ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Bersitegang


__ADS_3

Endra sedang berdiskusi dengan para tenaga medis, bahwa dia ingin memindahkan Tiara ke rumahnya.


"Pak, kami tidak bisa menjamin keselamatannya kalau bapak tetap ingin memindahkan perawatan pasien di rumah."


"Tidak apa-apa sus, saya sudah mempersiapkan semuanya, dokter pribadi keluarga saya juga sudah setuju."


"Kami tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi setelahnya. Untuk itu jangan tuntut kami kalau terjadi sesuatu dengan pasien..."


"Ya, baiklah."


***


"Mas, gawat mas..."


"Kenapa, paman?"


"Orang itu akan memindahkan istri mas..."


"Maksudnya?"


"Dia akan membawa istri mas pulang, dan dirawat di rumah."


"Apaa...?"


Jiho merasa geram dengannya. Dia turun lagi dari pembaringannya. Dan melepas paksa jarum infus yang terpasang di tangannya.


"Mas, jangan. Nanti kondisimu drop lagi."


"Tidak paman, aku harus menyelamatkan istriku."


Jiho berlari meskipun dengan gontai. Dia mendorong mantan bosnya hingga terjerembab, membuat para suster berteriak.


Endra menoleh dan bangkit. "Kau? Kenapa kau ada disini?" tanyanya heran. Dia terkejut melihat keberadaan Jiho.


"Aku akan datang dimanapun istriku berada!" jawab Jiho.


Endra hanya tersenyum masam. Tiba-tiba dua orang security datang dan menangkap Jiho.


"Itu pak, sepertinya mas-mas itu sudah gila! Tangkap dia, agar tidak menggangu orang lain!" seru salah seorang perawat.


"Tidak! Aku tidak gila. Tolong lepaskan aku!" Jiho memberontak. "Orang itu yang sudah menculik istriku. Tolong lepaskan aku! Aku harus menyelamatkan istriku!" seru Jiho lagi.


Para suster saling berpandangan.


"Apakah penampilanku terlihat seperti seorang penculik?" tanya Endra untuk meyakinkan mereka.


"Pak, bawa dia ke ruang isolasi. Kita tunggu dokter yang menanganinya datang untuk memeriksanya lebih lanjut. Sepertinya dia memang mengalami gangguan jiwa," tukas salah seorang suster lagi


Jiho menggeleng perlahan. Sedangkan Endra tersenyum kecut penuh kemenangan. Jiho merasa hancur, Tiara sudah ada didepan matanya, tapi tetap saja dia belum bisa menjangkaunya. Dia malah disangka orang gila? Kenapa tidak ada yang percaya padanya bahwa dialah suami sahnya? Dunia memang tidak adil, benarkan?


"Aku ingin memindahkan istriku sekarang juga. Disini sangat berbahaya untuk istriku. Kalian bagaimana sih? Keamanan disini bagaimana? Bisa-bisanya ada orang gila disini!"


"Maafkan kami, pak. Kami tidak tahu hal ini akan terjadi."


"Ya sudah, tolong urus-urus berkasnya dengan cepat. Aku akan membawa istriku pulang."


"Baik, pak."

__ADS_1


Jiho dibawa ke ruang isolasi dan dikunci dari luar. Sedangkan paman Har dia berusaha menelepon Ferdi. Dia menceritakan semua yang terjadi.


***


"Dasar gegabah!" gerutu Ferdi sambil mengepalkan tangannya.


"Ada apa?" tanya Rania.


"Jiho dibawa ke ruang isolasi, disangkanya dia orang gila."


"Lho, kok bisa?"


"Ya, dia mendorong Endra sampai terjatuh. Suster mengira dia sudah gila. Mereka gak percaya pengakuan Jiho kalau Tiara adalah istrinya."


"Ya dia begitu karena dia panik."


"Hmmm, Endra akan memindahkan Tiara dari Rumah Sakit itu."


"Kemana?"


"Gak tahu. Kita harus cepat sebelum dia pergi. Paman Helmi, bisakah kau lebih cepat lagi?" tukas Ferdi


"Baik, mas..."


Mobil itu melaju dengan sangat kencang.


Sesampainya di Rumah Sakit...


Dipelataran rumah sakit, Ferdi melihat pria itu lagi, pria yang pernah melecehkan Tiara.


Duuugg...!!


"Kau...." ucapnya seakan tak percaya.


"Ya! Ini aku! Kenapa, hah?"


"Siapa kau sebenarnya?"


"Mana adikku, hah? Mana Tiara?"


Endra hanya tersenyum masam.


Ferdi akan melayangkan pukulan lagi, tapi dengan cepat para security itu menahannya. Dengan sigap pula paman Helmi dan Paman Har menahan tubuh Endra agar tidak kabur.


"Jangan bikin keributan disini, ini rumah sakit, bukan tempat berkelahi! Ayo ikut kami ke kantor!" sergah salah seorang satpam.


