
"Jadi itu yang dia katakan kepada mu Dave?"
Pagi ini Dave kembali bertemu dengan Adrian di kantor dan menyampaikan apa yang di inginkan oleh Anyelir.
"Ya pak, dan itu sudah merupakan keputusan mutlak dari sang penulis."
Adrian yang kini memegang sinopsis novel dari masa lalu Mauren hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Apakah kau tidak bertanya mengapa Anyelir tidak mengizinkan karya novelnya cinta sang dokter di pinang oleh rumah produksi?"
Dengan cepat Dave langsung menggelengkan kepalanya.
"Anyelir tidak mengatakan pasti, dia hanya mengatakan bahwa hanya karya novel masa lalu Mauren yang di izinkan untuk di pinang oleh rumah produksi."
"Sombong sekali penulis bernama Anyelir itu, apakah dia tidak tau jika kita adalah salah satu rumah produksi terbaik, dimana banyak sekali penulis novel mengirimkan sinopsis karyanya untuk di jadikan sebuah film."
Adrian mengatakan hal tersebut dengan geram.
"Jika memang Anyelir tetap seperti itu, cari saja penulis novel digital yang bersedia Dave, di luar sana banyak sekali penulis yang sangat ingin karyanya di adaptasi."
Adrian mengatakan hal tersebut sambil melemparkan sinopsis novel tersebut ke meja kerjanya.
"Saya mengerti, namun kenapa bapak tidak mencoba untuk membaca sinopsis novel masa lalu Mauren terlebih dahulu pak, sebelum kita betul - betul mencari karya baru untuk diadaptasi."
"Tidak perlu Dave, aku sama sekali tidak berminat dengan karya novel yang pembacanya sedikit, di dalam novel digital yang pembacanya gratis saja novel tersebut tidak laku, apalagi jika kita akan jadikan novel itu film, rumah produksi ini bisa rugi besar Dave."
"Baiklah pak jika memang keputusan bapak seperti itu, dalam waktu dekat saya akan mencoba untuk mencari penulis demi penulis novel digital yang lebih berpotensi daripada Anyelir."
"Ya Dave lakukan saja, dan secepatnya kau beritahukan kabar itu kepada ku, karena saat ini industri perfilman sedang banyak sekali diadaptasi dari novel."
"Baik pak Adrian."
Setelah mengatakan hal tersebut Dave keluar dari dalam ruang kerja Adrian, kini tinggal Adrian seorang diri di dalam ruangan dan memandang tajam ke arah sinopsis novel yang saat ini tergeletak di mejanya.
"Kau pikir kau siapa Anyelir, kau menghina rumah produksi yang telah aku bangun bertahun - tahun dengan memberikan sinopsis novel sampah seperti ini."
Setelah mengatakan hal tersebut Adrian bangkit dari tempat duduknya lalu membuang sinopsis tersebut ke dalam tempat sampah..
__ADS_1
Tidak seperti yang dikatakan oleh Dave, dimana Dave meminta Adrian untuk membaca terlebih dahulu, namun sebagai pembisnis, Adrian berpacu dengan angka yang di lihatnya apakah itu menguntungkan atau dapat merugikannya.
Hari itu Adrian kembali di sibukan oleh aktivitas demi aktivitasnya di dalam ruangan.
Sementara itu menjelang siang di sekolah Helen, nampak Kiara duduk di depan salah satu meja guru.
"Ibu Kiara ini adalah peringatan untuk ke tiga kalinya, jika setelah ini Helen masih melakukan pemukulan terhadap teman - teman sekelasnya, maka dengan berat hati kami akan mengeluarkan Helen dari sekolah ini."
Deg
Jantung Kiara berdegup dengan kencang saat sang guru mengatakan hal itu kepadanya.
"Baik ibu saya mengerti, maafkan kelakuan anak saya, saya berjanji hal ini tidak akan terulang lagi."
"Baik ibu Kiara silahkan tangan di surat pernyataan ini."
