
Gadis itu tak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sedari tadi. Tatapan yang penuh obsesi ingin memilikinya.
"Cantik juga dia," gumam Endra berbicara lirih sendiri. "Natural, tanpa polesan apapun terlihat sangat cantik. Hanya gayanya saja yang kampungan. Apalagi kalau dia didandani, pasti sangat cantik kan?" imbuhnya lagi. Dia berencana memilikinya, persetan dengan statusnya yang sudah istri orang. Apalagi karyawannya sendiri.
'Dia pasti memilihku, Aku ini kan Boss!' batinnya meracau sendiri. Pria itu memang angkuh, setiap wanita yang diinginkannya pasti akan didapatkannya dengan mudah. Karena statusnya yang orang kaya, tak sedikit wanita yang jatuh karena bujuk rayunya. Playboy memang.
Endra berjalan menghampiri gadis itu. Tiara yang sedang bekerja membersihkan meja kafe dan membawa gelas berisi sisa minuman, tidak menyadari jikalau dibelakangnya sudah berdiri seorang pria angkuh yang dipanggil dengan sebutan bos. Gadis itu berbalik, tapi tanpa sengaja dia menumpahkan sisa minuman itu di kemeja bosnya.
"Hai nona, kau mengotori kemejaku!" ujarnya berpura-pura marah. Tiara melirik lelaki itu dan langsung menunduk lagi ketika pria yang ada dihadapannya adalah bos yang dicapnya sebagai bos galak.
"Ah, maaf bos. Saya tidak sengaja," ucap Tiara dengan gemetaran. Dia masih menunduk.
"Ayo ikut ke ruanganku!" tukas lelaki itu memberi perintah.
"Ba.. Baik, bos" jawabnya dengan gugup. Dia meletakkan kembali nampan berisi gelas itu di meja dan mengikuti langkah bosnya dari belakang, sambil menunduk.
Jiho memperhatikan mereka dari kejauhan. Kalau saja ini bukan di tempat kerja yang menuntutnya harus profesional, pasti dia akan segera menyelamatkan istrinya itu. Dia tak ingin ada keributan disini dan menjadi tontonan banyak orang. Dia hanya berharap semoga istrinya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik.
***
Di ruangan itu, Tiara masih berdiri gugup. Apalagi sepasang mata elang itu terus saja memperhatikannya dengan sorot mata tajam.
"Buka kemejaku!" perintah bos itu, Dia sudah berdiri dekat di depan karyawatinya itu.
"Hah? maksud bos?" tanya Tiara takut, dia beringsut mundur beberapa langkah menghindari bosnya itu.
Endra mendekatinya lagi, Tiara masih beringsut mundur. Hingga langkahnya terhenti karena tubuhnya sudah mentok di tembok. Sekarang jaraknya dengan bosnya itu hanya dua jengkal.
"Buka kemejaku, nona! Dan bersihkan noda ini!" perintah bos itu lagi.
__ADS_1
"Ma-maaf bos, tapi bos kan bisa melepasnya sendiri.." jawab Tiara masih takut.
"Kau yang menumpahkan minuman itu. Kau yang harus melepasnya. Ayo cepat!" sanggah Endra dengan nada sedikit tinggi. Lelaki itu sungguh mengintimidasinya, membuatnya tak bisa menolak. Ia terpaksa melakukan apa yang disuruh oleh bosnya itu.
"Ba.. ba.. baik, bos" jawabnya gugup. Dia membuka kancing kemeja bosnya dengan tangan gemetaran. Pandangannya sesekali menunduk. Dia takut sekaligus malu, dia tak pernah melakukan ini pada suaminya. Tiara sempat menoleh melihat wajah bosnya yang tersenyum masam. Entahlah kenapa bos yang baru saja dikenalnya bersikap seperti ini?
"Hai nona, kalau diperhatikan sepertinya kita pernah bertemu?" tanya Bosnya sambil terus memperhatikan wanita di hadapannya.
Tiara tak menjawab pertanyaan Bosnya itu. Dia terlalu takut, tangannya gemeteran.
"Ah iya, aku ingat. Kau pernah menabrak ku tempo hari di minimarket. Benar, itu kamu," ungkap bosnya lagi.
Tiara sedikit kaget mendengar ucapan si bos. Tak terasa butir bening yang sedari tadi bertengger di sudut matanya tak bisa tertahan lagi. Dia menangis, seakan ingin marah tapi tak kuasa.
