ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Pusing


__ADS_3

Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu. Dia sudah baikan, tubuhnya sudah sehat kembali. Ferdi mulai mengemasi baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam tas ransel.


"Lho, mau kemana nak?" Tanya Bu Ningsih.


"Bu, saya mau pamit pulang," jawab Ferdi.


"Pulang kemana? Kampung halamanmu?" Tanya ibu kembali.


"Iya, Bu. Saya malu disini atas kejadian tempo hari. Gara-gara saya bapak sama ibu jadi gunjingan warga sekampung."


"Tidak apa-apa nak... Kenapa harus dengarkan omongan orang?"


"Saya merasa gak enak hati," jawab Ferdi lagi.


"Lho, lho... Mau kemana kamu, nak?" tanya pak Toha, dia baru pulang dari ladang.


"Ini lho pak, katanya nak Ferdi mau pulang kampung," jawab ibu menimpali.


"Kenapa?"


"Iya, pak. Biar saya mencari pekerjaan yang lain saja. Saya malu disini pak, orang-orang menganggapku bukan orang baik-baik. Justru bapak sama ibu juga jadi bahan gunjingan mereka," sahut Ferdi.


"Tidak usah dengarkan omongan orang, nak. Kalau kamu masih betah tinggal disini, tinggallah. Mereka akan capek sendiri."


"Tidak pak, situasinya sudah tidak kondusif. Biarpun saya tetap disini, pasti keadaannya tidak seperti dulu lagi."


"Ya sudah, rencananya kamu mau kemana nak?"


"Mungkin saya pulang dulu, pak. Lalu pergi ke kota untuk melamar pekerjaan yang lain..."


"Tujuan yang bagus. Kondisimu sudah baikan?"


"Iya pak, aku jadi lebih baik berkat bapak..."


Pak Toha manggut-manggut sambil mengisik bahu pemuda itu.


"Terima kasih banyak ya, pak. Sudah menerimaku disini, terlebih bapak sama ibu sudah merawatku seperti anak sendiri," ucap Ferdi lagi. Dia merasa terharu.


"Iya nak, jaga dirimu baik-baik ya. Jangan melakukan hal yang tidak berguna lagi. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Sekarang saatnya kamu menatap masa depan yang lebih cerah,"


"Terima kasih banyak, pak..." Sahut Ferdi lagi, dia memeluk lelaki tua itu dan menyalami ibu Ningsih.


"Saya juga minta doa dan restu bapak sama ibu, terima kasih untuk semuanya," lanjutnya.


"Iya nak, semoga kamu jadi orang yang sukses ya, nak..."


"Aamiin... Makasih, Bu. Oh iya, Pak, Bu, ini nomor telepon saya, kalau ada apa-apa kalian bisa menghubungi saya di nomor ini," ucap Ferdi seraya memberikan kertas bertuliskan nomor teleponnya.


Ferdi melangkahkan kakinya meninggalkan desa yang penuh kenangan itu. Dia berjalan kaki sendirian ke kota kecamatan. Dia jadi teringat kembali masa-masa bersama Tiara.


"Dek, maafkan aku. Aku pasti akan menemukanmu. Kalau kau bahagia bersama Jiho, aku akan menyerah. Izinkan aku melihatmu sekali lagi," Ferdi berucap pada dirinya sendiri.


Dia menaiki bus yang menuju ke Kota T. Entahlah sesampainya disana, dia belum tahu mau kemana. Dia hanya bertekad yang penting dia sampai dulu di kota itu. Kota tujuannya. Kota dimana pujaan hatinya tinggal. Dia ingin sekali melihat Tiara.


Rasa rindunya begitu membuncah.

__ADS_1


***


Jam tiga sore


Tok... Tok... Tok... Suara pintu di ketuk.


"Assalamualaikum..." Sapa suara dari luar.


"Waalaikum salam..." jawab Tiara. Dia sudah hafal dengan suara suaminya.


Tiara segera membukakan pintu, suaminya tersenyum. Dia baru pulang kerja dari bengkel.


"Aa hari ini ngojek ga?" tanya Tiara.


"Hmm, sepertinya iya. Emangnya kenapa, sayang?"


"Jangan ngojek dulu, A. Kepalaku pusing banget. Aa bisa nemenin aku dulu?"


Jiho menempelkan tangan di dahi istrinya. Tapi sepertinya istrinya baik-baik saja. Mungkin dia hanya kelelahan saja.


"Iya sayang... Aa akan nemenin kamu. Kamu jangan kerja dulu, ya... Istirahat saja di rumah. Kamu pasti kecapekan..."


Tiara hanya mengangguk. Hari ini dia merasa malas sekali. Dia kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dia lebih nyaman jika ditemani oleh sang suami.


"Maafkan aku, A. Aku belum sempat beres-beres rumah," ucap Tiara dengan nada pelan.


