
Hati yang tiba - tiba gelisah kini dialami oleh Adrian setelah dirinya membaca semua sinopsis dari Anyelir.
"Halo Dave, aku sudah membaca semua sinopsis Anyelir, datanglah kembali ke tempatnya dan katakan kita berminat untuk mengangkat novel masa lalu Mauren menjadi film."
Setelah mengatakan hal tersebut di ponsel, Adrian kembali meletakkan ponsel di atas meja dan mengacak-acak rambutnya.
"Arrrh peduli amat dengan wanita itu, yang paling penting cerita yang dia tawarkan menarik dan sebagai seorang pembisnis aku sangat ingin untuk di untungkan."
Hal tersebut yang pada akhirnya keluar dari mulut Adrian, setelah beberapa saat dirinya berdebat dengan hati dan pikirannya sendiri.
"Lebih baik aku pulang dan bertemh dengan keluarga ku."
Selesai mengatakan hal tersebut Adrian bangkit dari tempat duduknya dan langsung meninggalkan kantor.
Untuk menutupi rasa gundahnya Adrian memaksa tubuh dan pikirannya untuk dialihkan.
Sementara itu di rumah sakit .
"Jadi apa yang terjadi Helen Hendra?"
Kiara kembali mengatakan hal tersebut ketika Hendra masuk kembali ke dalam ruangannya.
"Ya aku baru saja menemui dokter di ruang unit gawat darurat, dan tim medis mengatakan jika Helen mengalami dehidrasi."
Kiara yang mendengarkan Hendra kini hanya bisa terdiam.
"Kiara bagaimana itu bisa terjadi?"
Kini tatapan Hendra begitu serius kepada Kiara.
"Helen sama sekali tidak mau keluar kamar sepulang sekolah tadi Hen."
"Apakah kalian terlibat pertengkaran?"
Dengan cepat Kiara langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya Hen, aku membentaknya di dalam mobil."
Dan seketika itu juga Hendra langsung menganggukkan kepalanya.
"Aku mengerti Kiara, saat ini apakah kau sudah siap untuk kembali bertemu dengan Helen? dia sudah di pindah ke ruang rawat."
"Ya Hen aku akan tetap menemui Helen, apapun yang terjadi diantara kami, aku tidak akan membiarkan hubungan ku renggang dengan Helen."
Hendra hanya bisa menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk mengerti apa yang saat ini dialami oleh Kiara.
"Baiklah jika memang itu yang kau mau, ayo Kiara kita bertemu dengan Helen."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil kembali bangkit dari tempat duduknya.
"Ya Hendra, aku akan tetap datang kepada Helen."
Dengan senyum yang penuh di paksakan Kiara mengatakan hal tersebut dan Hendra mencoba untuk menguatkan Kiara dengan cara. Menepuk-nepuk pundaknya, dengan langkah gontai Kiara mengikuti Hendra untuk keluar dari dalam ruang kerjanya.
Sementara itu salah satu negara.
__ADS_1
"Bagaimana apakah kau sudah menemukan wanita itu?
Salah satu laki - laki mengatakan hal tersebut kepada pengawalnya.
"Sudah, saat ini wanita itu ada di Indonesia, apakah tuan akan tetap mendatangi negara ini?"
Dengan cepat sang laki - laki tersebut langsung menganggukkan kepalanya.
"Dimanapun dia berada, aku akan tetap mencarinya dan aku tidak peduli berapapun biaya aku akan tetap mencarinya."
"Baik tuan."
Setelah mengatakan hal tersebut satu per satu pengawal keluar dari dalam ruangan.
"Indonesia tunggu aku, ada banyak hal yang harus aku selesaikan di sana.
Dengan menghisap cerutu sang laki - laki misterius tersebut mengatakan hal itu.
Sementara itu Adrian yang sudah sampai di rumah segera berlari untuk mencari sang istri.
"Meira, aku merindukanmu sayang."
Adrian mengatakan hal tersebut sambil memeluk erat sang istri yang sedang memasak untuk makan malam.
"Mas, nanti masakan ku gosong, jangan terlalu erat memeluknya mas."
Adrian yang saat ini sedang takut dengan perasaannya seakan - akan tidak peduli lagi terhadap perkataan Meira.
