
"Bapak, apakah kita akan datang langsung ke toko buku itu?"
Dari dalam mobil salah satu orang mengatakan hal tersebut.
"Tidak perlu, belum waktunya untuk kita datang dan bertemu dengannya, ayo jalan saja."
"Baik pak."
Dan setelah mengatakan hal tersebut mobil itu kembali melaju ke arah jalan raya, satu mobil misterius yang sudah beberapa hari ini mengintai toko buku Kiara.
Malam hari ini Kiara kembali ke rumah dalam keadaan yang sangat lelah, lelah secara fisik, namun lelah secara mental juga sangat dia rasakan.
"Aku berharap esok hari semua akan menjadi lebih baik daripada hari ini."
Di dalam kamar dan menjelang tidur Kiara terus mengatakan hal itu, konfliknya dengan Helen sungguh sangat membuatnya lelah dan ingin mengatakan segala kebenaran yang sampai saat ini masih tersimpan nya dengan rapat.
"Baiklah Dave, pagi ini kebetulan aku juga ingin bertemu dengannya."
Pagi ini Adrian mengatakan hal tersebut di ponsel ketika akan berangkat ke kantor.
"Mas tidak sarapan terlebih dahulu?"
Meira segera menegur Adrian ketika setelah siap Adrian langsung mengambil tas kerjanya.
"Sayang, maafkan aku, namun pagi ini aku harus segera ke kantor, ada orang yang harus aku temui."
"Baiklah mas, jika memang seperti itu biar aku siapkan bekal untuk mas Adrian bawa."
"Tidak perlu, nanti kirimkan saja ke kantor, aku harus segera pergi."
Setelah mengatakan hal tersebut Adrian mencium kening Meira dan langsung membuka pintu kamar.
"Mas apakah pekerjaan mu sesibuk ini sampai untuk sarapan saja kau tidak bisa?"
Meira mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya, karena untuk pertama kalinya Adrian melewatkan sarapan paginya bersama dengan keluarga.
"Selamat pagi, bisa bertemu dengan bapak Dave."
Pagi ini Kiara sudah ada di bagian resepsionis kantor Adrian, dengan pakaian yang rapi dan senyum manis Kiara mengatakan hal tersebut kepada salah satu karyawan.
"Ibu Anyelir?"
"Ya betul."
"Mari Bu, ikut saya,."
"Baiklah."
__ADS_1
Kiara mengatakan hal tersebut sambil kembali tersenyum manis kepada salah satu wanita muda yang saat ini akan mengantarkan dirinya ke ruangan Dave.
Sementara itu Adrian yang pagi ini sudah tiba ke kantor segera masuk ke dalam ruangannya bersama dengan Dave.
"Jadi apakah wanita itu sudah datang Dave?"
"Sudah pak, saat ini Anyelir sudah berada di ruangan saya, Anyelir minta untuk indentitas aslinya tetap dirahasiakan ketika dirinya tanda tangan kontrak bersama dengan rumah produksi kita."
"Ya aku tau, itulah uniknya penulis, sama sekali tidak mau di ketahui identitas aslinya."
"Betul pak Adrian."
"Ayo Dave, kita segera bertemu dengannya, karena siang ini masih banyak sekali agenda yang harus kita kerjakan."
Setelah mengatakan hal tersebut Adrian segera beranjak dari tempat duduknya dan langsung keluar dari dalam ruangan..
Baru beberapa menit Adrian duduk di dalam ruangannya, namun kini dirinya harus kembali keluar untuk bertemu dengan banyak orang.
Tidak ada satu hal pun yang membuat Adrian curiga, Adrian melangkahkan kakinya ke ruangan Dave tanpa mendapatkan firasat apapun.
Sementara itu Kiara yang kini sudah menunggu di ruangan Dave sedang dalam keadaan tidak tenang.
"Ya Hendra, aku percaya kepada mu, aku mohon berbicaralah dengan Helen, siang nanti aku akan ke rumah sakit untuk menemuinya saat ini aku sedang ada urusan pekerjaan."
