
Kini Helen kembali duduk di kursinya sambil terisak dengan air mata yang masih setia keluar dari ke dua matanya.
"Mama jahat, ya mama Kiara jahat kepada Helen."
Hanya hal itu yang Helen katakan berkali-kali selama mobil melaju di atas jalan raya
Kiara berusaha untuk menutup ke dua telinga saat mendengarkan suara tangisan Helen, ke dua mata tertuju lurus ke arah jalan dengan kemudi yang di pegang erat oleh ke dua tangan.
Sesak hati Kiara ketika dirinya harus dengan tegas melakukan hal ini, saat ini sebenarnya Kiara ingin memeluk dan meminta maaf terhadap putri kesayangannya yang masih terus menangis di samping kemudinya.
Namun Kiara tak melakukan hal itu dengan berbagai macam alasan yang terus berkecamuk di dalam pikirannya.
Dengan menahan air mata dan rasa yang telah ada, pada akhirnya Kiara terus memfokuskan pandangannya ke depan tanpa menetap ke arah Helen sedikitpun.
Sementara itu siang ini di rumah produksi milik Adrian.
"Sayang, aku datang."
Di tengah pekerjaan Adrian yang padat Meira sang istri tercinta tiba - tiba muncul dari balik pintu.
"Hei, kenapa kau tidak memberitahu aku jika akan datang sayang."
Adrian yang mendapatkan sang pujaan hatinya datang segera menghentikan semua pekerjaannya dan bangkit dari tempat duduk untuk menyambut kedatangan Meira.
"Apakah aku perlu memberitahu terlebih dahulu ketika akan datang ke kantor suami ku sendiri?"
Dengan lembut Meira mengatakan hal itu, dan langsung menyambut pelukan hangat Adrian.
"Bukan begitu maksudku sayang, namun aku bisa mempersiapkan kedatangan ratu ku yang paling cantik ini."
"Ah bisa saja kau mas Adrian."
Meira mengatakan hal tersebut sambil tersipu malu.
"Aku datang kemari karena ingin makan siang bersama dengan mu disini, tadi aku baru saja mengantarkan Michelle les piano, dan karena tempat les tersebut dekat dengan kantor, aku langsung saja mampir kemari, apakah mas bisa makan siang dengan sang ratu ?"
Adrian tersebut mendengarkan Meira menyambut candaannya dengan hangat.
"Tentu saja sayang."
"Tapi mas hari ini akut tidak memasak, seharian aku menemani Michelle di sekolah, apakah kau tidak keberatan jika aku membawakan makanan cepat saji untuk makan siang kita berdua?"
Meira mengatakan hal tersebut sambil menunjukkan satu kantong plastik yang berisi makan siang mereka.
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak akan keberatan, kau tau sendiri bukan aku tidak akan pernah memaksa mu untuk melakukan hal - hal yang enggan engkau lakukan, kau sudah mengurus ku, mengurus Michelle dengan sangat baik, jadi selain dari hal itu, aku tidak pernah memaksa mu sayang."
"Terima kasih mas Adrian, kau adalah suami yang sangat pengertian."
Meira mengatakan hal tersebut sambil duduk di kursi dan mempersiapkan makan siang mereka.
"Ini apa mas?"
Saat Meira membuang sampah Meira melihat satu buku yang ada di tempat sampah ruang kerja Adrian.
"Ah itu sinopsis dari penulis yang bernama Anyelir."
Seketika itu juga ke dua mata Miera langsung berbinar.
"Anyelir mas? Anyelir penulis novel kesayangan ku?"
Dengan cepat Adrian langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya, namun aku tidak tertarik dengannya."
Adrian menjawab pertanyaan Meira sambil berkonsentrasi terhadap makanannya.
"Kenapa mas? Anyelir itu pembacanya sangat banyak, kenapa mas Adrian tidak menyukai tulisannya?"