"Kenapa kau menangis nona?" tanya Endra yang tersentuh dengan gadis dihadapannya itu. Dia mengusap bulir bening dipipi gadis itu.
Gadis itu terhenyak dan segera mendorong bos'nya itu. "Maaf bos, jangan sentuh saya!" tukasnya kemudian.
"Maaf bos, kemejanya biar saya cuci dulu. Saya permisi," sambung Tiara yang sedari tadi sudah gemetar ketakutan. Dia keluar dari ruangan itu sambil membawa kemeja bosnya. Dia sudah tak peduli dengan panggilan bosnya itu. Sungguh dia tak nyaman dibuatnya. Jiho yang suaminya saja tak pernah melakukan ini padanya. Dia selalu lembut pada istrinya.
Tiara memasuki ruangan khusus untuk mencuci baju dan mengeringkannya, dia tak menyuruh siapapun, karena pesan bosnya harus dia yang mencucinya.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Jiho menghampirinya karena khawatir. Tiara segera mengelap air mata itu dan menoleh kearahnya.
"Aku baik-baik saja, A..." jawabnya sambil tersenyum tetapi dipaksakan.
"Aku tahu kau tidak baik-baik saja. Biar aku yang mencucinya," sergah A Jiho kembali. Dia mengambil kemeja itu untuk segera dicucinya.
"Jangan A, ini perintah bos. Harus aku yang melakukannya. Kamu jangan khawatir, aku baik-baik saja A. Aa kembali saja sana, nanti malah Aa dihukum juga," sahut Tiara sembari mendorong pelan tubuh suaminya ke pintu.
__ADS_1
"Tapi..."
Tiara menatapnya meminta persetujuan. Akhirnya Jiho mengalah, dia mengangguk dan berlalu pergi.
Tiara mencuci kemeja itu dengan sangat hati-hati. Dia takut bila kesalahan kecil saja bisa menghukumnya kembali.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Kafe mulai tutup dan para karyawan sudah mulai beres-beres untuk pulang. Tak terkecuali Jiho dan Tiara. Mereka melepaskan baju kemejanya. Disana sudah ada petugasnya sendiri yang bertugas khusus untuk mencuci baju karyawan. Tidak akan tertukar, karena di kemeja itu sudah ada identitasnya masing-masing.
"Sayang, ayo kita pulang," ajak Jiho sembari menggandeng tangan istrinya. Tiara mengangguk dan menggamit lengan suaminya. Wajahnya kembali bahagia karena dia sudah bersama suaminya lagi. Disaat yang bersamaan, mereka tak menyadari ada dua pasang mata yang iri dengan kemesraan mereka. Rania dan Bos Endra.
"Tumben, Bos kok belum pulang? Biasanya udah ngacir duluan dari jam sembilan," sapa Rania dengan sumringah yang tak sengaja berpapasan dengan Bosnya di tempat parkir.
"Hahaha... Kamu memperhatikanku juga rupanya," jawab Endra yang membuatnya tersipu.
"Haha, maaf bos. Aku duluan ya!" sahut Rania. Dia berlalu dan melajukan motor maticnya itu.
Sepeninggal Rania, Endra masih termenung sendiri. Dia masih memikirkan Tiara. Entah kenapa dia seperti itu.
"Ini gila, benar-benar gila! Gadis itu menolakku? Dia takut padaku, ya? Segitu menyeramkannya kah aku?"
Sesekali dia melihat ke arah kaca spion, untuk melihat wajahnya.
"Ini baru awal kan? Aku harus bersikap lembut padanya, pasti lama kelamaan dia akan luluh bukan? Dia tak akan takut padaku lagi." ucapnya lagi didalam hati.
Sungguh dia juga tak mengerti kenapa bisa memikirkan gadis kampung itu padahal baru saja ditemuinya hari ini. Gadis itu seperti punya daya tariknya sendiri yang istimewa.
"Sial!" ucapnya sembari memukul setir bulatnya itu. "Kenapa jadi aku yang kepikiran dia terus!" tambahnya lagi.
__ADS_1
Ah padahal biasanya, saat malam dia akan langsung pergi ke bar untuk sekedar minum-minum, kumpul-kumpul dengan teman yang sok jagoan dan ditemani oleh wanita. Tapi kali ini dia tak selera. Sosok Tiara yang baru ditemuinya tadi sore telah mengacaukan kebiasaannya. Dia mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi. Pulang ke rumahnya, hal yang jarang sekali dia lakukan.