ANYELIR ( KIARA)

ANYELIR ( KIARA)
DAN TERJADI LAGI


__ADS_3

Hari ini untuk pertama kalinya Kiara bekerja dengan penuh pikiran tentang Adrian, tidak ada satu momen pun yang dia lewatkan tanpa memikirkan Adrian.


"Selamat malam ma."


Deg


Menjelang malam saat Kiara tiba di rumah, betapa kagetnya dia saat melihat Adrian sudah duduk di sofa dengan putrinya.


"Malam Helen."


Kiara membalas sapaan Helen dengan mencoba nada yang sangat datar, bagaimanapun juga Kiara masih belum siap mengatakan kepada Helen jika laki -laki yang kini duduk di sampingnya adalah ayah kandungnya sendiri.


"Om Adrian baik sekali ma, dia datang membawakan Helen makanan kesukaan Helen dan juga buah - buahan ini."


Kiara melihat ke meja dan benar, Adrian telah membelikan Helen bakso sapi lengkap dengan buah naga kesukaannya.


"Maafkan aku Kiara jika aku datang tanpa memberikan kabar kepada mu dulu, namun sudah beberapa hari ini Helen dan aku saling berkomunikasi lewat ponsel, Helen banyak menceritakan kegiatan demi kegiatannya di sekolah, dan kebetulan makanan kesukaan kita sama, yaitu bakso sapi lengkap."


Deg


Adrian mengatakan hal tersebut sambil tersenyum dan betapa mirip sekali senyuman Adrian dengan senyuman Helen.


"Kebetulan tadi aku melewati daerah perumahan ini, dan aku melihat lampu rumah mu menyala, aku kira kau sudah kembali dari toko buku, namun begitu aku mengetuk pintu, ternyata Helen mengatakan kau belum pulang."


"Ya ma apa yang dikatakan oleh om Adrian benar, lalu karena kami sudah lapar kami makan terlebih dahulu, ini ma masih ada satu bakso sapi lagi, jika mama mau nanti aku simpan di kulkas agar besok bisa di hangat kan kembali, om Adrian mama itu kalau sudah malam jarang makan malam."


Helen dengan ringan mengatakan hal tersebut kepada Adrian, dan Adrian langsung tertawa sambil melihat kembali ke arah Helen.


"Sayang, hari sudah malam, apakah kamu tidak belajar? esok hari ada ujian bukan?"


Kiara yang saat ini begitu khawatir akan kedekatan mereka berdua mencoba untuk mengatakan hal tersebut kepada Helen.


"Iya ma sebentar lagi Helen masuk ke kamar untuk belajar."


Untuk pertama kalinya Kiara melihat Helen tidak membangkang saat dimintanya untuk belajar.

__ADS_1


"Nah om Adrian, untuk selanjutnya berbincang - bincang lah dengan mama ya, karena Helen mau belajar, esok hari Helen ada ujian matematika."


Helen mengatakan hal tersebut sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Ya sayang pergilah, om percaya jika ujian mu esok hari pasti berhasil dan Helen akan mendapatkan nilai yang terbaik."


"Terima kasih om."


Setelah mengatakan hal tersebut Helen langsung berlari untuk naik ke lantai dua, sedangkan Kiara mengalihkan pandangannya kepada Helen agar tidak memandang ke arah Adrian.


Begitu Helen menutup pintu, Kiara bergegas berjalan menuju ke ruang kerja tanpa memandang ke arah Adrian.


"Kenapa kau menghindari aku Kiara?"


Rupanya langkah kaki Kiara masih kurang cepat dibandingkan dengan Adrian.


Hanya dengan beberapa langkah saja Adrian berhasil masuk ke ruang kerja, dan mengunci ruangan tersebut


Kini Adrian kembali menyudutkan Kiara ke tembok dan mengunci dengan ke dua tangannya.


Kiara dengan berani mengatakan hal tersebut kepada Adrian.


"Teriak saja jika hal itu yang ingin kau lakukan, Helen akan datang dan di saat yang sama aku akan mengatakan bahwa aku adalah ayah kandungnya, kau harus ingat aku bisa dengan mudah mendapatkan bukti jika aku adalah ayah kandung Helen."


