
Jiho pulang dengan hati berdebar-debar. Rasanya sudah gak sabar melihatnya senang.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Tiara membukakan pintu. Dia tersenyum dan langsung memeluknya. Ada apa ini anak?
"Sayang, badan Aa kotor. Jangan peluk, Aa mandi dulu ya..." ucap Jiho kemudian. Dia merenggangkan pelukannya.
"Kamu juga siap-siap ya...."
"Emang mau kemana, A?"
"Hari ini spesial, kita jalan-jalan yuuuk..."
"Aa gak ngojek?"
"Enggak, hari ini khusus ngojek buat kamu..."
"Bener?"
"Iya sayang. Ya udah sana siap-siap dulu. Dandan yang cantik ya..." sergah Jiho dengan nada merayu.
Tiara tersenyum, maniiis sekali. Duh, bikin hati Jiho tambah berdebar-debar saja.
"Emang mau pergi kemana kita, A?" tanyanya lagi setelah Jiho selesai mandi.
Rupanya dia sudah siap. Biarpun sederhana, dia terlihat sangat cantik di mata suaminya.
'Ah, istrikuuu... kamu cantik sekali.' Puji Jiho dalam hatinya.
"Biar kamu gak jenuh di rumah saja, kita keliling kota. Mau?"
"Mau"
"Lumayan ada waktu sampai jam 6 sore, malamnya Aa berangkat lagi ke kafe. Gak apa-apa kan?"
"Iya, gak apa-apa A..."
Dia tersenyum lagi. Jihopun tersenyum melihatnya. Tiba-tiba ponselnya berdering...
Trililiiit... Trililiiit... Trililiiit...
Dia mengambil ponsel itu, lantas memandang suaminya itu. Seakan ingin sekali berucap tapi tak bisa.
"Siapa yang nelpon?" tanya Jiho ingin tahu.
"Mas Ferdi," jawabnya hati-hati.
"Diangkat saja, tapi di loadspeaker ya. Aa juga mau dengar..."
Dia mengangguk.
[Halo Assalamualaikum...]
[Waalaikum salam. Gimana kabarnya, dek?]
[Alhamdulillah sehat, Mas.]
[Oh iya, ini katanya mau ngobrol sama Ibu. Ini Mas, udah di rumah Ibu.]
[Ah, Iya mas...]
[Assalamualaikum, Nak...]
[Waalaikum salam, Bu... Ibu sama Bapak sehat?]
[Alhamdulillah Nak, kamu gimana?]
[Sehat Bu. Ibu sama Bapak gak usah khawatir, disini aku baik-baik saja, Bu...]
[Alhamdulillah, senang Ibu dengarnya nak... Yang kerasan disana ya nak... Kalau ada apa-apa kabari Ibu ya.]
[Iya, Bu...Ibu sama Bapak juga harus jaga kesehatan ya, gak boleh capek-capek.]
[Iya, nak. Suamimu sudah pulang kerja nak?]
__ADS_1
[Ah iya, sudah Bu. Ini ada disamping Tiara. Ibu mau ngobrol?]
[Iya, boleh nak]
Tiara memberikan ponselnya pada Jiho.
"Ibu mau ngobrol," ucapnya lirih.
Jiho mengangguk dan menerima panggilan telepon itu.
[Halo, Bu]
[Iya nak. Kamu sehat, nak?]
[Alhamdulillah, iya Bu. Kami sehat, ibu sama bapak gimana?]
[Kami juga baik-baik saja, nak. Gimana kerjaan kamu, lancar?]
[Alhamdulillah lancar, Bu. Ini juga berkat doa ibu]
[Alhamdulillah. Kami titip Tiara ya nak, jaga dia baik-baik]
[Iya, pasti Bu. Aku akan selalu menjaganya]
[Terima kasih, nak. Semoga kalian cepat dikasih momongan ya, nak. Ibu udah gak sabar pengin nimang cucu]
Jiho menoleh ke arah Tiara yang wajahnya berubah merona merah. Jiho tersenyum lagi.
[Iya Bu. Do'akan saja ya, Bu. Oh iya, ini sama Tiara lagi ya, Bu]
[Baik, nak]
Jiho mengembalikan ponsel itu ke Tiara. Tiara menyambutnya dengan senyum yang manis.
[Halo, Bu]
[Iya, nak. Tiara, layani suamimu dengan baik, kamu jangan manja seperti anak kecil lagi]
[Iya, Bu]
[Iya, Bu. Terima kasih do'anya. Sudah dulu ya... Kami mau jalan]
[Oh, iya nak... hati-hati ya sayang. Assalamualaikum]
[Waalaikum salam...]
Tiara menutup teleponnya lalu tersenyum. Jihopun tersenyum menanggapinya. Dia pasti kangen sama orang tuanya.
