
Hari ini perkataan demi perkataan itulah yang membuat Adrian gagal berkonsentrasi di dalam semua pekerjaannya.
Adrian terjebak di dalam permainan yang telah dia ciptakan sendiri, Adrian pada akhirnya tidak mampu untuk menguasai dirinya sendiri.
Menjelang siang Adrian sama sekali tidak ingin untuk berhenti dari segala kesibukannya, karena jika dia berhenti dari kesibukan maka nama Kiara akan kembali teringat di dalam pikirannya.
"Pak Adrian, ibu Meira menunggu di depan pintu."
Deg
Siang ini Dave sang asisten masuk ke dalam ruangan dan memberitahu jika Meira sedang menunggu untuk masuk, untuk pertama kalinya Adrian harus membatasi semua orang - orang yang ingin bertemu dengan dirinya termasuk juga sang istri.
"Apakah kau mengatakan jika aku ada di dalam ruangan?"
Dengan cepat Dave langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya pak Adrian aku mengatakan jika pak Adrian sedang rapat di dalam secara virtual."
Dan Adrian langsung menghela nafas panjang, untuk pertama kalinya Adrian begitu berat untuk bertemu dengan sang istri, pertemuan ini sungguh sangat membebani hatinya.
"Katakan kepada Meira rapatku telah usai, dan dia boleh masuk."
"Baik pak Adrian."
Setelah mengatakan hal tersebut Adrian kembali memejamkan ke dua mata.
"Ya Tuhan, sangat berdosa sekali aku ketika aku sama sekali tidak bahagia di kunjungi oleh istri sendiri."
Ke dua mata Adrian menatap ke arah langit - langit saat mengatakan hal tersebut, dan di saat yang bersamaan pintu ruangan di buka dan Meira masuk ke dalam.
"Mas Adrian maaf menganggu, tadi aku baru saja dari tempat Anyelir."
Adrian hampir melompat dari tempat duduknya ketika Meira mengatakan hal tersebut kepada.
"Dari tempat Anyelir? Untuk apa datang kesana sayang?"
Seketika itu juga Adrian langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengecup kening Meira.
"Ah aku hanya ingin mengunjunginya saja, ternyata dia adalah wanita yang sangat bijak untuk diajak berbagi hidup."
"Duduklah, apa saja yang kau bawa ini?"
Adrian mengatakan hal tersebut agar bisa mengalihkan pembicaraan tentang Kiara.
"Ini ada makan siang untuk mas Adrian, aku bawakan nasi gudeg ibu Sumiati yang terkenal diujung jalan ini mas."
Setengah mengatakan hal tersebut Meira langsung membuka makan siang yang telah dia beli.
__ADS_1
"Gudeg komplit kesukaan mas Adrian."
Meira mengatakan hal tersebut sambil menyajikan gudeg komplit tersebut.
"Terima kasih Meira sayang."
Tanpa butuh waktu lama Adrian langsung menyantap makanan kesukaannya.
"Mas ini buahnya, tadi aku juga beli es jeruk peras, panas - panas seperti ini pasti segar minum ini."
Meira dengan sabar melayani semua hal yang dibutuhkan oleh Adrian, seketika itu juga Adrian langsung memandangi istri cantiknya yang begitu tulus melayani dirinya.
"Mas ada apa? apakah ada yang salah dengan pakaian ku?"
Pandangan tajam Adrian kepada Meira membuat Meira mengatakan hal tersebut.
"Sayang maafkan aku."
"Maafkan aku untuk apa mas?"
"Semalam aku tidak bisa melayani mu dengan baik."
Dan kata - kata tersebut yang pada akhirnya terucap dari mulut Adrian, melihat pelayanan sang istri yang sangat maksimal berbanding terbalik dengan apa yang telah dilakukan kepada Meira tadi malam.
"Tidak perlu minta maaf mas, aku bisa mengerti apa yang mas alami, tak seharusnya juga aku menggoda mas Adrian di tengah malam tersebut, sudahlah mas jangan di ingat lagi, aku juga malu jika mengingat hal itu."
