
Setelah mengatakan hal tersebut Meira kembali terdiam, kata - katanya kembali tertahan, lidahnya terasa kelu ketika dirinya akan melanjutkan lagi.
"Lalu ada apa mbak Meira?"
"Panggil aku Meira saja Anyelir."
"Baiklah Meira, ada apa dengan mu? Pagi ini kau terlihat gelisah sekali?"
Kiara mengatakan hal tersebut sambil mengamati Meira yang sejak tadi tidak tenang.
"Aku tau seharusnya aku tidak membicarakan masalah rumah tangga ku kepada orang lain, namun saat ini aku membutuhkan teman, aku membutuhkan sahabat untuk aku bisa bercerita."
Deg
Dada Kaira berdegup kencang saat Meira mengatakan hal tersebut, karena masalah rumah tangga berarti ada hubungannya dengan Adrian.
"Meira aku memang sudah lama tidak menjalin rumah tangga, namun jika kau mau menceritakan keluh kesah mu, aku akan menjadi pendengar mu dengan baik."
Tidak ada pilihan selain hal tersebut yang Kiara katakan, Kiara tidak akan mungkin mengatakan bahwa dirinya tidak ingin mendengarkan apapun tentang urusan Meira dan Adrian, namun untuk kali ini Kiara harus memanin sandiwara yang cukup jahat.
"Entah ini hanya perasaan ku atau tidak, namun aku melihat akhir - akhir ini mas Adrian berubah drastis terhadap ku."
Deg
Sungguh untuk kali ini ke dua tangan Kiara menggenggam dengan erat.
"Berubah seperti apa Meira yang kau maksudkan?"
"Mas Adrian menjadi tidak peduli lagi dengan ku, beberapa hari ini mas Adrian sangat dingin terhadap ku, apakah aku berhak memiliki pikiran, apakah aku berhak memiliki pikiran bahwa mas Adrian memiliki wanita idaman lain?"
__ADS_1
Seketika itu hancur sudah hati Kiara, apa yang selama ini dia takutkan pada akhirnya terjadi, saat ini di depan ke dua matanya ada satu wanita yang sedang hancur hati dan semua itu karena kelakuan dirinya dengan Adrian di belakang.
"Meira apakah kau memiliki bukti jika suami mu selingkuh?"
Dengan cepat Meira langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku memang tidak memiliki bukti yang kuat untuk mengatakan hal ini, namun perasaan istri itu sangatlah peka, ada sesuatu hal yang tidak beres dari sang suami maka istri akan langsung bisa merasakan."
Bulu kuduk Kiara berdiri ketika mendengarkan semua hal yang dikatakan oleh Meira.
"Maafkan aku Meira, namun aku bukanlah orang yang percaya dengan asumsi, karena asumi itu bisa membunuh kita, jika kita tidak bisa mengendalikannya dengan baik."
Kiara mengatakan hal tersebut untuk lebih membuat Meira menjadi tenang.
"Aku tau Anyelir, untuk itulah aku butuh teman berbagi, aku tidak ingin asumsi ku ini mempengaruhi hubungan rumah tangga yang selama ini berjalan dengan harmonis."
"Aku tidak tau jika sampai mas Adrian betul - betul memiliki wanita idaman lain, mungkin aku akan bunuh diri, aku tidak akan sanggup untuk melihat mas Adrian di miliki oleh wanita lain."
"Ya aku tau perasaan mu Meira, di dunia ini pasti tidak ada satupun wanita yang mau suaminya memiliki wanita idaman lain, aku sangat mengerti perasaan mu Meira."
Kembali hati Kiara seperti di sayat - sayat pisau ketika harus memberikan kata - kata penguatan kepada Meira.
Kata - kata penguatan palsu yang harus diberikan untuk Meira.
"Terima kasih Anyelir tidak percuma aku datang ke toko buku ini pagi - pagi sekali, terima kasih karena kau mau untuk memberikan waktu mu untuk mendengarkan segala keluh kesah ku."