"Kamu senang habis ngobrol sama ibu?" tanya Jiho.
"Iya, A. Rasa kangenku sedikit terobati." Jawab Tiara sembari bergelayut manja di lengan suaminya.
"Aa gak cemburu?" tanya Tiara kembali.
"Cemburu apa?"
"Mas Ferdi sering telepon aku,"
"Cemburu dikit, hehe..." jawab Jiho sambil mencubit Hidung Tiara.
"Uuuh... " Tiara memanyunkan bibirnya.
"Yang penting kamu bisa jaga hatimu untuk Aa. Aa percaya sama kamu. I Love You..." Bisik Jiho setengah menggoda.
Tiara tersipu malu, wajahnya merona merah membuat Jiho semakin gemas padanya.
"Ayo naik..." ucap Jiho kemudian.
Tiara mengangguk. Gadis itupun menaiki boncengan motornya.
"Pegangan yang erat ya, peluk Aa" lanjut Jiho lagi masih sambil menggodanya.
'Eh tapi dia benar-benar memelukku! Padahal aku cuma bercanda. Membuat jantungku dag dig dug tak menentu saja!' ucap Jiho kembali dalam hatinya.
Mereka berkeliling kota cukup lama diatas motor. Jiho menghentikan motornya di depan pusat perbelanjaan.
"Mau mampir kesini?" tanya Jiho. Mereka masih duduk diatas motor.
__ADS_1
"Gak mau, A. Cari taman atau tempat yang indah aja. Aku gak mau kesini. Terlalu rame, banyak orang. Aku gak suka..." jawab Tiara dengan polosnya.
"Baiklah nona, sesuai permintaanmu. Kita meluncur ke taman kota," sahut Jiho sambil bercanda.
Tiara mencubit pinggang Jiho yang membuatnya sedikit berjingkut. Jiho terkekeh.
Hari sudah sore, tujuan akhir mereka menuju taman kota. Jiho memarkirkan motornya di tempat yang sudah dia sediakan. Jiho dan Tiara duduk di bangku taman.
"Kita duduk disitu dulu ya," ajak Jiho sambil menggandeng tangan istrinya.
"Sayang, kamu tunggu disini dulu ya. Aa mau beli minuman sama cemilan," ujar Jiho kepada istrinya. Tiara sudah duduk di bangku itu.
"Iya, A. Jangan lama-lama ya..." sahut Tiara dengan nada manja.
"Iya sayang..." jawab Jiho lagi sembari mengacak-acak rambut Tiara.
Jiho menghampiri pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan Taman Kota. Dia membeli dua pieces es coklat dan dua pieces kue sus, ada aneka gorengan juga. Setelah selesai pesanannya, Jiho segera berlari-lari kecil menuju tempat istrinya duduk. Sepertinya Tiara sudah cukup lama menunggu.
"Sayang, ini dimakan dulu," tawar lelaki itu seraya memberikan cemilan yang dibelinya tadi. Tiara mengangguk sambil tersenyum.
Tiara meminum es coklat itu. Rasa dahaganya sedikit terobati.
"Ini, A..." ucap Tiara memberikan suapan kue ke mulut suaminya.
Dengan senang hati Jiho menerima suapan itu. Dia tersenyum bahagia.
"Duuh romantisnya istriku..." ledek Jiho. Tiara hanya memanyunkan bibirnya. Dia tersipu malu.
"Gimana seru gak?" tanya Jiho kemudian.
"Seru, A."
"Capek gak?"
"Sedikit, hehehe..."
"Senang gak diajak keliling begini?"
"Seneng banget, A..."
"Besok mau jalan-jalan lagi?"
"Haah..?"
"Kalau tiap hari jalan-jalan gimana?"
"Jangan, A. Capek atuh kalau tiap hari jalan-jalan mah..."
"Oooh... ya sudah, kita jalan-jalan seminggu sekali saja ya?"
"Iya, mau A."
"Aa senang lihatnya. Kalau kamu ceria gini. Jadi gak bosan kan di rumah?"
"Iya A..."
"Hmmm..."
"Makasih ya A, udah ajak aku jalan-jalan..."
"Iya sayang... Udah sore nih, kita pulang yuk?"
"Jam berapa A?"
"Udah jam lima lewat dua belas menit."
"Ya udah, ayo pulang..."
"Mau mampir makan dulu gak?"
"Tapi aku udah masak, nanti siapa yang makan?"
"Oh ya sudah, kita makan di rumah saja... makan masakanmu."
Dia mengangguk dan tersenyum lagi.
'Kan... kan... Duuuh tolong kondisikan hatiku!' batin Jiho berteriak.
__ADS_1