ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Tulus


__ADS_3

Mohon maaf untuk selanjutnya akan update setiap hari : Senin, Rabu & Sabtu.


Happy reading all


🍁🍁🍁


Sesampainya di Rumah Sakit, Tiara langsung di bawa ke Ruang Unit Gawat Darurat ( UGD ). Dia diperiksa oleh dokter jaga malam itu. Lalu dibawa ke Ruang perawatan. Ruang Melati 10.


"Istrinya biar dirawat disini dulu ya, Mas... Besok biar di checkup sama dokter spesialisnya," ucap sang perawat pada Ferdi.


"Hah? Ah, oh iya..." jawab Ferdi gugup. Mau jawab bukan istri nanti malah ada banyak pertanyaan lagi.


"Kalau ada apa-apa, langsung kabari kami ya. Insyaallah nanti juga istri mas akan segera sadar."


"Ah iya, terima kasih suster.."


"Kami permisi dulu..." Ucap suster undur diri.


Ferdi memandang gadis itu cukup lama. Dia duduk disampingnya sambil menggenggam tangannya.


"Sudah lama kita gak ketemu, dek... Mas kangen. Kenapa bisa kamu bersama pria brengsek itu? Untung saja aku menemukanmu..." Ferdi menghela nafas panjang.


"Kata bapakmu, kalau cinta sejati... dimanapun dia berada, kita pasti akan menemukannya. Hhhhhh, benarkah kau cinta sejatiku, dek?" Ferdi berbicara lirih.


Matanya sudah tak bisa diajak kompromi lagi, akhirnya diapun tertidur menungguinya.


***


Keesokan harinya


Tiara mulai membukakan matanya. Berat, dia merasa masih pusing. Dia melihat seseorang tertidur sambil memegangi tangannya.


"Apa ini di rumah sakit?" tanyanya lirih sembari melihat sekeliling. Dan melihat tangan kirinya dipasangi selang infus.


Rupanya gerakan pelannya membangunkan orang itu. Mas Ferdi?


Ferdi terbangun dari tidurnya dan mendapati Tiara sudah tersadar.


"Dek, kamu sudah sadar?" tanyanya sambil tersenyum.


Tiara mengangguk lemah.


"Mas... Kenapa bisa ada disini?"


"Tenang ya, mas panggilkan dokter dulu." Jawab Ferdi, dia memencet bel khusus di samping bed pasien.


Tak lama seorang perawat menemui mereka.


"Oh, si mba'nya sudah sadar... Tunggu sebentar ya, saya panggilkan dokter dulu." ucap perawat itu dengan ramah.


Perawat itu kembali bersama seorang dokter. Mereka tersenyum. Bu dokter memeriksa Tiara dengan teliti.


"Mas, ikut saya sebentar ya..." Ucap dokter itu. Mereka berdiri menjauh dari tempat Tiara berbaring.


"Begini mas, istri anda mengalami trauma yang hebat. Kondisinya sangat terguncang, dan itu sangat mempengaruhi kondisi janinnya." Ucap dokter dengan suara pelan.


"Maksud dokter, dia hamil?"


"Oh jadi anda belum tahu?"


Ferdi menggeleng pelan. Dokter itu kembali tersenyum.


"Emmhh, selamat ya mas, istri anda hamil. Usia kandungannya baru lima minggu. Kandungannya cukup lemah, trimester pertama harus dijaga baik-baik, karena sangat rawan keguguran. Anda sebagai suami harus perhatian, jaga psikisnya dan asupan makanannya harus bergizi. Dia juga tidak boleh kelelahan."


"Baik, dokter."


"Untuk saat ini, saya sudah berikan dia obat penguat kandungan. Jadi insyaallah tidak apa-apa, dia akan segera pulih kembali."

__ADS_1


"Baik, dok. Terima kasih"


"Biasanya untuk trimester pertama, wanita hamil akan mengalami morning sickness. Dia akan mengalami mual, muntah, pusing atau gejala yang lainnya itu adalah hal yang wajar. Yang penting harus ada asupan makanan yang masuk dan tidak boleh stress."


"Baik, dokter."


"Jaga baik-baik kehamilan istri anda. Ini pasti anak pertama kalian kan?"


"Ah.. oh.. i-iya..."


"Ya sudah. Kami permisi dulu..."


Mereka berlalu meninggalkan Ferdi dan Tiara berdua lagi.


Ferdi menghampiri Tiara dan tersenyum lagi.


"Dokter bilang apa, mas?" Tanya Tiara dia masih terlihat lemah.


"Oh itu, kau harus banyak istirahat. Tidak boleh stress,"


Tiara mengangguk lagi.


"Mas..."


"Ya...?"


"Aku ingin bertemu A Jiho,"


"Ya, kita akan menemuinya nanti, setelah kau sembuh."


"Dia pasti mencariku kemana-mana."


"Iya dek, mas tahu. Tenanglah dulu, kau harus sembuh. Terus kita temui suamimu. Oke?"


Tiara mengangguk lemah.


Pintu di ketuk, seseorang masuk dan membawakan makanan.


"Silahkan..." ucapnya sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih Bu," balas Ferdi.


"Makan dulu ya, dek..." ucap Ferdi. Dia mengambil makanan itu dan mulai menyuapkannya pada Tiara.


