
Sesampainya di Rumah Sakit
Tiara langsung ditangani oleh tenaga medis.
"Maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi bayinya tidak tertolong..." ucap bu dokter menjelaskan yang terjadi
"Apaa?? Lalu bagaimana dengan ibunya?"
"Mohon maaf, tapi ibunya juga tidak baik-baik saja."
"Maksud dokter?"
"Emmmh... Ibunya mengalami koma setelah keguguran. Sebagian kecil kasus, hal ini bisa saja terjadi."
"Apa??"
"Bapak yang sabar ya...."
"Kira-kira kapan dia akan sadar lagi."
"Kami tidak bisa memastikannya."
Endra merasa lunglai melihat keadaan Tiara tidak baik-baik saja. Dia jadi merasa bersalah. Kenapa ini bisa terjadi? Apakah ini semua gara-gara dia?
Endra menggenggam tangan Tiara. Tak ada respon apapun darinya. Apa yang harus dia lakukan?
***
Sementara di rumah Jiho.
Kedua lelaki itu masih dilanda kebingungan.
"Ada SMS dari Tiara..." sahut Ferdi sesaat setelah menerima pesan singkat itu.
"Apa isinya..."
"Dia minta tolong, Villa putih di bukit Certa. Kau tahu dimana itu?"
Jiho menggeleng. "Aku baru mendengarnya."
"Kita harus lapor polisi..."
"Tapi ini belum 24 jam, apakah laporan kita akan diproses?"
"Benar juga..."
"Perasaanku tidak enak, perasaanku tidak tenang. Apa terjadi sesuatu pada Tiara?" sahut Jiho dengan suara lirih.
"Ya, itu karena kamu khawatir padanya. Kau tunggu disini."
"Aku akan cari info,"
"Aku ikut."
"Hei, kondisimu parah begitu. Sudah kau istirahat saja. Aku tak lama, nanti aku kesini lagi..."
Ferdi berlalu meninggalkannya. Kini Jiho sendirian, badannya semua terasa sakit. Kepalanya sangat pening.
Nyuuuut...
Dadanya terasa begitu nyeri. Entah kenapa perasaannya kembali tidak enak. Apakah terjadi sesuatu pada Tiara?
Tok...tok...tok.... Terdengar suara pintu diketuk.
"Assalamualaikum..." sapa suara wanita dari luar.
"Waalaikum salam," sahut Jiho dengan suara lirih. Dia berusaha berdiri, namun tubuhnya begitu lemah.
Wanita itu mencoba membuka pintu itu, yang ternyata tidak dikunci.
"Jiho... Tiara... Kenapa sepi sekali sih?" gerutunya.
Wanita itu menoleh dan mendapati Jiho sedang kesakitan.
"Ah, Jiho kau kenapa?" tanyanya dengan panik.
"Rania..."
__ADS_1
"Mana Tiara?"
Jiho menggeleng.
"Kenapa ekspresimu seperti itu? Ada apa?" tanya Rania.
"Tiara diculik...."
"Apa?? Bagaimana bisa? Siapa?"
"Kemungkinan itu bos Endra. Anak buahnya yang membawa Tiara. Kau ada apa datang kesini?"
"Pantas saja, cafe ditutup. Ternyata ada alasannya seperti ini to... Aku ingin tahu keadaan kalian. Kita kan sudah cukup lama tidak bertemu..."
"Hhhh, baru juga beberapa hari...."
Rania tersenyum. Dia kemudian beranjak ke belakang, membuat air hangat untuk mengompres luka Jiho.
"Hei, kenapa kau lakukan ini..." ujar Jiho agak risih.
"Diamlah, aku juga ingin membantumu." ucap Rania sambil terus mengompres luka di wajah Jiho.
"Kau belum makan, Jiho?" tanya Rania lagi.
Jiho hanya menggeleng.
"Kau mau aku masakin?"
"Tidak usah Rania. Tidak perlu repot-repot. Oh iya, apa kau tahu villa putih di bukit Certa."
"Tahu, kenapa memang?"
"Serius kamu tahu?"
"Iya, aku pernah kesana diajak bos sama teman-teman yang lain juga. Sebelum kau kerja di cafe dulu. Waktu itu ulang tahun bos, kami diajak kesana untuk merayakannya. Villanya bagus kok, interior dan eksteriornya serba berwarna putih tapi sangat elegan. Ada apa kau tanya itu?" sahut Rania. Ya, memang lebih dulu bekerja di cafe "kedai angkringan".
"Kau bisa tunjukkan jalannya?"
"Hah? Iya emangnya ini ada apa?"
"Tiara ada disana. Mereka menyembunyikannya disana." jawab Jiho lagi.
"Tiara mengirim pesan pada kami..."
Rania mengernyitkan keningnya tanda berpikir.
