ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Menyelamatkanmu


__ADS_3

Ferdi kehilangan jejak mereka. Dia terlihat sangat kesal.


"Sial!! Masuk ke kamar mana mereka?" Umpatnya dalam hati. Dia berjalan mondar-mandir tak tentu arah. "Kenapa disini sepi sekali sih? Seperti tidak berpenghuni saja!" Umpatnya lagi berbicara pada dirinya sendiri.


"Tolooooong... Tolooooong..."


Samar-samar dia mendengar suara minta tolong.


"Hah, ada apa ini? Kenapa ada suara meminta pertolongan? Apakah terjadi sesuatu? Itu pasti Tiara bukan?" Ucap Ferdi lirih. Terlalu banyak pertanyaan dalam benaknya.


"Ah, sepertinya dikamar ini!" tukasnya lagi. Sambil mencoba mendobrak pintu hotel itu.


Dia beberapa kali mencoba mendobrak pintu itu, awalnya tidak berhasil tapi akhirnya pintu itupun terbuka.


Jedaarr...!! Ferdi melihatnya. Seorang laki-laki sedang menganiaya wanita?


Emosinya memuncak ketika melihat gadis itu adalah benar-benar gadis pujaan hatinya. Ferdi menarik tubuh kekar pria itu dari Tiara.


"Duuugg! Duuugg!!!"


Dia menghajarnya habis-habisan. Meskipun pria itu balas melawannya tetapi dia masih kalah gesit dengan Ferdi. Entah dapat bantuan tenaga dari mana, Ferdi merasa tenaganya sangat prima untuk memukul pria itu.


'Hah, gak sia-sia juga dulu pernah belajar karate.' ungkapnya dalam hati Ferdi.


"Kau apakan gadis itu, hah?" Tanya Ferdi padanya sangat geram. Emosinya tambah memuncak ketika pria itu kembali menyeringai. Menyebalkan.


"Duuugg!!" Ferdi meninju kembali wajah pria itu. Hingga darah segar keluar dari hidung dan mulutnya. Lagi dan lagi Ferdi menghajar badan yang terlihat kekar itu. Dia sangat marah, gadisnya diperlakukan sangat buruk olehnya.


Pria itu kehilangan kesadarannya. Tubuhnya babak belur dihajar Ferdi dengan penuh emosi. Ferdi menjatuhkan tubuhnya dan beranjak menemui Tiara.


Gadis itu terduduk dan menangis di sudut ranjang. Wajahnya ditutupi tangan dan lututnya. Ferdi merasa sangat kasihan padanya. Dia menyentuh pundaknya dengan lembut.


"Ah... Jangan... Jangan sentuh aku!" Teriaknya histeris.


"Dek... Dek... Ini aku, dek. Mas Ferdi..." ucap Ferdi dengan lembut.


Tiara mulai membukakan mata dan mendongak kearahnya. Tiba-tiba Tiara memeluknya. Dia sangat butuh perlindungan.


Ferdi merasa iba padanya. Pakaiannya compang camping gegara lelaki bejat itu. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin dia katakan. Tapi dia mengurungkan kembali niatnya. Dia tak ingin gadisnya itu bertambah terluka. 'Belum saatnya aku bertanya.' ucap Ferdi dalam hatinya.


Ferdi balas memeluknya dan menenangkannya. "Tenanglah dek, kau aman bersamaku. Ayo kita pergi, dek. Sebelum monster itu sadar kembali," ucap Ferdi kemudian.


Tiara hanya mengangguk. Dia tertunduk sangat lesu. Ferdi melepaskan jaket yang dikenakannya dan memakaikan pada Tiara. Dia mulai memapah Tiara. Tapi tiba-tiba..


"Brukk...!"

__ADS_1


Tubuhnya terkulai, Tiara jatuh pingsan.


"Dek..." Ferdi mengguncangkan tubuh Tiara namun tak ada reaksi. Dia mengusap air matanya. Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit. Dia juga sangat marah pada Jiho. Dimana lelaki itu sekarang? Dia ingin sekali menghajar habis-habisan.


Ferdi melirik ke arah pria brengsek itu. Dia mulai sedikit bergerak.


"Ah, aku harus cepat-cepat membawa Tiara pergi dari sini," ucapnya dalam hati.


Dia sempat menoleh ke jam yang ada didinding, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Ferdi segera menggendong Tiara dan membawanya keluar. Dengan sedikit langkah berlari, agar cepat sampai ke jalan raya. Herannya tak ada satupun orang yang dia temui di hotel itu. Entahlah.


Dia keluar dari pintu samping hotel yang lebih dekat daripada pintu depan. Sampai di jalan raya dia langsung menyetop taksi yang kebetulan lewat. Keberuntungan selalu ada. Ya, untung saja ini di kota besar. Jam segini masih ada taksi yang beroperasi.


Sopir taksi itu turun dan membukakan pintu mobilnya. Ferdi mendudukkan Tiara dan dia duduk disampingnya sambil merangkulnya dari samping.