"Iya sayang, gak apa-apa. Kamu istirahat saja ya, biar nanti Aa yang bereskan," jawab Jiho.


"Makasih ya A,"


"Tidak perlu, A. Aku cuma ingin tiduran..."


"Ya sudah, istirahatlah..."


Tiara memejamkan matanya. Jiho merasa kasihan pada istrinya itu. Dia membelai rambutnya dan mengecup keningnya dengan perasaan sayang yang begitu besar.


Jiho membersihkan rumah dan membereskan semuanya dengan cekatan. Dia juga memasak untuk makan malam bersama istrinya.


'Ah kasihan juga Tiara, dia pasti kelelahan. Akhir-akhir ini dia juga sering murung? Apa dia kangen sama orang tuanya?' batin Jiho bertanya-tanya.


Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, tapi Tiara belum juga terbangun. Jiho membangunkan istrinya dengan lembut.


"Sayang... Bangun... Udah sore..." ucap Jiho sembari menciumi pipinya.


"Sayang... Bangun... Mandi dulu..." ucap Jiho lagi dengan nada lembut.


Tiara membukakan matanya perlahan. Pandangannya menyipit. Entah kenapa dia masih merasa pusing.


"Gimana? Apa masih pusing?" tanya Jiho kembali. Tiara hanya mengangguk. "Kita ke dokter saja ya?" ajak Jiho kembali.


Tiara kembali menggeleng. "Gak usah A, nanti juga sembuh sendiri," jawabnya kemudian.


"Ya sudah, kalau besok masih pusing, kita ke dokter ya."


"Iya A..."

__ADS_1


Tiara merangkul suaminya dengan manja.


"Mandi dulu ya sayang, biar gak kusut gitu... Nanti kita makan sama-sama. Aa udah masak buat kamu. Aa juga udah masakin air hangat buat kamu mandi..."


Tiara kembali tersenyum. Dia malah merangkul suaminya dengan erat.


"Ah, istriku lagi pengin manja-manja nih...? Mau lagi?" ledek Jiho, dia mengedi-ngedipkan matanya genit.


"Hah...? Apaan?"


"Ini, kapan Jiho kecil tumbuh?" sahut Jiho kembali sambil memegangi perut istrinya itu.


Tiara tertawa kecil. Entah kenapa dia merasa lebih baik setelah bercengkrama dengan suaminya.


Setelah selesai mandi, mereka makan bersama-sama. Ah bukan, lebih tepatnya Jiho menyuapi istrinya yang manja itu.


"Sayang, apa kau bahagia bersama Aa?" tanya Jiho


"Ya, tentu saja... Emangnya kenapa, A?" jawab Tiara balik bertanya.


"Hmm... Gak apa-apa. Cuma beberapa hari ini kamu kelihatan murung, apa ada yang mengganjal hatimu?"


Deg! Dia sengaja menyimpannya sendiri. Ya, Tiara tidak menceritakan kejadian itu pada Jiho. Kejadian tempo hari bersama bosnya, dia tak ingin sang suami mengkhawatirkannya. Jadi lebih baik dia menyimpannya sendiri. Tetapi justru berpengaruh pada kesehatannya.


Tiara menggeleng perlahan. "Aku baik-baik saja, A..."


"Kamu gak apa-apa kan, Aa tinggal kerja dulu?" tanya Jiho.


"Iya, A... Aku udah lebih baik sekarang."


"Ya sudah. Sayang, Aa berangkat kerja dulu ya... Kamu hati-hati di rumah," pamit Jiho pada istrinya.


"Iya, A..."


"Kunci pintunya ya sayang..." lanjutnya lagi.


Tiara mengangguk dan mencium punggung tangan suaminya. Sama seperti biasa.


Jiho mengendarai motornya menuju kafe. Kali ini dia sendirian. Ia merasa ada yang kurang, biasanya ada yang memeluknya di belakang.


'Ah, baru juga ditinggal sebentar sudah kangen aja...' Jiho tersenyum sendiri.


Sesampainya di kafe...


"Lho Jiho, kamu sendirian? Mana istrimu?" tanya Rania setelah tahu kedatangan Jiho.


"Dia gak berangkat hari ini," jawab Jiho.


"Kenapa?" Tanya seseorang menimbrung obrolan mereka.


Mereka menoleh, ternyata si bos sudah berdiri disana dengan sedikit angkuh.


"Ah, iya bos... Saya minta maaf, istri saya tidak bisa berangkat hari ini, dia sakit bos..." sahut Jiho.


"Oo..." Mulutnya membulat. Bos Endra menghela nafas panjang, lalu berlalu menuju ke ruangannya.

__ADS_1


Dia masih berpikir dengan keras. 'Apakah gadis itu takut padaku? Ah, harusnya aku bersikap lebih lembut, tapi tubuhku tak bisa mengontrolnya. Sudah terlanjur begini, mau bagaimana lagi? Aaarrggghh...!'


__ADS_2