
Dengan mantap suster Dian mengatakan hal tersebut kepada dokter Hendra.
"Apakah dokter Hendra sudah memperjuangkan wanita tersebut? karena di dalam perjuangan wanita bisa melihat seberapa besar keseriusan laki - laki yang mencintainya itu."
"Apakah aku harus melakukan hal itu ?"
Dokter Hendra kembali mengatakan hal itu dengan penuh tidak percaya diri.
"Jika dokter yakin, wanita tersebut adalah wanita yang bisa menjadi teman hidup dokter, apa salahnya untuk di perjuangkan, penolakan adalah sebuah resiko dari perjuangan cinta bukan?"
Seketika itu juga dokter Hendra tersenyum, secara usia memang dokter Hendra sudah matang, namun secara asrama dokter Hendra termasuk pria yang tidak berpengalaman.
"Ah untung sekali aku menceritakan hal ini kepada mu suster, karena sejak tadi hati ku dilema sekali."
Suster Dian hanya tersenyum mendengarkan pujian dokter Hendra, senyuman yang dia paksa di tengah - tengah kondisi hatinya yang sangat sakit.
"Terima kasih suster Dian, hari ini biar aku saja yang membayar semua makanan ini, suster Dian tidak boleh menolaknya."
"Dengan senang hati dokter Hendra."
Pada akhirnya suster Dian hanya bisa mengatakan hal itu dan mengikuti semua hal yang dikatakan oleh dokter Hendra, meskipun saat ini hatinya sedang sakit, namun dia sangat tidak ingin menyia-nyiakan kebersamaan yang sedang berlangsung.
Sementara itu masih di malam yang sama, ada satu wanita yang diam - diam memesan satu kamar VVIP di tempat hiburan malam, dan saat ini sang wanita tersebut sedang menuangkan minuman keras seorang diri.
"Kiara, akhirnya aku bisa menemukan disini!"
Deg
Kedua mata langsung tertuju kepada satu laki - laki yang berhasil masuk ke dalam ruang VVIP yang telah dia pesan.
"Adrian, bagaimana kau bisa masuk ke dalam ruangan ini? Kau menyalahi aturan di tempat ini, aku bisa melaporkan mu ke pihak berwajib!"
Kiara mengatakan hal tersebut sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Kau tidak akan pernah bisa melaporkan ku ke pada pihak berwajib, karena aku adalah pemilik tempat ini, terlalu beresiko bukan jika kau berhadapan dengan laki - laki yang memiliki kuasa?"
Adrian mengatakan hal tersebut sambil mengunci pintu dan memasuk kunci pintu tersebut kedalam saku celananya.
"Sekarang kita hanya berdua di dalam ruangan ini, dan ruangan ini kedap suara, sekeras apapun kau berteriak tidak ada satu orang pun yang akan mendengarkan Kiara!"
"Apa yang kau mau Adrian?"
__ADS_1
"Kembalikan Helen kepada ku Kiara!"
Deg
Seketika itu juga Kiara langsung terdiam, Kiara bisa melihat ke dua mata Adrian yang kini menatap tajam ke arahnya.
"Aku tidak mau, apakah hak mu mengatakan hal itu?"
"Kiara kau jangan pura - pura bodoh! Kau tau aku memiliki kuasa untuk melakukan penyelidikan dan aku sudah melakukan hal itu kepada mu dan juga Helen."
"Helen adalah anak kandung ku!"
Seketika itu juga Kiara tertawa dengan sangat keras.
"Aku tetap tidak mau!"
Setelah mengatakan hal tersebut Adrian maju dan mendekati Kiara.
"Apa yang akan kau lakukan Adrian?"
"Kau tau, rasanya ketika aku tidak bertemu dengan mu lagi?, sadarlah bukan hanya kau yang menderita, namun di saat itu aku pun mengalami penderitaan!"
"Lepaskan aku Adrian, apa yang akan kau lakukan?"
Kiara mengatakan hal tersebut sambil meronta - ronta di dalam pelukan Adrian.
"Tatap mata ku Kiara, dan katakan bahwa kau tidak mencintaiku?"