Meira mengatakan hal tersebut sambil menggenggam tangan Anyelir, sungguh hatinya saat ini lebih sedikit tenang dibandingkan dengan pertama kali Meira datang tadi.
"Baiklah Anyelir, aku harus segera pulang, aku ingin memasak untuk mas Adrian, pagi - pagi benar dia sudah berangkat ke kantor, sebagai istri aku ingin tetap melayaninya dengan baik, dan aku tetap akan melakukan hal ini, aku akan berusaha untuk menepis setiap asumsi demi asumsi yang bisa membunuh kepercayaan terhadap suami ku sendiri."
__ADS_1
"Ya Meira, aku akan selalu berdoa untuk rumah tangga kalian berdua, karena kalian harus tetap seperti ini, ada satu buah cinta kalian yang harus kalian jaga di hadapan Tuhan."
Hati Kiara begitu sakit ketika dia mengatakan hal ini, Kiara seperti seseorang wanita munafik yang membawa nama Tuhan untuk setiap kata - kata yang telah dia ucapkan, segala penguatan demi penguatan yang diberikan kepada Meira sungguh seperti pedang bermata dua yang juga siap menusuk dirinya sendiri.
"Aku pergi dulu Anyelir, aku juga berdoa agar kau segera menemukan laki - laki baik yang bisa menjadi imam yang luar biasa, jika kau membutuhkan bantuan ku untuk perjodohan dengan senang hati aku akan menolong mu, mas Adrian memiliki banyak kenalan laki - laki sukses yang sangat membutuhkan pendamping seperti mu ."
Kiara hanya tersenyum dengan semua perkataan dari Meira.
"Hati - hati di jalan Meira."
Setelah mengatakan hal tersebut Meira menganggukkan kepalanya dan langsung pergi dari toko buku.
Kini Kiara hanya bisa memandang kepergian Meira dari balik jendela, sesekali ke dua matanya mengarah ke langit - langit ruko.
"Ya aku hanyalah wanita kedua mas Adrian, bukan hanya wanita kedua, namun aku adalah wanita dengan predikat pelakor di dalam rumah tangga mas Adrian."
Air mata Kiara kembali mengalir saat dirinya mengatakan hal tersebut, kata - kata pelakor adalah kata - kata yang paling dia benci sejak remaja, karena hal itulah Kiara kehilangan sosok sang ayah.
Namun kini kata - kata yang sama harus menempel erat di dalam dirinya.
"Sungguh aku jijik dengan diri ku, ya aku jijik namun aku tidak bisa melawan, setidaknya saat ini aku belum ingin melawan, mungkin aku masih belum bisa membawakan mu makan siang mas Adrian, namun setidaknya aku bisa memberikan pelayanan yang memuaskan di ata tempat tidur, buktinya kau sampai begitu dingin dengan mbak Meira."
Sungguh kata - kata yang sangat jahat keluar dari mulut Kiara, Kiara yang dulunya tidak pernah mengeluarkan ataupun memikirkan kata - kata seperti itu, namun kini kata - kata tersebut tiba - tiba keluar dengan sendiri dari mulutnya.
Hari ini Kiara lebih memilih untuk menyelesaikan semua naskah - naskah novelnya, hari ini Kiara lebih memilih untuk tidak menghubungi Adrian..
Sementara itu Adrian yang sejak tadi ada di kantor saat ini sangat sulit untuk berkonsentrasi.
"Siiit arrrh, kenapa aku jadi seperti ini!"
__ADS_1
Adrian yang sulit berkonsentrasi pada akhirnya hanya bisa mengumpat dan mengacak - acak rambutnya.
"Kau bodoh Adrian, kenapa kau terus mengingat wanita itu, tujuan mu melakukan hal itu adalah untuk membuat wanita itu bungkam bukan malah memikirkan."