
"Lo kenapa? ngelamun terus dari tadi?" tegur Bang Nawas yang rupanya sedari tadi memperhatikan Jiho.
"Lagi bingung, bang..."
"Bingung napa?"
"Istri gue bang, dia minta kerja. Kalau gak, dia mau pulang kampung lagi..."
"Ya elah, jenuh kali tuh dia..."
"Gue harus gimana, bang?"
"Sesekali ajaklah dia jalan-jalan..."
"Udah bang... Pernah sampai kejaring razia satpol pp."
"Hahahah.... gokil lo."
"Hmmm..."
"Kasih barang kesukaannya dong, biar dia gak ngambek."
Jiho terdiam sejenak, benar juga ya dia belum pernah ngasih Tiara bunga. Padahal dia paling suka sama yang namanya bunga. Apalagi bunga mawar.
'Insyaallah, pulang nanti aku mampir dulu ke toko florist.' ungkap Jiho dalam hatinya.
"Lo kerja terus sih...siang malam, siapa juga yang gak jenuh ditinggal terus-terusan sendiri," tukas Bang Nawas lagi menghenyakkan Jiho.
"Terus gue harus gimana, bang?"
"Kerja cukup satu tempat aja lah, sisa waktunya buat nemenin dia. Ajak dia main, jalan-jalan, atau ajak deh dia kesini kalo lo kerja."
"Hmmm... gue gak bisa bang kalo kerja cuma satu tempat doang, kebutuhan gue banyak. Gue juga lagi nabung biar bisa beliin dia rumah."
"Manis banget sih lo... Sepertinya istri lo manja banget ya!"
"Dia kan anak tunggal bang, kesayangan bapak sama ibu."
"Pantes..."
"Kalau gitu ajak aja dia kerja di kafe..." ungkap Deni nimbrung obrolan kami.
"Nah... sekalian aja biar dia tahu, kalau kerja itu berat," sambung bang Nawas.
"Tapi, gue gak yakin bang..."
"Gak yakin kenapa?"
"Gak tahulah ragu aja."
"Ya dia juga harus belajar, dia butuh sosialisasi, jangan dikerem aja didalam rumah, kasihan kan kayak di penjara aja!"
__ADS_1
Jiho hanya manggut-manggut mengerti. 'Ah, benar juga omongan Bang Nawas. Dia pasti tersiksa, seperti burung yang ada didalam sangkar, tidak bebas bergerak. Suami macam apa aku ini? Aku yang terlalu egois, padahal diapun punya kehidupan. Dia bukanlah boneka. Maafkan aku, istriku.' Hhhhhhh, Jiho menghela nafas panjang.
Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh menit. Jiho bersiap-siap untuk pulang.
"Pulang cepet lo?" tanya Bang Nawas, dia pemilik bengkel motor ini. Biarpun dia bosnya, akan tetapi hubungan kami tidak seperti layaknya bos dengan kacungnya. Dia sangat dekat dengan kami-kami para pekerjanya. Dan dia sudah dianggap seperti teman, ah lebih tepatnya kakak.
"Iya, bang. Izin pulang cepet ya, mau mampir dulu ke toko florist."
"Cie... cie... semoga sukses ya!"
"Makasih, bang. Assalamualaikum...!"
"Waalaikum salam warahmatullahi wa barokatuh..." jawabnya.
Jiho melajukan motornya menuju toko florist yang ada ditengah perkotaan. Jarak yang ditempuh lumayan jauh. Sepertinya dia bakalan telat pulang ke rumah, semoga saja Tiara tidak khawatir.
***
Sesampainya di toko bunga Lisha Florist...
Banyak aneka ragam bunga-bungaan warna warni, cantik-cantik. Sungguh, dia sampai bingung buat milihnya.
"Selamat sore, Mas... Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang pegawai di toko bunga ini.
"Hmm, saya lagi cari bunga buat istri saya mba," sahut Jiho.
"Istrinya suka bunga apa, Mas?" tanyanya lagi dengan ramah.
"Mari ikut dengan saya, mas. Aneka mawar ada di sebelah sana," tunjuknya sambil mengawalnya.
Jiho berjalan mengikutinya dari belakang.
"Nah, disini stand khusus bunga mawarnya mas..." ucapnya kemudian masih dengan nada yang ramah.
Dia melihat sekeliling, sungguh indah bunga-bunga ini.
"Biar sekalian saya jelaskan dulu, mas. Arti warna pada bunga mawar..."
