ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Jadi Idola Baru


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Tiara sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.


Dia memasak sarapan untuk suaminya.


"Lagi masak apa, sayang? Kamu dah baikan?" tanya Jiho sambil memeluknya dari belakang.


"Hmmm, aku gak mungkin tiduran terus kan, A? Aku juga ingin beraktivitas lagi seperti biasa," jawab Tiara sembari tersenyum.


Tok... Tok... Tok...


Terdengar suara pintu diketuk.


"Biar Aa saja yang buka pintunya," sahut Jiho.


Dia berlalu ke depan dan membuka pintu.


"Oh, Fer, ayo masuk..."


Ferdi masuk dan duduk tanpa dipersilahkan lagi. "Gimana kalian tinggal disini, betah kan?" tanyanya kemudian.


"Ah iya, terima kasih. Aku akan membayar uang sewanya tiap bulan."


"Tidak perlu."


"Tapi, aku merasa tidak enak."


"Kalau begitu, uang komisimu nanti aku potong tiap bulannya."


Jiho tersenyum mendengar jawaban Ferdi. "Ya, baiklah" sahut Jiho kemudian.


"Lho, ternyata ada mas Ferdi..." sapa Tiara yang muncul dari dalam sambil membawa makanan. "Ayo kita sarapan bareng mas..." sambungnya lagi.


"Kamu sudah baikan dek?"


"Iya mas, aku sudah lebih baik. Aku bosen kalau tiduran terus..." jawab Tiara sembari menyiapkan sarapan untuk mereka.


Mereka menikmati sarapan bersama.


"Masakan kamu enak, dek" sahut Ferdi.


Tiara hanya tersenyum menanggapinya.


"Oh iya, sepertinya kita butuh berapa orang lagi ya? Satu atau dua?" lanjut Ferdi kemudian.


"Bagaimana kalau aku saja?" sahut Tiara.


"Jangan sayang, untuk sementara kamu tidak boleh bekerja dulu ya. Kamu tidak boleh capek" jawab Jiho kemudian.


"Oh ya sudah, tapi nanti aku boleh kan membantu kalian?" sahut Tiara lagi.


"Hmmm, iya sayang"


"Ya sudah, aku ke sebelah dulu. Mau lihat persiapannya udah sampai mana," tukas Ferdi. Sebenarnya dia sedikit cemburu melihat kemesraan mereka.


"Iya, Fer. Nanti aku nyusul."


"Oke. Terima kasih sarapannya, dek. Masakanmu enak. Jangan bosan kalau besok-besok aku ikut sarapan bareng kalian lagi..." ucap Ferdi sambil tertawa.


Setelah kepergian Ferdi, Jiho membantu Tiara membereskan piring kotornya.


"Hei sayang, Aa cemburu lihat kamu..." bisik Jiho di telinga Tiara.


"Hah? Apaan sih A, dia kan...." ucapannya terhenti. Wajah Tiara sedikit memerah karena wajah Jiho sangat dekat dengannya.

__ADS_1


"Ehemm..."


Mereka menoleh, dilihatnya Ferdi kembali. "Ah, maaf mengganggu waktu kalian. Aku cuma mau ambil hp yang ketinggalan. Ya sudah kalian lanjutkan saja dulu."


Tiara tersipu mendengar ucapannya.


"Hah, dia mengganggu saja," pungkas Jiho. "Mau dilanjutkan lagi?" tanya Jiho menggoda istrinya.


"Hah?"


"Hahaha ya sudah, Aa kesana dulu ya sayang. Sepertinya Ferdi perlu bantuan Aa."


Tiara hanya mengangguk. Dan tiba-tiba sebuah kecupan hangat mendarat di pipinya. Tiara kembali mengulas senyum ketika Jiho pergi.


***


"Halo, permisi... Apakah disini membuka lowongan kerja? Tadi saya lihat selebarannya."


"Ah, iya silahkan ma-suk... Lho, Mita?" sahut Jiho.


"Jiho?" wanita yang dipanggil Mita ikut terkejut melihat Jiho. "Kau yang punya cafe ini?" tanyanya kemudian.


"Oh, bukan. Cafe ini milik Ferdi, aku hanya ikut mengelolanya saja."


"Haha, dunia ini sepertinya sempit ya. Lagi-lagi kita dipertemukan tak sengaja seperti ini. Terus Ferdinya ada?"


"Ah iya, dia ada didalam, masuk saja..."


"Ya terima kasih, Jiho"


Mita masuk ke dalam area cafe. Dia melihat Ferdi yang sedang berdiri sambil mengecek sesuatu.


"Permisi..." sapa wanita itu dengan lembut.


"Ya?" Ferdi menoleh, dilihatnya wanita yang pernah bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. "Mita?" tanyanya seakan tak percaya.