Deg
Seketika itu juga Kiara langsung berhenti meronta - ronta di hadapan Adrian.
"Cih cinta, apakah aku masih berhak untuk memiliki cinta? dan apakah untuk apa kau menanyakan hal itu kepada ku?"
"Lihat aku Kiara, sekali lagi aku bertanya, apakah sudah tidak ada lagi cinta lagi di hati mu?"
"Lepaskan aku Adrian!"
"Dengan aku masih menulis novel masa lalu Mauren, dengan kau meminta hanya novel itu saja yang boleh untuk diadaptasi menjadi film, sedangkan novel yang lainnya tidak, sudah jelas bukan jika cinta itu masih ada?"
"Aku melalukan itu karena aku mencari ayah kandung putri ku!"
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Kiara mengatakan dan hal tersebut, namun teriakan Kiara tiba - tiba terhenti dengan ciuman liar yang diberikan Adrian kepada bibirnya.
Sungguh hati Kiara tersentak ketika dengan berani Adrian memakan habis bibirnya, seketika itu juga hati Kiara berontak, ingin rasanya dia melepaskan diri dari pelukan Adrian.
Namun lain dengan tubuhnya yang kini menerima semua sentuhan Adrian, sungguh perbedaan yang sangat luar biasa, ketika dirinya merasa jijik dengan tubuhnya sendiri, namun di saat yang bersamaan tubuhnya juga sangat menikmati apa yang telah Adrian lakukan terhadapnya.
Hati dan kedua mata Adrian telah gelap, seketika itu juga Adrian sudah tidak mengingat lagi bahwa dirinya adalah suami dari wanita cantik bernama Meira dan ayah dari satu orang putri bernama Michelle.
Saat ini hasratnya telah menutup hati nurani dan membiarkan larut dan tidak mau untuk dilawan lagi
Malam hari itu Kiara dan Adrian memadu kasih terlarang di ruang VVIP di salah satu tempat hiburan malam.
Kiara pada akhirnya membiarkan Adrian melucuti semua pakaiannya satu per satu, kebenciannya terhadap Adrian bercampur menjadi satu dengan gairah yang ada.
Permainan panjang tanpa henti telah mereka lakukan di dalam hasrat yang salah.
Sementara itu di rumah Adrian.
"Mas, sampai larut seperti ini mas Adrian belum pulang, mas saat ini ada dimana?"
Meira yang saat ini duduk di ruang tamu mengatakan hal tersebut sambil memandang ke arah ponselnya sendiri, ya Meira begitu ingin menghubungi Adrian pada malam hari ini
Sungguh satu kebiasaan Meira yang tidak biasa saat dirinya menyadari hal ini, malam ini Meira begitu gelisah, hatinya menginginkan Adrian untuk segera pulang, satu hal yang belum pernah dia rasakan.
"Mas, semoga mas Adrian baik - baik saja."
Setelah mengatakan hal tersebut Meira langsung meletakkan kembali ponselnya dan beranjak dari ruang tamu.
Meskipun saat ini hati Meira begitu gelisah, namun rupanya Meira tidak mengizinkan perasaan tidak mendasar ini berlarut terlalu lama
"Mas Adrian semoga besok ketika aku bangun aku bisa melihat mu kembali."
Hal itulah yang pada akhirnya di katakan oleh Meira sambil memeluk Michelle di dalam kamarnya.
Malam hari ini Meira memilih untuk beristirahat daripada memikirkan banyak hal dan membuatnya tidak bisa tidur.
Sementara itu di ruang VVIP, nampak satu laki - laki telah menyelesaikan pertempuran panasnya dengan satu wanita, sehingga wanita tersebut tidak berdaya.
"Maafkan aku Kiara, aku terpaksa melakukan hal ini agar bisa membuatmu bungkam di depan semua orang, berpura-pura lagi mencintai mu, dan meniduri mu lagi, akan membuat mu bergantung kepada ku."
Dengan bertelanjang dada Adrian mengatakan hal tersebut sambil menuangkan minuman beralkohol.
__ADS_1