Sang guru memberikan surat pernyataan bahwa Kiara tidak akan pernah mengulangi kesalahannya lagi, dengan tangan gemetar Kiara membubuhkan tanda tangan tersebut dan mencuri pandang terhadap Helen yang saat ini duduk di sampingnya.
"Untuk selanjutnya Helen mendapatkan skorsing selama satu Minggu dari apa yang telah dilakukannya, kami harap setelah Helen kembali ke sekolah, perilaku Helen akan kembali menjadi lebih baik."
Setelah mengatakan hal tersebut Kiara bangkit dari tempat duduk dan meninggalkan ruang guru bersama dengan Helen.
Sepanjang perjalanan menuju mobil baik Kiara dan Helen tidak berbicara satu patah kata pun, dengan segenap hati Kiara mencoba untuk menahan kemarahannya.
"Jadi apa yang akan Helen jelaskan kepada mama sekarang?"
Di dalam mobil pada akhirnya Kiara membuka suara, Kiara yang sudah tidak tahan akan kebisuan ini pada akhirnya memilih untuk berbicara.
"Apa perlu mama mendengarkan aku?"
Deg
Ke dua mata Kiara langsung menatap tajam ke arah Helen yang mengatakan hal tersebut tanpa memandang ke arah Kiara.
"Helen, dengarkan mama, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran mu saat Helen melakukan hal itu, mama sama sekali tidak pernah mengajari Helen untuk berlaku kasar terhadap orang lain bukan?"
Dan pada akhirnya meledak lah kemarahan dari Kiara terhadap Helen.
__ADS_1
"Ya benar mama memang sama sekali tidak pernah mengajari Helen untuk berlaku kasar terhadap orang lain, namun Helen melakukan hal itu untuk membela diri Helen, membela harga diri Helen di hadapan teman - teman Helen."
Kali ini Helen berani membalas perkataan demi perkataan sang ibunda dengan derai air mata.
"Apakah mama tau apa yang selalu teman - teman Helen katakan kepada Helen?"
Air mata Helen mengiringi Helen di dalam mengungkapkan isi hatinya.
"Mereka mengatakan bahwa Helen adalah anak haram ma, sakit hati Helen ketika mereka mengatakan hal itu kepada Helen, teman - teman Helen mengatakan bahwa papa Helen lari dengan wanita lain, papa Helen jahat hanya karena Helen tidak bisa menunjukkan dimana malam papa Helen."
"Di dalam kelas Helen di olok - olok sebagai pembohong, apa mama bisa merasakan semua hal yang saat ini Helen rasakan?"
"Ma, Helen sakit hati ma, sakit hati!"
Helen masih menangis saat mengatakan hal tersebut, air mata yang mewakili kesedihan yang selama ini dia pendam akibat olokan semua teman - teman di sekolahnya.
"Yang mama tau selama ini adalah Helen yang selalu menuntut banyak hal terhadap mama bukan? namun mama tidak pernah tau bagaimana menderitanya Helen dengan ke tidak jujuran mama dengan setiap hal yang terjadi, ma Helen bukan anak kecil lagi yang bisa mama tipu, Helen sudah besar ma."
Deg
Sungguh saat ini tidak ada kata - kata yang bisa terucap dari mulut Kiara kecuali hanya kedua mata yang memandang putrinya dengan tajam.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Kiara mengatakan mengatakan hal tersebut dengan memandang tajam ke arah Helen.
"Helen mau keluar dari mobil!"
Helen mengatakan hal tersebut sambil mencoba untuk membuka pintu mobil yang kini sudah di kunci otomatis oleh Kiara.
"Tetap di tempat duduk mu Helen."
"Helen tidak mau ma!"
"Tetap di tempat duduk mu, atau jika Helen berani keluar dari dalam mobil, maka mama tidak akan membukakan pintu rumah untuk Helen!"
Satu perkataan tegas yang pada akhirnya keluar dari mulut Kiara tanpa sadar dan seketika itu juga Helen terdiam dan kembali menatap tajam ke arah Kiara.
__ADS_1