"Ah ayo, silahkan duduk dulu. Ada apa kamu datang kemari?" tanya Ferdi.


"Terima kasih. Begini Fer, sebenarnya aku sedang mencari pekerjaan. Kebetulan aku melihat selebaran kalau di cafe ini sedang membutuhkan karyawan."


"Iya, benar. Memangnya kamu bersedia jadi pelayan cafe? Bukannya dulu kau tidak pernah mau ya kalau ditawari kerja part time di cafe?"


"Haha, itu kan dulu. Aku bersedia kok. Aku butuh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhanku dan juga ibuku."


"Oh iya, bagaimana keadaan ibumu?"


"Alhamdulillah baik, baru dua hari yang lalu ibu keluar dari Rumah Sakit."


"Oh... Syukurlah. Ya sudah kalau begitu kau bisa bekerja disini. Tapi untuk awal-awal aku tak bisa menggajimu banyak."


"Ah iya, tidak apa-apa. Yang penting aku bisa dapatkan pekerjaan."


"Ya sudah, tiga hari lagi kau bisa datang kesini. Insyaallah openingnya tiga hari lagi setelah persiapan disini beres..."


"Alhamdulillah, terima kasih ya Fer..."


"Iya, sama-sama. Kau tinggal dimana sekarang?"


Mita tersenyum mendengar pertanyaan Ferdi, dia merasa Ferdi masih perhatian padanya.


"Sebenarnya cukup jauh dari sini. Tapi nanti aku bisa cari tempat sewa dekat-dekat sini."


"Oo..."

__ADS_1


"Ya sudah aku permisi dulu,"


"Iya, hati-hati dijalan..."


"Iya, terima kasih Fer..." ucap Mita lagi sambil tersenyum. Sebenarnya dia ingin mengatakan tentang kesalahpahamannya dulu, tapi dia ragu-ragu. Takut Ferdi tersinggung dan tak akan menerimanya bekerja. Dia masih memandanginya sejenak, dia terlihat masih sama seperti dulu. Tapi wajahnya terlihat muram, tak ada senyuman di wajahnya.


"Mas, coba ini cicipi dulu. Aku buat cemilan buat kalian" ucap Tiara sambil menghampiri Ferdi.


Ferdi tersenyum dan mengambil cemilan itu. Mita merasa takjub melihat senyumannya. Tak pernah dilihatnya senyuman semanis itu.


"Hei Mita, kamu masih disini?" tanya Jiho membuyarkan lamunannya.


"Ah i-iya..." sahut Mita dengan gugup.


Ferdi ikut menoleh, dia tak sadar Mita masih berdiri disana.


"Oh iya, kenalin ini istriku, namanya Tiara," ucap Jiho memperkenalkan Tiara. Tiara tersenyum menyambut uluran tangannya.


"Mita..."


"Oh iya sayang, Mita ini dulu teman aa waktu kuliah,"


Tiara mengangguk lagi. Mitapun tersenyum.


"Ya sudah aku pulang dulu, Jiho, Tiara."


"Iya hati-hati dijalan. Fer, kamu gak antar dia?"


"Gak usah. Ferdi juga sepertinya sedang repot." sahut Mita lagi.


Dia kemudian berlalu meninggalkan mereka bertiga.


***


Acara pembukaan cafe berjalan dengan lancar, banyak yang datang bahkan sangat ramai untuk ukuran cafe yang baru dibuka.


Hari demi hari, cafe berjalan dengan lancar bahkan sudah banyak dikenal oleh masyarakat.


Ferdi juga makin dikenal oleh kalangan gadis-gadis muda yang sering berkunjung kesana.


"Hei kalian tahu gak? Owner cafenya ganteng banget loh..." celetuk salah seorang gadis muda yang sedang duduk berkumpul dengan teman-temannya di cafe.


"Masa sih? Yang bener?"


"Iya, ganteng banget. Tuh tuh dia kesini tuh...." bisik yang lain sambil menunjuk ke arah Ferdi yang sedang berjalan bersama Jiho.


"Aw... Aw... Keren banget ya! Itu yang satunya siapa? Itu juga ganteng tauuu. Malah lebih gantengan dia deh..." jawabnya.


"Iya dia juga ganteng sih, tapi sayang udah punya istri."


"Hah? Yaah, langsung patah hati deh gue..."


"Hahaha dasar. Nah itu tuh istrinya..."


"Waah beruntung ya, istrinya dapat yang ganteng. Hahaha."


"Hahaha, makanya betah nongkrong di cafe ini. Bisa sekalian cuci mata."


"Dasar lo, kecentilan. Emang owner-nya namanya siapa sih? Jadi kepo gue..."


"Ferdi, namanya F-E-R-D-I"


"Iya iya, paham dodol..."

__ADS_1


"Hahaha"


Merekapun tergelak dalam tawa yang renyah.


__ADS_2