"Pak, tolong ke Rumah Sakit terdekat ya," ucap Ferdi pada sang sopir.


"Baik, mas," jawab sang sopir lalu dia melajukan mobilnya sesuai permintaan penumpangnya.


***


Jiho memasuki area Hotel Robinson. Dia berlari menuju resepsionis.


"Mba, bisa tolong kasih tahu dimana kamar yang di sewa Pak Endra?" Tanyanya dengan nafas ngos-ngosan.


"Hah, Apa? Tapi mba, istri saya sedang dalam bahaya. Tolong beri tahu saya, di kamar nomor berapa?"


"Sekali lagi maaf mas, kami tidak bisa memberi tahu anda."


"Tolong mba, ini darurat. Istri saya dalam bahaya."


"Maaf mas..."


"Oke kalau gitu." Jiho berlari masuk tak peduli panggilan petugas resepsionis itu.


"Tunggu...! Tunggu, mas!" Teriaknya. "Security...!" Panggil petugas itu. Pak satpam masuk memenuhi panggilan itu. "Tolong tangkap dia pak!" Tukas petugas resepsionis itu.


"Baik, mba" jawab pak satpam. Dua satpam hotel mengejar Jiho, dan menangkapnya.


"Mas, tolong jangan buat keributan disini." Ujar pak satpam sambil memegangi tangan Jiho.


"Saya gak buat keributan, pak. Ada istri saya didalam sana yang berada dalam bahaya. Tolong saya, pak..." Ucap Jiho dengan nada memohon.


"Bapak akan bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu dengan istri saya? Atau kalau terjadi sesuatu dengannya, saya akan menuntut hotel ini!" tukas Jiho lagi. Dia sudah panik luar biasa.

__ADS_1


Salah satu security menelepon seseorang, sepertinya mba-mba yang di resepsionis tadi.


"Baiklah, kami antar kamu. Mereka ada di kamar lantai dua. Tepatnya kami tidak tahu, karena Pak Endra memesan semua kamar di lantai dua." Jelas salah satu pak satpam itu.


"Hah...."


"Sepertinya kita harus menggeledah satu persatu kamar di lantai dua," sahut pak satpam satunya lagi.


Mereka bergegas mencari keberadaan Tiara dan Bos Endra. Akhirnya mereka menemukan salah satu pintu kamar terbuka. Mereka bergegas memasukinya.


Akan tetapi Jiho tak melihat Tiara disana. Hanya ada sisa-sisa kekacauan yang pernah terjadi.


Dia melihat bosnya tergeletak dengan wajah yang lebam-lebam. Tapi rupanya dia sudah mulai tersadar.


Jiho menghampiri pria itu.


"Bos, katakan dimana istriku? Dimana dia?" Sergah Jiho sembari memegangi kerah kemejanya.


Pria itu hanya menyeringai. Amarah Jiho yang sudah ia tahan di ubun-ubun akhirnya meledak juga. Dia meninju wajah bosnya. Dan akan meninjunya lagi, tetapi buru-buru kedua security itu menahan gerakannya lagi.


"Mas, tenanglah." ucap salah satu diantara mereka.


"Jawab Bos, dimana istriku?" Sergah Jiho lagi.


"Aku gak tahu!"


"Kau... Sudah apakan dia? Hah?" Tanya Jiho lagi sangat geram.


Pria itu tersenyum masam. "Istrimu sangat cantik, dia begitu menggoda."


"Apa??" Jiho sangat muak dengan lelaki brengsek itu. "Jawab bos, dimana Tiara?" Tukas Jiho lagi sambil mengguncang-guncangkan tubuh bosnya itu.


"Aku gak tahu! Ada seorang laki-laki datang dan dia menghajarku habis-habisan. Lalu sepertinya Tiara dibawa orang itu. Saat itu aku tidak sadar."


"Haaah? Apaa? Siapa dia? Jawab aku bos!"


Bos Endra malah tertawa kecil. "Aku gak tahu. Sudah kubilang aku tidak tahu!


Jiho melepaskan kerah kemeja bosnya. Dia merasa lemas. Dadanya sakit sekali.


"Hah, sial!! Bisa-bisanya lelaki itu membawa gadisku. Dia mengalahkanku?" Umpat bosnya sambil menyeringai lagi.


"Ternyata sainganmu bukan cuma aku ya, Jiho? Hahaha" tambahnya lagi. Membuat Jiho semakin kesal.


Diapun keluar dari sana dengan tubuh yang lunglai. Kemana dia harus mencari istrinya? Siapa lelaki yang membawanya? Dia tak mengenal siapapun disini! Apakah dia orang yang baik? Atau justru orang yang lebih brengsek dari bosnya itu?

__ADS_1


"Aaarrggghh...!" Teriak Jiho seperti orang gila. Dia sangat frustasi kehilangan istri tercintanya itu.


__ADS_2