Deg


Kini Kiara hanya bisa terdiam dengan semua perkataan ancaman Adrian yang begitu saja terlontar dari mulutnya.


"Sekarang apa lagi yang bisa kau sembunyikan dari ku Kiara, apakah kau masih tidak mau mengatakan jika Helen adalah putri kandung ku? apakah aku perlu membawakan mu bukti - bukti yang kuat agar kau bisa mengatakan hal itu?"


Mata Elang Adrian memandang tajam ke arah Kiara, wangi parfum Adrian begitu menyengat di hidup Kiara karena jarak mereka yang kini sangat dekat.


"Apa yang mas akan lakukan jika memang Helen adalah putri kandung mas Adrian? Mas Adrian pasti akan mengambil Helen dari ku dan tidak akan membiarkan aku untuk bertemu dengannya lagi."


"Saat ini harta paling berharga yang aku miliki hanya Helen mas, jika mas Adrian mengambilnya apa lagi yang aku punya mas?"

__ADS_1


Kini air mata Kiara mulai kembali mengalir saat dirinya mengatakan hal tersebut, sungguh rasa takut kehilangan yang begitu besar membuat Kiara sampai saat ini tidak mau mengatakan kebenaran yang sesungguhnya kepada Adrian.


"Kiara pikiran mu sempit sekali, aku sama sekali tidak memiliki pemikiran akan memisahkan mu dengan Helen, sama sekali tidak, yang akan aku lakukan jika aku mengetahui adalah aku akan memberikan fungsi ku sebagai seorang ayah kepadanya, bukan malah memisahkan dia dengan mu."


"Aku juga sangat mengerti betapa kasih sayang seorang ibu tidak akan dapat digantikan oleh apapun juga, jadi aku mohon berhentilah untuk memikirkan hal - hal bodoh lagi."


Adrian mengatakan hal tersebut sambil mengangkat dagu Kiara, karena air mata yang terus mengalir membuat Kiara menundukkan wajahnya.


"Aku mencintaimu Kiara."


Dan setelah mengatakan hal tersebut Adrian langsung menyambar kembali bibir merah Kiara.


Terjadi ciuman panas yang membuat gairah Kiara memuncak sampai ke awan - awan.


"Mas jangan mas, jangan, lepaskan Kiara!"


Dengan sekuat tenaga Kiara mendorong Adrian hingga berjarak beberapa langkah, terlihat nafas yang tidak beraturan dari ke dua belah pihak karena gairah yang naik namun tiba - tiba di pisahkan.


"Mas Adrian jangan lakukan ini kepada Kiara, mas Adrian sudah menikah, ada hati wanita lain yang akan sangat terluka jika mas Adrian melakukan hal ini."


Kiara mencoba untuk mengatakan hal tersebut, namun Adrian tetap maju mendekat dan kembali memeluk Kiara dengan sangat erat, Adrian saat ini seakan - akan tidak memperdulikan lagi apa yang Kiara katakan.


"Jangan mas aku mohon jangan."


belum sempat Kiara berkata - kata lagi, Adrian sudah kembali menyambar bibir lembutnya, dengan penuh kenikmatan Adrian memakan habis bibir lembut Kiara, ke dua tangannya mulai menyentuh area - area sensitif dari Kiara yang pada akhirnya membuat Kiara tidak dapat melawan.


Tidak akan ada yang bisa mencegah ku untuk kembali melakukan hal ini Kiara, bahkan ketika kau menangis sekalipun.


Adrian mengatakan hal tersebut sambil terus memainkan jari jemarinya ke area - area tubuh sensitif Kiara.


Kini Kiara yang telah pasrah di letakkan Adrian di sofa, tubuh polosnya membuat air liur Adrian menginginkan untuk segera menerkam wanita yang kini hanya bisa memandangi sambil menangis.


"Percaya kepada ku, aku akan menyelesaikan semuanya dengan baik."


Adrian membisikkan hal tersebut kepada Kiara sambil kembali mencumbuinya.

__ADS_1


__ADS_2