"Apa kau bisa menunjukkan jalannya?" tanya Jiho lagi. Ekspresi kekhawatirannya begitu jelas tergambar di wajahnya.
"Ya, aku sedikit lupa sih... Tapi bisa sambil mengingat-ingat. Tapi kondisimu kan lagi begini?" Rania balik bertanya.
Jiho menunduk. "Aku sangat khawatir sama Tiara."
"Iya sih, aku tahu. Sebentar biar aku telepon bos dulu."
Rania mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dan menghubungi seseorang.
"Halo..." sahut suara dari seberang telepon.
"Hallo bos... Bos, kenapa cafe tutup hari ini?"
"Aku lagi ada urusan."
"Urusan apa bos?"
"Kau tidak perlu tahu. Ada apa kau meneleponku?" sahutnya lagi dengan nada agak ketus.
"Ya, aku cuma khawatir sama bos. Apa bos baik-baik saja?" tanya Rania lagi sambil berpura-pura. Ingin mengorek informasi darinya.
"Ya, aku baik-baik saja. Sudah ya, aku lagi di Rumah Sakit sekarang..."
"Tunggu-tunggu bos, rumah sakit? Siapa yang sakit bos?"
"Calon istriku."
"Apaa? Bos udah punya calon istri? Siapa bos? Di Rumah Sakit mana?"
"Kau gak perlu tahu!"
__ADS_1
"Yaah, bos... Berarti gak ada harapan dong untukku?"
"Kau ngomong apaan sih. Sudah ya aku tutup." sahut suara dari seberang sambil mengakhiri teleponnya. Tut... Tut... Tut...
Rania dan Jiho saling berpandangan, benaknya seakan penuh pertanyaan.
"Bagaimana? Apa katanya?" tanya Jiho penasaran.
"Bos bilang dia sedang di Rumah Sakit."
"Apaa??"
"Calon istrinya sakit..."
"Itu pasti Tiara... Tiara ada di Rumah Sakit? Aku takut terjadi sesuatu padanya. Kandungannya lemah..."
"Hei Jiho, tenanglah dulu. Siapa tahu itu bukan Tiara. Mungkin itu benar-benar calon istrinya..."
Jiho menggeleng, dia meraih sesuatu. Dan memberikannya pada Rania.
"Apa ini?" tanya Rania.
"Buka saja, kau pasti akan tahu..."
Rania membuka kotak itu. Ia merasa heran dengan barang-barang yang ada di kotak itu.
"Ini...."
"Itu semua dari bos Endra. Kau tahu, dia terlalu terobsesi pada Tiara."
"Berarti kalau itu benar, yang di Rumah Sakit itu adalah Tiara."
Jiho menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hei, siapa kau?" tanya suara seseorang mengagetkan mereka. Ferdi memandang Rania penuh selidik.
"Oh, Fer... Dia Rania, rekan kerjaku waktu di cafe," ucap Jiho memperkenalkan.
Rania menyodorkan tangannya untuk menyalami lelaki itu. Dengan terpaksa Ferdi menjabat tangannya.
"Rania"
"Ferdi"
"Kau ini....?"
"Dia sahabatku, Ran" jawab Jiho.
Rania mengangguk-angguk. Sambil sesekali melirik ke arah Ferdi.
"Nih makan dulu," ucap Ferdi sambil menyodorkan bungkusan plastik berisi makanan.
"Terima kasih"
"Ah iya, tadi aku sudah hubungi omku. Dia bersedia membantu. Anak buahnya akan datang kesini, tunggulah sebentar lagi," ucap Ferdi lagi.
"Hei mbak, ini udah malam. Sebaiknya kau pulang. Tidak baik seorang wanita berkunjung ke tempat lelaki sampai malam..." tegur Ferdi.
"Ah, oh... I-iya... Aku permisi..."
"Tunggu!" cegat Jiho. Ferdi mengerutkan keningnya.
"Fer, dia tahu dimana lokasi Villa putih itu. Katanya dia pernah kesana." ucap Jiho lagi.
"Benarkah?" tanya Ferdi sambil memandang Rania dengan sorot mata tajam.
"I-iya, aku pernah kesana..." jawab Rania agak gugup. Pandangan Ferdi membuatnya kikuk.
"Kalau begitu apa kau bisa menunjukkan jalannya pada kami?" tanya Ferdi lagi.
Rania mengangguk.
"Kalau begitu kita berangkat malam ini juga, tunggu sampai anak buah omku kesini." lanjut Ferdi lagi.
Rania tampak bingung, sikap Ferdi malah lebih tegas dari Jiho.
"Tapi Fer, dia kan seorang wanita. Tidak baik kalau...."
__ADS_1
"Aku gak apa-apa, Jiho. Aku bersedia membantu kalian..." sela Rania lagi. Dia tersenyum.