"Dia terlalu sombong, aku meminta Dave datang dan meminta izin untuk karya cinta sang dokter di adaptasi di rumah produksi ini, namun Anyelir tidak mengizinkan, dia memberikan ku sinopsis sampah dengan pembacanya yang paling sedikit."
Meira mendengarkan curahan hati dari Adrian dengan penuh perhatian sambil sesekali melihat sinopsis yang saat ini berada di dalam genggaman ke dua tangannya.
"Masa lalu Mauren yang diberikan kepada mas Adrian untuk di adaptasi?"
Dengan cepat Adrian langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya kau benar, dia terlalu sombong dengan memberikan aku sinopsis sampah seperti ini."
Meira kini hanya terdiam dengan semua perkataan Adrian..
"Aku hanya pernah mendengar dari salah satu media sosial, di sana Anyelir mengatakan jika masa lalu Mauren adalah adaptasi dari kisah hidupnya mas."
Seketika itu juga Adrian berhenti mengunyah dan menatap ke arah Meira.
"Kisah hidupnya?"
"Ya mas, Anyelir memiliki masa lalu yang tidak biasa, dan masa lalu Anyelir itu sangat gelap, di dalam novel masa lalu Mauren sampai saat ini belum di selesaikan karena memang di sana Mauren baru menceritakan tentang masa putih abu-abu yang di alaminya."
__ADS_1
"Saran dari ku coba mas baca terlebih dahulu sinopsis ini, baru mas Adrian memutuskan apakah akan tetap mengangkat novel tersebut atau tidak, terkadang kita tidak boleh menilai sesuatu hanya dari luar saja mas."
Meira mengatakan hal tersebut sambil memberikan kembali sinopsis tersebut kepada Adrian.
"Baiklah sayang jika itu yang kau sarankan, selama ini aku sangat percaya kepada mu, karena kau adalah istri ku yang paling aku cintai."
Adrian yang telah selesai makan kembali mengatakan hal itu kepada Meira yang kini telah selesai membersihkan meja.
"Jadi apakah kau tidak akan memberikan aku hadiah karena aku telah begitu percaya kepada mu?"
Seketika itu juga Meira mengernyitkan dahi karena bingung dengan maksud dari Adrian.
"Hadiah apa mas?"
"Kau tau bahwa aku akan selalu bergairah ketika melihat mu."
Seketika itu juga Meira langsung mengerti apa yang di maksudkan oleh Adrian.
"Tapi mas ini kantor, nanti saja jika mas susah pulang."
"Sayang, di dalam ruangan ini hanya ada kita berdua dan tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan ini tanpa seizin ku."
Sadar akan tatapan mata sang suami yang sudah semakin buas mau tau mau pada akhirnya Meira hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Jika memang seperti itu, aku serahkan kepada mas Adrian."
Dan setelah mengatakan hal tersebut baik Meira dan Adrian langsung berdiri dari tempat duduknya.
Adrian dengan sigap mengunci pintu dan langsung menerkam Meira dengan ciumannya yang bertubi-tubi.
Hasrat Adrian yang hari ini begitu tinggi membuat dirinya ingin segera melampiaskan kepada satu wanita yang sangat dia cintai.
Dengan cepat Adrian mengendong Meira dan meletakkan Meira di atas meja kerjanya.
"Mas ini meja, apakah tidak sssshh.."
Suara Meira tenggelam di balik sentuhan demi sentuhan dahsyat yang kali ini diberikan Adrian kepada tubuh nya.
Sungguh sensasi yang sangat berbeda bagi Adrian ketika dirinya bercinta dengan Meira di atas meja kerjanya sendiri.
Hentakan di hentakan Adrian lakukan terhadap tubuh Meira yang kini sudah dibuatkannya terbang ke awan - awan.
Siang ini Adrian seakan - akan tidak peduli ketika ada banyak panggilan telepon yang sedang mencari dirinya.
__ADS_1