Kiara mengatakan hal tersebut di ponsel, namun baru berbicara beberapa menit, tiba -tiba saja Kiara langsung mematikan panggilan ponselnya ketika Kiara melihat dua orang laki - laki tampan masuk ke dalam ruangan.
"Anyelir, terima kasih sudah datang ke rumah produksi ini."
Deg
Kini kedua mata Adrian menatap tajam satu wanita yang juga langsung berdiri dan mematung memandangnya..
"Halo Anyelir, apakah anda baik - baik saja?"
Dave kembali mengatakan hal tersebut kepada Kiara yang kini berdiri seperti patung sambil memandang ke arah Adrian.
"Ah pak Dave, aku baik - baik saja."
"Syukurlah jika seperti itu, perkenalkan ini pak Adrian beliau adalah CEO di rumah produksi ini."
Deg
Hati Anyelir seketika bergemuruh ketika mendengarkan nama Adrian di sebut.
"Halo Anyelir salam kenal."
Dengan tenang Adrian mengulurkan tangannya kepada Kiara.
__ADS_1
Cukup lama Kiara memandang tangan yang masih sama dengan tangan beberapa tahun yang lalu.
"Salam kenal juga pak Adrian."
Dengan mantap pada akhirnya Kiara membalas tangan Adrian, Kiara mencoba untuk tetap tenang, meskipun jika saat ini dirinya diizinkan untuk berteriak, dia ingin mengatakan kemana saja kau selama ini!.
Namun pada akhirnya Kiara tetap mencoba untuk mengikuti hatinya.
"Jadi nama asli mu Kiara Larasati, usia tiga puluh tahun?"
Dave kembali mengatakan hal tersebut saat membaca surat kontrak yang akan di tanda tangan oleh Kiara.
"Betul pak Dave itulah nama asli ku, Kiara Larasati usia tiga puluh tahun."
Kiara mengatakan hal tersebut dengan menatap tajam ke arah Adrian.
"Baiklah tanpa perlu berlama-lama lagi, anda bisa langsung tanda tangan kontrak ini."
Dave mengatakan hal tersebut sambil meletakkan berkas kontrak di atas meja untuk di tanda tangan oleh Kiara.
Dengan mantap Kiara langsung mengambil berkas tersebut dan tanpa pikir panjang Kiara langsung membubuhkan tanda tangan di dalam kontrak tersebut.
"Apakah anda tidak ingin membacanya terlebih dahulu?"
"Tidak perlu pak Dave, saya percaya dengan rumah produksi ini, apalagi terhadap pak Adrian CEO yang sudah terkenal di dunia hiburan tanah air."
Sekali lagi Kiara mengatakan hal tersebut dengan menatap tajam ke arah Adrian.
"Baiklah pak Adrian apakah ada yang ingin bapak sampaikan?"
"Tidak ada Dave, aku percayakah semua kepada mu, termasuk semua aktris dan aktor yang akan membintangi film ini."
Tatapan Adrian kembali tajam kepada Kiara.
"Baiklah pak Adrian, terima kasih untuk kerjasamanya Anyelir, kami berjanji akan menjaga identitas anda dengan baik."
Selesai mengatakan hal tersebut Adrian langsung kembali berdiri, seakan - akan sudah tidak ingin lagi berada di ruangan itu.
"Baiklah pak, saya permisi terlebih dahulu."
Kiara yang saat ini ingin lari segera mengatakan hal tersebut dan langsung meninggalkan ruangan.
Sungguh langkah kaki Kiara begitu lebar saat dirinya berjalan, air mata yang sejak tadi dia tahan kini sudah tidak kuat dia tahan lagi.
Dengan cepat Kiara berjalan ke arah parkiran mobil dan segera masuk.
"Ya Tuhan, dia, ya dia laki - laki yang selama ini aku cari, laki - laki yang selama ini aku doakan, dan hari ini aku kembali bertemu dengannya, Tuhan mengapa aku bertemu dengannya di saat seperti ini."
__ADS_1
Hancur sudah hati Kiara.