"Ya, boleh-boleh..."
"Ini warna merah memiliki makna perasaan cinta. Mawar merah merupakan salah satu simbol yang melambangkan cinta sejati," ucapnya lagi sambil menunjukan buket bunga mawar merah.
"Ini mawar pink memiliki arti kebahagiaan dan rasa syukur. Warna mawar merah muda melambangkan cinta yang manis dan romantis," jelasnya lagi sambil menunjukan mawar pink yang sangat cantik.
"Ini bunga mawar warna peach. Bunga mawar warna ini mempunyai makna rendah hati. Cocok diberikan untuk rekan kerja yang baru mendapat promosi jabatan,"
Jiho hanya manggut-manggut mendengar penjelasannya. Kapan lagi kan dia dapat ilmu pengetahuan seperti ini.
"Ini mawar oranye, warna yang berkesan energik ini melambangkan pesona dan daya tarik. Teman terdekat yang sedang berulang tahun bisa dikirimkan bunga warna ini," lanjutnya lagi.
"Yang ini warna salmon, warnanya lebih pink dari oranye dan lebih gelap dari peach, warna ini memiliki arti hasrat dan semangat."
__ADS_1
"Mawar kuning melambangkan kegembiraan, selain itu mawar kuning bisa membangkitkan kehangatan, perasaan suka cita dan juga lambang persahabatan," perempuan itu masih menjelaskan penuh dengan semangat.
"Mawar putih, bunga ini khusus digunakan pada momen romantis, yang artinya kemurnian cinta. Karena itu, bunga ini cocok dipakai di upacara pernikahan. Selain itu, mawar putih juga melambangkan simpati. Itu sebabnya sering diberikan pada orang yang sedang berkabung."
"Mawar warna krem, meski warnanya mendekati putih, arti mawar krem ini punya makna yang agak berbeda. Maknanya perhatian. Bisa diberikan untuk teman yang sedang bersedih."
"Sedangkan mawar warna ini, warna ungu, makna dari warna bunga mawar ungu sendiri merupakan lambang dari keanggunan, kemegahan, dan keagungan. Ini membuatnya menjadi hiasan yang sangat tepat pada ruang utama dalam rumahmu untuk acara-acara spesial."
"Baik, mba. Saya sudah nemu yang cocok," ucap Jiho kemudian. Pegawai itu pasti akan menjelaskan semuanya kalau dia tidak segera menyelanya.
"Baik... Mas mau pilih yang mana?"
"Yang ini saja, mba... Bisa kan dua warna digabung jadi satu?" jawabnya sambil menunjuk bunga mawar warna pink dan merah.
"Iya, bisa mas," jawabnya. Dengan cekatan dia mengambil tumpukan bunga berwarna pink dan merah.
"Bungkus yang rapi ya, mba..." tukas Jiho lagi.
Dia tersenyum. "Iya mas, silahkan tunggu di depan. Sekalian lakukan pembayarannya dulu di kasir."
"Baik, mba," jawab Jiho sambil berlalu menuju kasir.
Jiho yang tidak memperhatikan langkahnya dengan benar, ditengah jalan menabrak seseorang.
"Aaauu...!" erangnya kesakitan.
"Ah, maaf mba. Mba tidak apa-apa?"
Gadis itu menoleh kearahnya. "Hah?" mereka saling terkejut memandang satu sama lain.
"Rania..."
"Jiho...!"
"Ah maaf, kau baik-baik saja?"
"Hmmm iya, aku gak apa-apa."
"Ya sudah, aku duluan ya," ujar Jiho sambil buru-buru pergi.
"Eh... tunggu tunggu, Jiho! Jiho...!"
Tak dia pedulikan panggilannya. Sungguh dia merasa risih, di kafe Rania selalu menggodanya. Padahal sudah dibilang berulangkali, Jiho punya istri dan sangat mencintainya. Tapi entahlah dia tidak menyerah, tetap saja mendekati lelaki itu meskipun dia selalu menghindarinya.
Di meja kasir, Jiho segera membayar bunga yang dia pesan tadi.
"Totalnya dua ratus ribu mas," ucap petugas kasir itu dengan ramah.
Jiho menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan. Dan sekarang buket bunga mawar itu sudah ada di tangannya. Jiho pulang dengan perasaan bahagia. 'Semoga istriku suka.' ucapnya dalam hati.
Dia melirik jam yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore. Segera dia pacu motornya. Dia sudah tak sabar menemui sang istri.
__ADS_1
-bersambung-