Mereka semua dibawa ke kantor security.


"Jelaskan ada apa ini?" tanya seorang security


"Dia ini penculik pak!" ucap Ferdi.


"Tidak pak, itu bohong!"


"Dia menculik adikku, pak!" ucap Ferdi berbohong.


"Adik? Ada buktinya?" tanya security itu penuh selidik

__ADS_1


"Aku memang tidak bawa KK'nya, tapi aku bisa membuktikan kalau adikku itu sudah menikah."


"Menikah?" tanya security itu bertambah heran. Dia memandang mereka secara bergantian, mencari kebenaran dari sorot matanya.


"Itu tidak benar pak, dia istriku!" tukas Endra tak mau kalah.


"Aku tak tahu ini mana yang benar! Kalau salah satu diantara kalian bisa membuktikan kalau ucapan kalian benar, maka kami akan melepaskan salah satu diantara kalian, kalau tidak, kami akan memprosesnya di kantor polisi."


"Tunggu sebentar," ucap Ferdi, dia merogoh sesuatu dari tas kecilnya. Untung saja sebelum berangkat, dia sempat meminta surat nikah Jiho untuk jaga-jaga.


Ferdi memberikan surat nikah itu, membuat kedua security itu memandang Endra dengan sorot mata tajam.


"Aku juga punya bukti lainnya," ucap Ferdi lagi. "Ran, tolong kau ambilkan kotak merah di dalam mobil," pinta Ferdi pada Rania.


"Ah, iya..." jawab Rania sembari berlalu. Diapun kembali lagi dengan sebuah kotak berwarna merah itu.


Gadis itu memberikannya pada pak security. Mereka memeriksanya.


"Ini apa?"


"Itu semua ancaman dan teror yang dilakukan oleh dia pada Tiara, pak! Sebelum akhirnya Tiara diculik," jelas Ferdi.


"Aku tidak menyangka, penampilanmu yang begitu sempurna ternyata seorang penculik? Kau terobsesi pada istri orang? Ternyata kau yang sudah gila!" cerca security itu pada Endra.


Lagi-lagi Endra hanya tersenyum kecut. Usahanya untuk memiliki Tiara kini gagal lagi.


"Kami ingin ini semua diproses, pak," sahut Ferdi.


"Iya, kami sedang menghubungi kepolisian terdekat."


"Kalian tetap disini dulu, tidak ada yang boleh pergi sebelum polisi datang!" tukas security yang bernama Anton itu.


Cukup lama menunggu, mobil polisi datang. Setelah bercakap-cakap, akhirnya Endra dibawa ke kantor polisi. Tidak ada perlawanan yang berarti dari Endra. Tapi Ferdi yakin pasti laki-laki itu akan segera bebas lagi, karena dia punya banyak uang. Tapi setidaknya, Tiara sudah berhasil ditemukan.


Mereka menuju ke ruang perawatan.


"Pak, tolong bebaskan temanku juga pak. Katanya dia dikurung di ruang isolasi..." pinta Ferdi.


"Oh, iya. Ternyata dia suaminya yang asli ya? Awalnya memang kami tidak percaya, dia bikin keributan tadi," jawab security itu.


"Iya, saya tahu pak."


Ferdi disambut oleh suster dan mengantarkannya ke ruang perawatan Tiara, mereka sudah tahu kejadian yang sebenarnya setelah diceritakan oleh pak security. Sedangkan Rania, dia ikut pak security lain di ruang isolasi.


Ferdi memasuki ruang perawatan itu. Hatinya teriris perih melihat keadaannya yang tak berdaya. Apalagi mendengar kalau ternyata Tiara mengalami keguguran dan koma. Tak terasa bulir-bulir bening itu menetes dari sudut matanya.


Ferdi menggenggam tangan Tiara dengan lembut. "Dek, bangunlah... Kau sudah aman sekarang..." ucapnya dengan lirih. Tiara tetap diam, tak ada respon apapun darinya. Rasanya campur aduk melihatnya begini. Marah, sedih, kecewa, kenapa semua terjadi secara bersamaan.


Jiho dan Rania memasuki ruang perawatan itu.


"Terima kasih, kau sudah datang tepat waktu dan menyelamatkannya lagi..." ucap Jiho.


Ferdi tersenyum, dia beranjak dari duduknya. Dia memberikan kesempatan untuk Jiho berada di samping istrinya.


"Ayo Ran, kita keluar dulu. Biarkan Jiho disini..." ucap Ferdi. Rania mengangguk. Mereka meninggalkan Jiho berdua dengan Tiara.


Jiho mendekati istrinya dan membelai rambutnya dengan lembut.

__ADS_1



"Sayang, ini Aa.... Sadarlah..." bisik Jiho di telinganya. Pipinya sudah basah oleh air mata. Lelaki itu menangis, dia sangat terpukul melihat keadaan istrinya begini.


__ADS_2