"Aku rindu padamu Meira."
"Mas, baru saja kita bertemu beberapa jam yang lalu, dan mas sudah rindu ? apakah ini tidak terlalu gombal mas?"
"Sama sekali tidak sayang."
"Mas, lebih baik mas Adrian segera mandi, setelah itu tolong temani Michelle terlebih dahulu sampai masakan aku ini matang, mas Adrian mau?"
"Dengan senang hati sayang."
Setelah mengatakan hal tersebut Adrian mencium tengkuk Meira dan sungguh itu membuat Meira merinding.
"Mas, kau selalu tau area - area sensitif ku."
Meira yang sudah di sentuh area sensitifnya langsung memejamkan mata mencoba untuk kembali menetralkan.
Sementara itu kini Hendra mengajak Kiara untuk masuk ke dalam ruang rawat.
"Apakah kau sudah betul - betul siap Kiara?"
Hendra kembali bertanya untuk lebih menyakinkan Kiara yang saat ini hanya berdiri di depan pintu ruang rawat.
"Iya Hen, aku yakin."
Kiara mengatakan hal tersebut sambil menarik nafasnya dalam - dalam, sungguh saat ini Kiara harus mengumpulkan nyali yang besar untuk bertemu putri kandungnya sendiri.
Dengan tenang Kiara membuat pintu ruang rawat dan untuk pertama kalinya Kiara melihat wajah sang putri memandangi dengan tajam.
__ADS_1
"Helen sayang mama khawatir sekali dengan mu."
Seketika itu juga Kiara mendatangi Helen dan langsung memeluknya, namun apa yang didapatkan oleh Kiara, Helen langsung memalingkan wajahnya dan tidak mau untuk memandang Kiara.
"Rupanya mama masih ingat dengan ku."
Dengan sinis Helen mengatakan hal tersebut dan itu cukup membuat Kiara tersentak.
"Sayang bukan hanya mengingat, namun mama khawatir sayang, mama tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan mu saat ini."
Seketika itu juga Helen tersenyum sinis.
"Dan sikap mama sendiri yang pada akhirnya membuat mama akan kehilangan Helen."
Deg
Seketika itu juga Kiara terdiam, dan Hendra yang sudah mengetahui suasana ini tidak baik segera meminta Kiara untuk melepaskan pelukannya terhadap Helen.
"Helen, maafkan om Hendra, bukan maksud om Hendra untuk ikut campur urusan mu, namun saat ini apa yang dikatakan oleh mama Kiara benar, mama Kiara sangat khawatir dengan mu, Helen mama Kiara sayang kepada mu."
"Jika betul mama sayang, mama pasti bisa menjawab satu pertanyaan yang selama ini aku tanyakan, dimana makam papa?"
Dengan sinis Helen mengatakan hal tersebut dan Hendra langsung kembali memandang Kiara berharap Kiara bisa memberikan jawabannya.
Namun di luar dugaan Hendra, kini Kiara hanya terdiam dan terus diam.
"Nah om Hendra bisa lihat sendiri bukan, jika mama sedni tidak bisa memberitahukan dimana makam papa, bagaimana aku bisa percaya terhadap mama om?"
"Om Hendra mengerti Helen, saat ini lebih Helen beristirahat saja terlebih dahulu."
"Iya om."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Hendra mengandeng tangan Kiara dan mengajaknya keluar dari ruang rawat.
"Lepaskan aku Hendra!"
Di luar ruangan Kiara meronta ketika tangan Kiara di cengkram oleh Hendra.
"Aku ingin bertanya kepada mu Kiara dan kau harus menjawabnya dengan jujur!"
"Soal makam aku tidak bisa Hendra!"
"Ayo ikut aku kembali ke ruang kerja!"
Hendra mengatakan hal tersebut sambil mencengkram lengan Kiara lagi.
"Lepaskan aku Hendra, sudah aku katakan aku tidak bisa!"
"Tapi semua ini perlu untuk di jelaskan!"
"Siapa kau Hendra? Maksudku apa posisi mu di antara aku dan Helen, sehingga kau mau mengetahui segalanya?"
Deg
Di saat itulah terjadi keheningan.
__ADS_1