Tiara terdiam. Tak terasa butiran bening menetes di wajahnya. Ferdi menghapus air mata itu dengan lembut.


"Kenapa nangis? Ayo makan dulu..." ucap Ferdi lagi.


"Mas, kenapa kau masih baik padaku?"


Ferdi tersenyum. "Mas akan selalu baik padamu, dek. Tolong, kamu jangan banyak pikiran ya. Cepat sehat. Ayo ini dimakan dulu..." ujar Ferdi lagi sambil menyuapinya makan.


Tak sampai habis, tiba-tiba perut Tiara merasa mual yang sangat hebat.


"Mas, perutku mual banget. Rasanya pengin muntah," ucap Tiara sambil berusaha turun. Ferdi memapahnya dengan hati-hati.


Tiara memuntahkan semuanya di wastafel. Perutnya sudah sedikit lega sekarang. Ferdi kembali memapah Tiara ke pembaringannya.


'Ah, kenapa Mas Ferdi tidak merasa jijik padaku? Dan kenapa perhatiannya sama seperti suamiku sendiri?'


"Perutmu sudah enakan?" Tanya Ferdi lagi penuh perhatian.


Tiara mengangguk. "Mas, terima kasih..." ucap Tiara kemudian.


"Santai aja dek, waktu di kampung juga aku sering ngerepotin orang tuamu." Jawab Ferdi sambil tersenyum. "Apakah kamu mau sesuatu?" tanya Ferdi lagi.


Tiara menggeleng. Dia mulai memejamkan matanya dan tertidur pulas.

__ADS_1


Ferdi tersenyum kembali memandang wajah Tiara. Biarpun terlihat sedikit pucat, tapi dia terlihat cantik natural.


'Andai kau istriku, dek. Aku pasti akan selalu menjagamu.' ucapnya dalam hati.


***


Dua hari berlalu, Tiara sudah menjadi lebih baik. Meskipun dia masih merasa trauma ketika mengingat kejadian buruk bersama bosnya.


Ferdi merawat Tiara dengan baik. Dia seperti suaminya sendiri, penuh perhatian. Diapun selalu setia menunggunya. Ferdi sudah melunasi semua pembayaran rumah sakit. Dan Tiara sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Kita bisa pulang sekarang," ucap Ferdi pada Tiara.


Tiara tersenyum manja. Rona wajahnya sudah lebih ceria, tidak muram seperti kemarin-kemarin.


"Kita pulang ke tempat mas dulu, ya..." Ajak Ferdi.


Ya, saat Tiara dirawat Ferdi sibuk mencari rumah untuk disewanya.


***


Sesampainya di rumah itu... Rumah yang asri penuh dengan bunga di halaman.


"Ayo, dek..." Ferdi menggandeng tangan Tiara.


"Dek, kamu istirahat dulu disini ya," ucap Ferdi lagi. Tiara memandangnya curiga dan seakan penuh tanya.


"Kenapa? Kamu tenanglah, dek. Aku takkan menyakitimu," sambungnya lagi. "Oh iya, kamu tunggu disini sebentar ya, mas akan cari makanan," imbuh Ferdi lagi.


Sebelum Ferdi pergi, Tiara menarik tangannya.


"Mas, aku ingin ke rumah suamiku." ucap Tiara dengan nada sedih.


Ferdi terdiam cukup lama. Pandangannya nanar. Antara sedih dan kecewa. Sedih karena melihatnya begitu tersiksa dengan kondisinya saat ini. Dan kecewa karena dia harus merelakannya pergi. Apalagi dia ingat pesan dokter kemarin, dia tak mungkin berlama-lama menjauhkannya dari suaminya itu. Meskipun banyak pertanyaan yang belum dia lontarkan. Tapi dia tak rela membuatnya menangis lagi. Ferdi menghela nafasnya.


"Kamu sudah siap pulang, dek?" tanyanya kemudian.


Tiara mengangguk.


"Ya, baiklah. Mas akan antar kamu pulang, tapi makan dulu ya..."


Tiara mengangguk lagi. Ferdi berlalu membelikan makanan untuknya.


***


**Curahan hati Ferdi


Sayangku, janganlah engkau menangis, berbahagialah... Jangan ada duka yang menyelimutimu. Aku berharap kau selalu dalam keadaan bahagia, meski dari jauh aku tak bisa membahagiakanmu dan membuatmu tertawa. Dan apabila cinta ini tidak bisa membuat kamu kembali, maka aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk mempertemukanku denganmu di kehidupan selanjutnya.


Engkaulah satu-satunya pemiliki hatiku yang kesepian ini. Kita pernah bersama dan melahirkan sebuah kenangan, meski kini tak bisa bersama lagi. Walaupun saat ini sangat sulit untuk melupakanmu, tapi aku akan berusaha ikhlas merelakanmu bahagia.


Bukankah cinta sejati adalah kerelaan hati untuk membuat orang yang kita cintai bahagia, meskipun hati ini patah**?


***


Ada yang kangen sama mas Ferdi?


Nih author kasih gambarnya ya, buat pengobat rindu hehehe



Pertanyaan : "Jiho mana, Thor?"


Jawaban : "Gak ada, author lagi pelit 🤣🤣"


pertanyaan : 😡😡😡😈😈


Jawaban : *kabooooorr*

__ADS_1


__ADS_2