puluh menit kemudian dia sudah sampai kembali ke kantor mereka.


"Ini pak," ucapnya sembari memberikan surat nikah kami. Nafasnya sedikit terengah-engah karena dia terlihat sangat buru-buru.


Pak Irawan menerima dan membacanya, dia menatap kami secara bergantian. Kemudian dia menghela nafas panjang.


"Ya sudah, kalian boleh pulang..." tukasnya kemudian.


"Alhamdulillah... terima kasih ya pak..." ucap Jiho. Merekapun bersalaman.


Tiara tersenyum, secara spontan dia memeluknya eraaat sekali.


"Ehemm... Sudah sudah sana pulang, jangan pelukan disini, bikin baper saja..." ucapnya kembali. Mereka tersenyum, sedangkan petugas lain ikut terkekeh mendengar ucapan Pak Irawan tadi.


"Pak, kami permisi... Terima kasih ya pak," ucap Jiho lagi sambil menggandeng tangan istrinya.


"Ya... ya..." sahutnya, kali ini dia lihat sekilas pak Irawan tersenyum.

__ADS_1


-bersambung-


__ADS_2