Siang hari ini Adrian dan Meira makan siang bersama tanpa melalui banyak percakapan yang berarti diantara keduanya.
Sementara itu hari ini Kiara memilih untuk kembali pulang cepat dari tokonya, dengan langkah penuh percaya diri Kiara masuk ke dalam mobil untuk menjemput putri semata wayangnya pulang dari sekolah.
"Hendra?"
Begitu sampai di depan gerbang sekolah betapa kagetnya ketika Kiara melihat Hendra yang sudah berada di sana.
"Untuk apa kau ada di sekolah Helen?"
Kiara mengatakan hal tersebut sambil mendekatkan diri ke arah Hendra.
"Halo Kiara, aku datang kesini tentu saja untuk menjemput Helen "
Seketika itu juga Kiara langsung menggelengkan kepalanya.
"Kau terlalu lancang untuk melakukan hal ini tanpa seizin ku Hen."
"Maafkan aku Kiara, aku tau kau mungkin akan marah, namun Helen sendiri yang meminta ku untuk datang kemari."
"Tetap saja Hen, kau bukan bagian dari siapa - siapa kami."
__ADS_1
"Siapa bilang om Hendra bukan siapa - siapa untuk ku ma?"
Deg
Di saat yang bersamaan sosok Helen muncul dari balik badan Hendra, rupanya karena Kiara terlaku fokus dengan Hendra, Kiara tidak menyadari jika dari tadi Helen untuk berada disana.
"Helen ayo kita pulang!"
"Tidak, Helen tidak mau pulang."
Helen mengatakan hal tersebut sambil memeluk erat pinggang Hendra.
"Helen ayo kita pulang!"
Kiara yang kini sudah kehilangan akal langsung menarik tangan Helen untuk melepaskan Hendra.
"Helen tidak mau ma, Helen tidak mau!"
Teriakkan Helen yang cukup keras membuat orang - orang di sekitar pintu gerbang segera memusatkan pandangan kepada Hendra dan juga Kiara.
"Cukup Kiara, kau sedang mempermalukan diri mu sendiri!"
Adrian mengatakan hal tersebut sambil menggenggam tangan Kiara.
"Aku tidak peduli Hendra! dia adalah anak ku, dan hanya aku ibunya yang berhak untuk mengajak dia pulang, Helen ayo kita pulang!"
sungguh siang hari ini kesabaran Kiara sudah sampai batas wajar, dengan wajahnya yang memerah karena marah Kiara terus mengatakan hal tersebut kepada Helen yang sejak tadi masih memeluk erat pinggang Hendra.
"Cukup Kiara!"
Hendra yang sudah tidak betah lagi di dalam melihat konflik antara anak dan orang tua segera bersuara lantang untuk mengehentikan semuanya.
"Untuk kali ini aku yang akan membawa Helen pulang kembali ke rumah, emosimu sedang tidak stabil, apakah kau tidak melihat Helen yang begitu ketakutan?"
Deg
Ketika Hendra mengatakan hal tersebut ke dua mata Kiara langsung tertuju kepada Helen yang sejak tadi menangis di dalam pelukannya.
"Kau bereskan saja dirimu terlebih dahulu, setelah kau merasa lebih baik baru hubungi aku maka aku akan yang mengantarkan Helen kembali kepada mu."
"Kau jahat Hendra, kau memisahkan aku dari Helen."
"Aku tidak pernah memisahkan mu dari Helen, namun kondisi mu saat ini sedang sangat berbahaya bagi Helen, aku tidak ingin Helen melihat semua kondisi kacau mu Kiara, bereskan dahulu baru setelah itu hubungi aku!"
Dan setelah mengatakan hal tersebut Hendra menghempaskan ke dua tangan Kiara dan memalingkan wajahnya.
"Ayo Helen, ikut om, nanti om antar kembali ketika semua sudah jauh lebih baik lagi."
__ADS_1
Dan Helen yang masih sangat ketakutan hanya bisa menganggukkan kepalanya.